Melihat besarnya pohon-pohon dan ratusan makam yang berjejer membuatku merinding ketakutan, apalagi area makam ini bukan area pemakaman biasa pada umumnya.
"pintunya ditutup nih, kita masuknya gimana?" tanyaku, seraya ingin membatalkan niatku masuk kedalam karena takut.
"loncat aja, lewat tembok samping deket gerbang yang barat kan temboknya agak pendek" kata mas Wan kepadaku,
Akupun hanya bisa mengikuti ajakanya tersebut, karena mas Wan paham seluk beluk area pemakaman itu. Selain yang paling dewasa dintara kami, rumahnya tepat berada didepan area pemakaman dan orangtuanya adalah salah satu juru kunci area pemakaman tersebut.
Kami bergantian meloncati tembok dan masuk ke area pemakaman yang gelap dan sunyi itu.
Hening, hanya terdengar suara langkah kaki kami ditemani suara dari beberapa serangga. Rimbunya pohon seakan menutupi sinar bulan di malam itu, tanpa ada penerangan lain suasana malam itu benar-benar gelap gulita hanya bisa melihat bayangan dari teman-teman yang lain.
Jagad mengajak kami ke ujung area pemakaman, disitu ada sebuah pohon besar yang menjadi pusat energi dari tempat itu. Kami berjalan diantara gelapnya malam, sejauh mata memandang hanya terlihat barisan makam dan pohon-pohon besar. Aroma bunga yang menyengat dan sebuah aroma yang menurutku seperti sabun menemani perjalanan kami. Aku tidak berani banyak bertanya dan hanya diam saja mencium semua bau-bauan ini.
"kita sudah sampai" , kata Jagad kepada kami,
Terlihat sebuah pohon yang cukup besar berdiri didepan kami, pohon itu terlihat rapuh termakan usia tapi masih berdiri kuat dengan akar-akar besar yang menjulur keluar dari tanah, dibagian bawah pohon terdapat semacam lubang alami dan ada bagian yang seakan berbentuk piring agak menonjol keluar dihiasi sisa-sisa dupa dan kemenyan diatasnya.
"trus ngapain kita disini?" , tanya Adit seakan mewakili pertanyaan dari kami semua yang kebingungan kala itu.
Jagad hanya tersenyum melihatnya tanpa berkata sedikitpun, dia duduk bersila didepan pohon itu, menaruh bunga dan menghidupkan dupa yang sudah dibawanya dari rumah tadi. Aroma kuat dupa menambah ketakutan kami di malam itu, wajar karena itu bukan area pemakaman biasa tapi hanya orang-orang tertentu dari kalangan bangsawan yang dimakamkan disitu. Cerita mistis dan tidak masuk akal dari area pemakaman itu memang sudah tak asing lagi bagi kami yang tinggal didekatnya.
Bahkan sebelumnya ada sebuah rombongan yang mengaku dari kota Bojonegoro datang malam-malam ke area tersebut ditemani juru kunci dengan tujuan menarik sebuah pusaka kata mereka. Juru kunci tersebut yang menceritakan hal itu kepada warga dan menjadi buah bibir menambah kumpulan cerita mistis dari area pemakaman itu.
Jagad menyuruh kami mencoba bergantian satu per satu memeluk pohon itu, dan mengucap keinginan didalam batin sebelum tangan melingkar memeluk pohon.
Katanya kalau tangan bisa bersentuhan antara kanan dan kiri yakin tujuan keinginannya akan terkabul.
Kami hanya diam dan menuruti kata-katanya karena selain takut dengan keadaan di malam itu hanya dia yang paham tentang hal-hal seperti itu.
Mas Wan yang berinisiatif mencoba pertama kali, dia memiliki badan yang hampir 2x lipat dari badanku yang masih anak SMP. Maklum karena dia paling dewasa dan sudah menikah berbeda dengan kami yang lain yang masih anak sekolahan.
"duh ndak sampai" ucap mas Wan yang masih berusaha memeluk pohon itu dengan kedua tanganya, terlihat usaha kerasnya mencoba menarik badannya kedepan agar tanganya bisa bersentuhan.
"yaudah mas lepas dulu, belum rejekinya. giliran yang lain coba" kata Jagad,
Dika memiliki badan yang tergolong besar untuk anak seumuranya, dia berbeda 1 tahun diatasku dengan badan yang 11:12 dengan mas Wan. Singkat cerita Dika dan Adit gagal melakukanya, Jagad dengan sedikit kecewa berbisik kepada mereka. Entah apa yang dikatakanya karena sejak awal aku tidak berani untuk mendekat ke pohon tersebut sedangkan mereka berada tepat didepan 'persembahan' yang ditaruh Jagad tadi.
"Yan sekarang giliranmu" ucap Jagad kepadaku,
Dengan pikiran yang berkecamuk dan seakan menolak dan takut aku berjalan pelan menghampirinya. Mas Wan, Adit yang memiliki badan lebih besar dariku saja tidak sampai tanganya apalagi aku? ucapku dalam hati dengan nalar pemikiranku sendiri. Ditambah lagi sebelumnya aku tidak berpuasa seperti apa yang sudah disuruhnya.
Aku berdiri merentangkan tanganku mencoba memeluk pohon tersebut. Sebelum memulainya aku mengikuti apa yang dia perintahkan kepada kami tadi dengan mengucap keinginan kami didalam hati dan meyakininya.
"LOH KOK SAMPAI!!" aku terheran dalam hati, tanganku bersentuhan antara kanan dan kiri. Aku masih tidak percaya dan mencoba menalar apa yang terjadi saat itu, tiba-tiba terdengar suara keras dari atas pohon. Seperti sesuatu yang jatuh tapi dengan ukuran yang besar.
"brukkk..." seperti itu suaranya, seketika itu juga kami hening dan mencari disekeliling apa yang sudah jatuh tadi tapi tidak menemukan apapun. Bahkan mas Wan berjalan agak jauh untuk memastikan apa yang jatuh tadi, karena suaranya yang begitu keras dan dekat dengan kami. Bukan suara ranting, lebih kesesuatu yang padat seperti suara orang jatuh.
Kami terpaku dengan kejadian itu, didalam area pemakaman yang tidak biasa itu gelapnya malam dibawah pohon besar yang berdiri kokoh disekitar kami ditambah aroma dupa yang kuat membuat kami semua merinding dan mematikan semua keberanian yang kami miliki saat itu. Kami yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terdiam dan saling melihat satu sama lain. Terlihat raut muka takut dan bingung diantara kami,
"Udah biarin aja, duduk sini" kata Jagad menyuruhku duduk disebelahnya,
Dia sudah duduk bersila didepan dupa yang dia siapkan tadi. Terlihat raut muka mas Wan, Adit dan Dika yang bingung dan tak percaya. Akupun sendiri juga bingung, masih mencoba menalar semuanya karena kejadian itu tak masuk di akal menurutku.
Aku duduk bersila disamping Jagad, dia membacakan secara pelan sebuah kalimat yang tidak aku pahami. Sesekali aku melihat gerak bibirnya mencoba memahami apa yang diucapkanya tapi tak bisa kucerna, hanya satu dua kata yang bisa aku pahami karena dia berucap dengan bahasa Jawa halus dengan intonasi yang cepat tapi pelan.
Tiba-tiba terdengar lagi suara seperti nafas, " hmmhh..." dari arah depanku, suaranya pelan tapi benar-benar seperti suara nafas yang dalam, dan seketika itu tubuhku merasa hangat lalu panas, dari pangkal ujung kaki hawa panas itu seakan berjalan keatas tubuku hingga ke kepala.
Aku tidak berani bertanya, tapi gemetar tanganku ini rasanya ingin berlari meninggalkan tempat ini saat ini juga saking takutnya. Saat mencapai titik kepala, hawa panas itu hilang dengan sendirinya.
Jagad mengajak kami semua pulang, dia tiba-tiba berdiri sembari membersihkan celananya dari tanah.
"ini tadi apaan kok panas gini?" tanyaku masih kebingungan dan ketakutan,
"ntar gue jelasin diluar aja, apa lo mau tidur disini?" jawab Jagad bercanda mencoba mencairkan suasana yang saat itu sangat tegang dan mencekam.
Terlihat raut wajah serius dan kecewa dari mas Wan, Adit dan Dika mungkin karena gagal melakukan prosesi tadi. Kami berjalan keluar dari makam.
"gue kerumah lo dulu ya, mau ngobrol dulu" kataku kepada Jagad,
Aku masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi tadi, berharap dia memberikan penjelasan tentang kejadian dan apa yang aku rasakan.
"gue ikut juga ya? gue pengen tau juga" ucap Adit sembari berjalan agak cepat kearah depan mendekatiku dan Jagad yang berjalan bersebelahan.
"iya ayok, nanti gue jelasin diluar aja biar enak" katanya kepada kami berdua.
Sesampainya diperempatan, Dika pamit untuk pulang duluan menyusul mas Wan yang terlebih dahulu pulang meninggalkan kami karena arah rumah yang berbeda.
Dirumah Jagad aku dan adit duduk di kursi kayu panjang didepan rumahnya menunggunya yang sebelumnya langsung masuk kedalam rumah tanpa berbicara apapun kepada kami. Adit menanyaiku tentang yang terjadi tadi tapi aku juga tidak bisa menjawab banyak karena aku sendiri juga tidak mengetahuinya.
"ntar deh dit, nunggu Jagad aja biar dia yang jelasin. Dia yang tau soalnya, gue sendiri nggak tau juga cuman ngrasa panas aja sampe kaya gini" ucapku kepada adit sambil menunjukkan tangan dan kakiku yang memerah kala itu.
Kulitku memang agak sensitif, hawa panas tadi benar-benar membekas di kulitku yang ikut memerah seperti habis terkena sesuatu yang panas. Setelah itu kami hanya saling diam dan melamun karena sama-sama bingung dan penasaran dengan apa yang terjadi.
Rasa takut dan merinding itu masih ada, hanya ada suara burung tekukur peliharaan ayahnya Jagad yang saling bersahutan menemani kami saat ini.
Tiba-tiba Jagad keluar dengan membawa sebuah gelas berisikan air putih dan diatasnya ditaruhnya sebuah bunga kantil dan 2 gelas teh hangat.
"ini minum dulu" kata Jagad kepadaku sambil memberikan gelas yang dibawanya.
"ini kok ada bunganya kaya gini?" tanyaku polos kepada Jagad,
"udah gausah nanya mulu, diminum dulu sampe habis airnya, bunganya ntar dimakan!" kata Jagad dengan agak sedikit membentak dan menepuk pundakku.
"udah ikutin aja bro daripada ntar malah kenapa-kenapa" tambah Adit menyuruhku meminumnya.
Setelah kuhabiskan air minum tadi dan memakan bunga itu, Jagad mulai menjelaskan tentang apa yang terjadi tadi. Katanya aku yang berjodoh diantara yang lain, jadi mau dibantu oleh mahkluk astral penguasa tempat itu. Dia juga bercerita kalau sebelumnya juga pernah melakukanya ditemani guru spiritualnya sebelum menjadi seahli ini.
"air sama bunga tadi rasanya gimana?" tanya Jagad kepadaku,
"manis, bunganya yang nggak ada rasanya" jawabku,
"itu tandanya sudah berhasil menyatu" sahut Jagad,
"menyatu gimana bro?" tanyaku kebingungan, disusul Adit yang juga ikut bertanya.
"air putih harusnya kan gaada rasanya, bunga itu harusnya juga pahit" jelas Jagad,
Aku terdiam dan terbesit di pikiranku,
'benar juga air putih kan tidak berasa',
kalau bunga memang sebelumnya aku belum pernah memakannya jadi tidak tahu bagaimana rasanya. Jagad mulai menjelaskan semuanya, tentang suara jatuh tadi yang katanya adalah sebuah sosok besar penguasa di area itu, dan nafas yang aku dengar memang nafas makhluk itu yang kala itu duduk didepanku kata Jagad menjelaskan.
"trus ini sekarang gimana? gue harus ngapain?" tanyaku bingung kepadanya. Tapi dia hanya menyuruhku untuk tenang dan menjalani hidup seperti biasa.
Jujur aku takut karena ' menurutku' sejak kecil aku tidak pernah berurusan dengan hal semacam ini, ditambah lagi masih menjadi pertanyaan besar buatku kenapa aku sendiri yang dibantu? kenapa yang lainya yang bahkan mereka lebih dahulu terjun ke hal-hal seperti ini malah gagal? kenapa aku gampang banget dibantuin? padahal aku sendiri tidak berpuasa dan percaya seperti yang lain.
"udah gausah banyak mikir, yang penting sekarang udah beres lo juga udah dibantuin" lanjut Jagad berkata kepadaku,
Waktu sudah menunjukkan 22.30, aku memutuskan untuk pulang karena hanya ijin sebentar tadi takutnya pulang-pulang dimarahin. Sesampainya dirumah ternyata adik dan ibuku sudah tertidur pulas, dengan pelan aku masuk kamar dan segera tidur karena besok ingin berangkat lebih pagi agar saat berangkat sekolah tidak bertemu dengan Nina lagi,
"yan bangun! yan bangun!..." terdengar suara disertai ada tangan yang menggoyang-goyangkan badanku hingga aku terbangun.
Aku membuka mata ternyata itu suara ibuku,
"kenapa mah?" tanyaku bingung masih diantara sadar dan tidak sadar,
"kamu triak-triak tadi! mamah kira ada apa" sahut ibuku
"oh engga mah gapapa, mimpi buruk paling" jawabku,
"makanya berdoa dulu sebelum tidur, yaudah dilanjut lagi tidurnya" jawab ibuku sambil berjalan meninggalkan kamarku setelah mematikan lampu.
Aku sebenarnya tidak tahu persis apa mimpiku tadi, aku hanya mengingat ada sebuah pohon beringin besar yang dibawahnya terdapat semacam sumber mata air dan ada sesosok mahkluk tinggi besar berbulu hitam lebat, berkuku panjang dengan gigi atau taring aku kurang tahu yang panjang menjulur kebawah, serta mata merah menyala.
Mahkluk itu seakan berbicara kepadaku tapi apa katanya aku tidak tahu karena di mimpi itu aku berlari ketakutan setelah melihat sosok itu. Anehnya setelah bangun badanku benar-benar merasa capek seakan habis berlari jauh, dan panas seperti demam tapi rasanya ada didalam tubuh.
"gue besok harus nemuin Jagad lagi buat tanya ini tadi kenapa" ucapku dalam hati, lalu kulanjutkan tidurku lagi.
Aku terbangun di pagi ini dengan rasa lelah dan pegal di seluruh badanku, bersiap berangkat sekolah seperti biasa. Badanku serasa tak normal, seperti ada sebuah perasaan aneh dan bukan seperti aku yang biasanya.
Sesampainya disekolah aku melakukan rutinitasku seperti biasanya, meminta uang dari setiap siswa yang ada di jadwal hari ini, tapi aneh rasanya hari itu emosiku sangat meluap-luap. Bahkan ada salah satu siswa yang hampir kulempar dengan kursi hanya karena dia menatapku cukup tajam. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali masuk ke kelas dan beristirahat, aku menyuruh Syahrul dan Andi untuk melanjutkanya.
Jam istirahat pertama berbunyi, aku keluar kelas berjalan kekantin seperti biasa diikuti teman-teman fraksiku yang berjalan dibelakangku. Tiba-tiba Aji berbisik kepadaku,
"boss, nina tuh" kata Aji kepadaku,
Sontak aku melihat kearah tangannya menunjuk, dan benar ternyata ada gadis yang kusukai berjalan bersama temanya memotong jalanku.
"ngga coba deketin lagi aja? siapa tau dia berubah pikiran" kata Mark, ditambah teman-temanku yang lain.
Setelah cukup lama berpikir dan teringat semua kata-kata Jagad serta apa yang sudah kulakukan semalaman hingga badanku seperti itu. Kubulatkan tekat dan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya lagi, karena aku berpikir pasti akan diterima. Aku berjalan cepat menyusulnya,
"ninn..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
bayoe gendoet
mantap thor, semangat trs
2022-10-28
2