CINTA PERTAMA

Ada seorang yang datang dan memanggil-manggil namaku dengan keras seakan tergesa-gesa.

"Yan..yann" ucapnya sambil mengetuk pintu rumahku berkali-kali...

Aku bergegas keluar menemuinya, ternyata itu suara Zuli.

"ada apa bro?" tanyaku,

"gue ajakin bentar yuk, ke taman Pura mau ketemuan sama cewek" katanya,

Taman Pura terletak lumayan jauh dari rumahku, bukan taman yang seperti kebanyakan taman tapi sebuah kompleks tempat tinggal para bangsawan dengan lapangan besar didepan bangunannya yang berfungsi sebagai alun-alun. Letaknya strategis karena memang difungsikan sebagai tempat tinggal Raja hingga saat ini, kompleks ini dikelilingi jalan satu arah yang memutarinya dan disebelah itara ada pasar induk yang besar dikota ini.

"he? iya bentar beresin makanku dulu yaa" aku menjawab sembari masih memegang piring, dan dia yang masih menyuruhku untuk buru-buru karena cewek yang akan dia temui sudah disana katanya.

Aku bergegas melanjutkan makanku, selesainya aku bergegas mengambil jaket dan berangkat menemaninya. Menaiki motor honda kharisma miliknya diperjalanan dia menceritakan tentang cewek yang akan dia temui, yang dikenalnya dari Putri tetangga dan teman kami juga.

Putri seorang tetangga kami yang berumur sama denganku, memiliki mata dan wajah bulat, kulit sawo matang dan rambut pendek ala Dora The Explore. Sesampainya di taman Pura kami duduk disebuah kursi besi yang ada ditaman itu menunggu cewek yang sudah janjian denganya. Terlihat zuli sibuk dengan HP nya, memberi tahu dimana posisi kami saat itu. Terlihat dari kejauhan dua orang cewek berseragam SMP berjalan mendatangi kami, karena memang tempat ini dekat dengan 2 Sekolah Menengah Pertama,

"itu bukan orangnya?" tanyaku kepada Zuli kala itu,

"iya itu kayaknya, dia ngajak temenya juga ntar biar kenalan sama lo ya" katanya,

Kami saling bersalaman dan berkenalan 1 sama lain, aku beberapa kali curi-curi pandang kepadanya.

Rensy namanya, berparas cantik dengan bentuk muka agak bulat, hidung pesek, rambut lurus panjang, lebih pendek dariku, berkalung rosario dan berkulit putih. Fanny teman sekelas Rensy yang menemaninya menemui kami saat ini, seorang gadis manis berkulit sawo matang, berwajah oval, berkacamata frame wayfarer hitam dengan rambut sebahu. Setelah berkenalan mereka berdua duduk di kursi yang ada didepan kami, Zuli membuka obrolan dan dilanjut mereka bertiga mengobrol walaupun masih agak canggung karena saat itu pertemuan pertama kami semua, aku lebih banyak diam dan tak ikut mengobrol karena memang bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang baru ditambah lagi aku pemalu kalau harus berhadapan dengan lawan jenis. Aku hanya berbicara sebutuhnya dan saat ditanya saja,

"masnya kok diem aja?" ucap Rensy yang duduk didepanku,

"eh.. emm.. iya kak gapapa cape aja baru pulang sekolah tadi trus diajakin kesini langsung" jawabku dengan salting,

Sebenarnya bukan aku tidak tertarik apalagi berniat bersikap sombong kepada mereka, tapi kala itu eventnya Zuli, aku tak mau mengganggunya apalagi caper dengan mereka. Dia gadis kenalan temanku aku tak ingin ada salah paham apapun antara aku dan zuli apalagi kalau sampai dia berpikiran aku caper dan tebar pesona kepada mereka.

"kenalin kak ini Fanny temenku sekelas" ucapnya lagi,

Akupun berkenalan secara pribadi dengannya, cewek yang periang dan humble. Walaupun aku sempat beberapa kali bingung mencari topik pembicaraan dan terbata-bata dalam berbicara, tapi dia seakan paham dan lebih aktif daripada aku. Kami sudah jadi akrab padahal baru saja kenal dan bertemu hingga kami bertukaran nomor handphone, walaupun aku sempet minder melihat handphonenya jauh lebih bagus dari milikku. Saat dia minta Mxit ku tapi aku tak punya karena handphoneku yang tidak support. Maklum saja karena dari penampilan saja terlihat kalau mereka dari keluarga yang berada berbeda jauh denganku. Namun hal itu nampaknya tak jadi masalah untuk mereka, karena dari awal mereka tidak sedikitpun menunjukkan sikap gengsi maupun ilfil kepada kami. Banyak hal yang kami bicarakan dari sekedar basabasi tanya alamat, hingga sebuah pertanyaan yang membuatku sempat malu. Friendster adalah pertanyaan yang membuatku malu saat itu karena aku tidak mengetahui aplikasi apa itu sebelumnya, tapi dia bukanya tertawa malah menjelaskan tentang aplikasi itu kepadaku.

Satu jam berlalu, kami memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu. Bahagia, itu yang aku rasakan saat ini karena Fanny yang bisa membuatku senyaman ini dan kata-katanya yang menyuruhku untuk jangan lupa menelponya nanti membuatku serasa diatas awan.

Sepulangnya dari pertemuan itu kami segera menyusul teman-teman kami yang lain ke sebuah rental playststion didekat rumah kami. Rental playstation ini tepat berada didepan makam didepan rumah mas Wan, dan timur rumah Putri dengan tempat yang lebih rendah dari jalan jadi harus turun melalui semacam tangga dari beton yang bisa dilalui motor juga. Dari rental playstation ini terlihat jelas pohon-pohon besar yang ada di makam. Rangga dan Catur sudah menunggu kami disana daritadi,

"gimana ceweknya tadi?" tanya Rangga kepada Zuli,

"cakep bro ga nyesel deh, tapi kayaknya gue salah ngajakin temen" jawab Zuli sambil tertawa melihatku yang saat itu sedang bermain bersama Catur.

Katanya saat itu Rensy sering lirik-lirik kepadaku terus, dan lebih kepo kepadaku juga daripada Zuli yang seharusnya dia temui.

Aku sebenarnya tau, tapi memang hanya menunduk bermain handphone dan terkadang ngobrol dengan Fanny sembari melihat jalan didepan kami tadi tanpa memperhatikan terlalu sering mereka karena tidak ingin mengganggu Zul dan aku memang malu bila berhadapan dengan lawan jenis apalagi belum kenal. Apalagi saat itu Fanny yang menjadi ' jatahku' bisa membuatku sangat nyaman.

"waaah bahaya tuh belum jadian udah ditikung, wkw" canda Rangga dan Catur.

"udah gapapa toh dia cuman buat temen chat pas gabut aja" jawab Zul sambil menunjukkan chatnya dengan cewek lain,

Memang Zuli dan Adam banyak sekali teman chat cewek karena mereka berdua sering mencari kesana kemari. Berbeda dengan kami yang lain yang lebih pasif masalah cewek dan lebih suka sekedar menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan teman.

Jujur aku memang lebih tertarik dengan Rensy, tapi aku sadar diri juga karena dia gebetan teman dekatku. Prinsipku juga lebih mahal pertemanan daripada sekedar gebetan, karena saat kita sedang tidak baik-baik saja pasti teman yang akan selalu ada.

Ditambah lagi aku sudah diberinya si Fanny, saat sedang asik bermain playstation zuli iseng menelpon Rensy dipojokan. Mencoba mengecek dan memastikan apakah pertemuan tadi berkesan untuknya,

"bro nih mau ngomong sama lo" teriak zuli kepadaku sembari mengangkat tangan memberikan handphonenya saat itu,

Tapi aku menolaknya karena merasa tak enak dengan Zuli, gimanapun juga dia kenalanya teman baikku. Aku tak ingin ada salah paham dengannya hanya karena masalah cewek.

"dia minta nomermu nih, gimana boleh gak?"

"janganlah itu kan gebetan lo" jawabku kepadanya saat itu,

"gapapa bro santai aja gue cuman buat gabut aja kemaren, gue kasih ya?"

Akhirnya Zul memberikan nomorku kepadanya, walaupun sebenarnya aku merasa tak enak denganya. Terdengar suara handphoneku berbunyi. Chat itu dari nomor baru yang ternyata Rensy ' ini kak Ryan? ' begitu isi chatnya.

"ini dia chat gue lang, gimana?" tanyaku kepada Zul, berusaha memastikan lagi karena tak enak rasanya seakan merebut gebetan teman sendiri.

"bales dong, kok malah jadi laporan sama gue" jawabnya sambil menertawaiku,

Kami saling berbalas chat satu sama lain, berkenalan lebih dekat dan lebih pribadi.

Rumah Rensy kurang lebih 20 menit dari rumahku, berada di kota yang berbeda tapi tidak terlalu jauh dari kota ini tapi lebih sering menginap ditempat neneknya yang berada di dekat taman Pura dan sekolahnya. Aku mengetahuinya setelah kami saling ngobrol panjang satu jam lebih di telepon sepulangnya aku dari rental playstation tadi.

Singkat cerita kami sudah dekat walaupun hanya bertemu sekali saat di taman itu, tapi sudah merasa nyaman satu sama lain karena sering chat dan saling telepon. Ditambah lagi dia sering bertanya tentang aku ke Putri yang juga teman sekelasnya.

Hari itu di malam minggu, aku berkumpul dengan Zuli dan yang lain didekat rumah kami. Zuli menanyakan bagaimana kelanjutanku dengan Rensy, aku menjawab seadanya hanya sekedar deket. Seperti contohnya dia yang perhatian selalu mengingatkanku makan, belajar, berdoa dan hal-hal lain di setiap harinya.

"udah tembak aja, siapa tau jadi?" kata Zuli,

Aku masih belum yakin akan hal itu, karena sebelumnya aku beberapa kali nembak cewek tapi ditolak terus.

"apa salahnya dicoba dulu? kalopun ditolak yaudah gapapa kan cuman iseng aja" sahutnya lagi yang saat itu melihatku bingung,

Akhirnya kucoba memberanikan diri mengungkapkan perasaan kepadanya walaupun iseng dan sedang dalam kondisi yang tidak sepenuhnya sadar karena efek alkohol yang kuminum bersama teman-temanku di malam ini.

Aku berbicara seadanya dan sedapatnya karena mendadak dan aku masih belum pintar berkata-kata tidak seperti temanku yang lain. Diluar dugaanku ternyata dia menerimaku, walaupun dengan beberapa syarat seperti tidak boleh minum, bolos dan hal lain yang biasanya aku lakukan. Dia mengetahuinya karena memang beberapa hal aku yang menceritakanya tapi kebiasaanku yang lain dia mengetahuinya dari Putri.

Saat itu aku bingung harus bersikap bagaimana karena pertama kalinya aku punya seorang pacar, pertama kalinya aku nembak seseorang dan diterima. Senang? banget, bingung? pasti, karena disisi lain aku masih merasa tak enak dengan Zuli walaupun dia berulang kali bilang tak apa. Walaupun hal itu membuat Fanny sedikit menjauh dariku dan Rensy, chatku jarang dibalasnya dan dia juga pindah tempat duduk dari yang sebelumnya sebangku dengan Rensy tiba-tiba pindah ketempat lain, dan jarang berkomunikasi dengan Rensy juga setelahnya. Aku mengetahuinya karena Rensy bercerita kepadaku.

Berita tentang pacarku yang baru ini menjadi topik hangat disekolahku juga karena aku menceritakan hal ini kepada teman-teman dekatku dan ternyata menyebar ke anak-anak lain. Selain sebelumnya aku belum pernah pacaran, sekolah Rensy dikenal menjadi sekolah dengan siswi yang cantik-cantik juga dibanding SMP lain otomatis hal itu menjadi sebuah kebanggan tersendiri untukku.

Mungkin hal ini juga yang membuat Tria dan teman-temanya bersikap berbeda denganku. Tria mempunyai 3 orang teman dekat, Aya, Dara dan Ona.

Dara memiliki tinggi badan sama seperti Nana, dengan rambut curly yang selalu diikat dan memiliki wajah square dengan mata bulat dan suara cemprengnya mirip Tria.

Ona seorang siswi yang aktif PMR dan kegiatan sekolah lain, dia tidak terlalu aneh-aneh berbeda dengan ketiga temanya yang lain.

Mereka yang biasanya ramah dan caper saat didepanku kini cenderung diam dan seakan tidak peduli. Beberapa kali juga mereka melihatku dengan tatapan sinis.

Selama menjalin hubungan kami tidak pernah bertemu, karena dia yang memang tidak pernah keluar rumah malam hari dan weekendnya selalu dipakai untuk pulang kerumahnya dan beribadah.

Hubungan kami hanya chat dan telepon. Namun hal itu tetap membuatku merasa sayang kepadanya, mungkin karena ini pertama kalinya aku punya pacar atau memang dia yang sudah mengambil hatiku. Bahkan saat aku berpapasan dengan Nina disekolah aku sudah tidak tertarik kepadanya, padahal sebelumnya aku sebegitu menyukainya.

Aku berpikir apakah ini hasil dari apa yang aku lakukan dulu di makam? tapi itu hanya kupikirkan sekilas saja dan bahkan melupakanya. Aku benar-benar menyayanginya, tapi karena rasa sayang yang berlebihan itu menjadi bumerang untukku sendiri.

Pada akhirnya hubunganku dengan Rensy saat itu tidak berlangsung lama, hanya lima minggu saja. Walaupun saat kami kelas 10 kami sempat balikan juga walaupun hanya sebentar karena sebelumnya aku terlanjur jadian juga dengan temannya dari SMP dan SMA yang sama, hal itu membuatnya kecewa dan benar-benar hilang dari hidupku setelahnya. Hingga aku kembali menerima kabarnya lagi saat kami sama-sama duduk di bangku kuliah nanti. Hubunganku denganya saat SMP itu berakhir kandas karena dia cewek rumahan baik-baik, sedangkan aku senakal ini. Banyak perbedaan pemikiran dan kebiasaan serta waktu yang bahkan saat pacaran itu kami tidak pernah bertemu sekalipun. Setiap kali kuajak bertemu dia tidak bisa karena waktu belajarnya dan jamnya yang terbatas. Hal itu juga yang membuat kami sering bertengkar, karena kecemburuan satu sama lain juga dan karena belum benar-benar saling mengenal sebelum menjalin hubungan ini. Apalagi karena dia aktif menjadi anggota OSIS disekolahnya, dan sering harus bersama dengan beberapa orang cowok seperti apa yang dia ceritakan kepadaku. Malam ini kami bertengkar hebat, bahkan reflek aku mengeluarkan kata kasar kepadanya yang saat ini menangis di telepon.

Akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini, dan saling menghapus nomor satu sama lain. Saat ini aku baru merasakan putus cinta yang pertama kali, ternyata lebih menyakitkan daripada ditolak orang yang aku sukai. Aku menceritakan hal ini kepada teman-temanku, termasuk mencoba bercerita dengan Fanny yang memang sejak dari awal care kepadaku sebelum aku menjalin hubungan dengan temannya. Dia yang paling sering mensupport aku agar bisa secepatnya bangkit, walaupun sebelumnya kami sempat jarang berkomunikasi saat aku masih bersama Rensy. Saat ini aku sangat terpukul dan lebih sering mabuk-mabukan dari sebelumnya.

Fanny mengajakku untuk bertemu agar aku bisa menceritakan semuanya, berharap mengurangi bebanku karena menceritakanya kepada orang lain walaupun disisi lain dia temannya Rensy. Kami berjanji untuk bertemu besok malam, didekat taman Pura karena rumahnya yang berada didekat situ juga.

Dimalam itu...

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!