INTISARI JATIDIRI

Nadia, gadis yang kuceritakan sebelumnya. Berdarah campuran, memiliki mata sipit sayu dengan rambut pendek berponi tengah. Saat itu kelasnya tepat berada diseberang kelasku. Kelas 8C yang hanya terpisah taman dengan kelas 9D milikku. Awal pendekatanku dengannya tak terlalu berjalan lancar karena dia mantan pacar temanku dulu, dan saat itu temanku masih menyimpan rasa padanya.

Walaupun dia sudah dikeluarkan dari sekolah tapi beberapa anak buahnya masih berada disekolah itu seakan sebagai mata-matanya. Dia sempat menemuiku dan bertanya apakah aku sedang mendekati Nadia, dengan kesombonganku saat itu kujawab angkuh dan kutantang dia untuk berkelahi.

Semenjak aku mengenal beberapa orang dari pusat Lion memang sikapku berubah sedikit demi sedikit. Aku yang biasanya tenang dan lebih kalem dari yang lain menjadi seorang yang angkuh, dan selalu ingin show off powerku saat itu. Aku lebih sering berbuat onar daripada sebelumnya, karena merasa terbackingi oleh organisasi itu.

Pagi itu saat berkumpul di basecamp sekolah sebelum masuk kelas, aku berencana untuk mengungkapkan perasaanku kepada Nadia. Aku memang tidak ada rasa apapun sebelumnya hanya sekedar tertarik kepadanya karena fisiknya, tapi hal itu menurutku cukup untuk mencoba menjadikanya pacarku. Dia seorang cewek yang terkenal juga di angkatanya karena kecantikanya.

"gue mau nembak Nadia, kalian ntar bantuin ya" ucapku kepada beberapa anggota fraksiku yang sedang duduk melingkar didepanku.

"bantuin gimana bos?" sahut Mark yang saat itu duduk tepat disebelah kiriku,

"ntar istirahat langsung kekelasnya dia, anak-anak dikelasnya suruh keluar semua kecuali dia, nah ntar kalian jaga diluar" begitu ucapku kepada mereka dan disanggupi mereka semua.

Bel masuk sekolah berbunyi, kami berjalan serentak meninggalkan basecamp dan memasuki kelas kami masing-masing. Tepat di hari itu entah mendengar dari siapa, Iza duduk disebelahku dan bertanya tentang perkelahianku saat malam minggu kemarin.

Aku menceritakan semuanya dengan sedikit menyombongkan organisasi Lion kepadanya, yang akhirnya dia juga bercerita tentang beberapa alasan yang membuatnya vakum saat mendengar fraksi kami akan bergesekan dengan fraksi Lana.

Iza bercerita kalau sebelum gesekan itu terjadi dia dan Nugi sempat didatangi oleh Lana yang ternyata sebelumnya memang telah berencana menjatuhkanku disekolah itu. Mereka berdua menolaknya, tapi karena penolakan itu ancaman datang kepada mereka berdua juga.

Rumah dan jalan pulang mereka berdua memang harus bersinggungan dengan banyak fraksi Lana yang bertempat tinggal disekitaran tempat itu. Otomatis hal itu membuat keselamatan mereka lebih terancam dibanding anggota fraksi lainya yang mengarah ke selatan dan barat.

Walaupun mengetahui tentang rencana Lana sebelumnya tapi mereka berdua tutup mulut dan tidak memberitahu anggota fraksi yang lain terutama aku, dengan alasan mereka berpikir hal itu tidak akan terjadi mengingat kekuatan fraksi kami yang terbesar disekolah ini. Tapi saat aku mengumumkan perang dengan fraksi Lana, mereka berdua ketakutan karena telah diancam sebelumnya dan akhirnya memutuskan untuk vakum walaupun mereka masih peduli dengan fraksi ini.

Mengetahui cerita itu aku sempat emosi dan marah kepada Iza dan Nugi karena sikap cemen mereka berdua. Tapi aku sadar juga kalau diposisi mereka mungkin aku akan melakukan hal yang sama juga.

Mark dan Zhaki yang duduk tak jauh dariku dan melihat kejadian itu mendekati kami dan ikut nimbrung juga. Walaupun saat itu Mark dan Zhaki masih saling memendam rasa benci satu sama lain, yang terlihat dengan cara mereka memandang dan menjaga jarak satu sama lain.

"maaf banget yan, bukan maksut mau nutupin apa gimana tapi gue beneran takut" , kata Iza dengan wajah memelasnya menunduk dan tanganya yang memegang tanganku meminta maaf.

"yaudalah mau gimana lagi, toh kita duluan yang nantang kan akhirnya, bukan mereka yang nyerang duluan" kataku kepadanya.

Emosi? pasti, tapi mengingat kejadian sebelumnya kalau aku yang memang punya ambisi berkuasa dan fraksiku ini yang lebih dahulu menyerang rasanya tak etis juga kalau menyalahkan mereka berdua tentang hal tadi.

"cuman kedepanya kalo emang ada kejadian kayak kemaren lagi lu kasih tau gue! gaperlu diulangin hal kayak kemaren itu!" tegasku lagi kepada Iza yang disanggupinya dengan mengangguk seraya kembali meminta maaf.

Disaat itu juga aku meminta Mark dan Zhaki untuk benar-benar baikan, aku sedikit memarahi mereka saat itu.

"kalian ga inget gimana dulu kita susah seneng bareng dari kelas 8? kok sekarang jadi egois bego kayak gitu" kurang lebih garis besarnya seperti itu yang kuucapkan kepada mereka yang hanya menunduk melihat satu sama lain saat itu.

Singkatnya mereka akhirnya berbaikan, Iza kembali aktif di fraksi ini lagi tapi tidak dengan Nugi. Dia terpaksa harus serius belajar saat itu karena harus mengejar nilai ujian yang tinggi. Orangtuanya memaksanya untuk bersekolah di SMK tempat ayahnya bekerja, salah satu sekolah berprestasi di kota ini, kata iza. Agak berat memang tapi kami memaklumi dan memahami kondisinya saat itu.

Kembalinya Zhaki dan Iza membuatku sedikit tenang, karena dengan kembalinya mereka selain kekuatan tempur fraksi ini bertambah hal itu juga membuatku merasa tenang. Mereka orang-orang yang membantuku mencapai posisi ini, ibarat rumah kalau kehilangan beberapa tiangnya tak akan berdiri sekokoh sebelumnya. Tempat duduk kami pun kami rubah saat itu, Zhaki duduk disebelahku, Mark dan Iza duduk sebangku si sebelah timur tempat dudukku. Kami berempat duduk dibarisan paling belakang, tempat anak-anak nakal. Kelasku menghadap keselatan, dengan meja guru disamping pintu, 4 baris meja dari timur kebarat dan 5 baris meja kebelakang.

Evi dan Benny masih sekelas denganku, sedangkan Dewi berkelas di 9E bersama Ivan, Ana dan gerombolanya.

Saat istirahat pertama dimulai, sesuai rencanaku sebelumnya aku mengajak anggota fraksiku yang kelasnya dekat ke kelas 8C. Tak lupa aku mengajak Iza dan Zhaki juga saat itu, Syahrul, Andi dan beberapa anggota lain yang berbeda kelas sedikit kaget dan senang dengan adanya mereka berdua menandakan semua masalah internal di fraksi ini telah selesai.

Terlihat beberapa anggota fraksiku yang sekelas dengan Nadia kesulitan membujuk teman-temannya yang masih dikelas untuk keluar. Melihat kedatangan kami salah satu dari mereka menghapiriku yang saat itu masih berjalan ditaman,

"mas pada susah disuruh keluar, apalagi cewek-cewek soalnya pada ngerjain tugas mata pelajaran habis istirahat" ucap anak itu kepadaku.

"udah biar gue yang ngomong!" jawabku sambil tetap berjalan kekelas itu.

Sesampainya dikelas itu aku langsung masuk diikuti Mark yang entah apa yang dipikirkanya langsung memukul pintu dengan keras dibelakangku. Sontak hal itu membuat seisi kelas itu kaget dan mereka yang ramai mendadak hening, terlihat beberapa siswa ketakutan melihat kami datang beramai-ramai kekelas itu.

Biasanya saat kami datang kesebuah kelas dengan ramai pasti ada suatu masalah, dan pasti mencari seseorang untuk dihajar. Sudah menjadi rahasia umum, apalagi mereka kelas 8 yang sudah satu tahun mengenal kebiasaan fraksi kami.

"keluar dulu semua kecuali Nadia!" bentak Mark yang saat itu berdiri didepan kelas didekat papan tulis kepada semua siswa kelas itu.

"loh kenapa mas? aku salah apa?" tanya nadia yang saat itu kebingungan terlihat dari raut wajahnya.

"ryan mau ada perlu sama lo" sahutnya.

Sebenarnya saat itu tanpa harus berbuat seperti itu bisa saja aku menembak Nadia, tapi memang hal itu kulakukan karena senang mencari sensasi saja. Sekedar agar dianggap dan terlihat hebat oleh siswa lain dengan menunjukkan powerku.

Saat itu juga semua siswa kelas 8C keluar dan mengerjakan tugas mereka diluat kelasnya diikuti Mark dan teman-temanku yang lain seraya menutup pintu dan semua jendela kelas itu.

Aku berjalan mendekati Nadia yang saat itu duduk ditempat duduknya, tiga baris dari meja guru kelas itu.

"nad gue mau ngomong, gue suka sama lo" kataku,

"loh mas kan ada kak Ana? nanti aku ada masalah sama dia?" jawabnya saat itu dengan ekspresi wajah yang tak jauh berbeda dari sejak aku masuk kekelasnya tadi.

Saat itu Ana dan teman-temanya memang menjadi gerombolan cewek yang ditakuti disekolah ini. Terutama Aya, selain dia dekat dengan Lana dia memiliki badan yang tinggi dan berisi yang seakan mengintimidasi ditambah dengan kebiasaanya melabrak siswi lain juga saat itu yang menjadikan mereka terkenal juga disekolah ini.

Gosip tentang Ana yang menyukaiku sudah seperti salah satu materi pelajaran, yang hampir semua siswa kelas 9 dan 8 mengetahuinya.

Aku menjelaskan kepadanya tentang hubunganku dengan Ana, yang memang aku tidak menaruh sedikitpun rasa kepadanya selain ilfil.

Entah saat itu karena terintimidasi atau memang dia menaruh rasa kepadaku sebelumnya akhirnya Nadia menerimaku menjadi pacarnya.

Berbeda dari sebelum-sebelumnya jawaban itu tidak membuatku sebahagia dengan mantan-mantan pacarku yang dulu. Mungkin karena aku memang tidak ada rasa apapun sebelumnya terhadapnya, atau memang sudah mulai terbiasa menjadi seorang ' player'.

Aku menyempatkan mencium pipinya saat itu sebelum aku berjalan keluar dari kelasnya.

Sekeluarnya aku dari kelas itu terlihat beberapa siswa dari kelas lain melihat kearah kelas ini. Wajar memang karena seisi kelas mengerjakan tugas diluar, pintu dan jendela kelas itu ditutup rapat dengan banyak anggota fraksiku yang berada diluar kelas. Hal itu tidak membuatku risih sama sekali karena sejak awal memang aku senang membuat sensasi.

Terlihat pula Ana dan teman-temanya yang saat itu duduk didepan kelas mereka melihat kearah kami yang ada diseberangnya dengan tajam. Aku tak terlalu memperdulikanya lalu berjalan kearah kantin sekolah diikuti anggota fraksiku yang lain.

"gimana bos tadi? ditrima gak?" tanya Iza kepadaku,

"diterima za, udah jadian ntar pulang gue anterin" jawabku kepadanya,

"diterima kok biasa aja gitu kayak gaada seneng-senengnya?" tanya Mark yang hanya kujawab dengan tertawa saat itu.

Andi yang saat itu ada disitu bercerita juga tentang Nadia, yang kukira sebelumnya dia cewek cupu baik-baik ternyata cewek nakal yang sering melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan orang yang belum menikah dengan mantannya yang merupakan temanku yang sudah dikeluarkan dari sekolah ini, yang sempat kutantang karena masalah Nadia sebelumnya.

"gue kira lo nembak karena tau dia nakal bos?" kata Andi kepadaku,

"lah kaga tau gue, cuman iseng karena dia cakep aja, toh daripada jomblo lagi gue" sahutku kepadanya yang saat itu terbesit juga dipikiranku tentang Nadia, yang otomatis akan membuatku bisa melakukan hal itu juga dengannya.

Syahrul yang saat itu selesai memintai uang setoran dari kelasnya mendatangi kami di kantin, dan menceritakan kalau dia melihat Ana dan teman-temanya berada didepan kelas 8C mengobrol bersama anak kelas itu.

Aku akan menjelaskan sedikit teman-teman sekelas Ana dan Aya yang lain yang sebelumnya beberapa diantara mereka di kelas 8 dulu tidak satu kelas dengan Ana, Aya dan Dara.

Dewi, teman sekelasku sewaktu masih dikelas 8 tahun kemarin.

Helen, sebelumnya dia sekelas juga dengan Ana tapi sewaktu masih di kelas 8 dia tidak terlalu menonjol karena pendiam. Dia memiliki tinggi badan sebahuku saat itu, berkulit putih dengan badan berisi tapi bukan gendut, mirip dewi. Berambut panjang selalu membawa tas model slingbag besar. Berwajah oriental, dengan bibir indahnya. Rumahnya tak jauh dari rumahku hanya berbeda kampung yang mungkin hanya sekitar 1km disebelah timur agak keselatan.

Avi, dia dulu kelas 8B yang berada didepan kelasku 8D dulu. Memiliki warna kulit sawo matang, berbadan proporsional dan memiliki tinggi badan yang lebih tinggi dari teman-temanya yang lain. Bermata bulat, berhidung pesek dan memiliki rambut pendek bervolume. Dia anak dari seorang aparat negara, cewek yang selalu ngomong nyablak dengan rasa ingin nakal yang tinggi.

Vila, dulunya sekelas dengan Avi yang membuat mereka berdua sangat dekat disamping tempat tinggal mereka yang berjarak tak terlalu jauh. Seorang gadis yang awalnya kukira pendiam ternyata dia cukup liar dan nakal. Adik sepupu dari Luna, teman sekelasku dulu sebelum aku tinggal kelas. Bertempat tinggal dirumah Luna saat masih SMP karena rumahnya yang terlalu jauh dari sekolah. Dia selalu berjalan kaki berangkat lewat depan dan pulang lewat belakang sekolah. Memiliki rambut panjang agak kecoklatan berhidung mancung berkulit kekuningan. Dia cukup pendiam dan tidak terlalu terkenal disekolah ini saat itu, nanti akan kuceritakan lebih lanjut mengenai dia.

Ita, sebenarnya dia teman sekelasku dikelas 8D tapi dia hanya gadis biasa sewaktu kelas 8 dulu. Bermata belo, berhidung bulat dengan kulit putih dan rambut sepunggung yang selalu diikat. Agak sedikit gemuk dengan suara cemprengnya yang agak kontras dengan sifatnya yang pemalu.

Aku menceritakan tentang mereka berempat karena mereka akan mengisi sepetak perjalananku hingga 12 tahun setelah masa SMP itu. Akan kuceritakan nanti sesuai dengan urutan cerita ini.

Mendengar Ana dan teman-temanya mendatangi kelas 8C kami semua tau kalau mereka pasti mencari informasi apa yang telah kami lakukan dikelas itu, mengingat hanya aku sendiri yang berada didalam kelas itu tadi.

Aku khawatir karena berpikir kalau Nadia akan dilabraknya, karena sifatnya yang memang selalu ingin cari perhatian kepadaku. Kasihan juga Nadia yang notabenya tidak menyalahi apapun kepadanya harus bermasalah dengannya hanya karena aku.

Sepulangnya dari sekolah aku mengajak Nadia untuk pulang bersamaku, kami berjalan ke parkiran motor yang berada di sebelah selatan sekolah berjarak kurang lebih 100 meter dari sekolah.

Siswa yang membawa sepeda motor memang tidak diparkirkan didalam sekolah karena aturan sekolah yang sebenarnya tidak memperbolehkan siswa membawa sepeda motor karena dibawah umur.

Sembari berjalan aku mengobrol bertanya kepadanya tentang Ana yang mendatangi kelasnya tadi, dan ternyata yang kukhawatirkan...

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!