PENJAGA KUASA

Dimalam itu aku menemui Fanny disebuah gazebo didekat rumahnya. Gazebo itu menghadap keutara terletak ditengah-tengah taman kompleks rumahnya. Rangga yang mengantar dan menemaniku karena saat itu aku tidak memiliki sepeda motor dan tak tahu daerah tersebut.

Dia sukarela mengantarku karena kami berteman dekat juga, rumahku dan rumahnya bisa dibilang berhadapan. Rumahku dipinggir jalan menghadap utara dan rumahnya dijalan buntu tepat didepan rumahku menghadap kebarat. Aku bahkan sering mandi, makan dirumahnya juga saat SMK nanti, bahkan kami pernah bergantian tidur dengan cewek yang sama saat mabuk bersama dirumahnya, yang nanti akan kuceritakan dicerita selanjutnya.

Rangga menyimpan rasa penasaran dengan Fanny, cewek yang sering aku ceritakan kepada teman-temanku ditongkrongan sebelum aku menjalin hubungan dengan Rensy. Sesampainya disana kami harus menunggu lumayan lama, karena Fanny menunggu ayahnya berangkat bekerja terlebih dahulu agar bisa keluar rumah disaat jam wajib belajar.

Dia datang berjalan kaki dari arah barat tempatku duduk saat ini, menggunakan piyama berwarna biru muda dengan motif bunga dan rambut terikat dia menemui kami saat itu. Rangga yang tak ingin mengganggu waktu kami memutuskan untuk duduk agak jauh dikursi taman sebelah timur kami. Aku bercerita panjang lebar mengenai apa yang aku rasakan saat ini. Dia duduk diam disampingku mendengarkan semua ceritaku dan sesekali memengang tanganku sembari memberiku semangat.

Sepulangnya dari pertemuan itu, Rangga memuji paras dan ettitudenya. Bahkan menyuruhku untuk mencoba menjalin hubungan dengannya karena sebelumnya memang aku sudah dekat dengannya. Hal itu tidak terlalu aku pedulikan, karena melupakan Rensy tidak mudah untukku saat itu walaupun pacaran kami hanya via chat dan telepon tapi dia tetaplah pacar pertamaku.

Saat itu aku berpikiran Rangga menyuruhku untuk mencoba dengan Fanny sekedar untuk balas budi dan keperluanya saja. Karena sebelum kami pulang meninggalkan Fanny, Rangga sempat meminta dikenalkan secara random dengan teman Fanny. Saat itu juga Rangga mendaoatkan nomor telepon dari teman Fanny yang bernama Yohana.

Hubunganku dan Fanny memang membaik setelah itu, dia selalu perhatian kepadaku begitupun aku kepadanya.

"kenapa ga dicoba dulu aja, siapa tau bisa lupain dia sama orang baru?" kata-kata dari Rangga yang masih terngiang diingatanku saat itu. Walaupun setelah itu selang beberapa hari kuberanikan diri berkata suka dan nyaman denganya dan diterimanya, tapi hubungan kami tidak bertahan lama.

Hanya berjalan 2 minggu saja karena hal itu membuat hubunganya dengan Rensy semakin merenggang dan kami memutuskan untuk mengakhiri saja hubungan kami dulu.

Hidupku memang sedikit agak berubah dari saat ini, setelah diterima dan berpacaran dengan 2 orang walaupun hanya sekedar chatting tapi itu membuatku menjadi seorang yang lebih percaya diri saat berhadapan dengan lawan jenis.

Sebelah barat rumahku ada sebuah warung milik tetanggaku yang sering menjadi tempat nongkrong kami, warung itu berdiri diatas sebuah selokan dengan bahan bangunan yang keseluruhanya terbuat dari kayu.

Hanya berjarak kurang lebih 20 meter dari rumahku, dibarat rumahku ada 2 rumah dan perempatan jalan. Warung itu terletak diutara jalan barat perempatan menghadap ke selatan dengan separuh bagiannya berhadapan dengan jalan, karena jalan di perempatan itu yang sebelah utara lebih kecil dari 3 jalan lainya.

Untuk mempermudah penyebutan di cerita ini aku menamai warung itu warung W. Dari warung W terlihat jelas rumah Catur karena rumahnya terletak dipinggir jalan, dari rumah catur keselatan 15 meter ada sebuah gang buntu disebelah timur. Rumah Zuli dan Adam ada di gang buntu itu dengan 5 rumah tetanggaku lainya.

Sore itu kami nongkrong dan berkumpul di warung W, seperti biasanya ada 4 orang gadis yang selalu berjalan melewati jalan ini untuk les di barat kampungku. Rumah mereka berada ditimur makam, karena makam itu memang menjadi batas antara RW walaupun masih berada di satu kampung yang sama. Mereka bernama Anin, Ima, Evin dan Indi yang berasal dari sekolah yang sama, Anin dan Indi 1 tahun dibawahku sedangkan Ima dan Evin sama sepertiku saat itu yang masih kelas 8.

Anin seorang gadis berparas cantik dengan mata sayu nya, berbadan ideal sesuai tinggi badanya dan rambut lurus panjang dengan kulit kekuningan. Ima memililiki warna kulit sawo matang, dengan rambut pendek bermuka oval dengan mata bulatnya. Indi memiliki rambut sebahu yang selalu diikat dengan kulit putihnya, sedangkan Evin memiliki rambut panjang dengan badan yang agak berisi dan kulit seperti Ima. Ima adalah pacar dari Alvin, adek sepupu dari Jagad. Alvin adalah kakak kelasku di sekolah, yang dulunya teman satu angkatan denganku sebelum aku tinggal kelas.

Dia seorang yang pintar dan pendiam berbanding terbalik denganku, aku juga hanya sekedar kenal dengannya dan tidak terlalu dekat.

Mereka berjalan melewati kami, seperti cowok pada normalnya teman-temanku catcalling ke mereka. Tidak ada respon apapun, hanya Anin yang melirik dengan juteknya. Aku mulai penasaran dan kepo tentangnya kepada teman-temanku karena Rangga dan Catur sempat satu tempat les dengan mereka.

Singkatnya aku mendapat nomor handphone anin dari alvin, dan aku mulai mencoba berkenalan dengannya. Saat itu aku tidak terlalu pintar dalam berkata-kata, chatku dengannya pun beberapa kali dibantu Catur. Hingga pada suatu pagi dia mengajakku untuk jogging, pagi itu aku bangun jam 4 pagi dan bersiap sebelum menemuinya.

Rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku, 100 meter disebelah timur makam didepan sekolah dasarku dulu. Dia sudah menungguku didepan rumahnya, dengan celana pendek, memakai sweater berwarna biru langit dan rambut panjang diikatnya. 'Cantik' itu kata-kata reflek yang keluar dari mulutku tanpa aku sadari yang membuatnya tersenyum malu. Pagi itu kami berjalan tidak terlalu jauh, saat itu aku benar-benar grogi dan canggung karena pertama kalinya keluar bareng dengan seorang gebetan walaupun hanya sebatas jogging. Kami jogging tidak begitu lama karena hari itu bukan hari libur dan kami harus bersekolah.

Hari itu aku sangat bersemangat pergi ke sekolah, disekolah pun raut bahagia tak dapat kusembunyikan lagi. Bahagianya kasmaran yang menghapuskan rasa sakit hati karena kisah asmaraku sebelumnya.

Namun suatu hal membuat mood ku berubah disiang itu, mendengar kabar Ivan salah satu teman fraksiku dikeroyok fraksi lain hingga babak belur di hari sebelumnya hingga tidak masuk sekolah hari ini.

Aku mengetahui kabar itu dari Nugi, kemarin saat mereka pulang sekolah bersama tiba-tiba dicegat beberapa orang dari fraksi Dedi dan dikeroyok tapi Nugi bisa lari saat itu. Sempat kumaki dia habis-habisan saat istirahat pertama disiang itu, karena meninggalkan temanya dan egois memperdulikan keselamatanya sendiri. Dia hanya tertunduk dan hanya bisa meminta maaf.

"yaudah bos udah kejadian juga mau gimana lagi?" kata Aji yang berusaha menenangkanku saat itu.

"iya bos, sekarang yang penting kita bales dulu mereka" tambah Mark dan teman-temanku yang lain, yang ikut marah dan emosi mengetahui hal tersebut. Walaupun kami belum mengetahui apa masalah sebenarnya karena Ivan tidak bisa dihubungi dan Nugi juga tidak mengetahui apapun tentang masalah kemarin.

Saat itu aku tidak bisa mengendalikan emosiku lagi, walaupun beberapa temanku mencoba menenangkanku dan meminta untuk membuat rencana terlebih dahulu tapi aku terlanjur tidak bisa diajak berbicara lagi.

Aku meninggalkan mereka yang sedang rapat membicarakan rencana untuk balas dendam, aku berjalan menuju kantin sebelah selatan sendirian. Melewati kelas 7e aku berpapasan dengan 2 orang anggota fraksi Dedi, tanpa pikir panjang kupukuli mereka saat itu juga. Salah satu dari mereka berhasil kabur meninggalkan temannya yang saat itu tersungkur jatuh didepanku.

Terlihat anak-anak kelas 7 yang berada didekat situ hanya bisa melihat dan beberapa berlari masuk kekelasnya.

Tiba-tiba banyak suara orang berlari kearahku dan ada yang mendorongku lalu beberapa orang menyusul memukuliku. Ternyata orang yang berlari tadi memanggil fraksi Dedi yang lain di kantin sebelah utara.

Untung saat itu teman-teman fraksiku ikut datang dan membantuku hingga keadaan kembali berubah. Suasana saat itu sangat chaos, batu, kayu, penggaris hingga kursi didalam kelas jadi senjata kami untuk memukul satu sama lain. Kami memang masih anak SMP saat itu, tapi kenakalan kami bisa dibilang melebihi anak SMP pada umumnya apalagi saat event fight seperti ini.

Event itu terhenti saat beberapa guru datang dan melerai kami, kami semua dibawa keruangan konseling saat itu. Beberapa dari yang terlibat bahkan harus berdiri diluar ruang konseling karena banyaknya yang terlibat hingga ruangan itu tidak cukup.

Banyak dari kami yang babak belur, seragam kotor bahkan sobek. Pergelangan bagian dalam tangan kiriku juga terluka hingga berdarah saat aku coba menangkis penggaris besi yang dipukulkan kepadaku tadi.

Para guru mengobati kami sambil memarahi apa yang sudah kami lakukan. Selesai diobati aku dipanggil ke ruang wakil kepala sekolah saat itu dengan Dedi karena para guru juga mengetahui kami pentolan dari kedua belah pihak. Disidangnya kami saat itu, kami berusaha membela diri kami dengan argumen kami masing-masing. Hingga kami dipukul dengan rotan dan memberikan surat panggilan kepada kedua orangtua kami.

Teman-teman kami yang lain sekedar diberi poin, beberapa pentolan lain ditambah juga surat panggilan orangtua yang sama dengan kami. Dipaksanya kami untuk bersalaman sebagai tanda perdamaian sebelum kembali ke kelas masing-masing. Kami terpaksa melakukanya tapi emosi kami saat itu masih belum benar-benar turun. Maklum karena dengan umur yang masih segitu pengendalian emosi memang belum terlalu baik.

Sekembalinya aku ke kelas kami duduk menggerombol di bagian belakang, mengusir teman-teman sekelas kami yang lain. Tempat duduk fraksiku yang sekelas memang terpisah-pisah karena dipisah-pisah oleh wali kelas kami, hanya aku dan Aji yang sebangku.

Kami merencanakan pembalasan pulang sekolah nanti, Andi, Mark dan Zhaki ijin untuk pergi ke kamar mandi kepada guru kami yang saat itu mengajar. Mereka keluar kelas untuk memberitahukan rencana kami kepada teman-teman fraksi kami dan anak-anak lain yang memiliki masalah dengan fraksi Dedi untuk bisa kami ajak beraliansi.

Aku menyuruh mereka agar sepulang sekolah nanti berkumpul di gubuk tempat biasa kami nongkrong sebelum pulang kerumah. Fraksi dedi memang kebanyakan berisi anak-anak kelas 9 kakak kelas kami saat itu, tapi kami tidak takut sedikitpun karena saat itu memang fraksi kami yang memiliki anggota paling banyak dari fraksi yang lain.

Sepulangnya aku dan teman-teman fraksi sekelasku menyusul yang lain ke gubuk tempat tongkrongan kami. Memang saat itu pulang sekolah kami berbeda-beda jamnya jadi beberapa dari mereka harus menunggu kami pulang terlebih dahulu. Tanpa banyak bicara dan belum sempat duduk aku langsung mengajak mereka mengitari area sekolah kami mencari anggota fraksi Dedi.

Tongkrongan mereka didepan sekolah kami pun tak luput dari sweeping kami saat itu, hanya ada beberapa orang dari mereka yang langsung kami hajar disaat itu juga. Hingga salah satu anggota fraksiku melihat Dedi dan tiga anak buahnya berlari kearah sebaliknya saat melihat kami disana.

Sontak kami berlari mengejar mereka yang saat itu berlari ke kebun disamping sekolah kami. Disanalah akhirnya mereka berempat kami hajar habis-habisan. Aku juga sudah memberitahu teman-teman kampungku akan hal ini melalui chat saat itu, karena organisasi kami diluar sekolah juga berseberangan yang pasti akan berbenturan lagi seperti biasanya.

Organisasi yang kami ikuti bukan ormas kecil di kota ini, tapi sama-sama memiliki pengaruh yang besar. Bukan berisi anak-anak kecil seperti kami pada saat itu tapi memang itu ormas besar. Organisasi yang aku ikuti saat itu bahkan sudah berusia 22 tahun berdiri, berbeda dengan ormas Dedi yang saat itu baru terbentuk beberapa tahun saja.

Mark yang saat itu sudah emosi bahkan mengambil sebongkah batu besar yang akan dihantamkannya ke Dedi, tapi hal itu berhasil dicegah Iza. Karena kalau sampai hal itu terjadi pertengkaran ini akan berakibat fatal. Dedi yang sudah babak belur dan penuh tanah serta tanaman ditubuhnya memohon-mohon kepada kami untuk mengampuninya.

Aku yang saat itu masih emosi menendangnya lagi yang saat itu jongkok didepanku. Dia kembali meminta maaf dan menceritakan hal yang terjadi dihari Ivan dikeroyok.

Menurut ceritanya saat itu Ivan mendekati Icha pacar dari Rio salah satu pentolan di fraksi Dedi. Sedikit aku jelaskan tentang Icha, cewek chindo memiliki mata bulat dengan rambut pendek, postur badan kurus tinggi dan berkulit putih.

Melihat pacarnya didekati Rio marah dan tidak terima, Rio sempat menegur Ivan tapi ditantangnya saat itu. Hingga akhirnya pengeroyokan itu terjadi di siang harinya sepulang sekolah.

Diposisi itu memang Ivan yang salah, tapi semua sudah terlanjur terjadi juga. Dedi juga mengakui kekalahanya saat itu dan berkata kalau masalah ini murni masalah kami yang berakhir disaat itu juga tanpa harus meluas keluar sekolahan. Akupun menyetujuinya dan kami saling meminta maaf disiang itu, permasalahan itu benar-benar selesai disiang itu. Kami kembali ke gubug tongkrongan kami, Dedi kuajak kesana untuk sekedar basa basi mengobrol dan minum bersama.

Walaupun agak canggung karena selain kami bermusuhan, dulu waktu masih kelas 7 aku sering dipalak uang juga olehnya dan teman-temanya saat itu. Tapi itu sudah masalalu sekarang kedudukanku diatasnya, dia yang takut kepadaku saat ini. Beberapa orang aliansi kami yang bulan anggota fraksi kami saat itu akhirnya ikut bergabung denganku di fraksi ini setelah kemenangan kami tadi. Bahkan Dedi sempat bercerita dan menitipkan anggota fraksinya yang masih kelas 7 dan 8 kepadaku saat itu karena dia sebentar lagi akan lulus dari sekolah ini.

Hal itu secara tidak langsung membuat fraksiku ini menjadi fraksi yang lebih kuat dengan anggota lebih dari 50 orang disekolah ini.

Bangga dan jumawa tak dapat dipungkiri lagi mengingat pada awal masuk sekolah ini aku hanya seorang yang sering dibully dan dipalakin. Sebenarnya aku tidak berencana menjadi yang terkuat hanya sekedar ingin keluar dari pembullyan yang dulu sering aku alami. Tapi takdir memang terkadang memiliki niat dan alur ceritanya sendiri...

Terpopuler

Comments

Anjar

Anjar

nagih thor

2022-10-28

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!