Sembari berjalan aku mengobrol bertanya kepadanya tentang Ana yang mendatangi kelasnya tadi, dan ternyata yang kukhawatirkan benar terjadi tapi saat itu Ana hanya masuk sebentar melihat dia dengan pandangan sinis lalu keluar tanpa bicara apapun kata Nadia menceritakan kejadian tadi kepadaku. Aku mengantarnya pulang, rumahnya tak jauh dari sekolah kami.
Malam harinya aku mengajaknya untuk keluar, walaupun harus membohongi orangtuanya dan berkata akan mengerjakan tugas sembari membawa tas akhirnya di malam itu kami berhasil keluar bersama.
Aku membawanya ke Lembah, perjalanan yang lumayan jauh dengan tanpa adanya penerangan sedikitpun saat mendekati area Lembah. Aku tetap meneruskan perjalananku kesana, bukan kebagian atas seperti sebelumnya tapi aku mengajaknya ke bagian tengah dari Lembah yang hanya berisi pohon-pohon dan beberapa petak kebun singkong milik warga sekitar situ.
Sesampainya disana dia ketakutan karena gelapnya tempat itu dan hanya pepohonan sejauh mata melihat tanpa ada penerangan apapun selain cahaya bintang.
"kita mau ngapain yang?" tanyanya dengan wajah ketakutan yang selalu melihat kenanan dan kekiri, dan mengajakku untuk meninggalkan tempat itu karena ketakutanya.
"iya ntar pindah tapi gue mau jatah dulu" kataku kepadanya dulu yang masih kuingat sampai saat ini.
"iya gampang tapi jangan disini, agak kesana aja" ucapnya sambil menunjuk arah agak kebawah dari tempat kami berada saat itu.
Aku berpindah tempat mengikuti kemauanya, dan ditempat itu kami melakukanya. Hanya beralaskan tanah dan beratapkan langit di malam itu. Walaupun tempat itu tergolong angker dan seram secara kasat mata tapi buatku tempat itu serasa biasa saja.
Bahkan nanti bukan hanya Nadia yang kubawa ketempat itu dimalam hari, ada beberapa lainya juga yang sempat kubawa kesana nanti.
Sepulangnya dari tempat itu dan setelah mengantarkanya pulang dia mengirim pesan kepadaku, mengajakku melakukanya lagi karena yang kami lakukan tadi kurang memuaskanya. Pesan itu langsung kutunjukkan ke teman-temanku yang saat itu berkumpul di warung W, dan membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Ini pertama kalinya aku mendapatkan seorang pacar yang hyper, mungkin karena saat itu juga yang membuatku sempat hyper juga setelahnya hingga sembuh secara sendirinya beberapa tahun yang lalu.
Setiap pagi aku selalu menjemput Nadia terlebih dahulu sebelum masuk ke sekolah karena rumahnya yang tak jauh dari sekolah ini. Sewaktu istirahat pun dia sering ikut fraksiku berkumpul, dan berjalan disampingku diikuti anggota fraksiku yang lain. Hal itu yang membuat seisi sekolah mengetahui kalau dia pacarku.
Pagi itu aku menjemput nadia seperti biasanya, sesampainya kami di parkiran sekolah aku melihat Villa. Itu kali pertama aku melihatnya dan mulai tertarik padanya. Dia berjalan sendiri memakai jaket berwarna biru dan tas ranselnya. Kami berjalan pelan dibelakangnya, sesampainya disekolah Nadia masuk ke kelas terlebih dahulu untuk belajar karena hari itu sedang UTS dan aku ke kantin untuk sarapan, terlihat Zhaki dan beberapa temanku lainya yang sudah ada disana juga.
"bro lo tau cewek yang jalan tadi pake jaket biru ngga?" tanyaku kepadanya.
"yang mana bos?" jawab Zhaki,
"yang tadi jalan didepan gue, anak 9E kayaknya" sahutku,
"oh iya tau, tapi cuman tau aja gakenal gue. emang kenapa bos?" jawab Zhaki kepadaku,
"gapapa, penasaran aja gue" ucapku.
Rasa penasaranku tak berhenti disitu saja, di pagi itu aku berniat menemui Dita. Teman sekelasku dulu yang saat itu sekelas dengan Villa, selepas sarapan pagi itu aku langsung masuk ke kelas tanpa menunggu bel masuk terlebih dahulu seperti biasanya.
Ditaman depan kelasku terlihat Mark dan Benny yang sedang duduk sembari memintai uang beberapa siswa lain, aku menghampiri mereka dan menyuruh Mark memanggilkan Dita dikelasnya. Aku duduk ditaman menunggu mereka ditemani Benny, kami mengobrol ringan tentang angan-angan kami setelah lulus SMP ini nanti.
Kami memang dekat sebelumnya, tapi setelah ada masalah fraksiku kemarin hubungan kami sedikit renggang karena aku fokus ke masalah yang ada tanpa bergaul dengan siswa lain diluar fraksi kami. Terlihat Mark yang datang bersama Dita menghampiri kami,
"ada apa yan?" tanya Dita kepadaku,
"lo kenal vila gak? eh bener ya namanya vila?" tanyaku kepadanya yang saat itu berdiri didepanku.
"villa yang itu? yang sekelas ama gue?" jawabnya,
"iya lo kenal deket kan? gue minta nomernya dong" sahutku yang langsung dijawab dengan wajah penuh pertanyaan oleh Dita,
"lo kan udah ada cewek si Nadia adek kelas itu?" kata Dita,
Aku berusaha meyakinkanya untuk memberikan nomor HP vila kepadaku, beralasan Nadia akan kuputuskan karena merasa tidak nyaman dengannya.
"yaudah ntar coba gue ngomong dulu ama anaknya boleh engga ya, gue balik kelas dulu mau belajar soalnya" jawab dita sembari berpamitan kembali kekelasnya.
Mendengar hal itu Mark bertanya kepadaku tentang sosok Villa karena belum pernah mendengar namanya sebelumnya. Maklum karena Villa bukan salah satu anak hits disekolah ini, dan kami memang sedikit sombong dengan para siswa lain saat itu.
Bel masuk berbunyi, kami masuk ke kelas untuk mengikuti Ujian Tengah Semester kala itu. Seperti ujian anak nakal pada umumnya, kami berbagi contekan didalam kelas bahkan bertukar lembar jawab untuk diisi siswa lain.
Sebenarnya kami tidak bodoh, tapi hanya malas karena tidak memperdulikan nilai akademis hanya sekedar fraksi dan bermain-main saja.
Hingga bel istirahat berbunyi aku keluar kelas diikuti teman-temanku yang lain.
Saat ada ujian seperti ini jam istirahat memang lebih panjang dari hari biasa. Aku berjalan ke ujung barat sekolah menuju basecamp kami, kami nongkrong seperti biasanya. Hingga ada salah seorang dari fraksi kami yang datang memberitahu Mark sedang berada diruang konseling karena ada seorang anak kelas 7 yang melaporkannya kepada guru saat dimintai uang.
Mendengar kabar itu aku sontak marah dan mencari keberadaan anak yang diberitahukan oleh anggota fraksiku itu. Saat itu memang anak kelas 7 belum sepenuhnya mengenal siapa kami karena mereka belum ada setahun dan biasanya pentolan dari kelas mereka lah yang meminta uang kepada mereka. Tapi kala itu Mark memintai secara langsung dan anak itu tidak mengetahui siapa Mark disekolah ini.
Nama kami memang cukup terkenal disekolah, tapi tak sedikit siswa yang hanya sekedar mengetahui dan takut kepada nama kami tanpa mengetahui kami secara langsung.
Aku berjalan diikuti semua anggota fraksiku yang ada di basecamp saat itu untuk mencari anak tersebut. Entah telah mendengar kalau dia sedang ada masalah atau memang dia sudah bersiap sebelumnya, ada yang melihat anak itu sedang berada di kelas 9B berusaha mencari bantuan JB dan teman-temanya.
JB memang takut kepadaku tapi tidak kepada Mark dan beberapa temanku lain, aku berjalan dari basecamp menuju kelas itu. Melewati UKS yang disampingnya terdapat koperasi sekolah, dan melewati ruang konseling serta ruang guru disebelah utaranya. Terlihat Mark yang sedang duduk disidang diruang konseling kala itu, yang makin menambah emosiku dihari itu.
Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, kelas 9A sampai kelas 9E berada di lobby yang sama menghadap kebarat. Di lobby itu banyak sekali anak kelas 9 yang duduk belajar dan sekedar menongkrong.
Kami berjalan menuju lobby itu, melihat kedatangan rombongan kami beberapa siswa kelas 9A yang kami lewati berlarian meninggalkan lobby itu. JB dan beberapa temanya yang saat itu sedang duduk bersama didepan kelasnya seakan mengetahui maksud kedatangan kami, dia langsung menghapiriku dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukan salah satu orangnya.
JB memang memiliki beberapa anak buah tapi tidak seperti kakaknya Dedi dulu, dia tidak memiliki fraksi dan kekuasaan apapun disekolah ini. Aku yang saat itu tersulut emosi memegang bajunya dan menyenderkannya ke tembok karena membela anak itu dan membuat Mark dalam masalah.
Saat itu aku sudah tidak perduli dengan perjanjianku kepada Dedi dulu karena saat itu aku merasa jauh lebih kuat dari saat masih dikelas 8 dulu. JB hanya tertunduk lesu seraya tetap meminta maaf.
Iza yang dibelakangku mencoba menenangkanku, hingga akhirnya aku melepaskan JB dan meminta dia mengurus salah satu anak buahnya. Anak yang bermasalah itu hanya terdiam ketakutan dengan mata berkaca-kaca saat kumaki-maki dia didepan teman dan bosnya.
Kejadian itu dilihat banyak sekali siswa yang sedari awal mereka memang berada di lobby dan taman depan kelas mereka masing-masing. JB kembali meminta maaf dan berjanji akan mengurusnya, serta menjanjikan tidak akan ada masalah seperti ini lagi kedepanya nanti.
Setelah menyelesaikan masalah dengan JB dan genknya kami berjalan kembali ke basecamp. Melewati kelas 9 dan taman kelas, dilihat oleh semua siswa yang ada disana. Kala itu aku merasa sangat hebat dan keren, layaknya di film-film gangster yang sering kutonton di televisi.
Melihat Villa didepan kelas bersama teman-temanya aku memutuskan untuk berjalan melewati kelas 9E, sebenarnya dari depan kelasku ada jalan juga yang biasa aku lewati tapi saat itu aku memang ingin show off kepadanya.
Dia hanya diam menatap kami yang saat itu berjalan memenuhi lobby, maklum saja lobby itu hanya berukuran kurang lebih 2 meter dengan batas untuk duduk disebelah baratnya, sedangkan kami berjalan sekitar 50 orang lebih.
"kok lewat sini bos?" tanya Zhaki kepadaku,
"iya gue pengen ketemu Ivan aja, lama gangobrol" jawabku beralasan menutupi alasanku sebenarnya,
Aku menyempatkan masuk ke kelas 9E, terlihat Ivan sedang belajar dimejanya yang langsung kuhampiri saat itu.
"eh bro tumben, ngapain? mau ikut belajar lo?" canda ivan kepadaku,
"kagak, gue lagi suka sama temen lo sekelas" jawabku dengan sedikit berbisik kepadanya.
"siapa? kelas ini ada Ana lo" sahutnya,
Aku menceritakan tentang Villa, yang ternyata dia teman satu genknya Ana kata Ivan.
"susah bos, lo tau sendiri gimana Ana ke elo kan? vila juga bakal mikir kan kalo bermasalah sama temenya juga nanti?" jawab ivan,
"udah biarin aja, lo bantuin ya gue belum dapet nomernya juga tadi minta dita belom dikasih" kataku yang disanggupi oleh Ivan sembari mengingatkanku kalau didepan kelasnya banyak anggota fraksiku yang masih menungguku.
Aku keluar kelas itu berpapasan dengan Ana yang langsung melihat tajam kepadaku dan menyindir tentang Nadia diikuti suara teman-temanya yang lain. Tanpa memperdulikanya aku berjalan menuju basecamp sesuai tujuanku sebelumnya.
Siswa cowok disekolah itu memang sangat takut kepada kami, tapi untuk genknya Ana agak sedikit berbeda. Mereka memang sering menyindir dan nyinyir terutama kepadaku, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa kepada mereka. Selain kami gaakan main tangan dengan cewek, kami semua juga tahu kalau mereka melakukan itu hanya untuk sekedar mencari perhatianku saja.
Siang itu sepulang sekolah aku mengajak Nadia kerumahku, yang memang saat itu rumahku seakan menjadi basecampku dan teman-teman kampungku karena kosong saat siang hari. Ibuku bekerja dan adekku pulang siang setiap harinya yang langsung bermain hingga sore. Aku mengajaknya kerumahku untuk melakukan hal yang biasa kami lakukan dan langsung mengantarnya pulang saat kami sudah selesai melakukanya.
Malam harinya dita mengirimkan chat kepadaku, berkata Villa tak mengijinkan nomornya diberikan kepadaku karena mengetahui aku memiliki pacar kala itu. Aku yang sejak awal memang tidak memiliki perasaan apapun kepada Nadia dan hanya sekedar nafsu saja, saat itu juga aku memutuskan Nadia. Entah apa yang kupikirkan saat itu tapi memang dia sempat marah besar kepadaku karena tanpa ada masalah apapun aku memutuskanya. Hubunganku dengannya memang tak terlalu lama saat itu, hanya sekitar 3 mingguan saja.
Keesokan harinya, aku yang saat itu sudah bersekolah menggunakan motor berangkat lebih pagi dari biasanya.
Selama aku memiliki motor memang aku berangkat aga siang dari saat berjalan kaki dulu karena waktu perjalanan yang terpangkas banyak. Aku berangkat pagi hanya untuk duduk di parkiran menunggu Villa datang.
Cukup lama aku berada di parkiran dekat sekolah, ditemani Zhaki dan beberapa anggota fraksiku yang lain yang berangkat sekolah membawa motor juga.
"pagi banget sampe sini ngapain bos?" tanya Zhaki yang hanya kujawab sekedar ingin berangkat pagi saja tanpa memberitahukan alasanku sebenarnya.
Saat itu memang masih ujian, sekolah masuk pukul 08.00 dan aku sampai di parkiran kurang lebih 06.30an. Kami duduk mengobrol sembari memintai uang siswa yang akan masuk ke sekolah setelah memarkirkan motornya.
Hingga dari kejauhan terlihat Villa yang berjalan dari arah selatan, aku menyuruh Zhaki dan yang lainya untuk masuk terlebih dahulu. Walaupun sempat menghujani beberapa pertanyaan dan alasan akhirnya mereka menuruti perintahku dan masuk terlebih dahulu.
Aku sengaja menyuruh mereka masuk terlebih dahulu agar bisa ngobrol berkenalan sama Villa.
Tak lama setelah Zhaki dan yang lainya berjalan masuk ke sekolah, villa sampai didepanku. Rambut panjang diikat dan rok yang dipakainya sedikit dibawah pinggang yang memang seperti trend saat itu.
"vil, gue mau ngomong" tanyaku sembari berjalan mendekatinya,
"iya mas kenapa ya?" jawabnya dengan nada dan raut wajah yang sedikit ketus kepadaku,
"gue mau minta nomer lo dong, kemarin gue nyuruh dita mintain tapi gak lo kasih" sahutku,
"kan mas udah ada pacar si Nadia kan?" jawabnya,
Seperti yang kuceritakan sebelumnya, hubunganku dengan nadia memang diketahui hampir seisi sekolah ini karena seringnya kami bersama saat disekolah dan selain aku yang cukup terkenal, Nadia juga cukup terkenal di sekolah ini karena kecantikanya.
"gue udah putus sama Nadia kemaren" jawabku,
Dia tidak percaya dan melanjutkan berjalan, aku yang tak ingin kehilangan momen itupun berlari menyusulnya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments