"nin..." ucapku memanggilnya,
Dia berhenti dan menengok kepadaku, aku berjalan mendekatinya dan mengungkapkan perasaanku lagi kepadanya berharap kali ini akan diterima karena sebelumnya aku sudah berusaha bersama Jagad.
"ha? apaan sih lo gila ya? gue udah bilang gaada rasa, kita bahkan gakenal deket cuman sekedar saling tau" jawaban itu yang keluar dari mulutnya, seketika itu juga membuat hatiku seakan disobek.
"tapi gue terlanjur suka, apa gabisa kita coba dulu?" ucapku sambil menarik tanganya, menyahut kata-katanya yang sedikit melukai hatiku.
"sorry gue gamau, gue juga udah punya cowok!" jawabnya sambil melepaskan tanganku dan berjalan pergi meninggalkanku.
Perasaanku sangat sakit mendengar jawabanya, ditolaknya 2x apalagi saat itu didepan teman-temanku selain membuat hatiku sakit hal itu sekaligus membuatku malu. Nyesek, sangat benci dan kecewa, itulah yang kurasakan saat itu. Aku benar-benar sakit hati!
"sabar bos, cewek masih banyak diluar sono" ucap Zhaki mencoba menenangkanku yang saat itu hanya terpaku diam, disusul teman-temanku yang lain yang menyemangatiku dan menyuruhku untuk bersabar.
Sebenarnya bukan aku tak bisa bersabar, tapi aku merasa sangat kecewa karena hal yang sudah kulakukan dan kulalui semalam hanya demi mendapatkanya gagal total dan sia-sia.
"gue ditipu jagad! harus bikin perhitungan dengannya nanti!!" ucapku didalam hati.
Aku melanjutkan berjalan kekantin, sesampainya dikantin aku berubah pikiran yang tadinya ingin nongkrong disitu kuputuskan untuk pergi ke basecamp. Jalan menuju basecampku melewati kelas 7D sampai 7A, disepanjang perjalanan itu anak yang lewat didepanku selalu aku pukul dan aku maki tanpa ada alasan dan masalah apapun.
Aku hanya ingin melampiasakan kekesalan dan sakit hatiku. Teman-teman sefraksiku hanya diam, mereka paham bagaimana keadaan hatiku saat itu. Beberapa kali mereka mencoba menenangkanku tapi tak ku gubris sedikitpun.
Waktu masuk ke kelaspun pintu dan kursi guru kutendang sampai jatuh, seketika itu juga kelasku hening. Mereka paham kalau saat ini kondisi hatiku sedang tidak baik-baik saja, dan tidak ingin berurusan denganku saat aku sudah seperti ini.
Iza berjalan mengembalikan kursi itu ketempatnya lagi dan menata meja guru yang sempat ikut kubuat berantakan.
Sepulang dari sekolah aku langsung menuju kerumah Jagad, niat ingin membuat perhitungan denganya karena telah membohongiku seperti ini!
"permisi...jagad!" ucapku dengan nada tinggi sembari mengetuk pintu rumahnya, jagad yang keluar dari dalam rumah menemuiku.
Dengan nada tinggi dan emosi aku menceritakan semuanya, dari hal yang kualami semalam dan kejadian ditolak oleh gadis yang aku suka kedua kalinya siang tadi. Jagad juga terlihat bingung, dan tidak bisa menjelaskan banyak. Hanya berkata terbata-bata menjawab semua pertanyaanku, berkata kalau hal seperti itu memang tidak bisa selalu 100% berhasil.
Ahh sial! aku merasa tertipu dan dipermainkanya. Belum sempat aku melanjutkan untuk berbicara, dia berusaha menenangkanku dan menjelaskan semuanya. Jujur aku masih tidak terima dengan semua kejadian ini, tapi mau gimana lagi? aku tidak bisa berbuat banyak juga. Dia hanya menyuruhku untuk bersabar dan tetap optimis dengan apa yang sudah kulakukan. Mendapati dia yang hanya menambah kekecewaanku kuputuskan untuk pulang meninggalkanya tanpa berpamitan.
Keesokan harinya, aku datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Terlihat teman-temanku sedang mengerjakan tugas piket mereka, beberapa ada yang sedang menyapu, ada juga yang sedang mengelap jendela dan papan tulis. Aku duduk diluar kelas setelah menaruh barang bawaanku di kursiku. Evi menghampiriku membawa sebuah plastik hitam kecil,
"Yan, udah sarapan belum? nih aku bawa roti tadi" ucap evi kepadaku,
Awalnya aku menolak halus pemberianya itu, tapi dia masih memaksa dan beralasan kalau itu sengaja dia belikan untukku. Aku terpaksa menerima pemberianya karena tidak enak atas kebaikanya walaupun aku sendiri tidak terlalu menyukai pemberianya itu. Kejadian itu sempat disaksikan oleh Dewi, yang anehnya dia menjadi kesal kepadaku tanpa aku tahu kenapa.
Satu persatu teman sefraksiku datang, disusul Benny yang memberikan buku tulisku karena sebelumnya sempat kupaksa untuk mengerjakan PR ku. Kami duduk didipan kelasku, satu persatu siswa yang terjawdal membayar setoran hari itu datang dan memberikan uang, terlihat juga beberapa siswa dan siswi lain yang putar balik saat mengetahui fraksi kami berkumpul ditempat itu.
Hal semacam itu memang sering terjadi, contohnya di kantin selatan hanya fraksi kami yang benar-benar setiap hari makan dan nongkrong disitu. Siswa siswi lainya lebih memilih jajan kekantin utara dan koperasi sekolah daripada harus bertemu dengan fraksi kami yang terkenal paling rese diantara fraksi lain.
Perjuanganku menuju titik ini juga tidak mudah, dari kelas 7 dan kelas 8 tahun kemarin berulang kali aku dikroyok, dipukuli, dibully juga hingga akhirnya aku bisa melawan 1 per 1 dengan massa dan pengikut yang kuhimpun sedikit demi sedikit. Hingga saat aku memiliki fraksi dengan jumlah pengikut yang paling banyak dari fraksi lain, otomatis derajat dan namaku melambung naik menjadi salah seorang yang diperhitungkan disekolah dan diluar sekolah. Hal itu terbukti dengan adanya 'jakam' dari sekolah lain yang sempat menemuiku meminta tolong untuk menjaga adeknya yang bersekolah disekolahku. Sempat lucu dan salah paham saat itu, karena saat dia mencariku aku sedang bolos dan tidak mengetahuinya.
Alhasil teman-temanku yang lain berkumpul mengira dia mencariku akan menantangku berkelahi. Hingga mereka bertemu di gubuk samping sekolahku, untung saja sebelum benar-benar chaos dia bisa menjelaskan tentang maksudnya kepada Iza. Aku memang tidak terlalu mahir dalam berkelahi tangan kosong, tapi aku cukup mahir dalam menjatuhkan orang lain lewat caraku yang lebih diplomatis.
Siang itu diwaktu istirahat kedua ada seorang siswi kelas 8E yang ingin menemuiku dan meminta tolong kepada Mark untuk memanggilkanku. Mereka kenal dekat karena bertetangga, dia menungguku didepan toilet dibelakang kelas 8E. Ana namanya, seorang gadis dengan tinggi badan sebahuku, kurus dengan rambut panjang dan kulit putihnya. Aku berjalan menemuinya ditemani Aji tapi dilarang oleh Mark karena katanya hanya ingin menemuiku sendiri. Hal ini cukup aneh menurutku karena biasanya saat ada orang ingin menemuiku secara pribadi pasti mau minta tolong menghajar orang, dan teman-temanku yang lain pasti selalu ada untuk menjadi pertimbangan aku menyanggupinya atau tidak tapi kenapa saat ini aku disuruh menemuinya sendiri? bahkan yang menyuruhku salah satu teman satu fraksiku sendiri? Sempat terlintas pertanyaan itu dipikiranku, tapi tanpa merasa aneh aku tetap menemuinya karena dia cewek juga hal yang tidak diinginkan tidak mungkin terjadi pikirku.
"ada apa?" tanyaku kepadanya yang sedang berdiri bersender ditembok belakang kelasnya.
Sambil memberikan sebuah kertas dan cokelat kepadaku dia menyuruhku membacanya. Aku menerima kertas itu dan membacanya, 'PUISI?' ucapku kaget dalam hati. Memang selama ini sering jadi bercandaan teman-temanku kalau dia menyukaiku, tapi kukira itu hanya sekedar bercandaanya teman-temanku karena bahkan baru kali ini aku berbicara secara langsung kepadanya.
"gue suka sama lo, entah sadar apa engga tapi selama ini gue caper karena gue suka. Lo mau ga jadi cowok gue?"
Sumpah saat itu aku benar-benar kebingungan, aneh juga cowok ditembak cewek tapi nyatanya emang itu yang terjadi. Sebenarnya bukan pertama ini aku ditembak cewek tapi pernah juga saat masih SD dulu. Hanya masalahnya sekarang, Ana memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Lana. Mereka sudah seperti kakak beradik, ana dianggap adik oleh Lana.
Otomatis kalau aku menolaknya dengan kasar dan membuatnya sakit hati, akan ada gesekan dengan fraksi Lana.
Disisi lain aku tidak bisa menerimanya karena tak memiliki perasaan apapun kepadanya. Satu pilihan atau perkataanku yang salah bisa membuat 2 fraksi saling berselisih lagi dan keselamatanku sendiri juga akan menjadi taruhanya.
"kenapa kok diem aja? lo gamau ya?" sahut tria lagi,
"emm bukan gitu na, gue belum pernah pacaran sebelumnya sekalipun" jawabku,
Memang aku sebelumnya belum pernah pacaran dengan siapapun, sewaktu SD pun saat temanku mengutarakan perasaanya kepadaku aku tidak menjawab apa-apa. Semasa SD aku pendiam, hanya jadi bahan bully an dan sering dipalak teman-temanku juga.
Akhirnya setelah berpikir panjang aku beralasan halus menolaknya, karena aku sebenarnya ilfil juga dengan tingkahnya didepanku selama ini. Walaupun nanti saat kelas 10 SMK akhirnya aku sempat jadian juga dengannya tapi saat itu dia kutolak secara halus.
Dia hanya tersenyum tanpa mengucap kata apapun dan berjalan cepat meninggalkanku kembali kekelasnya. Aku hanya bisa berharap apa yang kukatakan tadi tidak melukai hatinya, karena resikonya terlalu besar juga dan aku tidak ingin melukai hati siapapun.
"ada apa tadi bos?" tanya Aji,
Aku menceritakan kejadian tadi kepadanya dan teman-temanku yang sedang nongkrong di kantin. Beberapa memberi saran dan tak sedikit juga yang malah menertawaiku. Mereka juga tahu resiko dibelakangnya, apalagi Mark, Iza, Syahrul dan Nugi mantan anggota fraksi Lana. Otomatis bila sampai terjadi senggolan mereka berempat berkemungkinan tidak ikut turun tangan, hal itu juga yang akan membuat kekuatan fraksiku menurun bila memang terjadi gesekan. Mereka berempat ibarat komandan juga di fraksi ini dibawahku.
Tiba-tiba Ivan mendatangi kami, menceritakan Ana menangis dikelas. Kami panik dan aku berlari masuk ke kelasnya, terlihat Ana sedang ditenangkan teman dekatnya. Aya namanya, seorang gadis dengan tinggi badan lebih tinggi dariku, berparas cantik berambut panjang dengan badan yang cukup besar juga sepertiku. Aya adalah gebetan Lana, pernah ada kabar burung juga dulu kalau dia menyukaiku juga. Sebenarnya aneh juga menurutku, aku yang seperti ini disukai orang-orang sedangkan cewek yang aku sukai saja selalu menolakku.
Sepulang sekolah kami nongkrong dibelakang sekolah, disebuah gubuk kayu berbentuk seperti pendopo tetapi sudah rusak dan tidak terurus. Terlihat jelas dari bagian-bagian kayu yang keropos termakan rayap dan atapnya yang sudah tidak utuh lagi. Tiba-tiba ada 5 motor mendatangi kami, 2 motor berbonceng 3 orang dan yang lainya berbonceng 2 orang. Mereka memarkirkan motor tepat didepan kami, tiba-tiba mereka turun dan berteriak-teriak memanggil namaku.
Sontak kami saling melihat dan aku menggerakkan kepalaku mengkode teman-temanku untuk menemui mereka. Terdengar suara mereka saling beradu argumen, aku berdiri dan keluar ternyata itu Sandi, salah satu anggota fraksi Lana dan anak buahnya.
"ada apa?" , tanyaku kepadanya.
"tria nangis tadi ada masalah apa?" bentaknya kepadaku saat itu,
Belum sempat aku menjawab, Mark berlari kearahnya dan berloncat menendangnya dengan keras terkena tepat di dadanya dan terjatuh. Secara serentak tanpa dikomando siapapun teman-temanku yang lain ikut turun menghajar mereka. Andi berlari dengan kayu ditanganya dihantamkannya kayu itu ke salah seorang dari mereka hingga tersungkur jatuh. Aku berusaha melerai mereka, menarik baju Mark hingga kancingnya terlepas. Keadaan saat itu sangat chaos, Sandi dan anak buahnya dihajar habis-habisan karena mereka kalah jumlah dan cara bertengkar. Mereka datang 12 orang sedangkan kami 18 orang banyak yang berbadan besar termasuk aku.
"gue belain lo bos! dia berani ngebentak elo tadi!" kata Mark dengan emosi yang masih bergejolak terlihat dari matanya. Sedikit membentak aku berusaha menenangkannya dan teman-temanku yang lain.
Tiba-tiba ada suara motor datang dan berteriak untuk menghentikan perkelahian kami, ternyata itu suara Lana yang datang dengan Aya dibelakangnya. Semua anak buahnya yang melihatnya diam dan menghentikan pertarungan itu.
Aku berjalan mendatanginya, berusaha menjelaskan hal yang terjadi kalau semua ini hanya salah paham dan bukan 'event fight' seperti sebelum-sebelumnya. Resikonya terlalu besar kalau sampai fraksi kami berbenturan bakal banyak merugikan kedua belah pihak juga, karena di sekolah fraksiku lebih kuat otomatis anggota fraksinya akan lebih mudah kami eksekusi setiap harinya. Sedangkan diluar sekolah dia bisa berbuat hal yang sama kepada anggota fraksiku juga. Bakal banyak korban dan tenaga yang terbuang sia-sia karena hal sepele ini.
"iya bro, aya udah crita semuanya tadi. Emang salahnya si Sandi aja yang suka sama ana tapi ana nya malah suka sama lo, nah dianya gatrima trus nyari masalah" jawabnya,
Singkat mereka pamit pergi dan kami bersalaman 1 per 1 saling meminta maaf. Terlihat jelas raut muka Sandi yang masih belum bisa menerima keadaan ini, terlihat masih menyimpan dendam dengan sorot mata tajamnya kepada kami. Hal itu wajar saja karena dia sudah babak belur, baju seragam yang dipakainya pun kotor penuh tanah. Setelah bersalaman mereka pergi dari tempat itu, kami saling melihat dan tertawa karena kemenangan kami dan melihat baju Mark yang 3 kancing bajunya lepas karena kutarik tadi. Memang gesekan antar fraksi bakal merugikan kami semua, tapi tak dipungkiri memang hubungan kami dengan fraksi lain tidak terlalu baik karena masalah uang iuran dan masalah-masalah pribadi lainya. Kami memutuskan untuk pulang, walaupun kami masih merasa was-was karena masalah tadi.
Watak dan kebiasaan mereka tidak sejentel kami yang benar-benar menatap musuh didepan dan menghadapinya tapi kadang mereka menyerang tiba-tiba saat kami terlihat lemah.
Sebelum berpisah untuk pulang aku menyuruh mereka semua untuk stay handphone dan langsung memberi kabar saat ada masalah diperjalanan pulang. Hal itu disambut setuju oleh teman-temanku lainya.
Aku berjalan pulang bersama Syahrul dan beberapa temanku yang searah denganku. Diperjalanan aku masih memikirkan keselamatan teman-temanku yang lain, walaupun tadi sudah seakan selesai tapi watak mereka dan pengalaman yang sudah kami lalui selama ini hingga tiba di posisi saat ini yang belum bisa membuat hatiku tenang sekarang.
Sesampainya dirumah aku mengirim chat ke Mark dan Aji yang pulang kearah barat dan utara menanyakan bagaimana keadaan mereka. Ternyata mereka baik-baik saja, tidak ada masalah apapun saat pulang tadi yang membuat hatiku tenang mendengarnya.
Aku bergegas mandi dan mengambil makan, tiba-tiba terdengar suara ketokkan dari pintu rumahku. Ada seorang yang datang dan memanggil-manggil namaku dengan keras seakan tergesa-gesa.
"Yan..yann!" ucapnya sambil mengetuk pintu rumahku berkali-kali...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments