JALAN KEHIDUPAN

Perkelahian Zhaki dan Mark sebenarnya sudah dilerai yang lain tapi saat ada celah sedikit mereka kembali melanjutkan perkelahianya. Aku awalnya tidak mengetahui hal itu sebelumnya karena saat itu aku bolos sekolah bersama Aji, Ivan dan Andi. Tidak ada satupun yang mengabarkan hal itu kepada kami saat itu entah karena disuruh diam oleh yang lain atau bagaimana kami juga tidak mengetahuinya.

Hal itu bisa terjadi karena ada pemikiran dari mereka kalau "permasalahan dibawah bukan urusanku", pemikiran seperti itu juga yang nanti akan menjadi seperti adat saat aku memimpin sebuah organisasi selepas SMK nanti. Akan kuceritakan nanti sesuai dengan urutan cerita ini.

Malam harinya aku baru mengetahui perkelahian mereka tadi, Evi yang menceritakanya kepadaku saat aku bertanya tentang tugas dihari itu. Aku berusaha menghubungi mereka berdua tapi hanya Mark yang menjawab telponku. Aku marah besar kepadanya, kecewa tapi aku tidak bisa berbuat banyak juga karena saat itu fokus kami masih di pertarungan dengan fraksi Lana.

Aku menceritakan gesekan antara fraksiku dan fraksi Lana ke teman-temanku di kampung, karena aku felling hal ini akan meluas ke organisasi yang kami ikuti diluar sekolah. Setidaknya aku berjaga-jaga dulu waktu itu agar saat tiba-tiba diserang diluar sekolah teman-temanku lebih mudah untuk bersiap membalasnya.

Keesokan harinya disekolah sebelum masuk kelas aku mencari Mark, hanya ingin mengetahui awal masalah sebenarnya. Disana dia menjelaskan semuanya, yang semua itu hanya buntut salah paham dari masalah kemarin. Karena banyaknya penyerangan kepada anggota fraksi kami Mark menuduh Zhaki dan yang lain berkhianat kepada kami.

Akhirnya aku memaksa Mark untuk meminta maaf dan berbaikan dengan Zhaki. Aku percaya walaupun mereka vakum mereka tidak akan berkhianat kepada kami setelah apa yang sudah kami lalui bersama selama ini.

Awalnya dia masih keras kepala dengan pendirianya tapi dengan bujukan dari teman-temanku yang lain akhirnya dia mau melakukanya.

Setibanya kami dikelas terlihat Zhaki dan Iza yang duduk bergerombol di taman dekat kelas kami dengan pengikut mereka, aku mendatangi mereka bersama Mark diikuti anggota fraksi kami yang lain. Terlihat raut wajah panik dari Zhaki dkk saat itu karena kami terlihat seperti akan menyerang. Aku memanggil Zhaki mendekatiku,

"ada apa bos?, gue minta maaf kalo ada salah tapi bener ngga ada maksut buat nantangin lo" jawab Zhaki sedikit panik saat itu,

Aku menjelaskan niatku pagi itu, dan menyuruh Mark meminta maaf atas kejadian kemarin.

Masih terlihat jelas kesal dari raut muka mereka berdua saat saling berhadapan, tapi akhirnya pagi itu mereka mau saling meminta maaf dan berdamai. Walaupun hal itu tidak berpengaruh dengan kevakuman Zhaki, Nugi dan Iza tapi setidaknya kejadian pagi itu sudah membongkar pagar ego yang memisahkan kami.

Singkat cerita pertarungan antara fraksiku dan fraksi Lana benar-benar melebar ke organisasi diluar sekolah. Apalagi organisasi yang kami ikuti memang berseberangan saat itu, hal itu seperti menjadi api yang disulut diatas tumpukan daun kering.

Antar anggota organisasi kami tanpa ada masalah seperti ini sudah saling serang saat bertemu dijalan, apalagi sekarang ada janji temu untuk bertarung.

Aku ingat betul saat itu di malam minggu, kami berjanji untuk bertemu dan open fight disebuah jalan sepi didekat lapangan besar yang tak jauh dari rumahku. Aku datang dengan teman-temanku dan anggota organisasiku yang lain yang aku sendiri juga tidak mengenal mereka.

Setibanya Lana dan teman-temanya datang sambutan lemparan batu kami berikan. Dibalasnya aksi kami itu dengan lemparan batu juga dari mereka. Beberapa dari kami berlari kedepan dengan senjata yang sudah kami bawa.

Aksi saling lempar batu itupun terhenti berubah menjadi aksi saling pukul dan adu senjata. Sangat chaos, kayu, batu dan senjata tajam dimana-mana. Banyak warga sekitar yang melihat dari kejauhan aksi tawuran kami dimalam itu. Hingga terdengar suara sirine dari polisi yang membubarkan aksi kami dimalam itu. Kami berlarian menyelamatkan diri seperti lebah yang keluar dari sarangnya.

Aku akan sedikit menjelaskan tentang organisasi yang kami ikuti. Dikota ini kala itu ada 3 organisasi besar dengan ribuan anggota yang sedang naik daun kala itu.

Organisasiku kusebut organisasi Lion, berdiri sejak tahun 1986 dengan pusatnya didaerah tempat tinggal Putra. Banyak berisikan anak-anak jalanan dan menguasi beberapa area di kota ini.

Organisasi Eagle baru berdiri, dan banyak berisi orang-orang dengan keadaan ekonomi yang lebih baik daripada organisasi lain walaupun banyak anak jalanan juga tapi secara struktur dan kepengurusan organisasi ini yang paling baik dari organisasi lainya. Pusatnya ada di sebelah barat kota, rumahku berada ditengah-tengah antara pusat Lion dan Eagle.

Snake adalah organisasi yang diikuti Dedi dan Lana kala itu, organisasi yang isinya anak muda semua. Sebenarnya bukan tandingan organisasiku tapi memang gesekan yang terjadi antara organisasi itu dengan junior di organisasi lion. Pusatnya berada di sebuah tempat ditimur kota ini.

Ketiga organisasi ini saling bermusuhan satu sama lain. Bukan rahasia umum lagi karena perkelahian dalam volume besar sering terjadi juga saat itu. Apalagi antara Lion dan Eagle, bukan pertengkaran antara para juniornya saja tapi para senior kedua organisasi ini juga sering bertarung memperebutkan daerah kekuasaan.

Setoran pungli dari para pedagang pasar dan pinggir jalan, toko, lahan parkir dan keamanan dari sekedar toko, tempat hiburan malam hingga pasar, mall dan terminal sering menjadi pemicu terjadinya gesekan antara keduanya.

Lion dan Eagle memiliki basis massa yang sangat besar dan fanatik. Banyak juga anggota Eagle yang masuk organisasi itu karena memiliki masalah dengan organisasi Lion sebelumnya.

Pertarungan kami di malam itu terdengar hingga orang-orang yang bertempat tinggal di pusat organisasi Lion. Maklum saja karena saat itu Putra mengajak banyak teman dikampungnya untuk ikut berpartisipasi walaupun aku saat itu belum mengenal mereka. Hal itu membuat namaku sedikit dikenal oleh beberapa 'orang pusat' organisasi Lion.

Pertarungan kami dimalam itu memang memakan korban luka-luka yang lumayan banyak dari kedua belah pihak, tapi kami seakan bangga dengan hal itu karena pihak kami seakan menang. Setelah berlarian menghindari kejaran dari polisi beberapa dari kami kembali ke warung W dan melanjutkan malam itu dengan berpesta.

Setelah kejadian di malam itu serangan dari fraksi Lana kepada fraksiku berhenti walaupun tidak ada kata sepakat ataupun perdamaian tapi semenjak hari itu kekuasaanku di sekolah benar-benar mutlak.

Keesokan harinya di hari minggu aku kembali mengajak anin melakukan hal yang sebelumnya pernah kami lakulan ditempat yang sama. Walaupun sebelumnya sempat ditegur warga sekitar yang pulang setelah mencari rumput sebelum kami melakukanya, tapi hal itu tidak menyurutkan niatku sedikitpun untuk membatalkanya.

Singkat cerita setelah kami pulang entah Anin cerita atau bagaimana kakak sepupu anin mengetahui kami telah melakukan hal tersebut dan memintanya untuk memutuskanku, aku belum mengetahuinya juga hingga saat ini.

Aku sempat menolaknya dan berusaha mempertahankan hubungan itu, tapi Anin bersikeras mengikuti perintah kakaknya dan mengakhiri hubungan kami ini. Kakak dari anin bernama Toni, seumuran dengan Catur dan Anji tetapi berbeda tongkrongan dengan kami.

Sebenarnya mereka satu organisasi Lion juga sama dengan kami, tapi memang hubungan kami dengan mereka tidak harmonis. Apalagi setelah sempat ada permasalahan antara Putra dan salah satu dari mereka yang sempat akan membuat kami berbenturan sebelum ditengahi oleh mas Surya.

Mas Surya bisa dibilang salah seorang yang dihormati dikampung ini. Rumahnya tepat didepan rumahku sebelum rumah Rangga, dan sudah seperti kakakku sendiri. Dia memiliki badan yang hampir 3x lipat badanku saat itu dengan potongan rambut model spike dan tatto diatas mata kaki sebelah kiri dan punggungnya.

Berakhirnya hubunganku dengan Anin saat itu benar-benar membuatku terpukul melebihi sakit yang kurasakan saat berpisah dengan Rensy. Seperti membuat dendam tersendiri padaku saat itu hingga aku sempat menjadikan Ima dan Eva yang notabenya teman dekatnya menjadi pacarku.

Walaupun hanya pelampiasan saat itu tapi hal itu membuat pertemanan mereka berakhir juga. Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang hubunganku dengan mereka berdua karena aku sendiripun sama sekali tidak ada perasaan apapun kepada mereka, hanya sekedar pelampiasan.

Ima setelah putus dengan saudara Jagad langsung kupacari yang seperti bumerang karena hal itu membuat hubunganku dengan Jagad sedikit renggang juga. Selama aku menjalin hubungan dengan Ima, hanya sekali kutemui dan kuajak keluar, itupun hanya kerumahku yang saat itu menjadi basecamp teman-temanku disiang hari karena tidak adanya orangtuaku dirumah.

Aku sempat mengajaknya melakukan hal yang pernah kulakukan dengan Anin sebelumnya, walaupun awalnya dia menolak tapi hal itu terjadi juga dan setelahnya langsung kuputuskan dia karena saat itu aku sedang mengejar seorang gadis lain disekolahku.

Jahat memang, saat itu entah apa yang ada dipikiranku tapi hal itu yang bisa dibilang menjadi gaya pacaranku setelahnya hingga dewasa ini. Dengan mudahnya aku berganti-ganti pasangan saat itu sedikit mengingatkanku tentang 'perjanjian' yang dikatakan Jagad dulu. Aku tidak mengetahui dan memikirkan tentang resiko apa yang akan kuterima tapi saat itu aku hanya memikirkan kesenangan saja.

Siapa yang tidak tergoda? dengan umurku saat itu yang masih 14 tahun, aku mempunyai kekuasaan dan pengaruh besar di sekolah dan dengan mudahnya berganti-ganti pacar. Membuatku seakan tak terkalahkan dan diatas angin.

Nadia, seorang gadis yang kukejar setelah aku memutuskan Ima. Sebenarnya aku telah mengenalnya dari tahun lalu, saat kami duduk bersebelahan di ujian test sekolah. Dia masih duduk dikelas 7 kala itu, tapi saat itu aku belum seperti ini dan dia masih berstatus sebagai pacar temanku yang sekarang sudah dikeluarkan dari sekolah karena 3x tinggal kelas.

Pertemuanku kembali dengan Nadia memang tidak kusengaja, saat itu hari terakhir masuk sekolah sebelum libur panjang kenaikan kelas. Aku bersama beberapa orang dari fraksiku seperti biasanya berjalan dari kelas kami ke kelas-kelas lain untuk meminta uang dari para siswa.

Saat masuk kekelas 7D aku berpapasan dengannya yang saat itu berlari keluar kelas bercanda dengan temannya dan tersipu malu karena hampir menabrakku yang sedang berjalan di lobby menuju kelasnya dari kelas 7C.

Aku mendapatkan nomor handphonenya dari salah satu anggota fraksiku, tidak meminta sendiri secara langsung. Proses pendekatan kami juga bisa dibilang lumayan lama karena hampir 2 mingguan sebelum akhirnya kami jadian.

Setelah berakhirnya libur panjang kenaikan kelas kami mulai masuk sekolah yang pertama kalinya.

Aku duduk di kelas 9 saat itu, tidak ada komandan dari anggota fraksiku yang tersisa tinggal kelas. Hanya Syahrul dan Nugi yang tiba-tiba dipindah ke kelas 9B. Andi berada dikelas 9C sedangkan Aji yang pindah sekolah ke sebuah kota berbeda provinsi dengan kota ini karena ikut orangtuanya, selama ini Aji tinggal dengan neneknya saja dikota ini. Aku, Iza, Zhaki, Mark dan Vian berada dikelas yang sama sedangkan Ivan masih berada dikelas 9E walaupun dia seakan tinggal menjadi pentolan sendiri dikelas itu dari fraksi kami.

Untuk gambaran kelas 9 saat itu, kelas 9A sampai 9E berada di 1 lobby yang sama tidak terpisah seperti saat kelas 8. Kelas 9a paling dekat dengan ruang guru disebelah utara, dan didepan kelas 9C ada sebuah tangga pendek karena kelasku dan kelas 9D berkontur tanah sedikit lebih rendah dari bagian utara. Didepan sebelah barat kelas 9 terbentang taman sekolah dari ujung 9A ka 9E. Taman itu memisahkan kelas 9 dengan ruang BK dan kelas 8A sampai kelas 8C yang berada berhadapan dengan kelas 9 kecuali ruang BK yang menghadap keutara.

Dengan keadaan seperti itu akhirnya membuat Ivan perlahan jauh dariku dan teman-teman lain, hingga pada akhirnya dia keluar secara baik-baik dari fraksi ini karena ingin fokus belajar saat itu. Kejadian pengeroyokan semasa di kelas 8 dulu oleh fraksi lana kepadanya memang membuat sikapnya sedikit berubah dari saat itu.

Dia yang biasanya ceria dan aktif menjadi pendiam dan lebih sering menghabiskan waktunya untuk belajar dan bergaul dengan para kutu buku saat tidak sedang bersama kami. Sebenarnya Andi juga sendiri dikelas 9C yang diisi siswa-siswa pandai, tapi dia masih setia bersama kami hingga kelulusan nanti.

Andi tidak terlalu pintar tapi entah apa yang direncanakan para guru saat itu hingga menempatkanya dikelas itu, kami tidak mengetahuinya juga.

Kami menghargai keputusanya dan mulai saat itu juga kelas 9E menjadi kelas independen yang tidak ikut membayar uang setoran kepada kami. Hubungan kami denganya juga baik-baik saja.

Kami juga menjalankan perjanjian kami dengan fraksi Dedi dulu, untuk menjaga adeknya yang bernama JB sekelas dengan Syahrul dkk dikelas 9B yang otomatis membuatnya dan beberapa temanya lolos juga dari iuran wajib fraksi kami.

Sekolah ini sebenarnya bukan sekolah yang buruk, tapi memang kenakalan kami saja yang saat itu diluar batas siswa seumuran kami.

Entah takdir atau bagaimana tapi memang kami seperti dipertemukan untuk itu. Karena sebelumnya saat dikelas 8 sebelum tinggal kelas kenakalan siswa disekolah ini belum seperti ini hanya nakal wajar biasa seperti anak SMP pada umumnya. Dengan dipertemukanya kami saat itu merubah semua yang ada disekolah itu.

Sisi baiknya para siswa yang nakal saat itu bisa dibilang kompak karena 80% lebih berada di pihak fraksiku yang menjadi penguasa. Hal ini pernah terbukti saat ada serangan dari sekolah lain yang saat itu mengincar JB, untuk pertama kalinya hampir semua siswa nakal disekolah ini berkumpul menjadi satu melawan mereka...

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!