Choco kembali ke mansion ketika makan malam tiba. Di saat semua orang sudah berkumpul, dia datang paling terakhir dan langsung duduk di samping istrinya.
"Habis ke mana, Cho?" tanya Ken dengan kening yang berkerut. Bahkan semua orang pun tahu, kalau Choco masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat sarapan.
Choco terdiam sejenak, melihat tatapan keluarganya ia merasa tak enak hati, "aku habis ke rumah teman, Dad." Jawabnya sedikit tergagap.
Ken menghela nafas kecil, lalu geleng-geleng kepala.
"Ke rumah teman? Tapi tadi Prilly bilang kamu pergi ke kampus lagi," ujar Ken, karena sebelumnya Zoya memang sudah menanyakan kepergian Choco. Dan Prilly mengatakan bahwa pria itu ada urusan di kampus.
Mendengar itu, Choco semakin bertambah kikuk. Namun, batinnya merutuk menyalahkan Prilly. Karena seharusnya gadis itu menghubungi dia, bukan berbohong pada ibu dan ayahnya.
"Sebelumnya aku memang ke kampus dulu, Dad. Baru setelah itu aku mampir ke rumah teman," kata Choco, lalu menundukkan wajah, tak berani bersitatap dengan netra sang ayah yang terlihat menyeramkan. Bak singa yang ingin menerkam.
"Apakah ponselmu tidak berfungsi, sampai tidak bisa menghubungi istrimu terlebih dahulu? Berapa sih harganya, kalau memang sudah rusak biar Daddy yang ganti!" cetus Ken, ingin membuat Choco sadar, bahwa komunikasi itu penting.
Mau sesibuk apapun kita, pasangan kita wajib tahu, kita sedang di mana, sedang apa, dan dengan siapa. Karena pasangan adalah prioritas utama.
Choco menelan ludahnya kasar, jika sudah bicara dengan Ken dan Zoya. Maka dia tidak akan bisa berkutik. Tak berbeda jauh dengan Prilly yang senantiasa memperhatikannya dari samping.
"Dad, nanti kita bahas lagi ... lebih baik kita makan dulu," timpal Zoya sambil mengelus punggung suaminya, untuk mencairkan suasana. Karena ia tidak mau keributan itu terjadi di depan anak-anak, yang bahkan belum mengerti apa-apa.
Ken langsung menghela nafas panjang. Kalau Zoya sudah turun tangan, maka dia pun tidak akan pernah bisa membantah.
Akhirnya satu keluarga itu pun menikmati makan malam dengan sedikit kecanggungan. Choco berusaha menelan makanan agar masuk ke perutnya, meskipun rasanya sudah tak berselera.
Dia merasa bahwa semua orang selalu memojokkannya. Padahal jelas-jelas Prilly lah yang salah. Prilly yang sudah menghancurkan semua mimpi dan cita-citanya bersama Melinda.
Setelah makan malam itu selesai, kini giliran Zoya yang buka suara. Wanita paruh baya itu mengatakan bahwa besok ia dan Ken akan pergi ke luar kota. Untuk menghadiri acara peresmian panti asuhan yang Ken bangun beberapa bulan lalu.
"Yah, kenapa Yoy tidak diajak, Dad?" keluh Gloria, putri bungsu Ken yang kini sudah masuk sekolah dasar bersama dengan para keponakannya.
"Yoy 'kan sekolah sama Kakak. Nanti kalau liburan baru kita pergi satu keluarga ke sana," jawab Ken, dia paham betul bagaimana manjanya sang putri, mirip sekali dengan El sewaktu masih kecil.
"Memangnya berapa hari kalian di sana, Mom?" timpal Aneeq.
"Sekitar tiga hari, An. Mommy titip kedua adikmu ya."
"Bagaimana kalau Yoy dan Kak Fierce izin saja?" Gloria bicara lagi, karena dia tidak rela ditinggalkan sang ayah. Bahkan wajahnya sudah terlihat masam lengkap dengan bibir yang mengerucut. Berbeda dengan Fierce yang duduk di sampingnya. Bocah tampan itu tampak biasa-biasa saja.
"Kalian kan sedang ujian, Sayang. Lagi pula besok Ziel ke sini. Jadi Yoy tidak akan kesepian." Bahkan Jennie pun kini angkat bicara. Karena dia hafal betul lengketnya sang adik, dengan ayah mertuanya.
Namun, di samping itu, ia juga tahu bahwa Gloria dekat dengan anak asuhnya—Ziel—pria kecil yang kini sudah beranjak remaja.
"Tuh dengar apa kata Kak Jennie, Ziel nanti datang untuk menghibur Aunty Kecilnya," ujar Ken, membuat Gloria langsung senyum-senyum tidak jelas.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Yoy tidak jadi ikut, biar Yoy di sini saja dengan Kak An," balas gadis cilik itu. Membuat semua orang geleng-geleng kepala. Tak terkecuali Prilly yang merasa sangat gemas dengan adik iparnya.
Menjadi anak tunggal, Prilly merasa sangat kesepian. Sementara di sini, dia merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya. Dengan saling menyayangi, serta saling mengingatkan terhadap hal-hal kebaikan.
"Kalau begitu biar El saja yang ikut dengan Daddy, El rindu dimanja oleh Daddy," rengek El, karena merasa cemburu melihat kedekatan ayah dan adik bungsunya.
Dulu dia adalah anak perempuan satu-satunya, paling disayang dan juga paling dimanja. Berbeda dengan sekarang, sebab kasih sayang ayahnya sudah terbagi untuk Gloria.
Namun, belum sempat Ken angkat bicara, Choco yang duduk didekat El langsung menjewer telinga adiknya itu. "Haish, tidak ingat umur apa? Lihat, anakmu sudah berapa?! Masih saja manja."
Mendengar itu, semua orang pun terkekeh keras, tak terkecuali Caka yang melihat tingkah kekanakan istrinya.
***
Anak-anak uler ga berani ama Abah Python, sedangkan Abah Python ga berani sama Ratu Uler😂😂😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
choco KLO di depan Ken dan Zoya berubah jadi kucing manis 😆😆
2024-10-15
0
yeni NurFitriah
Anak nya Mommy Zoya banyak ya.
2024-08-18
0
Rahayu Ray
😂😂😂
2024-01-16
0