Sore harinya beberapa barang Prilly datang dan langsung dirapihkan. Namun, Zoya bisa melihat ketidak antusiasan sang anak. Pria itu selalu tampak acuh tak acuh, sehingga membuat Zoya pun sadar bahwa Choco tidak bisa menerima kehadiran Prilly begitu saja.
Bahkan sampai di meja makan, Choco menolak untuk dilayani oleh sang istri, terbukti dari Choco yang langsung mengangkat piring ketika Prilly hendak menyendokkan nasi.
Gadis itu terdiam sesaat, sementara Choco tidak merasa bersalah sedikitpun, karena sudah mengacuhkan Prilly.
Dengan hati yang kian remuk, Prilly mencoba untuk menguasai diri. Karena ia tidak ingin semua orang melihat ketidakharmonisan rumah tangganya.
Tak hanya Zoya yang merasa bahwa Choco begitu menghindari Prilly, tetapi Jennie—istri dari saudara kembar Choco pun ikut merasakan hal yang sama. Meksipun ia tahu Prilly salah, tetapi entah kenapa dia merasa iba, saat melihat kedua bola mata Prilly memancarkan kesedihan.
Selama makan malam berlangsung, tidak ada yang bicara. Hanya ada beberapa celotehan anak-anak, yakni para keponakan Choco dan juga dua adik kembarnya. Hingga makan malam telah berakhir—terdengar suara deheman Aneeq.
Semua orang sontak mengalihkan pandangan mereka ke arah pria tampan itu. Tak terkecuali Prilly dan Choco.
"Cho, aku kan belum memberimu kado pernikahan, bagaimana kalau kadonya tiket honeymoon saja?" kata Aneeq sambil menatap sang adik yang terlihat kehilangan gairah.
Dia melakukan itu semua, agar hubungan Prilly dan Choco lebih dekat. Sebab dia dan Zoya sudah berbicara empat mata, mereka meyakini bahwa Prilly tidak semata-mata menjebak Choco—pasti ada juga campur tangan Melinda.
Mendengar itu, Choco hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Apa ia tidak salah dengar? Jangankan untuk honeymoon, tidur berdua dengan Prilly saja rasanya dia sangat enggan.
"Honeymoon? Apakah itu perlu?" Choco balik bertanya, membuat semua orang yang ada di meja melipat kening masing-masing.
"Tentu saja perlu, Cho. Apalagi kalian baru saling mengenal. Lihat De dan Cia waktu itu, mereka lebih romantis setelah pulang dari honeymoon," timpal Ken, yang tak habis pikir dengan pemikiran satu putranya.
"Iya, Cho. Setidaknya honeymoon bisa membuat kalian lebih terbuka." Aneeq pun ikut menambahi. Sementara yang lain, seperti Eliana dan Caka, hanya diam saja. Paham, bahwa bukan kapasitas mereka untuk bicara ataupun bercanda.
"Maaf, An. Aku bukannya ingin menolak, tapi saat ini sepertinya tidak bisa. Besok aku sudah harus masuk ke kampus," jawab Choco beralibi, padahal sebelumnya dia sudah mengambil cuti. Namun, karena kejadian yang tak terduga ini, dia mencabut izin cutinya.
"Bukannya kamu mengambil libur, Sayang?" tanya Zoya.
"Kemarin aku sudah mengajukannya, Mom. Tapi ditolak. Karena banyak sekali planning yang harus aku kerjakan di semester ini. Nanti kalau waktunya sudah tepat, aku pasti akan menagihnya pada Aneeq," jawab Choco tanpa meminta pendapat Prilly.
Di sampingnya, gadis itu senantiasa menundukkan kepala, tak berani untuk menatap semua orang. Sedari tadi Prilly hanya memerhatikan jari manis Choco, tempat di mana cincin pernikahan mereka melingkar.
Batinnya tersenyum, karena hal sederhana itu saja sudah membuat dia merasa bahagia.
Sementara Aneeq yang mendengar penjelasan Choco, sedikit melirik ke arah Zoya dan menghela nafas kecil. Dia pun tidak bisa menekan Choco sesuka hatinya, sebab ia tahu sang adik masih begitu terpukul dengan prahara di antara ia dan Melinda.
"Baiklah kalau begitu. Nanti kamu atur saja waktunya dengan Prilly. Sekalian Babymoon juga boleh," pungkas Aneeq, yang membuat Choco kembali terperangah.
Dia melirik Prilly dengan ekor matanya. Dalam benak Choco tak ada sedikitpun pikiran untuk memiliki anak dengan Prilly. Dia malah berharap, agar benihnya tidak sampai jadi. Sebab dia takut, jikalau hal tersebut hanya akan mempersulit keadaannya.
Namun, di hadapan seluruh keluarga. Choco hanya bisa menganggukkan kepala.
Lantas setelah itu, obrolan pun selesai. Sebelum naik ke atas kamar, Zoya lebih dulu mengelus puncak kepala Prilly, lalu berkata. "Susul suamimu sana, dekati dia pelan-pelan. Mommy yakin, dengan begitu kalian akan semakin terbuka. Sama-sama belajar ya, Pril."
Mendengar itu, hati Prilly semakin tersentuh. "Iya, Mom. Aku akan terus berusaha." Dia pun mengangguk pelan, kemudian menyusul Choco untuk masuk ke dalam kamar.
Namun, bagaimana dia bisa mendekati suaminya, sedangkan kini pria itu sedang asyik mengobrol dengan Melinda, melalui panggilan video.
Mendengar suara pintu yang terbuka, Melinda tahu bahwa anak tirinya telah datang. Dengan sengaja wanita itu mengeluarkan suara manja. Agar Prilly semakin sakit hati. "Besok kita bertemu di tempat biasa ya, Sayang."
Hati wanita mana yang tidak remuk? Hati wanita yang tidak pedih? Sejatinya Prilly adalah gadis biasa. Dia bisa merasakan sakit, saat pria yang dicintainya begitu mudah berbicara lembut dengan wanita lain. Tapi tidak dengannya.
Tanpa bicara, Prilly langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Dia memunggungi Choco, dan mencoba untuk memejamkan mata. Namun, bukannya lelap yang ia dapatkan. Melainkan sesak yang tak tertahankan.
****
Udah double up nih, mana sawerannya🤸🤸🤸
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Koni Saputri
seharus Prilly biasa aja,,, biarkan si choco itu penasaran dengan sikap mu Prilly bila perlu cuekin dia🤗🤗🤗
2025-01-23
1
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
dasar nenek lampir .. sadar usia woiii
2024-10-13
0
yeni NurFitriah
Balas Prilly si choco,jngan diam aja jangan lemah.
2024-08-17
0