Choco sengaja menerima telepon dari Melinda di hadapan Prilly, agar gadis itu tidak mengganggunya. Dia ingin Prilly segera tidur, tanpa banyak bicara, sebab ada sesuatu yang harus dia kerjakan.
Dia ingin melihat rekaman CCTV yang berhasil dikirim oleh salah satu pihak hotel. Jangan tanya kenapa ia mudah mendapatkan itu semua, sebab hotel tersebut masih milik keluarganya.
Pria tampan itu tidak tahu, jika ternyata Aneeq lebih dulu mendapatkan rekaman tersebut. Aneeq diam-diam menyelidiki ketidakberesan antar Prilly dan Melinda. Karena sepertinya, Melinda sangat tidak menyukai anak tirinya.
Sebelum turun dari ranjang, Choco memerhatikan punggung Prilly yang begitu ringkih. Sebenarnya hati kecil Choco selalu menentang tindakan semena-menanya, tetapi akal pikiran pria itu lebih mendominasi.
"Dia juga semena-mena padaku, jadi untuk apa kasihan padanya? Bukankah ini semua akibat dari perbuatannya sendiri?" gumam Choco, kalimat-kalimat itulah yang selalu ada dalam benak pria itu, ketika mengingat bahwa Prilly yang menggodanya lebih dulu.
Setelah memastikan bahwa Prilly benar-benar tidur, Choco pun mengambil laptopnya. Dia melangkah pelan-pelan, takut suara langkah kakinya mengganggu tidur gadis manis itu.
Choco tidak sadar, bahwa sebenarnya Prilly hanya pura-pura terlelap. Sedari tadi pikiran gadis itu terus berkecamuk, mencari cara untuk mendekati suaminya sendiri.
Sedikitpun dia tidak memiliki rasa empati terhadapku, setiap waktu dia hanya bisa marah-marah, dan berusaha membuatku sakit hati, apakah aku harus selalu diam dan mengalah? Batin Prilly, dia menggenggam erat selimutnya sambil terus memejamkan mata.
Sementara Choco yang tak begitu memedulikan Prilly, tampak masa bodoh. Dia kembali duduk dan bersandar di kepala ranjang.
Dengan lihai dia mengotak-atik benda persegi panjang itu. Hingga kini sepasang matanya bisa melihat dengan jelas, bahwa beberapa menit sebelum Prilly masuk ke kamarnya, dia sempat bertemu dengan Melinda.
Mata Choco menyipit. "Apa yang mereka bicarakan?" Gumamnya nyaris tak bersuara.
Terdengar samar-samar Melinda dan Prilly saling membalas ucapan. Namun, sepertinya mereka sama-sama menggunakan suara yang begitu pelan dan penuh penekanan.
Hingga didetik selanjutnya, dia melihat bahwa Melinda hampir saja menampar wajah Prilly. Akan tetapi dengan gesit Prilly menahannya di udara.
Secara reflek Choco kembali melirik ke arah sang istri yang masih setia memunggunginya. "Kenapa kalian jadi penuh teka-teki seperti ini?"
Ingatan Choco berputar saat Prilly mengatakan bahwa Melinda memiliki tujuan sehingga wanita itu bertahan di sisinya. Namun, tujuan seperti apa? Bahkan selama ini hubungan ia dan Melinda baik-baik saja.
Mana yang harus ia percaya? Kenapa sulit sekali menerima fakta bahwa Melinda bukanlah wanita baik yang seperti ada dalam perkiraannya.
"Kalian membuatku pusing. Apa yang sebenarnya sedang kalian mainkan?" Pria itu bertanya pada batinnya sendiri, sebab sebagai seorang pria, dia seperti sedang menjadi bahan taruhan.
Hingga akhirnya, setelah lama menimang, Choco pun memutuskan untuk mencari asal-usul Melinda lebih detail. Masa di mana saat wanita itu masih menjadi istri dari ayah Prilly. Tuan Hadwin Elguero.
Namun, saat mengetik nama ayah Prilly. Tidak ada berita apapun mengenai keduanya. Di sana hanya mengatakan bahwa dahulunya Melinda adalah manager pemasaran di perusahaan Guero Grup.
Sebab skandal mereka tertutup rapat. Hanya ada beberapa orang kepercayaan Tuan Hadwin yang mengetahui bahwa Melinda adalah orang ketiga di keluarga Prilly. Termasuk gadis manis itu dan ibunya.
"Lihat, tidak ada berita apapun tentang Melinda. Apa yang perlu aku curigai? Memang dasarnya si Prilly ini tidak suka jika ayahnya menikah lagi," rancau Choco, kepalanya sudah terasa berdenyut, karena malam kian larut. Sementara dia masih berkutat tentang informasi antara kekasih dan istrinya.
Choco menghela nafas panjang. Dia sangat yakin bahwa Prilly hanya sedang memutarbalikkan fakta, mengatakan bahwa Melinda yang bersalah.
"Cih, aku sudah menduganya. Apa yang dia bicarakan hanyalah omong kosong!"
Setelah mengatakan itu, Choco memutuskan untuk beristirahat. Dia menutup laptopnya, kemudian berbaring. Tidak perlu ambil pusing, yang penting sekarang pastikan bahwa Prilly tidak hamil, lalu menceraikannya.
***
Pagi harinya Prilly bangun terlebih dahulu, dia langsung membersihkan diri dan siap-siap untuk berangkat ke kampus. Lantas setelah itu, dia baru membangunkan sang suami yang terlihat masih lelap.
Awalnya dia ragu, tetapi dia selalu meyakinkan diri bahwa pelan-pelan Choco pasti akan luluh. Hingga akhirnya tangan langsing itu menyentuh bahu kekar sang suami. "Kak, bangun!" Katanya dengan lembut.
Namun, karena semalam ia begadang, Choco pun sulit untuk dibangunkan. "Berisik! Bisa tidak jangan ganggu aku." Bentaknya tak suka.
Mendengar itu, Prilly langsung berjengit mundur. "Tapi ini sudah siang, Kak. Kamu bisa terlambat ke kampus."
Choco mendengus kasar, dia lupa bahwa hari ini jadwalnya untuk mengajar. Dengan gerakan malas, dia bangkit dari ranjang. Karena terlalu gengsi pada Prilly, dia pun cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi, hingga melupakan handuknya.
"Ck, sialan! Kenapa aku bisa melupakannya?"
Gigi depannya mengerat, dengan terpaksa dia membuka sedikit pintu untuk mengintip, berharap Prilly sudah keluar dari kamar. Setelah memastikan bahwa situasi aman, dia pun keluar dengan tubuh telanjang.
Namun, baru beberapa langkah tiba-tiba Prilly keluar dari ruang ganti, dia baru saja meletakkan baju suaminya di sana.
Deg!
Jantung keduanya sama-sama ingin melompat dari sarang masing-masing. Prilly membulatkan kelopak matanya sambil meneguk ludah saat melihat sang suami buuugil di depannya. Berbeda dengan Choco yang mendelik dan bergerak gelisah.
"Sialan, kamu pasti sengaja yah?!" bentaknya, membuat Prilly reflek menutup mata.
***
Neng Prilly bilek : Iya gue sengaja, pengen narik uler lu🙄🙄🙄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
dih nuduh nuduh 😂😂😂😂
2024-10-13
0
May Keisya
🤣
2023-09-28
0
Queen Mother
Huahaaa… tarik neeeng
2023-09-15
0