Prilly meninggalkan Choco begitu saja, setelah ia berhasil membuat pria itu naik darah. Dia melangkah santai sambil mengulum senyum, membayangkan wajah sang suami yang tengah merasa kesal.
"Mau marah seperti apapun, dia masih terlihat tampan," gumam Prilly, lalu menggigit bibir.
Gadis manis itu tidak tahu, jika kelakuannya ditangkap oleh seorang pemuda yang sudah lama menjadi sahabatnya, Ezza.
Pemuda berusia 20 tahun itu segera melangkah ke arah Prilly, kemudian menarik lengan gadis cantik itu.
Prilly yang merasa terkejut langsung mengangkat wajahnya. "Ezza?!"
"Aku butuh penjelasanmu!" kata Ezza sambil terus menggenggam tangan Prilly, untuk masuk ke dalam kampus. Mereka berdua seperti terang-terangan menunjukkan kedekatan pada pria yang masih berada di balik mobil berwarna merah, hingga Choco kembali mengepalkan tangannya.
"Cih, baru saja kemarin dia berkata mencintaiku, sekarang dia sudah bersama pria lain?! Apa iya itu namanya cinta? Bulshittt."
Pria tampan itu terus mengumpat dengan nafas yang memburu, sementara dadanya terus bergemuruh, tidak habis pikir jika dia harus berhadapan dengan gadis seperti Prilly. Gadis yang nyaris tidak memiliki sikap dewasa sedikitpun.
"Awas saja nanti kamu!" ancam Choco dengan gerakan tangan yang mengepal, baru setelah itu ia kembali mengemudikan mobil mewahnya. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, sebentar lagi jadwal dia untuk mengajar.
"Gara-gara dia aku hampir terlambat!"
Pria tampan itu masih saja menggerutu. Sampai-sampai dia tidak memedulikan panggilan telepon dari Melinda. Karena sedari tadi fokus Choco hanya pada istri kecilnya.
Sementara di lain sisi, Ezza baru saja melepaskan tangan Prilly saat mereka sudah sampai di belakang perpustakaan kampus. Dia mengambil tempat yang paling sepi, sebab ia tidak ingin semua orang mendengar percakapan antara mereka berdua.
"Kamu butuh penjelasan apa sih, Za? Aku nggak paham," ujar Prilly untuk pertama kali, dia juga merasa tak nyaman dengan tatapan pemuda itu.
Ezza terdiam sesaat, sambil terus menatap gadis yang ada di hadapannya, dia adalah sahabat Prilly, dia sudah berteman dengan gadis itu saat mereka masih sama-sama SMA. Namun, kenyataannya Prilly seolah tidak menganggap dia ada.
Bahkan pesta pernikahan gadis itu pun dia tidak diundang.
"Kamu sudah berhasil menikah dengannya? Lalu apa maksudmu tidak menceritakannya padaku? Bahkan kemarin aku coba menghubungi kamu, tapi kamu nggak ada kabar, Pril," jawab Ezza dengan beberapa pertanyaan, karena dia benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya ada di otak Prilly.
Gadis itu sedikit memalingkan pandangannya. Kemarin dia memang sengaja tidak mengundang Ezza, sebab dia tidak ingin pemuda itu mengacaukan semuanya.
"Aku tahu gimana kamu ya, Za. Aku hanya takut kamu menghentikan apa yang menjadi impianku!"
"Impian apa, Pril? Impian untuk terus disakiti pria yang membenci kamu? Jangan kamu pikir aku tidak tahu, aku di sana, Pril. Aku lihat dia pergi tinggalin kamu cuma buat ketemu sama Tante Melinda!" jawab Ezza menggebu, menyampaikan sebuah fakta yang membuat dada Prilly tiba-tiba sesak.
Padahal dari kemarin dia sudah berusaha untuk menguatkan hatinya. Namun, Ezza malah mencoba meruntuhkannya begitu saja.
"Dia nggak benci sama aku, Za. Kita cuma perlu waktu untuk membiasakan diri. Aku juga yakin, pelan-pelan kebusukan wanita itu akan terbongkar, dan pada saat itu akulah yang menang!"
Prilly menjawab tak kalah menggebu, tetapi dari dua bola mata gadis itu, Ezza sama sekali tidak melihat binar kebahagiaan. "Tapi jalan kamu nggak mungkin mulus begitu aja, Pril. Aku kayak gini karena aku mentingin perasaan kamu! Kamu yakin bisa bertahan? Sementara aku yang melihat saja rasanya sakit."
Lagi-lagi Prilly terdiam, dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengisi ruang udaranya yang terasa kosong. Choco memang sulit ditaklukkan, tetapi bukan berarti tidak bisa.
"Za, kalau kamu benar-benar sahabat aku. Seharusnya kamu dukung aku sekarang, karena bisa aja aku hamil anak dia, kalau aku mundur, lalu gimana sama anak aku?" tanya Prilly, kini dua bola matanya sudah berkaca-kaca.
Namun, Ezza malah menghela nafas kecil. "Kamu salah, Pril. Sebagai seorang sahabat, aku wajib memberi tahu kamu, kalau semua yang kamu lakukan itu salah. Meskipun aku tahu kamu cinta sama dia."
Prilly terdiam, mendengar penuturan Ezza, ia tahu ia memang salah mengambil langkah ini. Akan tetapi dia tidak mungkin mundur, sebab semuanya sudah terlanjur basah.
"Tapi aku sudah terlanjur melakukan itu semua dengannya, Za," ujar Prilly dengan bibir yang bergetar, detik selanjutnya ia terisak-isak.
Melihat itu, tentu Ezza tidak bisa diam saja, dia segera menarik kepala Prilly, untuk menenangkannya. Mereka sudah lama bersama, apa yang membuat Prilly sakit, maka itu pun akan menjadi kesakitan Ezza.
"Yah, aku tahu semuanya sudah terjadi. Tapi kalau kamu tidak kuat, ingat Bahasa Inggrisnya bulan—pintu—lebah—pergi!"
Dengan uraian air mata, Prilly mengangkat kepalanya. "Apa?" Tanya gadis itu dengan polos.
"Moon—door—bee—go!"
***
Moon door gak tuh? 🤣🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
berusaha lah prill
2024-10-13
1
^__daena__^
kok bisa ya 🤔😂😂 pinter IHH si othor
2024-09-19
0
yeni NurFitriah
😁😁
2024-08-17
0