Karena perasaan kesal yang menghinggapi hati Choco, dia pun memilih untuk keluar dari kamar. Dia tidak ingin menjilat ludahnya sendiri, dengan mengikuti ucapan Prilly.
"Memangnya siapa dia? Seenaknya bicara seperti itu?" gerutu Choco sambil melangkahkan kakinya.
Terdengar suara gebrakan pintu yang cukup keras. Hingga membuat Jennie yang kala itu sedang berada di ujung tangga merasa sangat terkejut.
Namun, dia tidak berani bertanya, karena wajah Choco terlihat sedang emosi. Jennie yakin, Choco dan Prilly pasti terlibat dalam percakapan sengit, hingga memancing kemarahan pria tampan itu.
Sedangkan di sisi lain, Prilly berulang kali menghembuskan nafas. Karena sedari tadi jantungnya terus berdebar dengan kencang. Sebenarnya dia takut, tetapi demi tidak diperlakukan semena-mena. Gadis manis itu berusaha untuk menjadi wanita yang tangguh dan juga tidak lemah.
Untuk mendinginkan kepalanya yang terasa berasap, Prilly pun berdiri tepat di bawah shower. Dia membiarkan rintik air itu berjatuhan mengenai tubuhnya, hingga ia merasa segar bugar.
"Hah, cinta memang aneh. Kenapa aku bisa mencintai pria dewasa seegois dia," gumam Prilly sambil menyugar rambutnya yang basah.
Demi mempertahankan keutuhan rumah tangganya, dia bahkan rela terus-menerus tersakiti. Karena dia yakin, bahwa pelangi akan datang setelah hujan badai.
Ada kebahagiaan yang tak terkira, yang telah Tuhan siapkan untuknya.
"Sekarang aku hanya perlu berusaha. Agar dia bisa membuka matanya, dan melihat siapa yang sebenar-benarnya mencintai dia."
Prilly tersenyum tipis, kala mengingat betapa hebatnya Choco mendesaah di atas tubuhnya, membuktikan bahwa pria itu pun menikmati penyatuan mereka berdua.
Namun, hari ini Choco masih terlalu gengsi dan besar kepala untuk mengakui semuanya. Hingga terus-menerus memaki Prilly, dan mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah bagian dari drama.
Prilly menghabiskan waktu tiga puluh menit di dalam kamar mandi, ia lebih banyak melamun ketimbang fokus membersihkan diri.
Gadis itu tidak tahu, bahwa sedari tadi ponselnya terus berdering. Menampilkan nama Asisten Pram—orang kepercayaan mendiang ayahnya.
"Astaga, Nona, ayolah ... aku ada berita penting untukmu," gumam Pram, sambil menggigit kepalan tangannya, karena merasa gemas.
Pram sengaja menelpon Prilly, karena dia ingin mengajak gadis itu bertemu, dan mengatakan apa yang Melinda rencanakan.
Dia ingin gadis itu mengambil alih perusahaan, lalu mendepak Melinda dari kursi CEO. Agar rubah betina itu tidak semena-mena, apalagi sampai membuat surat kuasa palsu atas kepemilikan Guero Grup.
Namun, yang Pram lakukan ternyata sia-sia, sebab sebelum bicara dengan Prilly, ada seseorang yang masuk ke rumahnya, dan memukul dia dari belakang.
Bugh!
Hentakan keras Pram dapatkan, hingga dia meringis kesakitan. Namun, dia masih cukup kuat untuk menopang tubuhnya, sehingga dia tidak jatuh pingsan.
Dia langsung menoleh, ingin melihat siapa yang berani menyusup ke dalam rumahnya. "Hei, siapa kalian?!" Sentak Pram sambil memegangi salah satu bahunya.
Kedua orang yang memakai penutup wajah itu langsung menyeret tubuh Pram. Akan tetapi pria itu memberontak sekuat tenaga.
Dia sangat yakin, bahwa orang-orang ini adalah suruhan Melinda, wanita itu pasti takut jikalau Pram sampai memberitahu Prilly tentang masalah ini.
Ditambah dia juga salah satu orang kepercayaan Tuan Hadwin. Jadi, Melinda pasti berpikir banyak tentangnya.
"Lepaskan aku, Bedebah! Aku tahu siapa bos kalian," teriak Pram, tetapi semuanya percuma. Karena dia malah mendapatkan tamparan dan juga pukulan.
"Jangan banyak bicara, sekarang tugasmu hanya ikut dengan kami," ucap salah satunya. Pram tidak terlalu mendengar, sebab dia tengah meringis dengan hidung yang mengeluarkan darah segar.
Pram diseret layaknya seekor binatang. Namun, dia masih berusaha untuk melawan. Dia menendang kaki salah satu orang yang menyeretnya, hingga membuat orang itu tersungkur dan melepaskan cengkramannya pada tubuh Pram.
"Sialan kamu!" umpatnya, Pram kembali dihajar habis-habisan, hingga kepalanya terasa kunang-kunang. Kesadaran pria itu semakin hilang, apalagi saat salah satu dari mereka memukul belakang kepalanya.
Akhirnya pria itu pun tergeletak tak berdaya. Dengan tubuhnya yang babak belur, dia dibawa oleh kedua orang itu untuk disekap, sesuai dengan keinginan Melinda.
Sementara di ujung sana, Prilly mengerutkan keningnya, mencoba menebak apa maksud Pram menghubunginya. "Apa ada sesuatu yang terjadi?" Gumam Prilly.
Perasaan gadis itu pun mulai dilanda gelisah, sehingga dia memutuskan untuk menelpon Pram balik. Siapa tahu pria itu masih menunggu balasannya.
Namun, sampai beberapa kali Prilly mencoba menghubungi salah satu orang kepercayaan ayahnya itu. Pram sama sekali tidak menjawab.
"Sepertinya ada yang terjadi dengan perusahaan. Aku harus ke sana besok, sebelum nenek sihir itu membuat masalah."
***
Jangan lupa, kembang, kopi, dan empotnya guyssss🤸🤸
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
ternyata prili beneran cinta sama cico
2024-10-15
0
Eka
prili sebelum kekantor kamu crita dulu sama momy zoya sama defy ken biar subantu kasihan pak burhan kepeecayaannya
2023-12-04
0
apple juice
kesal
2023-06-29
0