Dengan gerakan cepat Choco pun masuk ke dalam kamar mandi, nafasnya terdengar memburu karena sangat terkejut begitu melihat Prilly yang tiba-tiba datang. Sementara di luar sana, gadis itu pelan-pelan membuka mata.
Dia menggigit bibir bawahnya, melirik ke arah kamar mandi. Tak bisa bohong, kini tubuhnya langsung memanas, seperti tengah terbakar.
Akan tetapi detik selanjutnya Prilly langsung tersadar, saat terdengar suara teriakan suaminya. "Ambilkan aku handuk!"
Gadis itu semakin mengangkat kepalanya, dia seperti tergagap hingga tak mampu untuk menjawab. Dan hal tersebut membuat Choco merasa sangat kesal.
"Dengar tidak sih, ambilkan aku handuk cepat!" teriaknya sekali lagi.
Akan tetapi Prilly terus bergeming di tempatnya. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya ia menemukan cara untuk melawan Choco—si mulut pedas. Selamanya dia tidak boleh diam, atau dia akan terus-menerus ditindas. Seketika senyum Prilly mengembang, kemudian dia berkata. "Bukannya aku tidak boleh menyentuh barang-barangmu?"
Mendengar itu, Choco langsung mengepalkan tangannya kua dengan kekesalan yang semakin menggunung.
Tenyata Prilly memang gadis bermuka dua. Kemarin Prilly berpura-pura lemah, dan sekarang gadis itu berani melawan ucapannya.
"Apa katamu?" pekik Choco dari balik benda persegi panjang itu. Dia bertolak pinggang, seolah sedang menantang. Lain dengan benda gondal-gandul di bawah sana yang sedang kedinginan.
Prilly sedikit melangkah ke arah kamar mandi. Agar lebih dekat dengan suaminya. "Iya, Kakak bilang kemarin aku tidak boleh menyentuh barang-barangmu. Apakah handuk bukan termasuk barang yang Kakak maksud?"
Pria tampan itu mendengus. Karena ia merasa bahwa Prilly sedang menginja-injak harga dirinya. Sial sekali memang, dia harus mendapati kenyataan bahwa ucapannya berbalik pada dirinya sendiri.
"Jangan banyak bicara! Kalau kamu tidak mau bilang saja tidak!" ketus Choco, berusaha untuk menyelematkan wibawanya.
Dengan perasaan kesal, dia pun keluar dari dalam kamar mandi. Dia tidak peduli dengan tubuhnya yang telanjang. Masa bodoh, Prilly mau melihatnya atau tidak. Yang jelas dia tidak ingin meminta bantuan apapun lagi pada gadis itu.
Astaga, dia benar-benar tidak tahu malu. Batin Prilly sambil memalingkan wajah. Namun, meskipun begitu dia masih sedikit melirik ke arah Choco, menikmati pemandangan indah itu dari belakang.
Choco menyambar handuk dengan kasar, kemudian melilitkannya di pinggang. Dengan wajah seram dia melangkah ke arah lemari pakaian. Namun, sebelum Choco membukanya, Prilly lebih dulu buka suara.
"Aku sudah menyiapkan pakaianmu di ruang ganti, Kak."
Choco melirik tanpa minat. "Aku tidak butuh bantuanmu. Bukankah kamu baru saja sadar, bahwa aku tidak sudi barang-barangku disentuh oleh tanganmu?!"
Namun, semua yang Choco ucapkan tidaklah berarti apa-apa. Prilly hanya mencoba untuk memahami tanpa memasukkannya ke dalam hati. "Kamu tenang saja, Kak. Aku tidak menyentuhnya kok, tadi aku pakai sarung tangan."
Lantas setelah itu Prilly mengangkat sesuatu yang ia pegang. Sepasang sarung tangan yang ia gunakan saat mengambil baju Choco. Membuat pria tampan itu menahan nafas. Rasanya dia ingin meremat sesuatu, karena lagi-lagi Prilly mampu mematahkan ucapannya.
"Argh, terserah! Yang jelas aku akan memilih pakaianku sendiri!" pungkas Choco, lalu dia membuka lemari dengan kasar. Mengambil satu kemeja dan juga celana panjang. Pakaian yang biasa ia kenakan saat mengajar.
Melihat Choco yang begitu frustasi, membuat Prilly tersenyum tipis. Karena apa yang ia lakukan, membuat pendekatannya selangkah lebih maju.
"Dia semakin terlihat tampan," gumam gadis manis itu sambil melangkah ke arah ranjang. Dia tidak akan keluar, sebelum Choco selesai berpakaian.
Hingga tak berapa lama kemudian, pria itu sudah terlihat rapih dengan kemeja berwarna navy. Di tangannya ada pakaian yang diambil oleh Prilly, tanpa menoleh dia langsung melempar pakaian tersebut ke keranjang baju kotor.
"Pakaian yang terkena noda harus dicuci!" sindirnya tanpa perasaan.
Prilly mengernyitkan dahi, lalu mengangkat tubuhnya, dia melangkah ke arah Choco, hingga kini gadis itu berdiri tepat di belakang suaminya. "Lalu apakah kamu sudah memastikan bahwa tubuhmu bersih? Bukankah mereka semua telah bercampur dengan noda?"
Deg!
Tiba-tiba jantung Choco seperti berhenti berdetak. Tatapannya nanar dengan rahang yang mengatup rapat. Kini keadaan seolah berbalik, sebab dia tidak sanggup lagi untuk membalas kata-kata yang dilontarkan oleh istrinya.
***
Kalem guys, Neng Prilly akan memporak-porandakan hati Chocolatos 🤣🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
🏠⃟ᵐᵒᵐરuyzz🤎𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ🍁🥑⃟❣️
percuma hahahaha
2024-10-14
0
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
choco ganteng Bgtt terlihat cool
2024-10-13
0
yeni NurFitriah
Bagus Prilly..memang seharus nya begitu mnghadapi Choco.
2024-08-17
0