Setelah berbicara dengan kedua orang tuanya. Choco segera mengajak Prilly untuk masuk ke dalam kamar. Wajahnya senantiasa tertekuk, apalagi saat pintu sudah tertutup.
Dia membanting tas yang ada di tangannya ke lantai, hingga membuat Prilly berjengit, karena merasa begitu terkejut.
"Apa yang kamu lakukan sehingga kamu bisa meracuni otak ibu dan ayahku?!" tanya Choco tiba-tiba dengan nada dingin. Namun, sedikitpun pandangan matanya tak beralih untuk menatap Prilly.
Dia lebih suka melihat pemandangan di luar sana. Dari pada harus melihat wajah sang istri yang selalu berpura-pura mengiba.
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Choco, tentu saja hal tersebut membuat Prilly mengerutkan kedua alisnya. "Meracuni apa maksudmu, Kak? Bahkan aku tidak bicara apapun dengan mereka berdua."
Prilly mencoba untuk menjawab dengan apa adanya. Dia ingin meluruskan kesalahpahaman yang selalu meracuni otak Choco, sehingga membuat dia tidak pernah benar di mata suaminya.
Seketika mata Choco memicing, dia melirik tajam hingga membuat jantung Prilly langsung bergetar. Beginikah sikap Choco ketika sudah dihadapkan oleh kekecewaan. Sedetikpun pria itu tidak pernah bisa baik padanya.
"Ingat, Mommy dan Daddy-ku tidak akan mungkin menerimamu begitu saja setelah apa yang kamu lakukan! Sama seperti aku. Jadi, jangan heran kalau aku curiga bahwa sebenarnya kamu telah membicarakan sesuatu dengan mereka!" ketus Choco dengan rahang yang mengeras.
Entahlah setiap dia bicara dengan Prilly rasanya dia ingin selalu marah-marah. Hatinya memanas karena pernikahan yang ia janjikan untuk Melinda, harus pupus seketika.
Prilly menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Dia mencoba untuk memberanikan diri menatap lekat suaminya. "Aku bersumpah, aku tidak melakukan apapun. Aku—"
"Kalau begitu katakan apa maksudmu melakukan ini semua?!" sentak Choco, menghentikan ucapan Prilly. Dia ingin mendengar apa alasan yang membuat gadis itu merusak rencana pernikahannya dengan Melinda.
Pancaran api kemarahan bisa Prilly lihat dengan jelas. Hingga membuat dia tertegun. Dia sungguh tahu bagaimana pria ini mencintai ibu tirinya.
Akan tetapi dia pun ingin egois, dia ingin memiliki Choco seutuhnya, dan menyelamatkan pria itu dari kelicikan Melinda—sang rubah betina sesungguhnya.
"Aku seperti ini karena aku mencintaimu, itu adalah alasan yang paling jelas!" lirih Prilly dengan ludah yang terasa tercekat.
Namun, bukannya merasa senang dengan ungkapan hati Prilly, kemarahan Choco malah semakin menjadi-jadi. "Omong kosong! Kamu pikir aku akan percaya begitu saja? Aku tahu kamu memiliki maksud dan tujuan lain!"
Prilly menggeleng cepat. "Tidak ada, apa yang aku katakan adalah kebenaran. Aku mencintaimu sebagai seorang pria, bukan ayah!" Tegasnya.
Pelan, Choco melangkah ke arah Prilly. Akan tetapi kali ini Prilly tidak mundur, dia tetap berada di tempatnya. Hingga Choco berdiri tepat di hadapan gadis cantik itu.
"Aku peringatkan padamu, jangan berani berbohong! Katakan yang sejujurnya, apa maksudmu melakukan ini semua," lanjut Choco dengan suara pelan tetapi penuh penekanan. Menuntut akan sebuah jawaban.
Prilly menggenggam erat kepalan tangannya yang sudah basah oleh keringat dingin. Dengan dada yang bergemuruh, dia pun mengangkat pandangannya, hingga kedua netra itu bersitatap.
"Jangan hanya hakimi aku, tapi selidiki juga mantan calon istrimu. Benarkah dia adalah wanita baik-baik, atau hanya sekedar bersembunyi di balik kata itu. Karena menurutku, kamu belum benar-benar mengenal dia. Jadi, silahkan cari tahu alasan apa yang membuat di bertahan di sisimu. Sementara tugasku di sini hanya mencintaimu, dan ketika kamu tahu semua tentangnya, kamu akan berterima kasih padaku," jelas Prilly dengan bibir yang senantiasa bergetar.
Matanya sudah memerah dan berkaca-kaca. Sementara Choco membisu dengan bibir yang mengatup rapat. Mencoba untuk mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh istrinya tentang Melinda.
Haruskah dia percaya pada gadis yang telah menjebaknya? Atau lebih memilih untuk tidak peduli, karena dia merasa bahwa dia adalah orang yang paling tahu tentang wanita yang dicintainya.
Beberapa detik ke depan tidak ada yang bersuara. Hanya ada bunyi dentingan jarum jam juga degub jantung masing-masing.
Namun, karena sudah merasa tak sanggup untuk menahan gemetar di dadanya. Prilly langsung berlari ke arah kamar mandi yang sedari tadi menjadi objek pandangannya.
Dia melangkah dengan sedikit menyenggol bahu Choco, kemudian bergerak cepat untuk mengunci diri di dalam sana. Begitu pintu tertutup, tangis Prilly pecah.
Dia meratap di balik benda persegi panjang itu sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Aku memang bodoh, aku memiliki seribu satu alasan untuk mundur, tetapi aku lebih memilih untuk bertahan denganmu, Kak."
***
Mentang-mentang uler Cobra jadi nyemburin bisa mulu dah🙄🙄🙄
Neng Prilly. Biar lu nggak pada bayangin Prilly Latuconsina mulu 😌
Nih si uler cobra 🐍🤸
Yang paling bawah Melinda—cinta satu malam😒
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
si Melinda muka antagonis
2024-10-13
0
yeni NurFitriah
Prilly imut,Choco bodoh lebih milih Melinda c nenek sihir😅
2024-08-17
0
M*D 🌿💦
pantesan prili jatuh cinta orng anak cobranya guanteng bngt
2023-09-27
1