Setelah menimang beberapa saat, akhirnya Choco mengeluarkan ponsel dari balik saku celananya. Dia ingin menghubungi pihak hotel, dan menanyakan tentang CCTV sehari sebelum dia menikah.
Tak bisa bohong, kini pikirannya dihantui oleh kalimat-kalimat yang dilontarkan Prilly. Meskipun otaknya menolak percaya bahwa Melinda adalah wanita jahat, namun hatinya mulai merasa ragu.
Hingga dia ingin membuktikan bahwa semua ucapan Prilly tidaklah benar. Melinda bukanlah wanita sembarangan. Meskipun janda—Melinda memiliki tabiat yang baik, dan tidak suka tebar pesona terhadap para pria.
"Halo, Tuan, ada yang bisa saya bantu?" sapa seseorang di ujung sana saat panggilan itu terhubung. Choco awalnya bergeming, tetapi dia semakin memantapkan diri untuk mencari tahunya secara diam-diam.
"Berikan rekaman CCTV hotel sehari sebelum acara pernikahanku. Aku membutuhkannya sekarang!" jawab Choco dengan suara yang terdengar seperti bisikan.
Dia melangkah ke sudut ruangan, tak ingin Prilly mendengar semua percakapannya dengan seseorang yang ada di ujung sana.
"Di seluruh hotel, atau di titik tertentu saja, Tuan?"
"Di kamar yang kelurgaku tempati. Tak terkecuali calon istriku dan anak tirinya."
"Baik, nanti saya akan secepatnya mengirim rekaman CCTV yang ada minta. Ada lagi?"
Choco menggeleng cepat, seolah lawan bicaranya tahu bahwa dia melakukan sebuah gerakan isyarat. "Tidak! Cukup itu saja." Jawabnya.
"Baiklah, Tuan."
Lantas setelah itu, sambungan ponsel pun terputus. Choco menggenggam erat benda pipih miliknya seraya melirik ke arah pintu kamar mandi. Wajahnya senantiasa datar, tak peduli dengan apa yang dilakukan Prilly di dalam sana.
Selama belum ada bukti apapun, Choco harus senantiasa menjaga jarak dengan istrinya. Takut, jika ternyata gadis itu menyusun rencana untuk menjebaknya lebih dalam, hingga ia tidak bisa menyudahi pernikahan konyol ini.
Sementara di dalam kamar mandi, Prilly senantiasa menghapus air matanya yang terus turun dengan lancang. "Mommy tidak pernah mengajarkan aku untuk lemah seperti ini. Hentikanlah tangisanmu, Prilly. Semua itu tidak ada gunanya." Gumam gadis itu pada dirinya sendiri.
Dia teringat pada mendiang sang ibu yang kerap menyembunyikan tangisannya, demi terlihat baik-baik saja. Padahal hatinya tercabik-cabik tiap mengetahui pesan mesra antara sang ayah dengan ibu tirinya.
Prilly pun bangkit, dia membasuh wajahnya, agar tidak terlihat seperti habis menangis. Dia harus senantiasa belajar untuk menjadi seorang wanita yang kuat, apalagi kini statusnya sudah berganti menjadi seorang istri.
Setelah merasa cukup tenang, Prilly keluar dari dalam kamar mandi. Dan dia lihat beberapa orang masuk dengan membawa satu lemari dengan ukuran sedang.
Dia melirik Choco yang tengah mengarahkan orang-orang itu untuk meletakkan lemari di tempat yang dia inginkan. "Di situ saja, jangan terlalu dekat dengan lemariku!" Ucapnya.
Prilly tak paham untuk apa Choco melakukan itu semua. Namun, begitu orang-orang itu keluar, Choco membalikkan badan, hingga kini mereka kembali saling berhadapan. "Aku sengaja mengambil lemari ini, agar kamu tahu diri. Kalau aku tidak suka milikku dicampur dengan milik orang lain!"
Mendengar itu, Prilly langsung paham. Bahwa sang suami selalu memiliki batasan terhadap dirinya. Beruntung, mertuanya mengajak tinggal bersama. Kalau tidak, mungkin dia akan semakin diperlakukan semena-mena.
"Ya, terima kasih, Kak," jawab Prilly dengan suara lembut. Tak ingin menambah masalah.
"Simpan barang-barang sampahmu di sana. Dan ingat, jangan sekali-kali sentuh apapun yang ada di kamar ini. Termasuk pakaianku!" cetus Choco. Lalu melangkah ke arah ranjang.
Dia mengambil satu bantal dan selimut, kemudian dilemparkannya kasar tepat di kaki Prilly. Membuat gadis itu tertegun. Namun, tak sedikitpun dia bertanya kenapa Choco melakukan ini semua. Dia tahu diri.
"Mulai malam ini kamu tidur di sofa! Jangan harap kamu bisa berlindung di belakang orang tuaku. Sekalipun kamu tinggal di sini, aku tidak akan pernah sudi tidur seranjang denganmu, paham?!" ujar Choco dengan penuh penekanan.
Dia selalu besar kepala, dan menganggap bahwa semua yang dilakukannya adalah benar. Sehingga tidak ada rasa bersalah sedikitpun pada Prilly.
Gadis manis itu hanya mampu menatap nanar, lalu sedikit membungkuk untuk mengambil bantal dan selimut yang suaminya lemparkan.
Prilly menggenggamnya erat. Seerat dia menggenggam Choco untuk dimilikinya.
"Sekali lagi terima kasih karena sudah perhatian padaku. Aku percaya bahwa sebenarnya Kakak adalah suami yang baik, andai tidak, mungkin dari kemarin Kakak sudah mengusir dan nenentangku habis-habisan," jawab Prilly, sedikitpun dia tidak mengeluarkan suara tinggi di hadapan suaminya.
Dia menghargai perasaan Choco yang masih begitu kecewa. Dengan tubuh yang terasa berat, Prilly membalikkan badan dan melangkah ke arah sofa.
Sementara dari balik punggungnya, Choco hanya bisa berdecih, begitu takjub dengan sikap Prilly. "Cih, pintar sekali aktingnya."
***
Enaknya diapain si uler satu ini🙄🙄🙄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
🏠⃟ᵐᵒᵐરuyzz🤎𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ🍁🥑⃟❣️
iyaaa... kamu juga main peran yg baik....
2024-10-14
0
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
yg pinter akting tuh si Melinda .. bener bener ular berbisa
2024-10-13
0
yeni NurFitriah
Judul nya "selalu merasa benar" emang benar"bodoh Choco..
2024-08-17
0