Mendengar ucapan Prilly yang selalu memojokkannya. Choco pun merasa begitu direndahkan. Seketika kekesalan memenuhi hati pria tampan itu.
Selalu seperti ini, setiap berdekatan dengan Prilly, ada saja yang mereka ributkan.
Dengan langkah lebar Choco menghampiri istrinya, kemudian meraih tangan langsing itu dan menguncinya di depan lemari pakaian.
Prilly tidak bisa bergerak, sebab kedua tangannya ditahan di atas kepala. Dia terus menatap Choco, ingin melihat apa yang sebenarnya akan pria itu lakukan. "Kenapa, Kak? Apa kamu tidak terima dengan semua ucapanku?"
Gadis manis itu memberanikan diri untuk bertanya, sementara Choco senantiasa menajamkan tatapan matanya. "Kamu bertambah semakin berani ya. Tadi pagi kamu sudah mengotori mobilku, dan sekarang kamu berani menghinaku. Andai bukan karena Mommy dan semua keluarga, aku tidak akan pernah mau menikahi gadis arogan seperti kamu!" Ketus Choco begitu menusuk.
Amarahnya seketika terpancing. Karena Prilly seolah memutar balikkan fakta. Seharusnya gadis itu tahu kenapa dia bersikap seperti ini, karena dia benci sekali dijebak dan dipermainkan.
Akan tetapi sedikit pun Prilly tidak mau goyah. Dia membalas tatapan mata Choco, meskipun kedua tangannya kini sudah tampak memerah.
"Aku memang mencintaimu, Kak. Tapi bukan berarti aku akan menjadi si bodoh yang diam saja ketika aku tidak dihargai. Aku hanya memperjuangkan apa yang menjadi hakku, apa itu salah?" tanya Prilly dengan lugas.
Dia ingin pikiran Choco sedikit saja terbuka untuknya. Tidak hanya memikirkan tentang Melinda, Melinda dan Melinda.
Choco menarik sudut bibirnya, membentuk senyum sinis. "Hak? Hak apa yang kamu maksud? Harusnya kamu ingat, bahwa kehadiran kamu dalam hidupku itu adalah petaka! Tidak ada hak, seperti apa yang kamu bicarakan!"
"Oh ya? Apa kamu lupa siapa yang sedang bicara di depanmu? Aku Prilly, istrimu adalah Prilly, bukan Melinda. Dan sejak hari itu aku telah menjadi tanggung jawabmu. Apalagi jika aku sampai mengandung, sedikitpun kamu tidak bisa memungkirinya," jelas Prilly berusaha untuk setenang mungkin.
Dia ingin menunjukkan pada Choco, bahwa dia pun pantas berada di sisi pria itu. Bahkan jauh lebih pantas ketimbang ibu tirinya yang begitu serakah terhadap harta dan tahta.
Kepala Choco terasa berdenyut. Hatinya memang membenarkan semua ucapan gadis itu, tetapi tidak dengan otaknya.
Yah, ketika Prilly hamil, maka dia tidak akan mungkin bisa lari ke mana-mana.
"Jangan mengancamku dengan hal yang belum tentu terjadi. Malam itu hanya drama yang kamu buat sendiri, kamu yang telah menjebakku!"
Choco masih bersikeras menimpali ucapan istrinya, meskipun dia telah kalah telak. Dia sedang menjunjung tinggi harga dirinya, karena tidak ingin Prilly berkata yang tidak-tidak.
Sebelum menjawab Prilly mencoba untuk melepaskan tangannya dari kuncian Choco. "Argh!" Dia menarik keras kedua tangan itu, hingga benar-benar terlepas.
Lantas setelah itu, Prilly kembali menatap ke arah suaminya. "Jangan munafik, Kak. Malam itu kamu memiliki dua pilihan, pergi atau menikmati tubuhku. Dan sekarang harusnya kamu sadar dengan pilihanmu itu. Apa perlu kita mengulangnya?"
Nafas Choco semakin memburu, tatapannya menungkik tajam, ternyata menghadapi Prilly bukanlah perkara mudah. Prilly selalu saja membuat Choco naik pitam, apalagi saat gadis itu tiba-tiba membuka satu persatu kancing bajunya.
Pria itu mendelikkan mata, benar-benar tak paham apa yang akan Prilly lakukan.
Karena hal itu, hanya akan membuat Choco semakin menilai Prilly sebagai wanita rendahan, wanita yang jauh dari kriterianya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" cetus Choco, dia terus memperhatikan istrinya, sampai gadis itu hanya mengenakan braa dan juga celanaa dalam.
Prilly berdiri tak jauh dari Choco, dia dengan penuh percaya diri memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Coba katakan sekali lagi bahwa aku adalah gadis murahan. Padahal seharusnya kamu tahu, seorang istri akan menjadi murahan di depan suaminya. Bahkan bisa menjadi jalaang sekalipun. Begitu pun dengan kamu, bukankah malam itu kamu juga menyerahkan semuanya untukku, jadi sesama murahan jangan saling menghujat," kata Prilly dengan elegan.
Sekilas dia melihat kilat amarah di mata Choco, tetapi dia tidak peduli. Prilly malah membalik tubuhnya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Choco yang kesal setengah mati.
"Oh ya, kalau Kakak juga mau mandi, masuk saja ... pintunya tidak aku kunci."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
🏠⃟ᴬʸᵃⁿᵏરuyzⷦzⷩ𝐀⃝🥀
hahahahahahah bagus ini anak
2024-10-14
0
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
suka karakter Prilly 🤗🤗🤗🤗🤗
2024-10-14
0
Eka
prili coba minta tolong sama bang aned tentang tyjuan kamu menjebak chocho biar aned yg ngatasi melinda ibu tirimu prili
2023-12-04
0