"Cih, jangan harap aku akan menyentuh tubuh kotormu lagi. Murahan!" maki Choco sebelum dia pergi meninggalkan Prilly. Dia terus memberikan tatapan sengit, agar gadis itu tahu, bahwa Choco sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Mendengar itu, tentu saja membuat hati Prilly merasakan sakit yang luar biasa. Bukan hanya hasratnya yang dipermainkan, tetapi jiwanya pun ikut digoncang dengan berbagai makian.
Dia menatap punggung Choco dengan tatapan nanar. Hingga cairan bening mulai menggenang di tiap sudut matanya.
Dengan tubuh yang gemetar, dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Mencoba untuk tidak menangis. Dia harus menahan semuanya, sedikitpun dia tidak boleh mengeluarkan air mata.
Namun, lagi-lagi ia mendengar cercaan dari suaminya. Prilly membuang muka saat Choco menoleh. "Heuh, kenapa? Kamu ingin menangis? Menangislah, karena sampai kapanpun aku tidak akan tertipu oleh air mata buayamu. Aku yakin, gadis licik sepertimu tidak akan punya hati nurani, apalagi otak untuk berpikir!"
Prilly meremass ujung dressnya. Dia menundukkan kepala, tak berani sedikitpun untuk menatap kedua bola mata milik suaminya.
"Ingat, sebelum aku keluar dari kamar mandi, enyahlah dari kamar ini! Aku muak melihat wajahmu yang sok lugu itu. Kita pulang bersama, tapi jangan harap aku mau berduaan terus denganmu," cetus Choco sebagai peringatan terakhir untuk Prilly.
Dia terpaksa mengajak gadis itu untuk pulang bersama. Sebab dia tidak mau membuat keluarganya curiga, kalau sebenarnya dia belum bisa menerima Prilly sebagai istrinya.
"Tapi bagaimana dengan pakaianku, Kak? Aku tidak mungkin keluar dalam keadaan seperti ini," balas Prilly dengan suara yang begitu lembut, penuh pengaduan.
Choco menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk senyum sinis. "Kamu saja berani telanjang di depanku, lalu kenapa dengan baju itu? Bukankah kamu sudah sering menggoda para pria?"
Prilly terdiam dengan dada yang terasa sesak, setiap kali Choco bicara dia selalu merasa seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum. Sakit! Sangat sakit.
Pelan, Prilly menganggukkan kepala. Keberanian yang ia kumpulkan kemarin raib seketika, saat melihat Choco yang selalu marah-marah padanya. Padahal dia sudah menyusun rencana, agar bisa membalas ucapan suaminya.
Namun, nyatanya dia selalu merasa lemah.
Akhirnya dengan terpaksa Prilly pun keluar dari kamar itu menggunakan handuk kimono. Dia harus menanyakan pakaiannya yang tertinggal di kamar lain pada pihak hotel, sebab dia tidak akan mungkin bisa mengandalkan Choco. Yang ada, dia hanya akan mendapat makian saja.
"Tidak apa-apa, Pril. Yang penting sekarang dia sudah ada dalam genggamanmu. Tugasmu hanya menyingkirkan nenek sihir itu, agar dia percaya bahwa cintamu memang tulus," gumam Prilly di tiap langkahnya.
Dia mengusap pinggiran matanya yang basah menggunakan punggung tangan. Sedikitpun dia tidak boleh terlihat menyedihkan.
***
Setelah menikmati sarapan, akhirnya sepasang pengantin baru itu pulang ke mansion. Keduanya masuk ke dalam taksi, tetapi Choco memilih untuk duduk di depan.
Dia selalu menghindari kontak dengan Prilly, membuat gadis itu terlihat begitu menjijikkan. Bahkan sedikitpun mereka tidak terlibat percakapan.
Choco asyik sendiri dengan ponselnya. Sementara di belakang sana, Prilly senantiasa menguatkan hati. Ini semua baru awal, jadi dia tidak boleh banyak mengeluh. Dia harus ikhlas menerima jalan yang sudah dia tempuh.
Yaitu hidup bersama dengan pria yang dicintainya, tetapi tidak mencintainya.
Meskipun perjalanan itu terasa panjang, akhirnya mereka sampai juga di mansion. Setelah memberikan tarif yang harus dibayar, Choco langsung melenggang masuk, tanpa mengajak atau bahkan menggandeng tangan Prilly.
Namun, di ambang pintu Zoya sudah menunggu kedatangan putra dan menantunya. Karena sebelumnya Choco memang mengirim pesan pada sang ibu.
Wanita paruh baya itu tersenyum saat melihat kedua orang itu mendekat. Lalu tanpa diduga Zoya langsung memeluk tubuh Prilly sebagai sambutan pertama. "Selamat datang di keluarga barumu, Sayang."
Melihat perlakuan Zoya terhadap Prilly, Choco merasa cukup terperangah. Pria itu bungkam, tak berbeda jauh dengan Prilly yang kini tengah meliriknya. Dia tahu Choco pasti tidak suka.
"Semoga kamu bisa beradaptasi cepat yah, Pril. Dengan suamimu dan kami semua. Jangan sungkan untuk bicara. Karena di sini kami siap membantu kapanpun kalian membutuhkan pertolongan," ujar Zoya yang membuat Prilly merasa haru.
Dia pikir Zoya pun akan turut tidak menyukainya. Namun, ternyata dugaan dia salah. Wanita itu terlihat sangat baik. Karena entah kenapa, dalam hati Zoya mengatakan bahwa Prilly memang pantas bersanding dengan putranya.
"Terima kasih, Aunty," jawab Prilly dengan suara yang sedikit bergetar.
"Lho kok panggilnya Aunty? Sekarang aku juga sudah menjadi Mommy-mu, jadi panggil Mommy juga yah."
Prilly melirik lagi ke arah Choco, pria itu sudah terlihat sangat jengah. Dan akhirnya Prilly pun hanya sanggup mengiyakan ucapan mertuanya. "Iya, Mom."
Zoya tersenyum manis, kemudian mengajak Prilly serta Choco untuk masuk ke dalam. Namun, sebelum sepasang pengantin baru itu masuk ke kamar, Zoya lebih dulu membuka suara. Mengeluarkan keinginannya demi kebaikan Prilly dan Choco yang menikah tanpa cinta.
"Kalian tinggallah di sini selama 1 sampai 2 bulan. Agar Mommy bisa ikut memantau, mana tahu nanti Prilly tiba-tiba hamil, kan kasihan kalau dia sendirian, sementara dia belum terlalu mahir melakukan tugas-tugasnya sebagai istri dan calon ibu," jelas Zoya, yang membuat Choco merasa cukup keberatan.
Karena sebenarnya dia sudah menyiapkan sebuah rumah untuk menjadi tempat tinggal selama mereka menikah.
"Tapi, Mom. Kita juga kan ingin mandiri, Mommy ingat kan dengan rumah impianku yang sudah aku cicil sebelum menikah dengan Melinda," jawab Choco dengan pelan-pelan, berharap Zoya menarik kembali keinginannya.
"Cho, Mommy bukannya melarang kalian untuk mandiri, karena Mommy minta kalian tinggal di sini itu hanya sementara, sebagai awal pembekalan Prilly. Setelah kalian merasa sanggup untuk tinggal berdua, ya silahkan, Mommy tidak akan menghalangi."
"Iya, Cho. Lagi pula kenapa sih? Kamu takut kami semua mengganggu ritual kalian berdua?" timpal Ken—ayah Choco yang tiba-tiba datang dan menghampiri istrinya.
"Ck, bukan itu, Dad!"
Wajah Choco terlihat masam, sementara Prilly tahu betul apa yang ada di dalam otak suaminya.
"Ya terus apa?" tanya Ken.
Prilly hendak bicara, tetapi Choco langsung meliriknya dengan tatapan yang mengartikan sebuah larangan. Pria itu tahu, bahwa dia tidak akan menang melawan kedua orang tuanya.
Dan akhirnya dia hanya bisa pasrah. Karena mau berdebat seperti apapun. Ken dan Zoya pasti punya alasan yang lebih kuat darinya.
"Yah, baiklah. Kami berdua akan tinggal di sini sementara," pungkas Choco dengan kekesalan yang menggunung di dadanya.
***
Jangan lupa sajennya guysss🥱🥱🥱
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
komalia komalia
mantap momy
2024-11-08
0
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
jadi kangen pingin baca si Ken dan Zora sebelum mereka nikah
2024-10-13
0
yeni NurFitriah
Bilang Prilly murahan padahal kamu Choco yng buka segel nya kan..
2024-08-17
0