Luna keluar dari ruangan Choco dengan perasaan kesal. Namun, sebisa mungkin dia menjaga imagenya di depan semua orang. Mereka tidak boleh tahu bagaimana kelakuannya di belakang, merebutkan seorang pria yang bahkan sudah tidak lagi berstatus lajang.
Sementara itu Choco sudah sampai di kelas, semua mahasiswa langsung bungkam ketika pria tampan itu melangkah di depan sana. Dan kebetulan pagi ini dia mengajar di kelas Prilly, membuat dia harus bertemu dengan gadis itu lagi.
Choco berusaha untuk bersikap profesional, meksipun dalam hati dia terus merutuk. Apalagi saat kedua netranya bersitatap dengan sang istri, Prilly tersenyum manis, sementara Choco langsung membuang wajahnya.
Untuk apa dia tersenyum seperti itu? Dasar tidak waras!
Lagi-lagi Choco hanya bisa membatin, tetapi anehnya dia tidak bisa lepas dari menatap Prilly—yang kerap bicara dengan Ezza saat mengerjakan tugas darinya.
Tiba-tiba perasaan kesal menguasai dada Choco, hingga dia mengeluarkan sebuah ultimatum.
"Saya peringatkan untuk mengerjakan tugas ini masing-masing, jika ada sesuatu yang tidak kalian mengerti, kalian bisa tanyakan pada saya! Karena diskusi hanya dilakukan setelah tugas ini selesai!" tegas Choco, demi menyindir Prilly yang terus-menerus terlibat percakapan dengan Ezza.
Matanya melirik tajam, dengan rahang yang mengatup. Tanda bahwa ada sesuatu yang membuat dia merasa tak senang.
Namun, hal tersebut malah membuat para muridnya menahan senyum. Sebab mereka semua tahu, sedari tadi tatapan mata Choco hanya tertuju pada gadis yang duduk di urutan kedua paling belakang—tepatnya di depan Ezza.
"Bau-bau gosong nih," celetuk salah satu teman Prilly. Hingga mengalihkan pandangan mata Choco, juga yang lainnya.
"Bicara apa kamu?" tanya dosen tampan itu dengan nada datar, tetapi sukses membuat seseorang yang duduk tak jauh darinya itu menelan ludah dengan susah payah. Gara-gara dia keceplosan, kini Choco malah melangkah ke arahnya.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja." Gadis itu senantiasa menundukkan kepala, sebab Choco memang dikenal tidak pandang bulu, mau pria ataupun wanita. Choco memperlakukannya sama.
"Saya tidak akan mentolerir, jika ada mahasiswa yang membahas sesuatu di lain topik yang sedang kita pelajari, maka saya akan mengeluarkan dia dari mata kuliah saya! Tanpa terkecuali," pungkasnya, ingin menunjukkan pada mereka, bahwa dia tidak akan pilih kasih, meskipun itu istrinya sendiri.
Semua orang ketar-ketir. Mereka saling melirik satu sama lain. Mencoba untuk tidak ikut berkomentar.
"Paham tidak?!" sambung Choco, dan semua orang yang ada di dalam kelas langsung menganggukkan kepala.
"Paham, Pak," jawab mereka serentak.
Lantas setelah itu lirikan maut Choco berikan untuk Prilly yang kebetulan sedang menatapnya, hingga membuat gadis itu gelagapan.
Heuh, dia pikir dia akan diistimewakan? Jangan harap! Batin Choco.
Cih, lagi pula siapa juga yang berpikir untuk diistimewakan olehnya? Batin Prilly.
Mereka saling berbalas, seperti mengetahui isi hati masing-masing.
***
Jam makan siang telah tiba, Choco langsung membawa mobilnya untuk pergi ke restoran, tempat ia dan Melinda janjian. Sedangkan di sudut lain, Prilly hanya bisa menatap kendaraan roda empat itu dari jauh. Tanpa diberitahu pun, Prilly sudah bisa menebak bahwa Choco akan bertemu dengan ibu tirinya.
"Sudahlah, lebih baik kita ke kantin. Jangan memikirkan sesuatu yang tidak terlalu penting, karena hal-hal yang menyakitkan itu harus dibuang jauh-jauh!" ucap Ezza yang tiba-tiba menarik lengan Prilly.
Namun, kali ini Prilly mencoba untuk melepaskan diri, sebab ia telah sadar, statusnya sekarang sudah berubah menjadi seorang istri. Walau bagaimanapun, dia harus menjaga martabatnya, ada atau tidaknya Choco.
"Kita jalan masing-masing," kata Prilly, memberi pengertian pada Ezza. Membuat perasaan pemuda itu menjadi tak menentu. Hari semakin hari, Prilly pasti merubah semua kebiasaan mereka berdua.
Akan tetapi karena dia tidak ingin Prilly berpikir macam-macam tentangnya, ia pun akhirnya mengangguk, lalu mereka berjalan beriringan.
Lain dengan Prilly yang berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Choco. Pria itu justru sebaliknya, diam-diam dia kembali bertemu dengan Melinda. Dan memesan satu ruangan VVIP untuk makan siang bersama.
"Sayang, kamu bilang ingin bertanya sesuatu padaku," kata Melinda, setelah mereka memesan makanan. Tanpa segan wanita itu bergelayut di lengan Choco, bersikap manja layaknya sepasang kekasih.
Namun, entah kenapa Choco mulai merasa tak nyaman. Dan ia yakin itu semua karena kini statusnya sudah berubah menjadi seorang suami. Bukan karena ia menerima Prilly.
"Iya, Mel, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," jawab pria itu sambil melepaskan diri dari pelukan Melinda.
"Kamu kenapa sih? Kok jadi aneh?"
"Mel, mau se-VVIP apapun, kita ini tetap ada di ruangan terbuka. Aku takut, ada orang yang tahu tentang pertemuan kita," jawab Choco, agar Melinda tidak berpikir yang macam-macam.
Namun, entah kenapa jawaban itu membuat Melinda merasa tak suka. Sebab dia merasa seperti menjadi yang kedua. Padahal Choco sangatlah mencintainya.
"Kalau begitu katakan apa yang ingin kamu tanyakan!"
Choco menghela nafas, dari semalam ia sudah mencoba untuk tidak memikirkan antara Prilly dan Melinda. Akan tetapi nyatanya tidak bisa, bahkan kepalanya seperti ingin meledak, tiap kali persepsi bermunculan.
"Ada seorang pegawai yang mengadu padaku, bahwa sebelum kejadian itu, kamu dan Prilly bertemu, katanya kamu dan dia terlibat percakapan, dan kamu juga hampir menamparnya, apa itu benar? Aku butuh penjelasannya," jelas Choco, dia sengaja tidak mengatakan bahwa dirinya mengetahui itu semua dari CCTV. Takut jika Melinda tersinggung, dan pada akhirnya marah.
Kedua alis Melinda bertautan, mencoba untuk berpikir apa maksud tujuan Choco bertanya seperti itu. Akan tetapi setelah ditimang-timang, ada baiknya dia menjelaskan yang sebenarnya. Agar nama Prilly semakin jelek di mata Choco.
Melinda pun bicara apa adanya, bahwa malam itu Prilly datang dan mengatakan bahwa dia akan menghancurkan pesta. Melinda yang tidak terima pun ingin menampar wajah Prilly, tetapi tidak berhasil.
"Berarti kamu tidak tahu sama sekali tentang dia yang datang dengan obat laknat itu?" tanya Choco semakin dirundung penasaran.
Melinda menggeleng cepat, dia memang benar-benar tidak tahu. "Sumpah, andai aku tahu mungkin sekarang kita sudah menikah."
Mendengar itu, Choco pun manggut-manggut. Rasanya masih banyak teka-teki yang harus dia pecahkan. Terlebih tentang Melinda.
***
Pusing dah tuh🥱🥱🥱 nambah ga nih?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
aku juga pusing Thor 😃😃😃 tapi penasaran jugaa
2024-10-14
0
May Keisya
nyambung🤣🤣
2023-09-28
0
Healer
dosen tapi kenapa mcm bodoh amat!!!
2023-08-19
1