Xiao Bao pergi dari sana sebelum jati dirinya terungkap. Ditengah malam yang gelap ini, Xiao Bao tidak tahu harus menginap dimana. Tidak punya tempat untuk singgah. Disaat Xiao Bao memutar bola matanya, dia melihat seorang kakek-kakek yang ciri-cirinya sama persis dikatakan Lin. Xiao Bao bergegas menghampirinya.
"Apa anda seorang pendeta?" tanya Xiao Bao dengan suara perlahan.
Kakek tersebut membuka mata dengan terkejut. Dia memperhatikan Xiao Bao dari atas sampai bawah dengan kedua alis yang mengerit. "Siapa kau?" tanya nya dengan wajah bingung.
"Aku Xiao Bao, orang yang diutus Lin untuk mencari pendeta. Setelah lama berkeliling, akhirnya aku berhasil menemukan anda." kata Xiao Bao dengan wajah senang. Misinya dapat dia selesaikan.
Sang kakek tersenyum samar-samar. Dia lalu bangkit dan menyuruh Xiao Bao mengikuti dirinya. "Anak muda, ayo ikut denganku. Ada sesuatu yang harus kamu lihat." perintahnya yang berjalan lebih dulu.
Xiao Bao langsung menarik tas kecilnya dan berjalan dibelakang sang kakek yang menggunakan tongkat. Mereka lalu menuju sebuah gunung. Xiao Bao memegang pundak sang kakek, merasa aneh. Dirinya dibawa menaiki gunung malam-malam. "Maaf, pendeta. Aku rasa kita salah tempat. Untuk apa kita mendaki malam-malam? Kenapa tidak tunggu besok pagi saja?" ucap Xiao Bao yang penasaran.
"Panggil aku, Wan. Jangan sebut nama pendeta disaat banyak orang. Kita tidak tahu, diantara mereka ada musuh atau tidak." jelas Wan dengan tersenyum manis kearah Xiao Bao.
Wan tetap berjalan menaiki gunung, terpaksa Xiao Bao mengikutinya dari belakang. Sesampai dipuncak gunung, terdapat kursi yang terbuat dari bambu. Xiao Bao terus memeriksa sekeliling yang seperti membawa hawa tidak biasa diatas gunung. Udara malam ketika berada didesa sangat dingin, tetapi dipuncak gunung, terasa sangat panas.
"Lihat kebawa, setiap malam para penghuni dimensi air berlatih kekuatan air mereka. Saat itu juga, kita bisa melihat dimana letak musuh berada. Karena musuh tidak mahir menggunakan kekuatan air. Mereka memilih berlatih kekuatan mereka sendiri, seperti api, peluru es, angin, tanah, dan lain-lain." jelas Wan sambil menunjuk tempat dibawah mereka.
Mata Xiao Bao berbinar-binar melihatnya. Banyak sekali gelombang air yang bergoyang-goyang beraturan. Xiao Bao belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Tetapi, tidak jauh dari sana, terdapat asap tebal. Xiao Bao langsung menunjuknya. "Ada asap, Wan!" teriak Xiao Bao mengira jika hutan sedang kebakaran.
Dengan santai, Wan menjawab tanpa melihat terlebih dulu. "Itu bukanlah kebakaran, melainkan pemberontak yang berhasil masuk ke dimensi air. Dia mempunyai kekuatan api. Aku sudah memeriksanya kemarin saat pergi ke hutan, terdapat banyak sekali bekas api disana. Aku sangat yakin, seseorang melatih kekuatan apinya disana." jelas Wan yang duduk dikursi bambu.
"Lalu, kenapa kamu tidak menghabisi sang pemberontak itu?" tanya Xiao Bao yang bingung.
"Itu bukan tugasku. Aku tidak seperti Lin yang mempunyai kekuatan air yang dahsyat. Tetapi sayang, Lin tidak akan dibiarkan melindungi desa karena dia dianggap sebagai pengkhianat. Lin kabur disaat semua pengendali air menyerang para pemberontak." kata Wan kembali sambil menatap wajah Xiao Bao.
"Hei, nak. Aku lupa bertanya namamu." lanjut Wan.
Xiao Bao duduk didepan Wan. Dia kemudian mengukurkan tangan dengan kepala yang menunduk seperti yang dilakukan kesatria ketika mereka memberi penghormatan pada orang yang derajatnya lebih tinggi darinya. "Aku, Xiao Bao. Keturunan terakhir sang penyihir." Ucap Xiao Bao memperkenalkan diri.
Kepala Wan mengangguk perlahan. "Penyihir, yah. Aku tidak menyangka, masih ada penyihir yang tersisa selain Zack." kata Wan yang membuat Xiao Bao terkejut. Darimana Wan tahu dan mengenal Zack.
Melihat ekspresi Xiao Bao seperti anak anjing, Wan lalu menjelaskannya jika Zack pernah datang dimensi air dan memaksa para pengendali air untuk mengajarkan dirinya kekuatan air. Tetapi, semua pengendali air menolaknya. Mereka tidak mau mengajari Zack karena peraturan dari leluhur mereka. Tidak boleh ada yang mewarisi kekuatan air selain kaum mereka sendiri.
Xiao Bao sekarang paham apa yang terjadi. Dia kemudian bangkit dan memperhatikan gumpalan asap yang semakin membesar. Xiao Bao bisa menebak jika bukan hanya satu orang pemberontak disana, tetapi lebih dari satu. "Aku akan datang ke hutan dan memeriksa siapa sebenarnya mereka," kata Xiao Bao yang menoleh kearah Wan.
Tanpa menunggu jawaban, Xiao Bao berlari turun dari gunung dan menuju ke hutan. Dia melompat dari satu pohon ke pohon lain. Ketika Xiao Bao hampir sampai dihutan, suara seseorang mulai bisa terdengar. Mereka memang sepertinya sedang berlatih. Xiao Bao semakin mempercepat langkahnya, penasaran siapa mereka sebenarnya. Tetapi sebelum Xiao Bao sampai, sebuah senjata menyerang dirinya. Senjata bambu yang sengaja diruncingkan terus mengarah pada Xiao Bao tanpa tahu siapa yang menyerangnya. Xiao Bao terus menghindar dan mencari orang yang menyerangnya tetapi dirinya sama sekali tidak melihatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments