Xiao Bao memejamkan matanya, merasakan kekuatan api yang tidak tertandingi dari pohon tua, sumber kekuatan api.
"Sebelumnya, Ayah Kurcaci mengatakan jika memegang air didalam pohon ini dan berubah menjadi es, maka dia orang yang terpilih untuk meneruskan kekuatan api." Jelas Peri Cahaya.
"Itu berarti, aku harus masuk dan mencari air yang dimaksud Ayah Kurcaci." ucap Xiao Bao dengan tekad yang bulat. Dia berencana ingin mempelajari kekuatan api dimensi api untuk menyerang anak buah kesatria Jakson. Niatnya ingin menyelamatkan kaum kurcaci api.
Xiao Bao tidak menunggu lama, dia langsung berjalan masuk disusul peri cahaya. Naga Alpha menunggu diluar untuk berjaga.
Saat berada didalam, hawa yang tidak biasa masuk kedalam tubuh Xiao Bao. Rasa sejuk, terbakar, semuanya bergantian datang.
"Xiao Bao, aku tidak kuat terbang. Sayapku terasa terbakar!" teriak Peri Cahaya yang menjatuhkan badannya.
"Duduklah dipundakku!" perintah Xiao Bao sambil menepuk pundak kirinya.
Peri Cahaya berusaha terbang kepundak Xiao Bao. Mereka lalu melangkah mencari sumber air yang dimaksud Ayah Kurcaci. Setelah berkeliling sangat lama, Xiao Bao tidak kunjung menemukannya.
"Kita sudah berputar-putar dibawah akar pohon ini. Tetapi, tidak menemukan air apapun. Apa kamu langsung saja bertapa untuk menemukan kekuatan api?" tanya Peri Cahaya yang sudah putus asa.
"Tidak bisa. Aku harus tahu, apa diriku bisa mewarisi kekuatan api atau tidak. Jika langsung bertapa tanpa tahu dengan jelas, takutnya nanti aku membuang waktu jika tidak diperbolehkan mewarisi kekuatan api." Ujar Xiao Bao tidak pantang menyerah.
"Aku yakin, kau pasti diperbolehkan. Tujuanmu sangat mulai bagi kaum kurcaci api. Masa leluhur mereka tidak memperbolehkannya?" ucap Peri Cahaya yang tidak percaya.
Xiao Bao merasakan tubuhnya mulai panas. Dia lalu duduk didekat batu besar yang membentuk kursi. Seketika, kursi tersebut berputar kebawah, membawa tubuh Xiao Bao dan Peri Cahaya terjun kebawah melalui lorong rahasia.
"Ah..." teriak Peri Cahaya.
Brak...
Tubuh Xiao Bao menabrak tanah dan merasakan tulang-tulangnya hampir patah. Dengan bergaya seperti kakek-kakek, Xiao Bao bangkit sambil memegang punggungnya.
"Xiao Bao, lihat!" teriak Peri Cahaya yang menunjuk sekeliling.
Mata Xiao Bao terpukau melihat keindahan alam tempatnya berada saat ini. Terdapat air yang mengalir kekolam kecil yang terbuat dari batu. Sekeliling tembok dihiasi dengan bunga-bunga hijau yang menjalar dengan indah.
Xiao Bao berjalan mengagumi keindahan tempat tersembunyi ini. Dia melangkah tanpa sadar kakinya kini berada didalam kolam.
"Keluarkan kakimu, anak kurang ajar!" teriak seseorang yang menyerupai seorang laki-laki.
Xiao Bao menoleh ke sana sini, mencari asal suara tersebut. Tetapi tidak menemukan apa-apa.
"Dia tidak akan mendengarkan." tutur seseorang yang kini menyerupai suara perempuan.
Xiao Bao tidak berhenti mencari, telinganya dengan jelas mendengar suara tersebut. Dia pun dengan berani berteriak didalam ruangan kosong ini. "Siapa yang bicara?" tanya Xiao Bao yang waspada.
Peri Cahaya terkejut mendengarnya. Dia ikut memperhatikan sekeliling. "Apa ada orang lain disini selain kita?" tanya Peri Cahaya yang mengeluarkan tongkat kecilnya.
"Dia bisa mendengar suara kita." ucap suara laki-laki dengan senang.
"Aneh, setauku belum pernah ada orang yang bisa mendengar pembicaraan kita." ucap suara perempuan.
"Hei, lihat kebawah. Kami berada dibawahmu bersama dengan kaki baumu ini." teriak laki-laki.
Xiao Bao langsung menunduk, melihat dua ikan emas berada di sekitar kakinya. "Ikan yang berbicara?" tanya Xiao Bao seolah tidak percaya.
"Hei, dengar. Kamu mungkin terkejut, tetapi itu benar. Kami bisa bicara karena bukan ikan sembarang." ucapnya.
"Lalu, apa kau bisa singkirkan kaki baumu ini yang mengotori tempat kami?" ucapnya kembali.
Xiao Bao buru-buru menarik kaki panjangnya dari kolam. Wajah terkejutnya masih terlihat. Peri Cahaya ikut memperhatikan kolam dan melihat kedua ikan yang berenang.
"Apa ikan ini bisa bicara?" tanya Peri Cahaya yang tidak bisa mendengar suara dari kedua ikan tersebut.
"Benar. Mereka bisa bicara dan aku bisa mendengar suara mereka. Apa kau tidak bisa mendengarnya?" tanya Xiao Bao yang menatap Peri Cahaya.
"Tidak. Aku tidak mendengar suara apapun dari ikan ini." jawab Peri Cahaya dengan wajah cemberut. Peri yang baik hati dan mempunyai kekuatan, kini kalah oleh Xiao Bao yang hanya seorang penyihir pemula yang berada ditingkat master.
"Itu berarti, hanya aku yang bisa mendengarnya. Sangat ajaib!" kata Xiao Bao yang terkagum dengan dirinya sendiri.
"Kalau begitu, tanyakan padanya. Bagaimana caranya untuk mendapatkan kekuatan api, kita tidak punya waktu banyak Xiao Bao." ucap Peri Cahaya yang ingin segera menyelesaikannya.
"Benar, Kurcaci Api sedang menunggu bantuan kita." kata Xiao Bao dengan cepat.
"Para ikan, bagaimana agar aku bisa mendapat kekuatan api dan mewarisinya? Kurcaci api saat ini membutuhkan pertolongan." ucap Xiao Bao dengan tegas.
"Apa? Kau ingin mewarisi kekuatan api anak muda?" tanya ikan dengan suara perempuan.
"Apa dia bisa melakukannya? Jika dilihat dari tubuhnya, dia seperti tidak mampu." ucap ikan dengan suara laki-laki merendahkan.
"Jangan melihat dari luar, lihat didalamnya. Niatnya sangat baik, ingin membantu dimensi api yang sedang menuju kehancuran." Jelas Ikan dengan suara perempuan.
"Iya, baiklah. Aku akan membantunya, tetapi jangan menyesal jika dirinya juga membuat kekacauan sama seperti orang kemarin."
"Kali ini pasti berbeda."
Kedua ikan saling berdebat, Xiao Bao tidak bisa melihat jelas, ikan mana yang bicara. Peri Cahaya yang menunggu respon, bingung ketika melihat eskpresi Xiao Bao.
"Apa yang dia katakan?" tanya Peri Cahaya yang lelah menunggu.
"Mereka sedang berbeda." bisik Xiao Bao.
"Ah, kenapa ikan menyerupai sikap manusia. Seharusnya langsung saja mereka memberitahu." Kata Peri Cahaya yang kesal.
Brak...
Ruang bawah tanah, tempat Xiao Bao berada seketika bergetar akibat benturan keras. Xiao Bao bingung, dirinya mulai panik mengingat Naga Alpha yang berada diluar.
"Apa yang terjadi?" tanya Xiao Bao menoleh pada Peri Cahaya.
"Apa kita serang diserang?" tanya kedua ikan yang berenang dikolam mencari tempat persembunyian.
Peri Cahaya mengeluarkan tongkat kecilnya, menyihir air yang ada dikolam. Seketika, air yang jernih menampilkan keadaan diluar dimana Naga Alpha berusaha melawan kesatria Jakson dan para iblis seorang diri.
"Naga Alpha diserang!" teriak Peri Cahaya dan Xiao Bao bersamaan.
Mereka berdua lalu berpandang dengan wajah terkejut.
Sementara diluar, pertarungan semakin sengit. Naga Alpha terjatuh sekali lagi dan membentur pohon tua yang menjadi sumber kekuatan api.
"Katakan padaku, dimana Xiao Bao berada?" tanya Jakson yang berjalan menghampiri Naga Alpha.
Naga Alpha yang kondisi tubuhnya sudah melemah, tidak bisa berbuat apa-apa. Mengembangkan sayapnya saja, Naga Alpha tidak mampu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments