Peri Cahaya sampai kembali di rumah kurcaci Api. Dia langsung bertanya pada ayah kurcaci.
"Apa yang harus dilakukan, Naga Alpha dan Xiao Bao masuk ke rumah kesatria dan mereka tidak bisa keluar?" tanya Peri Cahaya dengan terburu-buru.
"Apa mereka begitu nekad?" ucap Ayah Kurcaci.
"Benar, Yah. Naganya terbang tinggi mencari temannya. Begitu mudah untuk masuk, tetapi begitu sulit untuk keluar." Titah anak kurcaci.
"Apa dia seorang kesatria?" tanya Ayah kurcaci.
Peri Cahaya menggeleng kepalanya, Xiao Bao hanya penyihir biasa yang masih berada ditingkat master. Untuk menjadi kesatria, dia harus berada ditingkat Dewa.
"Dia tidak akan bisa kembali, sama seperti kurcaci yang lain." Ucap Ayah Kurcaci yang berjalan pergi.
Tetapi, Peri Cahaya terbang dihadapannya. "Xiao Bao, bukan sembarang penyihir. Dia mempunyai tekad yang tinggi, melebih seorang kesatria. Katakan saja padaku, apa yang perlu dia lakukan agar bisa keluar. Kau katanya tahu pintu keluar dari sana?" tanya Peri Cahaya.
"Rumah yang kami miliki, sudah disegel oleh kesatria Jakson. Siapa pun yang masuk dan jika ingin keluar, harus mendapat persetujuan Jakson. Hanya dia yang bisa membuka pintunya. Walau terlihat terbuka, tetapi segel tersebut tidak terlihat. Dia yang akan menghalangi untuk keluar." jelas Ayah Kurcaci yang tangannya dibelakang punggung.
"Tetapi, terdapat satu pintu yang tidak bisa disegel. Pintu bawah tanah. Temanmu harus mencari pintu dibawah tanah agar bisa keluar." lanjut Ayah Kurcaci.
Setelah mendengarnya, Peri Cahaya terbang secepatnya kedepan rumah kesatria Jakson. Dia lalu memegang tongkatnya, untuk berkomunikasi dengan Xiao Bao. "Xiao Bao, kau bisa mendengarku?" ucap Peri Cahaya memastikan suaranya bisa didengar.
"Peri Cahaya, tolong kami. Naga Alpha tidak bisa terbang dan melewati rumah ini. Kami seperti dihalang tembok walau langit masih terlihat jelas." ucap Xiao Bao terdengar panik.
"Xiao Bao, rumah kesatria Jakson sudah disegel. Tidak ada yang bisa keluar dari sana tanpa persetujuannya. Kau harus mencari lorong bawah tanah, dimana terdapat pintu keluar yang tidak disegel." Jelas Peri Cahaya.
"Xiao Bao, kau masih mendengar suaraku?" tanya Peri Cahay ketika tidak mendapat respon.
Sementara didalam, terjadi perkelahian sengit antara Fedrik dan Naga Alpha. Fedrik terus mengeluarkan kekuatan api untuk menyerang naga Alpha. Xiao Bao yang bersembunyi, kini bangkit melawan Fedrik. Dia menyihir Fedrik dengan tongkatnya, tetapi tidak berhasil.
"Apa yang terjadi, tongkatku tidak mungkin rusak," ucap Xiao Bao.
Tongkat Xiao Bao mengeluarkan asap. Entah apa yang membuatnya, yang jelas tongkatnya rusak seketika.
"Kau dan Naga ini, tidak akan bisa keluar dari sini setelah masuk begitu saja. Aku bisa saja mengeluarkan dirimu, tetapi berikan Naga ini agar menjadi nagaku seutuhnya." tawar Fedrik.
"Tidak. Sampai kapan, aku tidak meninggalkan Naga Alpha. Dia sudah menjadi bagian dari diriku." ucap Xiao Bao dengan tegas menolak tawaran Fedrik.
"Kalau begitu, kau bersiap untuk mati. Nagamu akan menjadi nagaku. Ha ha ha," ucap Fedrik yang yakin mampu mengalahkan Xiao Bao.
Dia lalu mengeluarkan Api dari tangannya, yang sebesar bola kecil kini bertambah semakin besar.
"Xiao Bao, bahaya. Kita harus pergi dari sini," ucap Naga Alpha mengingatkan.
"Tidak bisa. Semua pintu sudah disegel, hanya pintu bawah tanah yang tidak disegel. Tetapi, kita tidak tahu berada dimana. Peri Cahaya tidak memberitahu." Jelas Xiao Bao yang waspada.
"Aku akan mencarinya!" titah Naga Alpha mundur beberapa langkah.
"Xiao Bao, berikan aku waktu sepuluh menit. Aku butuh berkonsentrasi untuk menemukan pintu bawah tanah. Kau harus bisa mengatasi Fedrik sampai aku selesai." perintah Naga Alpha.
"Serahkan padaku." ucap Xiao Bao dengan mantap.
Bola besar yang dibuat Fedrik sudah siap, dia lalu mengarahkannya pada Xiao Bao. Sangat sulit untuk menghindar, Xiao Bao memilih melawannya tetapi tidak tahu harus melawan dengan kekuatan apa. Dia tidak punya sihir saat ini, tongkatnya sudah rusak.
'Lebih baik pasrah saja, setidaknya aku bisa mengulur waktu buat Naga Alpha mencari pintu keluar.' Guman Xiao Bao menutup matanya.
Fedrik yang melihatnya, tertawa. Xiao Bao tidak melakukan apapun untuk melawan kekuatan apinya. "Kau benar-benar bodoh dan pantas mati." ucap Fedrik dengan senang.
Ketika api semakin dekat, tubuh Xiao Bao seolah membeku. Dingin seperti berada didalam es menyeruak. Xiao Bao membuka mata ketika merasakan sesuatu pada dirinya. Saat itu juga, tangan Xiao Bao tergerak sendiri dan mengeluarkan es. Beberapa peluruh es diarahkan ke bola api Fedrik.
Caut.. Caut.. Caut..
Letusan yang dihasilakan terdengar nyaring. Bola api Fedrik terbelah ketika mengenai peluru es. Semakin banyak peluru es, bola api Fedrik semakin kecil hingga habis.
"Apa?" Fedrik terkejut melihatnya. Selama ini, kekuatan apinya tidak ada yang bisa mengalahkannya selain ayahnya.
"Kau seorang kesatria?" tunjuk Fedrik.
Disaat bersamaan, tubuh Xiao Bao terasa lemah, energinya terkuras habis. Dirinya langsung terjatuh, Berutung Naga Alpha menangkapnya dengan sayapnya dan meletakkan Xiao Bao dipunggungnya.
Naga Alpha sudah mendapat informasi dimana letak ruang bawah tanah yang dimaksud Peri Cahaya. Dia terbang menjauh dari sana.
Kesatria Jakson dan anak buahnya datang ketika mendengar suara ledakan dari belakang rumahnya. Dia menatap Fedrik sendirian. "Ada apa Fedrik?" tanya Jakson ketika sampai.
"Ayah, orang asing itu dan Naganya, berhasil mengalahkan kekuatan apiku. Dia mengeluarkan peluru es untuk menghancurkannya. Kita tidak bisa membiarkan, dirinya berada di dimensi ini. Itu sangat berbahaya." ucap Fedrik masih terkejut.
"Bagaimana bisa dia datang ke sini, setauku pintu dimensi dijaga ketak oleh para kawanan Iblis. Apa dia orang suruhan Zack?" tanya Jakson.
"Apa maksud ayah? Apa tuan Zack sekarang ingin menyerang kita?" tanya Fedrik bingung.
"Tentu saja, tidak. Aku berpihak pada Zack, dia tidak akan menyuruh seseorang menghancurkan diriku. Aku harus pastikan pada Zack terlebih dulu." ucap Jakson, kemudian pergi.
Naga Alpha dan Xiao Bao berhasil keluar. Peri Cahaya sudah gelisah menunggu mereka di rumah kurcaci.
Tidak lama, Naga Alpha terlihat terbang dari kejauhan. Tiga anak kembar kurcaci langsung menunjuk. "Mereka kembali, mereka kembali!" teriaknya dengan senang.
"Xiao Bao! Naga Alpha!" teriak Peri Cahaya seketika.
Ayah kurcaci dan warganya senang melihatnya. Mereka berhasil selamat dan keluar dari rumah kesatria Jakson.
"Xiao Bao tidak sadarkan diri setelah melawan Fedrik. Tubuhnya lemah, aku bisa merasakannya." kata Naga Alpha memberi laporan.
Para kurcaci beramai-ramai membopoh tubuh Xiao Bao yang besar. Kemudian meletakannya di atas tanah.
"Kalian adalah orang pertama yang berhasil keluar dari kediaman kesatria Jakson." ucap ayah Kurcaci yang merupakan pemimpin kurcaci lainnya.
"Dia bukan kesatria, jangan panggil dirinya kesatria. Dia hanya orang yang menyiksa kami ditempat kami sendiri." bantah Ibu kurcaci yang disambut anggukan kurcaci lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments