Malam hari, Naga Alpha sudah tertidur. Tinggal Peri Cahaya dan Xiao Bao yang masih menatap langit malam. "Xiao Bao, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Peri Cahaya yang terbang ke pundak Xiao Bao.
"Aku ingin merebut kembali tongkat milik nenekku dari tangan Zack bagaimana pun caranya." kata Xiao Bao dengan penuh penekanan.
"Zack bergabung dengan kawanan iblis, berarti jika kita menangkap iblis, maka kita bisa tahu dimana persembunyian Zack." Ucap Peri Cahaya memberi ide.
"Benar, tetapi belum waktunya sekarang. Aku masih penyihir tingkat master, masih ada dua tingkatan yang belum aku capai. Tingkat pendeta dan dewa." jelas Xiao Bao dengan tatapan dingin. Sebelumnya, belum pernah satupun penyihir mencapai tingkat dewa, hanya nenek Xiao Bao yang berhasil sampai di tingkat pendeta. Tetapi, Xiao Bao tidak pernah pantang mundur, dia yakin dengan kemampuannya sendiri.
"Dulu, semua peri juga hidup tentram bersama para naga. Kami saling melindungi sama dengan penyihir dan manusia. Tetapi, ketika para iblis datang menyerang dan mengambil kekuatan biru dari dalam tubuh naga Alpha, kami pun bersembunyi. Tidak ada yang berani keluar, termasuk para naga yang merasa terancam." ucap Peri Cahaya mulai bercerita.
Xiao Bao menoleh, menatap wajah peri yang sedang bersedih. "Tidak apa, kita bisa berpetualang mencari kekuatan bersama untuk bisa mengalahkan para Iblis dan kawanannya." kata Xiao Bao menenangkan.
"Aku setuju, aku juga ingin kembali hidup seperti dulu. Bersenang dan tersenyum bersama. Aku pasti akan membantumu, Xiao Bao. Kita punya musuh yang sama," kata Peri Cahaya dengan nada tegas.
"Baik, kita perlu istirahat malam ini. Besok pagi sebelum matahari nampak, kita sudah pergi mencari petunjuk. Dimensi yang kain sedang menunggu kita." ucap Xiao Bao yang memadamkan api kemudian berbaring. Peri Cahaya mulai menutup matanya. Mereka terlelap dalam tidurnya.
Keesokan paginya, matahari belum muncul, Xiao Bao pergi menyusuri hutan bersama peri Cahaya dan Naga Alpha. "Apa yang kita cari di tengah hutan?" tanya Naga Alpha yang bingung. Dirinya bertubuh besar tetapi diajak masuk ke dalam hutan yang sempit. Kayu-kayu telentang membuat tubuhnya kadang tidak muat masuk. Dia terpaksa mematahkan pohon-pohon yang menghalangi jalannya.
"Kita perlu mencari seseorang yang tahu pintu menuju dimensi lain." jawab Xiao Bao dengan menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Apa masih ada orang yang tahu pintu dimensi? setauku, semua manusia di lima tahun lalu sudah punah. Mereka hilang tanpa kabar." jelas Peri Cahaya.
"Mereka sebenarnya tidak menghilang, mereka bersembunyi dan menutup jati dirinya. Mereka takut jika para Iblis menemukannya." Ucap Xiao Bao yang tetap fokus berjalan.
Asap mengepung tidak jauh dari mereka. Peri Cahaya terbang tinggi memastikan. "Xiao Bao, ada asap di hutan sebelah. Pasti seseorang berada di sana." Teriak Peri Cahaya dari atas.
"Bagus, kita kesana sekarang." jawab Xiao Bao yang terbang dari pohon satu ke satunya. Sementara naga Alpha yang bisa menghela nafas. Tidak tidak bisa terbang jika masih banyak pohon yang menghalangi sayapnya menggembang.
Xiao Bao sampai, dia lalu melihat seorang pemuda yang membakar ubi di tengah hutan. Xiao Bao pun menghampirinya. "Hei, kawan. Kau sepertinya punya makanan lezat, tidak kau berbagi dengan kami?" Sapa Xiao Bao yang membuat pemuda tersebut terkejut.
"Siapa kau?" tanyanya dengan alis yang mengerit.
"Kami hanya segerombolan makhluk yang lapar. Kebetulan jika kau membakar ubi, kita bisa menikmatinya bersama." ucap Xiao Bao yang langsung mengambil ubi setengah masak.
"Aduh, aduh, panas!" teriak Xiao Bao yang melempar ubinya ke sembarang arah.
Pemuda tersebut hanya tertawa terkekeh melihat wajah Xiao Bao memerah. Dia kemudian menutup mulutnya ketika melihat tongkat kecil yang Xiao Bao keluarkan. Seketika, api padam dan semua ubi yang di bakar gosong. Xiao Bao memasukkan kembali tongkat kecilnya ke dalam saku celananya.
"Wah, hebat. Apa kau seorang penyihir?" tanyanya dengan mata berbinar-binar.
"Tetapi, bukan semua penyihir sudah musnah akibat insiden lima tahun yang lalu?" tanya pemuda tersebut bingung.
Xiao Bao yang sedang makan ubi, menghentikan makannya. Dia lalu menatap orang di depannya. "Kau siapa, kenapa bisa tahu?" tanya Xiao Bao dengan alis yang terangkat ke atas.
"Aku, Bim. Panggil Bim saja juga boleh." katanya sambil mengulurkan tangannya.
"Iya, kan namamu memang Bim. Wajar jika di panggil Bim." ucap Xiao Bao melanjutkan makannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, apa kau seorang penyihir?" tanya Bim kembali.
"Menurutmu?"
"Pasti seorang penyihir, manusia biasa tidak mungkin mendapat tongkat seperti penyihir. Kau juga terlihat lihai menggunakannya." jawab Bim seketika.
Xiao Bao tetap menikmati makanannya, dia tidak peduli dengan pembicaraan Bim. Bim masih memperhatikan penampilan Xiao Bao dari atas sampai bawah.
"Namamu siapa? kau datang dengan siapa di sini?" tanya Bim pada Xiao Bao.
Xiao Bao menunjuk ke arah depan, membuat Bim menoleh. Bim langsung terkejut, melihat makhluk super kecil dengan sayap. Kemudian, makhluk super besar yang disebut Naga. "Dia nagamu?" tanya Bim sambil menunjuk naga Alpha.
Peri Cahaya menghampiri Xiao Bao. "Maaf aku lama, Naga alpha butuh bantuan. Terpaksa aku membantunya terlebih dulu." ucap Peri Cahaya yang duduk di dekat Xiao Bao.
Naga Alpha juga duduk, membuat membuat ranting kayu patah seketika. Xiao Bao lalu melempar ubi kepada naga Alpha. "Jangan lupa makan, perjalanan kita masih jauh." ucap Xiao Bao sambil mengedipkan matanya.
Bim terkejut sekaligus tercengang. Matanya melotot dan mulutnya terbuka sempurna. Xiao Bao menoleh ke arah Bim. "Kau pasti terkejut melihat nagaku kan?" tanya Xiao Bao menepuk pundak Bim.
"Bim, kau belum pernah melihat naga sebelumnya" tanya Xiao Bao.
"Aku sudah pernah melihat naga, bahkan setiap hati. Tetapi, aku syok melihat naga Alpha yang masih ada. Aku pikir, dia sudah punah karena di incar oleh Iblis." jelas Bim.
"Apa? Dia tahu tentang Iblis?" ucap Peri Cahaya terkejut.
"Kau punya naga?" tanya Xiao Bao.
Bim tersenyum, dia kemudian melambaikan tangannya dan tidak lama seekor naga jauh lebih besar tubuhnya dari naga Alpha terlihat di depan mata Xiao Bao. Inilah yang dimaksud naga Delta, naga yang menjadi incaran para kesatria.
"Apa kau seorang kesatria?" tanya Xiao Bao yang di balas anggukan. Xiao Bao langsung menunduk memberi hormat. Sudah tata krama seorang penyihir untuk menghormati seorang kesatria yang dia temui.
"Maaf, aku terlambat menyadarinya." kata Xiao Bao dengan sopan.
"Tidak perlu berlebihan, aku bukan kesatria sekarang. Sejak lima tahun lalu, semua orang butuh pertolongan dan seharusnya sudah menjadi kewajiban seorang kesatria untuk menolong mereka. Tetapi, aku bahkan tidak bisa membantu sama sekali. Naga Delta selalu kalah melawan para Iblis. Akhirnya aku dan nagaku memilih bersembunyi di tengah hutan." Jelas Bim dengan tatapan sendu. Dia seolah pengecut dan penghianat.
"Tidak apa, Bim. Nasib kita sama kedepannya." ucap Xiao Bao menepuk pundak Bim.
"Kami mau bertanya, Bim. Apa kau tahu di mana letak pintu dimensi berada?" tanya Xiao Bao.
"Untuk apa kau mencarinya, hanya orang tertentu yang diizinkan masuk ke sana. Selain seorang kesatria, tidak ada yang bisa masuk." Ucap Bim mengingatkan.
"Beritahu saja di mana letaknya, aku bisa mengurus sisanya." kata Xiao Bao dengan mantap.
"Di bukit dekat tempat persembunyian Iblis. Kau harus melewati iblis sebelum masuk ke sana. Karena itu, sudah tidak ada orang lagi yang bisa ke sana." Jelas Bim.
Xiao Bao mengangguk, dia tahu siapa yang mempunyai rencana. Jika para kesatria terus keluar masuk ke dimensi lain, kekuatan mereka akan bertambah. Zack tidak akan tinggal diam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
princess butterfly
semangat bao taklukkan zack n para iblis!
2022-10-09
0