PMDC 20 Luna

Di sana di dalam relung hatiku memiliki sebuah harapan baru tentang gambaran kebahagiaan yang diinginkan semua kaum hawa. Untuk sekadar ingin memandang wajah kekasih terutama saat pagi.

Seperti kemarin saat Bagas memeluk mesra. Dia sangat tampan ketika tidur, aku seperti berada di surga.

Seandainya menikah dengan Bagas dan setiap pagi aku bisa menjadikan dadanya yang berdegub "Lup" - "Dup" itu menjadi bantalan. Sepertinya, itu hal paling keren.

Namun, ini sayang, dia selalu bangun lebih awal dan rutinitasnya lari pagi.

“Bella, kamu mau pergi?" tanyaku, saat berpapasan di depan kamar dan dia baru turun dari tangga. Tidak biasanya dia sudah memakai helm di hari minggu. "Bukankah kita mau membuat kue bersama? aku sudah membeli bahan.”

“Luna, jangan bicara padaku sebelum kamu putus dengan Bagas.” Dia meremas tali tas selempang di bahunya.

Aku mengangkat kedua tangan ke atas, merasa tidak habis pikir, “kamu mengaturku juga!?”

“Kau harus ingat, Eric yang selalu di dekatmu, kau melupakan semua kebaikan dia!” Bela menusuk bahuku dengan telunjuknya. “Semenjak ada Bagas  kamu berubah.”

Mengatubkan bibir, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku menjadi muak dengan semuanya.

“Aku! sebagai orang yang dekat dengan Eric tidak akan terima dengan perilaku mu." Dia mengingatkan, meringis, "Dua bulan lagi, Luna,”

"Dan bila kau selingkuh setelah pernikahanmu dengan Eric, sumpah demi apa aku akan memberitahu Om Andra.” Bella lalu tertawa merendahkan, “Kamu tak pantas untuk Eric!"

Mengepalkan tangan, bibirku bergetar, “Terserah. Baguslah. Kau beritahu sekarangpun aku tidak peduli.”

“Ya!!” Dia mengangguk sinis. “Ngomong-ngomong, aku akan memutuskan pindah, secepatnya.”

“PERGILAH !! AKU TIDAK PEDULI!” Jemari mengepal, bibirku berkedut berbalik meninggalkan Bella dan membanting pintu kamar mandi. Tanganku gemetar bertumpu pada pintu. “Pergilah,” aku berteriak tidak mengenali suaraku sendiri.

Tulang-tulang seperti kapas, aku membungkuk menahan beban tubuhku yang terasa berat oleh kemarahan. Jadi, siapa yang menginginkan pernikahan ini? Mereka kan? dan bukan aku! Bahkan mereka tak peduli jika aku menolak!

“Aku bukan boneka! Oh ibu,” aku mencakar rambutku dengan kasar, “siapa yang membelaku!” tenggorokanku kering.

Aku  membasahi bibirku, ternganga getir. “Mengapa …" merintih, aku menelan udara, membuka mulut, dan mencari jawaban untuk apa hidup sia..alan ini.

Bukan apa, tapi bagaimana aku mengatasi ini. Bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa Bagas. Tidak peduli dia baru satu atau dua hari ku kenal, aku menyayanginya setulus jiwa.

Aku tak punya siapa-siapa.

Terguncang, aku menekan dadaku, begitu sakit di dalam. “Ibu …" Aku mengepalkan tinjuku. “Apa aku punya pilihan?” Tidak.

Mengapa semua orang menekan ku, dan seolah-olah ini menjadi salahku.

Merosot ke jubin kamar mandi. Aku memeluk lutut dan cegukan karena marah. 

Semua orang meninggalkanku. Semua. Dan kini, Bella. Aku merintih, merasakan dingin dan basah yang mulai menjalari celana tidurku.

“Luna, kamu di dalam? udah setengah jam loh!” Bagas mengetuk pintu kamar mandi.

“Mas,” isakku. Tiga kali aku memanggilnya, sudah tidak kuat lagi.

“Luna, kenapa??”

Suara kenop pintu diputar. “Keluarlah, ada apa  sih lama-lama,” Bagas meninggikan suara dan menggedor semakin inten.

“Apa ini?” nada kecemasan Bagas ketika aku membuka pintu, dia mengangkat daguku, dan aku menghindar.

“Katakan kenapa?” tangannya mengarahkan daguku untuk menghadap dia. “Tatap aku,” geramnya.

Bagas mengguncang bahuku, “katakan sayang, jangan siksa aku, tolong.”

“Bella pindah,” tangisku mulai pecah dan aku menghambur ke dadanya.

“Pindah!? Segera aku akan berbicara dengannya, ya?! Akan ku bujuk dia agar tidak pindah,” dia serak. “Ayo ganti bajumu, dulu. Jangan sampai masuk angin.” Bagas  membawaku ke kamar tapi aku menolak dan kembali ke kamar mandi.

Ketika selesai mandi dan memakai handuk, aku melewati Bagas yang masih menunggu di pinggir pintu.

“Luna, ayo keliling pantai. Ku rasa kita harus ke sana sekarang.” Bagas menegaskan dan aku mengangguk pasrah.

Deburan ombak mencium bibir pantai. Derik angin melewati daun yang bergemerisik. Suara anak-anak berteriak histeris berlarian dan tertawa, saling mengejar.

Tidak peduli dengan terik panas membakar kulit, pantai adalah anugrah Tuhan terindah, tampaknya begitulah dalam benak mereka semua.

Gerobak pedagang berlalu lalang. Menjajakan kerupuk, ikan jambal roti, rujak, jagung rebus, siomay, batu akik, sempol, semuanya ada di sini.

Peluit tukang parkir bersahutan memarkirkan pengunjung yang mulai berdatangan.

Semua tampak ceria dengan weekend mereka, berbanding terbalik denganku. Aku tersindir dengan kesendirianku seperti tak memiliki keluarga merana bersandar di bawah pohon waru.

Menatap iri pada orang-orang bergerombolan membawa cucu, cicit, ibu, kakek, bekal makan. Oh Betapa bahagianya mereka. Bisa tidak aku seperti mereka, sehari saja dengan ayah.

Aku melirik Bagas yang sedang memesan mendoan, kelapa muda dan mie ayam di lapak bambu pedagang.

Kembali aku meraih ponsel dari meja, membaca ulang chat-chat Bella yang telah lalu, dimana kami selalu berbagi cerita.

Tanganku gatal, tinggal menekan ikon kirim, tetapi lalu ku urungkan. Pesan-pesan panjang berisi permintaan maaf yang sudah ku ketik lebih dari setengah jam, ku hapus lagi. 

Percuma aku chat. Bella hanya ingin aku bersama Eric.

Bella yang adalah teman baik Eric, karena Eric yang menyarankan Bella mengontrak di rumahku sekaligus untuk menemaniku.

Sepertinya, aku benar benar menjijikkan seperti kecoa, apa aku harus mengabaikan perasaanku. Perkataan Bella benar, bila aku akan kesulitan menolak pernikahan itu lalu, aku tidak mungkin selingkuh di belakang Eric setelah akad.

Namun, aku tidak mau melepas Bagas.

Aku tidak bisa menyerahkan hidupku pada mereka. 

“Baiklah Bell! Jika itu mau mu,” gumamku akan tetap pada pendirianku.

“Sayang, kamu tidak mau bermain ombak?!” Bagas baru duduk dan tangan kekarnya membawa satu buah es kelapa muda murni tanpa gula.

Tampaknya pada kehidupan aslinya dia memiliki gaya hidup sehat, tubuh atletis, tidak suka minuman dan makanan manis. Sebenarnya siapa si dia?!

“Enggak, mas.” Aku tersenyum dan menatap matanya. “Apa kamu terbebani dengan perkataan Bella semalam?”

“Tidak. Mengapa aku harus terganggu?Prioritasku adalah kamu." Dia menatap lembut padaku.Sejujurnya hatiku begitu berbunga, saat pertama kali seseorang menjadikanku adalah prioritas. Seperti mimpi.

"Aku perlu berjuang untuk kamu dan kita. Luna, untuk mengambil hati ayahmu.”

Aku tersenyum tipis. Sangat berharap pada setiap janji manisnya.

“Bagaimana jika kita kawin lari, mas," kataku putus asa. "Bawa aku pergi.”

Bagas menarik jemariku dari atas bangku bambu, “Luna, sayang." Melempar satu kakinya, hingga dia duduk menghadapku. “Aku tahu, di matamu ada cinta untuk ayahmu.” Menggenggam tangan kiriku dengan  dua tangannya. “Aku tidak akan melakukan itu mengerti!?”

“Mas,” aku mengerucutkan bibir “kamu tahu kan, mereka akan memaksa meski aku menolak. Sedangkan, aku tidak bisa menikah dengannya.”

Dia menghembus nafasnya, seperti tersenyum, tetapi aku tahu tatapan itu tampak menahan getir. Sekarang aku yakin dengan perasaan Bagas, sepertinya dia serius dan tulus menyayangiku.

Aku melirik cincin perak yang dia berikan, ini sangat manis tidak peduli ini hanya perak, tetapi seolah cincin ini memiliki jiwa, setengah milikku dan setengahnya Bagas.

Aku menjadi ketakutan dan serakah, takut Bagas mendapat ingatannya lalu meninggalkanku. Ketika beberapakali Bagas mengalami sakit kepala dan dari tatapannya seolah dia melihat sesuatu, tetapi ketika aku menanyakannya, dia membantahnya atau memang dia tidak mengingat apa-apa. 

Tuhan aku begitu bingung. Apa jika Bagas kembali ke keluarganya, dia akan tetap bersamaku? Ingin sekali aku menanyakan pada Bagas tetapi itu tidak pernah terealisasikan  ketika di depannya.

Seorang penjual mengantar kan mendoan dan mie ayam, dan Bagas menyuapiku dengan sendok garpu, tetapi dia tidak makan dan memilih roti.

"Luna, bila aku pergi suatu hari nanti, apa kamu akan tetap menunggu?!

"Pergi? memang pergi kemana?" kataku curiga.

"Misal, kerja sampai satu tahun di luar kota."

"Kok bilang begitu, aku tetap akan menunggu. Eh pertanyaan mu kok aneh."

"Kemarin aku bertemu ibu kantin di tempat kerja, dia bercerita bahwa suaminya ke luar pulau, dan lalu seseorang seperti menggoda meski itu tidak langsung."

Aku mengangguk. "Tidak akan ku biarkan kamu kerja jauh. Lagian bila hanya untuk makan, dari florist cukup!"

"Lalu anak kita? kan aku harus bekerja agar aku bisa menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab."

Aku menatap ke dalam matanya, seolah tidak ada kebohongan dari sana. "Anak!? oh itu pasti lucu."

"Dan umurmu sudah cukup. Jadi aku akan menunggu dalam satu tahun untuk PERKEMBANGAN INGATANKU. Aku akan mencari pekerjaan tambahan. Dan jika selama itu aku tidak juga mengingat keluargaku, aku memutuskan melamar mu. Kau dengar???"

"Mengapa percaya diri sekali? masalah kita kan dua bulan lagi!?" Aku yakin Bagas bukan orang yang mudah tersinggung, jadi aku mencoba untuk terbuka.

"Aku akan menemui ayahmu minggu depan. Jadi, beritahu apa saja kesukaan Paman Felix, sayang!?" Dia menyeringai di satu sudut bibir. "Aku punya cara sendiri, untuk ayahmu."

"Cara?" mataku membesar seolah menemukan pencerahan baru saat mendapati tatapannya yang berbinar. "Jadi apa itu?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!