PMDC 10 Luna

"Tidak apa, Luna." Kelopak mata Bagas bergetar menatapku. "Aku pantas mendapatkannya." Bagas kemudian menunduk dan menjambak rambutnya sendiri. Dalam kebingungan aku bangkit. Bagas dengan tenaganya membuatku duduk kembali dan menahan pahaku, dan dia berlutut memegangi tanganku di paha. "Kita perlu bicara."

Merinding terus menjalar, aku tidak bisa mencerna apa-apa, dan berhenti dari menatapnya, beralih menoleh kanan menatap jam dinding, pukul setengah dua pagi.

"Luna!! aku berjanji tidak akan menyentuhmu lagi. Itu, jika bukan kamu sendiri yang memintanya," suaranya dengan keputusasaan.

Terdiam, menatapnya lagi, dan aku harus menjawab apa? ini gila, aku benar-benar akan menjadi orang gila. Aku menarik tanganku, tapi dia menahannya.

"Lepas, Bagas!" Aku tidak bisa untuk tidak membentaknya karena dia menjadi sering mencengkeram ku. Meskipun, aku menarik tangan dengan kasar, tangannya seperti catok baja, aku lelah seperti dipasung.

"Bicaralah, kita bisa mulai ini.

Aku janji tidak akan asal menyentuhmu." Bagas menjatuhkan kepala di pangkuanku dan tanganku terlindas oleh pipi kirinya.

"Kamu keterlaluan. Itu ciuman pertama ku, dan kamu merenggutnya," suaraku bergetar oleh kemarahan, bahkan dia tidak ijin dulu, sekarang bibirku membesar akibat ulah Bagas.

Tidak dapat kupungkiri ada rasa kecewa, lebih ke arah tidak menerima dengan pernyataan dia yang tidak mau menyentuhku lagi, setelah dia membuatku merasakan itu, ini sungguh kejam.

Mengapa sulit untukku jujur tentang perasaanku? Katakan saja padanya Luna! dan semua ini beres. Apa kamu akan menjomblo terus, bila tidak sekarang, kapan lagi! Bukankah ini yang kau tunggu-tunggu setelah bertahun-tahun; memiliki sebuah perasaan terhadap lawan jenis; itu artinya aku normal! ya! Jadi, untuk apa menahannya lagi!

Perkara ingatan dia akan kembali atau tidak. Gampang. Pikirkan nanti saja.

Pikiranku terus meneriaki ku dengan omong kosong. Ya, aku menginginkan dia!!! Jiwa feminim ku pun berteriak.

Aku menatap kulit leher belakangnya yang cerah bersih ditumbuhi sedikit rambut halus. Dari cara potongannya, sepertinya dia potong di salon. Mataku meredup, dan tanganku menyusuri lehernya, hingga ke atas menuju rambutnya yang halus seperti bulu anak anjing.

"Apa kamu menyesal, karena aku merebut ciuman pertama mu, Luna?" lirih Bagas saat aku menyibak rambutnya dengan perlahan. Ini terasa begitu menyenangkan, hanya dengan mendorong jari-jariku diantara rambutnya, meskipun -kepala Bagas- terasa berat di pangkuanku (seberat buah kelapa) dan membuat kakiku pegal. Aku menangkap tatapan matanya yang lembut. Dia seperti bayi, dan sangat manis. Tanpa sadar mulutku sudah menggantung membentuk senyuman.

Raut wajah Bagas yang tampak kaku, dia sedikit menghadap atas dan melirik ku tanpa mengangkat pipi dari pahaku. "Kenapa kamu tersenyum? Dan bukan menjawab ku."

"Kamu naik apa ke sini, Bagas?" tanyaku mencoba berbicara normal.

"Jawab dulu pertanyaan ku, apa kamu menyesal?" Pria itu bertanya dengan suara serak. Tangannya melingkar di betis ku dengan menggelitik jemari kaki saya.

Kimono jatuh melorot jatuh di sikut kiri, aku merapatkan kembali hingga menutupi dalaman satin yang melorot nyaris memperlihatkan bagian atas payu..dara.

"Bagas, aku akan menjawabnya, sekarang kamu pejamkan matamu, dan duduk yang benar dulu." Tanganku sempat menutup matanya, menyembunyikan rasa maluku. Dia menurut dan aku meraih b.r.a dari balik selimut.

"Kau mau apa, Lun?"

"Jangan mengintip, atau aku tidak akan lama." Aku berdiri, lalu meninggalkan Bagas menuju kamar mandi.

Di balik pintu kamar mandi, aku mengelus dada menghilangkan debaran yang berlebihan. Melepas atasanku, dan segera mengelap bekas gigitan Bagas yang meninggalkan bekas merah di bawah tulang selangka.

Dengan handuk yang dibasahkan, lalu ku seka leher membuang semua aroma dan sentuhan Bagas yang masih sangat jelas dalam pikiranku. Aku bisa gila lama-lama, dan Bagas harus memegang janjinya, dia tidak akan menyentuhku. Ya!

Membasuh wajahku dan berkumur-kumur, aku takut itu akan terus membayangiku, jadi kuharap ini adalah metode trauma healing hingga kedepannya aku tidak akan mengalami trauma berkepanjangan. Trauma karena ketagihan ciumannya! dan bukan phobia darinya.

Keluar dari kamar mandi, dan Bagas sudah menghilang? Saat aku aku ke bawah, dia sedang menyeduh kopi.

"Luna, aku, sebaiknya pindah dari tempat mu."

Kata-katanya seperti petir menyambar ku, dan hampir-hampir rahangku jatuh ke lantai. Setelah apa yang dia lakukan padaku? belum satu jam? belum apa-apa dia akan meninggalkanku.

Syukurlah! aku belum mengatakan perasaanku. Aku bilang apa, dia pasti akan pergi, aku benar, kan.

"Ya .... " Aku menjawab singkat, membeku dengan kata-kataku, bukan itu Luna! seharusnya kamu bilang 'jangan' atau setidaknya tanya kenapa alasannya.

Tampaknya semua kata-kataku tertahan di tenggorakan ku dan sekarang menjadi buih kekecewaan.

Aku duduk di sofa yang seharusnya sangat nyaman, tapi bagiku ini tidak nyaman sekarang. Terlebih Bagas dia memilih duduk di sofa di ujung ruangan, bukan sofa yang sama.

Oh, apa dia sekarang berakting bahwa salah satu diantara kami terkena penyakit menular dan akan berbahaya jika kami berdekatan? menyebalkan! bahkan dia tidak melirikku.

Aku menggigit bibirku dengan keras oleh kedongkolan yang datang dari dalam. Menatap dia yang duduk membungkuk. Dia menatap kopi seakan-akan tidak ada aku di ruangan ini.

Aku melemparkan bantal di pangkuanku ke wajahnya, ingin ku seperti ini, tapi tentu saja tidak akan begitu. Bantal tetap di pangkuan, kure..mas dengan gemas, dan kenapa sekarang aku seperti cacing kepanasan.

"BAGAS!!!"

Dia mengangkat dagu dengan pandangan dingin. Astaga, aku baru mendapati dia yang begini, kemana dia yang tadi di atas kasur?!

"Kenapa kau duduk sangat jauh? apa kamu tidak melihatku di sini, mas BAGAS?"

Dia tidak menjawab dan melangkah dengan konstan dan kini duduk di sebelahku bahkan paha kami bersentuhan. Ya, Tuhan, tidak seperti ini juga. Aku bergeser sedikit hingga kami tidak bersentuhan.

"Mau kopi?" Dia mengulurkan gelas kopinya yang tinggal setengah tanpa menoleh.

"Tidak." Aku mendorong gelasnya dan tanpa sengaja menyentuh jemarinya yang membuatku dimabuk kepayang, sejak kapan aku seperti ini. "Kamu naik apa tadi ke sini, mas," kataku merasa kikuk.

"Aku jalan kaki, Luna."

Mataku melotot. "Kamu jalan sejauh tiga kilo?" suaraku meninggi. "Tapi bajumu tidak berkeringat itu." Dengan santai melempar kepalaku ke belakang bersandar pada sofa dan menatap langit ukiran gipsum.

"Aku jalan sampai depan gang, jalan sedikit, dan lalu seorang perempuan menawarkan tumpangan."

"Apa?" Kepalaku terangkat. "Dan kalian berboncengan?" Aku menatapnya yang menyesap kopi, sebuah keringat bening meluncur di pelipisnya, membuatku tidak fokus dan ingin mengelapnya, tapi tidak ...

"Iya, aku-"

"Oh, tentu saja, kan." Aku memotong kata-katanya, memang apalagi yang aku harapkan. "Apa perempuannya cantik?"

"Dalam kegelapan itu tidak terlalu tampak."

"Dan, kamu berpegangan padanya?" Darah dalam dada ku terasa mulai mendidih.

"Aku berpegangan pada pengemudi."

Keheningan menyelimuti kami. Aku bergeser duduk menjauh darinya. "Enak ya?"

"Apanya?" Dia menghadap ku dan meletakan gelas kopi ke meja.

"Diboncengi perempuan. Masa nggak enak."

"Ya, enak, aku bahkan ingin lagi," katanya. Dia menatapku dengan kening berkerut.

"Oh enak, pengen lagi. Huh. Kenapa nggak minta diajak keliling dulu?"

Matanya berputar. "Luna, apa kamu cemburu?"

"Ti-dak." Daguku terangkat. "Aku kan tidak ada perasaan padamu, nah, untuk apa cemburu," kataku dengan penuh keyakinan.

"Aku mau tidur." Aku berdiri dan melangkah ke tangga. "Dan Bagas kamu tidur di situ. Besok pagi jam lima, kita harus balik."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!