Perkataan Shelin dan Tossa membuatku tidak bisa tidur. Bolak-balik aku berguling di tempat tidur lalu bersembunyi dibalik selimut.
Ketukan inten di pintu kamar dan suara lirih Bagas membuatku makin merinding.
Bodoh. Lupa mengunci pintu! jantung makin berdebar mendengar pintu berderit. Aku menebak-nebak dan menyingkirkan pikiran buruk. Mutilasi, penjualan organ.
Aku salah mengambil keputusan. Hidupku benar-benar akan berakhir.
"Luna, kamu sudah tidur?" Langkah kakinya semakin dekat. Tempat tidur berdecit, dia duduk di sampingku.
Dingin merayap di bawah kulitku, aku menahan nafas.
"Luna, kamu sudah tidur ya? terimakasih Lun, hari ini kamu mengajakku keluar dari rumah. Apa kamu tahu? aku ketakutan di rumah sendiri. Takut bila sakit kepala itu berlangsung tapi tidak ada kamu."
Dia terdiam cukup kama, aku perlahan menghembuskan nafas. Bagas menarik selimutku ke bawah. Aduh! aku takut akting tidurku terbongkar dan dia mau apa!
Namun, apa yang dia katakan, ketakutan? Lelucon atau jebakan? Sebenarnya, dia tahu aku tidur atau tidak?
Aku hampir kehabisan nafas, tidak tahu apa yang dia lakukan. Panas mendekat ke daerah atas tubuku.
Ya Tuhan, aku akan di per ko sa dan hembusan panas nafasnya telah di pipi ku. Aku harus memukul dia kan?
Aku akan memukulnya tetapi tubuhku membeku. Perlahan dia menjauh lagi, hah aku sedikit lega.
"Apa kamu tinggal sendiri, Lun? mengapa aku tidak menjumpai keluarga mu?"
Pertanyaan apa itu, apa jika aku tinggal sendiri lantas dia akan menjualku!
"Mimpi indah, Lun, Selamat malam ... " kata dia dengan suara sangat indah dan dia berlalu meninggalkanku yang masih tersentak.
Tidak ada apa-apa. Tidak terjadi sesuatu. Dia hanya mengucapkan selamat malam dengan suara serak, seksi, berat, yang menari-nari di telingaku.
Aku membuka mata begitu pintu tertutup. Dalam kegelapan, aku mengukir seutas senyuman.
Mungkin, aku terlalu berpikiran buruk. Bagaimana jika kami salah paham pada Bagas.
Aku memiringkan tubuh ke kiri. Besok adalah hari kematian ibu, aku tidak bisa membawa Bagas.
Ayah, apakah ayah akan mendatangi makam ibu? Ayah tidak mencintai ibu lagi kah? Walau marah kepadaku seharusnya ayah tetap mengingat ibu, kan?
**
Jam weker memukul telingaku dengan suaranya melengking. Tanganku meraba meja dan aku menemukan kehangatan yang kenyal, sejak kapan jam berubah tekstur dan aroma.
Aku mengucek mata, hidung terus bergerak-gerak mencari aroma menyegarkan.
"Selamat pagi Lun ... "
Alisku terangkat sepertinya aku mulai berhalusinasi atau masih dalam alam mimpi.
Usapan lembut menyenangkan. Aku tersenyum.
Nyawaku mulai berkumpul dan aku merasakan sesuatu hangat di pipiku. Silau cahaya jendela, aku memicingkan mata "Uhhhh ... " menyingkirkan sesuatu dari pipi.
"Bagas!!" Aku langsung duduk dalam sepersekian detik, mengangkat selimut mengintip pakaian masih utuh. "Kenapa di kamarku!?"
Dia tersenyum duduk di pinggir kasur, meraih cangkir dari meja.
"Maaf Luna, aku membawakan kopi, kamu lihat ini sudah jam delapan." Bagas memasang raut muram.
Aku mengeluarkan udara dari paru-paru, mengatur jantungku yang terlajur deg-degan, "Bagas, kamu tidak boleh ke kamarku tanpa ijin."
Kecewa, jadi dihantui rasa takut walaupun Bagas tampan dan tampak tidak berbahaya, tetapi dia tetap pria.
"Maaf, Luna, aku tidak akan mengulangi," mengulurkan kopi, "untuk kamu."
**
Aku tengah menggosok gigi di westafel depan meja makan ketika gebrakan pintu ruang tamu mengejutkanku.
"Biar aku." Bagas langsung ke depan.
Aku selesai mencuci muka lalu melangkah ke depan sambil mengelap wajah dengan handuk.
"Nah, kamu kumpul kebo?!" Anton, kakak tiri ku dengan satu tangan di pinggang. "Dasar murahan seperti ibumu, ya," dia mendesis.
"Jadi kenapa kamu ke sini, Anton?" aku menghalangi pintu tengah yang hanya cukup untuk lewat satu orang. "Berhenti menghina ibuku, sebaiknya kamu berkaca dulu!"
"Minggir, ini juga masih rumahku." Anton mendorong bahuku untuk minggir, dan aku bersikukuh tidak memberikan jalan.
Bagas menyeret kakak tiri ku lalu mendorong hingga Anton terjengkang. Tenaga Bagas kuat. Dia langsung mencekal kaos Anton. "Jangan membuat keributan disini."
Anton menghadap Bagas. Jadi, ja..lang membayar mu untuk menjadi bodyguard? eh, dia tidak memiliki apa-apa, atau dia membayar dengan tubuh kotornya? mura-"
Tanganku mengepal kuat.
BUK! Bagas melayangkan tinjuan ke rahang Anton. "Mulut kotormu harus belajar."
Aku menangkap tinjuan Bagas yang kedua, dan aku otomatis tersungkur ke dada Anton.
"Luna kenapa kau menghalangi--"
"Sia..lan." Anton mendorongku.
Bagas dengan hati-hati membantuku berdiri.
"Berani sekali kamu ya." Anton meludah ke kiri, mulutnya telah berdarah. "Aku akan beri tahu mama soal ini, Ja..lang."
Aku menyusul kepergian Anton ke lantai dua dan menghentikan dia yang meraih kotak perhiasan. "Jangan ambil milik ibu!"
Aku dan saudara tiri tarik-tarikan kotak kayu. Kotak kayu jatuh, perhiasan ibu tercecer. Darahku mendidih, menangkap tatapan jahat Anton saat dia langsung meraih kalung berlian Ibu.
Bagas datang dan meninju kepala Anton membuat lelaki itu tersungkur.
Aku terkejut karena Bagas mengendong Anton yang tak bertenaga di bahu.
Bahkan sampai di depan pintu rumah "Bagas!!!!" Aku mencoba menghentikannya, terlambat. Bagas telah melempar tubuh Anton seolah itu barang. Aku menghampiri Anton tetapi dihalangi tangan kiri Bagas.
"Dia harus mendapatkan pelajaran."
Anton meringis terlihat kesulitan meraih ponsel lalu menghubungi seseorang.
Setengah jam kemudian, Anton masih di dalam mobilnya di depan rumah. Kami tidak menggubrisnya.
Sementara aku dan Bagas di dalam rumah, akan bersiap ke makam ibuku.
Gedoran pintu kembali mengusik ketenangan kami.
"Anak Ja..lang buka pintu!!!"
Aku telah bersiap dengan tas, saat membuka pintu pipiku terkena tamparan keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments