PMDC 14 Luna

"Pernikahan apa? Siapa yang mau menikah?" dengan bodoh aku bertanya.

"Anda ikut saya dan jelaskan nanti di kantor polisi," kata paman Eric pada ayah.

Ayah Felix menatap tajam ke mataku, dapat dibayangkan kemarahan itu tampak yang paling mengerikan. Sebuah borgol melingkari tangan ayah di depan perut.

Itu terjadi begitu cepat, dan aku tidak punya waktu untuk berpikir, secara otomatis aku menahan tangan ayah agar polisi tidak membawanya. Tetapi kemudian Eric datang meraih tanganku hingga terlepas dari tubuh ayah.

"Jangan bawa ayah, dia tidak ... tidak." kataku mulai terisak, ayah pasti akan lebih marah begitu dia bebas, tidak dapat ku bayangkan mungkin ayah akan langsung mem..bunuhku , aku menggigil karena ketakutan.

"Ambil tasmu," perintah Eric saat aku menatap kepergian ayah.

"Eric, apa maksud pernyataan ayah?" Aku menatap Eric yang menghindari tatapanku, "dan kamu yang melaporkan ayah!"

"Luna, aku akan mengambil tasmu," Eric melewati ku begitu saja dan pasti akan ke kamarku, sejak kecil kami tumbuh bersama. Tapi apa maksud dengan pernyataan ayah. Bahkan ayah selalu menegaskan padaku bahwa aku tidak akan pernah menikah. Dan aku mengejar Erik yang sudah naik tangga.

Erik menabrak Anton, mereka saling bertatapan dengan penuh kebencian, dari dulu mereka memang sudah bermusuhan.

Tanganku tertahan dan di tarik Bagas.

"Luna, kita harus ke rumah sakit."

"Dan kamu seharusnya pergi saat aku bilang pergi!" bentakku pada Bagas. "Mengapa kamu tidak menurut?"

Aku khawatir bila ayah lalu menghukum Bagas dan memasukannnya ke ruang bawah tanah. Tempat dimana ayah menghukum orang-orang yang melawannya, dan aku pernah di hukum di sana oleh setruman listrik sampai aku pingsan, dan sampai sekarang aku masih merinding untuk membayangkan saja.

"Kenapa kalian membawa suami saya? dia tidak bersalah!"

Aku menyingkirkan tubuh Bagas yang menghalangiku, dan melihat ke halaman saat mendapati tante Andien yang baru turun dari mobil BMW merah. Tante langsung menahan tubuh ayah di halaman dengan memohon pada polisi.

"Silahkan, menyusul ke kantor. Jangan menghalang-halangi petugas polisi" kata paman Eric.

"Kau lihat, Lun. Lihat kekacauan yang kau buat. Anak tidak tahu diri," cibir Anton yang baru datang dan hatiku bergetar karena kata-katanya.

"Dimana kalung milik ibu?" Satu-satunya alasanku pulang adalah kalung ibu, yang menjadi kekuatanku setiap kali mengingat ibu.

Anton tertawa, "Kamu pikir, aku membutuhkan perhiasan murahan? jadi, kamu ingin tahu dimana!? tanya saja pada ayah," dia menyeringai.

Kini aku tahu, Anton membawanya karena perintah ayah, tapi untuk apa ...

"Kau orang asing, pergi dari sini." Anton berkata dengan nada tidak senang.

Bagas menanggapi dengan memeluk bahuku, menarik ku untuk mundur dan menyepak tangan Anton yang sempat mencengkeram tanganku.

"Kau tidak boleh keluar, sampai hari pernikahan!" Anton mendelik dan tersenyum licik padaku. " Itu dua bulan lagi, Luna!"

"Diam Anton!" Eric datang dengan membawa tasku dan menatap mataku dengan pandangan yang sulit ku tebak.

Anton tertawa. "Sepertinya kamu tidak tahu ini ya, Lun? Menyedihkan, kau tak dianggap oleh ayah?" Anton kembali tertawa mengejek. "Kamu tahu pernikahan itu sudah di atur setahun yang lalu. Kamu telah dijual!!"

"Diam!!!" BUG!! Eric berteriak sambil membogem rahang kakak tiri.

Aku terhenyak tidak menyangka hingga tubuh dan hati langsung bergetar oleh pernyataan Anton. DIJUAL!? tidak. Ayah tidak begitu. Tidak mungkin.DIJUAL? pada Eric? menikah!? Dengan masih setengah kesadaran, aku melepaskan diri dari Bagas, tapi dia menahan ku.

"Si..al kau Eric, aku akan membalasmu," sinis Anton meludah ke samping dengan mulut penuh darah.

"Balaslah! lalu ku cuci mulutmu-" BUG!! Eric berkata sinis sambil memukul rahang kakak tiri lagi.

"ERIC!!!" Aku menjerit dengan segala emosi dari dalam.

"Kau beraninya memukul putraku!" Tante Andien, yang baru datang menghalangi tubuh Anton. "Keluar kalian," perintahnya sambil menunjuk Bagas dan Eric, dan mengayunkan tangan ke samping, ke arah pintu.

"Luna masuk kamar," desis Tante Andien sambil mengayunkan kepala pada penjaga. Dan penjaga dengan kasar menuruti, hingga kini Bagas dan Eric sudah di luar pintu dan aku mulai ditarik penjaga.

Bagas memukul dari arah belakang ke penjaga, tidak terima. Salah satu penjaga yang jatuh, mengeluarkan pistol mengarahkan pada Bagas dan Eric, menyuruh mereka pergi.

"Tante apa Anda mau aku menyerahkan bukti kejahatan Anda dua tahun lalu? Jika tidak mau, biarkan aku membawa Luna," kata Eric dengan penuh penekanan dengan nada seperti mengancam, membuat bibir mama tiriku berkedut dan dia berjalan ke arahku mendorongnya ke samping sampai aku terjerembab ke lantai.

"Mah, dia tidak boleh pergi," pekik Anton ketika Eric dan Bagas membantuku bangun.

"Diam Anton!" Bentak mama tiri. Dia maju ke depan Eric. "Eric. Kamu yang melaporkan suamiku? cabut laporan mu," mendelik pada Eric yang bibirnya terkatub. "Atau aku sendiri yang membatalkan pernikahanmu!?"

"Batalkan saja," kata Eric datar, "tapi suami Anda harus bertanggungjawab. Anda lihat apa yang dia perbuat pada Luna?" Eric menggeram, "Paman Felix harus membayarnya, tante!"

Eric membungkuk dan menggendongku di depan. Aku seperti orang, seperti orang tuli, seperti orang buta, dan hanya mematung. Hari telah gelap di halaman, menjadi semakin gelap dalam duniaku.

Bagaimana bisa ayah melakukan ini padaku? bibirku gemetar dan aku merasa tak kuat lagi saat hatiku merasa begitu sakit.

Aku ingin bertanya pad Eric tapi bibirku begitu keluh. Aku ingin berlari tapi tidak memiliki tenaga. Sekali lagi meninggalkan rumah ini dengan lebam, dengan kesakitan hati, dengan gendongan Eric.

Sekali lagi hatiku hancur setelah dua tahun aku baru melihat ayah lagi, setelah dua tahun baru kembali, tampaknya, Alam tidak mengijinkan aku hidup tenang.

Eric dengan hati-hati mendudukan ku di sebelah kursi pengemudi dan kami semua membisu.

Dalam diam mulai merintih, aku tak peduli bila Bagas mendengarnya. Maluku telah hilang. Tertutupi oleh hati tertikam.

Rasa kecewaku pada ayah terlalu dalam. Harapanku selalu kandas dengan kepahitan. Fakta bahwa Ayah tidak mau pernah melihatku sebagai seorang putri yang ingin di cintai. Dia selalu melecehkan ku, mengatakan aku adalah kesalahan, kesalahan karena kelahiranku, kesalahanku karena kehadiranku di dunia.

Di sepanjang perjalan pulang setelah melakukan Visum di rumah sakit, kami bertiga hanya terdiam.

Aku begitu lelah secara mental atau mungkin efek obat anti nyeri yang menyebabkan kantuk, hingga saat terbangun, aku sudah di kamarku dan telah pagi, tetapi tampaknya aku tak memiliki kekuatan untuk bangun dan merintih memanggil nama Ibu dalam kegetiran. "Mengapa aku dilahirkan?"

Aku merasakan tangan Bagas mengelus rambutku, aku tidak tahu kapan dia masuk, aku yang tengkurab membelakangi pintu justru semakin histeris saat Bagas tidur memelukku dan menciumi rambutku. Dia menguatkanku dengan kata-katanya, tapi tampaknya itu tak bekerja padaku, dan perasaanku semakin buruk.

"Mari kita menikah, Lun. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!