PMDC 6 Luna

“Luna, kamu cantik. Dan terimakasih sudah mempedulikan ku.”

“Sama-sama, Bagas.“ Aku menunduk dan wajahku menghangat.

Kenapa denganku, Ya … Tuhan, aku sangat malu.

“Lun … jujur,“ Bagas mendekatiku dan aku membeku karena jari-jari panas itu menuruni leherku. "Aku suka kamu. "Suatu hari ... bila ingatan ku kembali. Bisa kah kamu berjanji tetap bersamaku?"

Jari panasnya seperti listrik yang membuatku bingung, otak ku mati. Aku tak kuasa untuk menolak, dia mengusap tulang selangkaku

Tatapannya seperti menuntut dan menghipnotis.

"Maksud, kamu mas?" suaraku serak. "Jadi, kamu mulai mengingat sesuatu?"

"Belum, aku ingin cepat mengingatnya dan mengenalkan keluargaku padamu." Nafasnya terdengar berat.

Aku dilanda kecemasan. Bila dia mendapatkan ingatan kembali, dia akan melupakanku. Pada akhirnya, aku sendiri lagi. Seharusnya, dari awal tetap seperti ini, jadi tidak perlu untuk menanggapinya, kan?

Bagas adalah orang yang membuatku nyaman. Sesuatu dari dalam diri menuntut dan menginginkan dia. Ini bukan keinginan egois yang tak beralaskan, sikapnya itu membuatku salah paham.

"Semoga kamu cepat mengingatnya, mas."

"Luna  berjanjilah, kau akan tetap bersamaku?" Bagas menjilat bibir sendiri yang terlihat kering. Tatapannya nyalang seperti predator dan aku mangsa yang siap menyerah. Namun, Tidak. Ini tidak boleh.

"Bersama mu dalam hal?" Aku tersenyum masam.

"Luna, ini terdengar seperti omong kosong, ku rasa takdir mempertemukan kita?!" Dia mendekati bibirku.

"Apa!?" tenggorokanku tercekat, takdir katanya? bisa-bisanya dia mengatakan itu dengan percaya diri! "Ya memang seperti omong kosong," kataku dengan lesu dan menjauhkan kepalaku.

Tidak mungkin perasaan timbul hanya dalam kurun empat hari. Mustahil. Atau dia kira aku idiot.

"Kamu tidak berpacaran dengan Eric. Aku yakin ini petunjuk alam, Luna.”

Penuturan dia mungkin akan berbeda saat ingatannya kembali.

Atau dia sudah memiliki kekasih, mungkin istri, dan bisa jadi dia menganggap ku sebagai sosok pendamping yang dahulu menemaninya.

Aku menggelengkan kepala, bingung. Bibir kami hanya berjarak sekepal, nafas kami saling beradu.

Pintu kamar mandi berderit dan terbuka. Aku secara otomatis melepaskan diri.

Eric duduk di seberang dengan handuk di lehernya. "Lun, kamu ke toko bareng aku, ya?" meraih  secangkir kopi-susu.

"Sebentar lagi Tossa menjemputku." jawabku.

"Kamu tidak usah ikut, ya mas? Lukamu akan menarik perhatian orang. Lebih baik, kamu ikut Eric?" kataku pada Bagas, mencoba menjaga jarak, sebelum aku semakin larut dalam  perasaan abu-abu.

"Lah, ko, aku Lun?" Eric tidak terima dan menjauhkan cangkir dari mulut.

"Ayolah Eric," mere..mas tangannya saat Eric menyesap kopi. "Please."

"Tunggu Lun, aku juga tidak setuju bila ikut dia. Mending aku di rumah."

"Tidak, Mas. Kamu tidak boleh sendirian. Jangan sampai seseorang datang mengganggumu."

Dan aku pergi mengambil nasi untuk Eric. Dan bubur untuk Bagas.

"Lun." Bagas memasang wajah protes seperti, anak anjing yang menginginkan belaian.

"Aku dengan mu saja, ya?!" Suara Bagas sangat rendah dan aku menggelengkan kepala.

"Hei, katanya, kamu butuh pekerjaan. Ikut denganku mumpung ada yang kosong," kata Eric, mengambil sayur buncis dan peyek udang. "Aku akan membantu mu. Sidik jari mu juga diperlukan untuk penyelidikan polisi. Siapa tahu ada DNA kerabat mu yang cocok. Kita berusaha untuk cepat menemukan identitas mu."

"Benar kata Eric. Aku juga ingin pelakunya cepat tertangkap, dan semua menjadi jelas," kataku getir, tanpa tahu alasannya.

Pergi dari kehidupanku, Bagas.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!