-POV BAGAS-
"Bagas ... " suara Luna yang baru saja terhubung. Aku melirik Eric yang duduk di kursi pengemudi sedang menganggukkan kepala untuk aku meneruskan telepon dan dia langsung menepikan mobil.
"Luna, apa kamu baik-baik saja? mengapa kamu tidak pulang??" Aku bertanya, ketika Eric menarik pergelangan tanganku dan menekan mode speaker panggilan.
"Aku tidak apa-apa." Luna tertawa. "Aku sampai lupa mengabari mu, ini ada acara keluarga."
Ku pandangi rumah dengan satu pohon cemara besar di balik pagar, dan Eric mematikan mesin mobilnya. "Aku di depan, Lun. Ayo kita pulang."
"Depan mana?" Suara Luna terdengar seperti berpikir.
"Depan rumahmu, ah rumah ayahmu. Rumah tiga lantai. Ada satu pohon cemara besar."
"Apa!?" Suaranya seperti kebingungan "Depan??!" Dia mengulangi pertanyaan. "Yang benar saja!"
"Luna, ayo pulang." Aku turun dari mobil. Berjalan menuju gerbang besi hitam yang setinggi dua meter dengan bagian atas lancip berbentuk tombak dengan warna emas.
"Kok kamu tahu aku di sini?"
"Jangan bohong padaku lagi, Luna. Aku sudah tahu semua dari Bella," kata ku dengan suara bergetar, ketika tampak Luna di area balkon kamar lantai dua, sedang menatap ke arah sini. "Atau aku memanjat pagar ini?"
"Jangan! Kamu ... pergi saja."
"Saya tidak akan pergi tanpamu."
"Jangan keras kepala," dia mendesis "Pulanglah." Hari tampak mulai gelap, dan lampu-lampu kuning rumah Luna menyala bersamaan, dan rumahnya tampak seperti istana berlantai tiga.
Suara ban melindas jalanan aspal, berderak semakin jelas mendekat. Aku berbalik badan ketika mobil hitam dengan tulisan BMW berhenti satu meter di depanku.
"Bagas! cepat lari!!!" Aku mendengar teriakan Luna yang tampak khawatir dia terus mendesis seolah tersirat dari nadanya bila aku tidak pergi maka dunia akan kiamat.
Pintu pengemudi terbuka. Aku melirik ke belakang saat pintu gerbang bergeser sendiri. Sementara satu orang security berlari meninggalkan rumah menuju ke tempatku.
"Minggir." Perintah seorang berjas hitam mendorong dadaku dan aku mencekalnya.
"BAGAS PERGI!!!" Luna terus berteriak dan seorang di depanku meraih ponsel.
"Nona Luna, anda tahu akan mendapat masalah karena ini," pria berjas menggeram. Orang yang tingginya sama denganku lalu mematikan telepon Luna. Dia mengembalikan ponselku saat security dari arah belakang menarikku untuk minggir.
Pria berjas masuk ke mobil dan membawa mobil memasuki halaman. Aku berjuang masuk menghajar security yang menghalangiku dan dia tersungkur. Tak perlu waktu lama, saat melirik Luna yang menjauh dari Balkon, aku melewati paving sekitar dua puluh meter dengan berlari.
Seorang pria berjanggut keluar dari mobil penumpang setelah sopir membuka pintu. Dia merapikan jasnya dan berbelok tajam dengan wajah tampak murka begitu aku tiba di depannya.
Dia tertawa dengan cara yang seram, tampaknya sekarang aku menduga dia ayah Luna, tampak wajah sadis keras terukir dari sana, dia menghentikan sopirnya yang mau mengusirku, dengan tangannya yang mengayun di udara sehingga sopir itu mundur lagi.
"Bagas?" katanya meringiskan gigi dengan mata nyalang. Alis dia terangkat satu, dan kini memutari, mengelilingi tubuhku melihat dari atas ke bawah dan kembali ke atas memindai ku. Dan berakhir dengan tatapan merendahkan, dengan meludahi kaos ku.
Dengan sabar aku menahan kobaran amarah dari dalam, jika dia bukan keluarga Luna, pastilah aku telah menghabisinya, sama, seperti ketika aku menghabisi seseorang yang hendak menembakku saat di bendungan.
"Jadi, ini?" Dia mengangguk-ngangguk seolah membenarkan pikirannya. "Siapa kau, hah, apa kau berniat mendekati putriku?" Pria berjanggut menggelengkan kepala lalu membuang muka seolah sangat jijik padaku.
"Punya apa!?" nadanya menantang sambil mendelik saat tangan satunya keluar dari saku. Kemudian dia menepuk setengah menampar di rahangku berkata dengan garang, "jangan mimpi!"
Bibirku berkedut, tanganku mengepal. "Om, saya akan membawa Luna, jangan -"
Plak!
"Membawa?" Dia menempiling rahangku, pukulannya benar-benar kuat untuk seukuran tubuhnya yang sedikit pendek di bawahku. "Preman tidak tahu sopan santun! berani-beraninya," Dia menggeram, meraih dua bahuku ke depan, dan menghantam perutku dengan lututnya, dengan gerakan cepat sehingga aku belum sempat mengambil tindakan.
"Bagas! Ayah berhenti ... " suara Luna serak datang dari arah belakangku, aku seperti seonggok semen tersungkur di lantai marmer dan kepala ku terlempar lagi ke lantai karena sepakkan dia yang secepat kilat.
"Masuk Luna," geram Pria berjanggut dan saat aku mendongak ku lihat tendangan keras mengenai kepala Luna yang duduk menghalangiku.
"Berhenti," geramku sudah tidak tahan begitu Luna terlempar ke ke lantai marmer, yang mengejutkanku adalah fakta bahwa di depanku. Muka Luna bengap ungu dan tangannya bengkak-biru. Sekarang, aku bisa mengambil kesimpulan siapa yang melakukan ini, tanpa perlu berpikir dari cara pria berjanggut menyerang. Aku tahu, dia pria tua yang pasti menyerang Luna.
Tanpa perlu waktu, aku menyerang orang yang dipanggil ayah, oleh Luna. Tetapi sopir dan dua penjaga yang baru datang mengambil alih. Matalu menangkap ketika Luna di seret ayahnya masuk. Tetapi bersamaan itu, Eric datang dengan pamannya yang seorang polisi , dan membawa tiga polisi lain yang menodongkan snjata.
"Berhenti. Anda di tahan atas laporan kekerasan," kata pamannya Eric dan Ayah Luna melepas tangan dari pergelangan Luna.
"Apa ini? kekerasan?" Ayah Luna sempat melirik Luna dengan senyum tipis liciknya, tapi hidungnya berkedut, sudah jelas aku yakin pria berjanggut yang melakukan kekerasan pada Luna.
"Sepertinya, ada kesalahpahaman di sini, aku menolong putriku dari serangan preman. Benar, kan Luna?" katanya dengan bergetar dan senyum tipis, mengelus rambut Luna dan membantunya berdiri, sikapnya langsung berubah lembut pada Luna.
"Luna, kau lihat mereka menuduh ayah? apa kamu diam saja tidak menjelaskan semalam kau dikerubuti preman?"
"I-i-ya. Ayah saya tidak bersalah. Ini karena preman saat aku melewati gang sempit," kata Luna tersenyum tipis di wajah bengepnya itu tampak menyedihkan dan menyakiti hatiku, aku meyakini ketakutan datang dari sorot mata coklat Luna.
"Anda dengar pak polisi?" Ayah Luna dengan tenang memeluk bahu putrinya yang terus menunduk. "Seharusnya anda membawa orang ini yang datang ke rumahku dan menyerang pegawaiku? atau dia mau merampok atau menculik putriku? dia juga memukul security datang dengan niat tidak baik." Ayah Luna mengangguk dan tersenyum licik padaku dan aku mengepalkan tangan ingin memberi bogeman mentah padanya.
Aku melirik Eric yang diam saja, dan polisi menurunkan senjatanya.
"Eric? ada apa anda di sini?" Ayah Luna tersenyum mengembang penuh. "Apa kamu tidak sabar, menjelang pernikahan kamu dengan putriku, sampai kamu datang kesini?"
Bagai disambar petir aku gemetar oleh keterkejutan dan aku melirik Luna yang matanya membesar, seolah dia juga baru tahu fakta ini, tetapi Eric tampak tenang, sepertinya Eric tahu tentang pernikahan itu. SIALAN.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments