Angin berdesis melewati celah daun-daun yang bergemerisik dan membuat kulit merinding.
"Bagas mungkin tersesat, tidak ada apa-apa-"
"Tidak apa-apa katamu!? dia hilang, Eric!" menyingkirkan tangannya dari bahuku.
"Kenapa jadi marah-marah? Dia baru empat hari di sini. Dan kamu sudah memarahi ku? Lagian, ini belum dua puluh empat jam, polisi tidak akan bertindak juga." Eric mengeluarkan kunci dan bandulnya bergemerincing.
"Sudah, sudah. Mereka sedang mencari. Kita berharap cepat ada kabar baik," sela Pak RT.
Sebuah tisu diulurkan Erich dan tanganku mere..mas tisu itu membawa ke paha.
"Bagas tidak ingat apa-apa, dan seseorang berniat melukainya, ya Tuhan ... " aku bergidik, membayangkan sesuatu menimpa Bagas.
"Kita pulang dulu, ya? nanti Pak RT akan memberi kabar." Eric meraih tanganku, meminta untuk bangkit dari kursi panjang.
Menatap pak RT, aku menggigit bibir bawah, tidak pernah merasa sekecewa ini sampai tenggorokanku terasa panas menahan kekesalan.
Mereka benar-benar tidak mengerti betapa kasian Bagas yang lukanya belum kering dan amnesia. Dia tidak punya uang untuk makan. Ponsel tidak ada, inilah kesalahan fatal kenapa tidak memberi dia ponsel.
"Motormu tinggal saja." Eric sudah membuka pintu pajero. Selop basah dan kaki mengeriput mati rasa, dengan setengah hati aku menapaki rerumputan yang tergenang air, susah memilih yang jalan yang kering.
"Pak RT !!!" Pengemudi motor datang diikuti bunyi ceblok saat genangan air terlindas. Motor itu mengerem dengan tajam tepat sejengkal di depan Pak RT, dan pak RT hampir terjengkang mundur menghindar ke serambi rumah.
"Semprul, yo, Jo! Mbok yo nyetir nganggo mata. Mata ko, yo dienggone nek weruh ijo-ijo." ( Kalau mengemudi pakai mata. Mata kok digunakan cuma kalau melihat uang.) Pak RT melepas peci dan menabok wajah pengemudi motor yang langsung mengerang meminta ampun, aku dan Eric mendekat. Sedetik kemudian pengemudi motor menceritakan semua.
"Cepat Eric." Berkali-kali menepuk bahu teman kecil.
"Sabar mbak, jalanan licin. Nanti, mobil bisa selip, yang ada kita tidak jadi menjemput Bagas malah masuk rumah sakit, gimana hayo." Pak Jo yang duduk di jok belakang mengomel.
"Apa tidak ada yang berani memisahkannya?" Pak RT bertanya, saat aku menggigiti kuku, khawatir, waktu terasa melambat.
"Orang gila itu terus memeluknya, tidak ada yang berani mendekat." Pak Jo menjawab, membuatku semakin tidak karuan. Dia menunjuk ke depan setelah menepuk pada bahuku "Nah, itu, setelah perempatan. Kiri jalan di depan gerbang SD."
"Jalanan sepi, apa perlu memanggil Dinsos, ya? tapi ya malam gini tutup, ya." Pak Jo bertanya sendiri, lalu dijawab sendiri.
"Bagas!!!" Aku melihat Bagas terbaring saat orang gila memutari tubuhnya. Seakan orang gila itu memutari api unggun dan berjoget.
Begitu mobil menepi, aku berlari dan orang gila itu seketika menoleh ke arahku. Otomatis aku mundur dua langkah ke belakang. Aku memperhatikan dada Bagas, dalam kegelapan itu tidak jelas apakah dia bernafas atau tidak.
"Jarjit jarjit! mau ambil suamiku!? kamu selingkuhan bojoku! maju maju!" Orang gila itu maju ke depan menodongkan kayu secara harafiah panjang satu meter.
"Awas Lun." Eric menarik ku ke belakang dan jantungku berdebar dengan sangat cepat ketika orang-orang dari arah berlawanan, mengendap di belakang ibu-gila.
Wuzzz-Bet!
"Aggghh!" kepalaku terhantam.
"Wanio! Bojoku! selingkuhan mu, elek." Ibu-gila ditangkap bapak-bapak, kepalaku terasa berdenyut.
"Lun ... " Eric menangkap tubuhku yang limbung.
"Masukan ke mobil."
"Diikat dulu!"
"Buang kayunya."
Suara orang-orang bercampur di telingaku, perlahan indra pendengaran ku kembali.
"Bojokuuuuuuu! koe arep ngerebut!" Teriak ibu-gila.
"Masuk," Eric mengarahkan tubuhku duduk di kursi depan dan kepalaku terasa basah, sepertinya oleh gerimis. Orang-orang mendudukkan Bagas di jok penumpang.
"Bagas," panggilku dengan mata berkunang-kunang menatap Bagas yang terkulai dipindahkan di keranjang dorong UGD.
"Kamu, berdarah Lun!"
Tiba-tiba tubuhku melayang karena gendongan Eric, aku yang kebingungan mencoba mencerna situasi. Perawat tampak membawa gunting ke arah kepalaku.
Menahan perih yang membakar, terasa berdenyut saat perawat melakukan pembersihan terhadapku, di kepalaku yang dari tadi seperti mengambang.
Tenagaku kembali belasan menut kemudian, lalu aku melihat Bagas yang masih dibersihkan, termasuk perban kotor di perutnya, diganti. Tubuh Bagas basah dan kotor, terlebih dipeluk oleh orang gila.
"Seseorang berniat melukai dia," lirihku sambil mengintip wajah lebam Bagas.
Perawat menarik kain pembatas dan menutupi Bagas. Mereka mene..lanjangi Bagas. Aku melihat mereka menarik celana jeans itu sampai aku melihat da..laman bawah. Eric menatap tajam padaku dan menghalangi.
"Ya, kita tidak tahu, dia siapa dan berurusan dengan siapa." Eric lalu melewati ku. "Sepertinya, di mobilku ada baju dan sarung ... tunggu di sini, Lun."
...**...
"Bagas! tidak ... " merengkuh kepala Bagas yang dipenuhi cairan lengket merah di tanganku. Aku memeluk kepala Bagas. Matanya mendeli, lalu aku mengusap dengan jari-jariku yang gemetar hingga kelopak mata Bagas menutup.
Bahu ku terguncang, cairan beningku jatuh ke pipinya, " bangun Bagas ... " jariku merayap ke lubang hidungnya yang tidak bernafas.
"Jangan pergi ... bangun Bagas. Kau dengar? aku memanggilmu ... "
Aku tidak mampu meneruskan kata-kata yang belum terselesaikan, yang keluar dari mulutku hanya cegukan dan sesenggukan rasa sakit dari ulu hati.
Baru saja aku mengenalnya, baru saja dia minta tolong, baru saja kami mengenal ...
"BAGASS.....S ......"
Aku bergidik, jemari memeluk lengan, mimpi buruk menghantui pikiran ku. Menggelengkan kepala, menyingkirkan pikiran buruk, itu hanya mimpi. 'Bagas yang tidak selamat dari serangan senjata api' itu hanya mimpi. Atau ini, dampak dari suara tembakan kemarin! letusan itu terus menggema dan tidak bisa hilang dari ingatanku. Ya, karena itu aku jadi mimpi begitu, kan.
"Jangan tembak! Jangan tembak! jangan ....!!" Aku berdiri menghalangi tubuh Bagas, tapi, orang berpakaian serba penutup menembak Bagas dengan membabi buta. Saat aku berbalik, mulut Bagas mengeluarkan darah dan dia terkulai dalam pelukan ku.
"Melamun itu kerjaam kamu, ya?" Bagas di depanku, ketakutan ku tidaklah nyata. Bagas masih di sini.
Aku mendongak dan memperhatikan wajahnya yang babak belur. "Bagas, apa itu rasanya sakit?" menunjuk ke pipi.
"Kenapa? aku tidak apa-apa." Bagas tertawa kecil, tatapannya seolah-olah sedang memindai isi pikiranku.
"Bagas, ceritakan padaku, siapa yang menyerang mu?" Aku mematikan tv dan Bagas hendak menggosok gigi di westafel.
"Pagi, Lun ... " Eric keluar dari kamar menuju kamar mandi, tampaknya dia kesusahan, menahan untuk tidak menguap.
"Pagi, Eric." Aku menoleh ke Eric, yang berhenti untuk mengambil handuk. "Sikat gigi punyamu, sudah ku buang. Pakai yang baru."
Eric meraih sebungkus sikat gigi dari rak paling atas, di kabinet depan kamar mandi dan Eric ke kamar mandi.
"Hangatkan badanmu." Aku mendorong segelas susu yang masih mengepul ke depan Bagas yang baru duduk.
Pria itu secara elegan mengusap mulut yang basah dengan tisu yang kuberikan. Dia menatap mataku dan makin condong ke depan, sehingga aku dapat memperhatikan secara detail tingkat bengkak dan seberapa lecet di pipinya.
Tangannya meraba pipi ku. "Luna, jangan khawatir, ini tidak apa-apa."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments