Pria berwajah lebam sudah beberapa hari ini merongrong ikut ke toko. Pasalnya, aku takut bila ayah sampai tahu keberadaan pria ini. Lalu ibu tiriku akan memanas-manasi ayah untuk semakin membenciku.
Di depan rumah, aku memanaskan motor, otakku berpikir keras untuk menutup anggaran konsumsi.
Dengan adanya dia bakalan tambah pengeluaran. Bila dihitung-hitung, karena pemasukan toko bunga yang sepi, dan aku harus mengumpulkan biaya kontrakan toko.
Aduh Tuhan, aku tidak mengeluh. Tolong, beri jalan. Kembalikan ingatan dia, dan bawa pergi dia, karena aku tidak akan kuat menanggung biaya hidupnya untuk lebih dari satu bulan.
"Apa kamu ingat cara mengendarai motor?" tanyaku padanya, yang telah memakai helm.
"Aku tidak berani. Tolong, kamu saja ya?"
"Baiklah, cepat, kita sudah terlambat.”
Tangan besar itu menggenggam pinggangku. Ini lucu, kenapa aku merasa kikuk. Jantung berdebar, untuk pertama kali mengemudi untuk seorang pria. Aku mengemudi lebih berhati-hati karena badan tinggi dan berat di belakang.Dada panasnya yang menguar di punggungku, ini benar-benar menguji kesehatan jantungku.
Terlebih dia, orang asing yang aku tidak tahu asal-usulnya. Apa dia seorang buronan? atau penjahat? Kenapa ada orang yang berniat melukainya, atau jangan-jangan dia tero..ris?
"Mas," tanyaku untuk memecah kecanggungan.
"Ya, Lun?" jawabnya dan mendekat ke depan, jarak kami menjadi semakin dekat.
"Jika aku memberi mu nama Bagas gimana?" tanyaku sedikit berteriak karena desis angin mengganggu pendengaranku.
"Bagas? boleh Lun. Em, apa itu cocok untuk saya?" tanya dia dengan suara tinggi, suara gentle itu menyentuh relung jiwaku, aneh.
"Ya, karena kamu cukup tampan, jadi cocok lah."
"Saya tampan?"
Pertanyaan bodoh macam apa itu. Walau hilang ingatan apakah juga menghilangkan separuh otaknya?
Hanya mengukur tingkat ketampanan dia sendiri apa juga tidak bisa.
Aku menepikan kendaraan dan dua pegawai ku telah menunggu di depan ruko.
"Luna, dapat model dari mana." Tossa langsung mendekat dan memegang bahu Bagas, begitu pria itu turun dari motor.
"Jangan pegang-pegang sayang, kamu akan kenapasal pelecehan loh!" Aku menepis tangan Tossa, karena Bagas tampak kebingungan.
"Pelit! kau, Lun." Shelin menatap tidak berkedip ke Bagas. "Hai, mas, kenalin saya Shelin, kembang desa ini."
Aku dan Tossa tertawa menatap yang Bagas yang menanggapi Shelin.
"Aku gadis pintar, pintar dalam hal 'apapun'." Tossa tidak mau kalah pada akhirnya.
"Dih apapun. Hari ini kamu yang bersih-bersih ya, nyapu, ngepel dan mengelap kaca itu termasuk apapun, kan?" cibirku pada Tossa, dan ditanggapi goyangan pantat montoknya. Astaga, aku menutup mataku, memalukan!
Tossa tertawa. "Kamu mulai sewenang-wenang, Lun."
Mereka adalah teman kampusku dan kebetulan tinggal di kota di mana aku kabur menjauh dari kekerasan dari ibu tiri dan ayah.
"Mohon bimbingannya." Lelaki tinggi tampan bak model itu tersenyum dan menyusul di belakangku.
Sebenarnya, bila dilihat-lihat, dia seperti lelaki pintar dan berpengalaman. Namun karena hilang ingatan, dia jadi seperti orang linglung.
Pagi ini ada empat pesanan bunga papan. Jadi, kami mengajarkan Bagas cara merangkainya.
**
Jam makan siang telah terlewati, aku mengulas senyum teringat perilaku Bagas.
"Ewww, lidah terbakar!" Bagas mengibaskan tangan ke mulutnya pada suapan pertama, lalu memuntahkan seblak ke tisu, "ini Boom!"
Kami para wanita berpandangan. Tossa memberikan segelas air, dan Bagas menggelegaknya dalam sekali tarikan.
"Aku tidak makan itu Luna." Bagas, matanya sudah berair dan wajahnya berkeringat, memerah. Dia pergi ke toilet.
Aku terkikik dan Shelin yang memotongi daun yang berlebihan pada tangkai bunga menegurku. Kami selonjoran dengan keranjang bunga mawar di sekitar kami.
"Kau punya identitas Bagas, misal kalung? kita bisa posting itum Siapa tahu ada yang mengenalnya," kata Shelin.
"Tidak, dia hanya memiliki pakaian yang melekat dan sebuah sepatu," jawabku lesu, menatap nanar pada mawar-mawar cantik. Kasian juga Bagas.
"Eh, apa Bella belum kembali ke rumahmu toh? anu kalian selama tiga hari hanya berdua, malam-malam!?" Tossa melebarkan mata dan kami kemudian saling berpandangan sebagai tanggapan.
"Jangan berpikiran kotor ya. Aku masih perawan!" tegasku.
"Baguslah, saya akan mendekati dan memacarinya!" kata Shelin dengan penuh semangat.
"Hush! jika dia diburu orang, nanti kamu bisa kena! setiap malam aku merasa ngeri. Bagaimana bila sampai si penjahat datang ke rumahku lalu melukai kami," kataku dan bulu kudukku meremang.
"Kamu minta tolong Eric saja, biar dia tinggal di rumah Eric." Tossa berbisik dengan serius. "Aku takut dia hanya pura-pura hilang ingatan, padahal tujuan utamanya untuk mencelakai mu, Lun."
"Benar. Rumah kamu paling ujung dan dua rumah di sebelahmu kosong. Jangan-jangan kamu akan diculik, lalu di jual atau dimutilasi-"
"Shelin! keterlaluan sekali. Kamu, sedang mendoakanku apa?" bentak ku semakin merinding.
"Maaf Lun, kemarin aku baca artikel itu, modus baru."
Terdiam, kami mematung kembali pada pekerjaan kami.
"Badannya juga besar, apa kamu pernah melihat dia memilki tato? walau tampan tapi auranya tetap gelap. Kita tidak boleh terlalu menganggap enteng, tapi harus bersikap baik," kata Tossa.
Kami saling mengangguk sebagai persetujuan. Mobil bak terbuka berhenti di depan toko, Bagas turun dari mobil setelah ikut mengantar bunga papan, kami bertiga serentak mengamati tubuh Bagas tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.
Aku merinding, bagaimana nanti malam, apa aku akan selamat?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Alriani Hespiapi
lanjut
2022-10-19
0