PMDC 15 Luna

"Mari kita menikah, Lun. Aku tidak akan membiarkan seorangpun menyakitimu."

"Uh, Lihatlah kamu. Aku terluka dan kamu hanya memikirkan perasaanmu, Bagas. Menikah? apa tidak bisa lain waktu kamu menanyakan ini?" kesalku, menghentikan isak.

"Bukan gitu, Luna. Aku ingin melindungi dari para orang kasar itu."

"Dia ayahku, bukan orang kasar."

"Tapi sama saja-"

"Sakitt," aku merintih, "Jangan memegang punggungku, sakit ... Bagas."

"Sory! sory!" Dia mengangkat tangannya dariku dan aku menoleh ke kanan. "Boleh aku melihat luka di punggungmu?" Dia yang tidur miring menatap mataku begitu dalam.

"Tidak boleh! kamu laki-laki! itu tidak boleh Bagas," aku berkata dengan tegas. "Mengapa kamu tiduran di atas kasurku? ini tidak boleh," geram ku dan dia tertawa kecil dengan meringis.

"Aku, kan, menjagamu loh," dia tersenyum sangat manis dengan kedua tangannya memegangi tanganku.

"Menjaga dari!? menjaga itu di luar. Ya, bisa, kan? DI LUAR."

"Menjaga dari nyamuk Luna!"

"Oh ya? tapi, aku merasa tidak ada nyamuk?"

"Kalo begitu lalat."

"Lalatnya tidak ada?" Alisku dengan sendirinya terangkat.

"Luna." Bagas mengusap bawah kelopak mataku, bahkan aku sudah lupa aku baru menangis.

HA.. ha.. ha...

Rasanya aku ingin tertawa, tetapi hanya tertawa dalam hati, bagaimana mungkin bisa pria yang baru datang dalam hidupku ini, begitu usil, apa aku salah, dia memandangiku seperti layaknya karya seni, begitu tatapan matanya, seolah menelisik ke dalam diriku.

"Ini sakit pasti, apa dia sering melakukan ini?" tanya dia dengan serius dan kini mengelus rambutku.

"Aghhh!" Aku meringis kesakitan.

"Ini benjol Luna, lihat, oh apa dia manusia melakukan ini pada perempuan terlebih putrinya?" Bagas langsung duduk membungkuk, membelah rambutku.

"Aku tidak apa-apa, Bagas, seminggu juga akan sembuh," aku menatap celananya di depan mataku menghirup aroma tubuhnya saat dia membungkuk, aku yang tengkurab membuat gerakan ku kepalaku terbatas, hingga aku melirik tak jelas ke belakang. Dan hanya merasakan dia memilah-milah rambutku.

"Luna, bagaimana kamu yakin ini seminggu?"

"Ya, mungkin. Soalnya, sebelumnya begitu."

"Sebelumnya kapan?"

"Dua tahun lalu."

"Luna, apa dia sering melakukan ini?" Bagas duduk di lantai, dagunya bertopang pada kasur, rahang itu tampak mengatub seolah menahan marah.

"Bapak Bagas? Apa anda bekerja sebagai polisi?" aku mencoba, mengulas seutas senyuman, ketika dia mengatur rambutku ke belakang menjauhkan dari punggungku. "Mengapa terus mengintrogasi ku?" tanyaku menambakan setelah dia menggelengkan perlahan dengan tatapan intensnya.

"Aku penasaran, dan merasa tidak tenang. Dan itu kepala benjol tiga, apa karena itu kamu tengkurab?"

Aku menanggapi dengan kedipan mata perlahan, dengan tetap tersenyum. Dia tampak khawatir. Di satu sisi senang ada yang memperhatikanku, mencemaskan seperti ini. Jadi merasa terhibur.

Namun, tetap di sisi lain, aku tidak bisa berharap kepadanya. Dia bisa saja beristri. Dia seperti pandai berciuman, ya aku, tidak bisa mengukur untuk ukuran berpengalaman atau tidak, tetapi dia begitu luwes! pasti sebelumnya dia sering, kan?

"Bersiaplah, kamu masuk pagi, kan," kataku sambil mengusap pipi Bagas yang lebam itu, tampaknya itu bertambah goresan lecet entah oleh dua kali tamparanku atau karena pukulan dari kaki ayah.

Ya Tuhan, kini kami sama-sama lebam, dan aku menjadi tahu nyerinya seperti apa. Setelah lebih dari dua tahun aku tidak merasakan ini.

"Lalu siapa yang menjagamu? Bella kan juga kerja," Bagas meneliti pipiku yang lebam, dia meringis dengan sorot mata meredup menyentuh perlahan.

Kok, kami jadi saling sentuh pipi! ini seperti sepasang kekasih. Tidak. Tidak boleh, Luna!

Jika Bagas adalah suaminya orang. Oh tidak! aku bukan pelakor. Sontak aku menjauhkan tanganku. Bagas menjauhkan tangan juga, tetapi dia membawa tanganku dan berkedip. Dia mencium jemari tanganku, dan aku juga berkedip.

"Aku sendiri di rumah tidak apa, tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan menelpon mu bila terjadi sesuatu," kataku dengan serak."

***

Ketika Bagas dan Bella pergi bekerja, aku terduduk di ruang tamu memperhatikan pekarangan jati di depanku. Terkadang jalan buntu membuatku nyaman, karena tiada lalu-lalang kendaraan kecuali orang tersesat.

Aku membalas chat pada Shelin dan Tosaa, beralasan di luar kota. Dan aku menggunakan m-banking untuk membayar bunga-bunga segar, yang dua hari sekali datang.

Gerungan motor sport hitam, menggerung di depan rumah dan lalu mesin mati. Aku melirik jam dinding pukul sepuluh, dan melangkah tertatih karena sakit pada betis yang tergesek daster. Aku memutar kunci, begitu pintu terbuka, Eric mematung di depanku.

Kami beradu tatap sebentar, dia lalu melepas helmnya. Eric menyusul ku duduk di sofa coklat dengan memberi jarak sekitar satu meter dan menatap mataku dengan mulut membisu.

Cukup lama kami diam, mungkin lima belas menit, itu pertama kali kami sama-sama tidak mengeluarkan suara sampai selama itu.

"Luna." "Eric." Kami memangil bersamaan.

"Kamu dul." "Duluan." Kembali kami bersamaan.

Eric mengayunkan tangan, agar aku memulai duluan.

"Kemarin, aku mendengar pernikahan-"

"Luna," Eric menyela. "Untuk hal itu, sepenuhnya Papa yang tahu, dan aku hanya sedikit tahu, karena aku sempat menguping tanpa sengaja." Eric berkata dengan tatapan yang tidak dapat ku tebak, dia berbicara dengan tenang seperti biasanya.

"Jadi, apa yang kamu tahu? mengapa juga kamu menyembunyikan dariku? Apa ayah menjual-"

"Stop- apa yang kamu katakan? apa kamu percaya iblis itu?! bukan seperti itu, tidak ada yang seperti itu. Dan jangan lagi berkata yang seperti itu. Jangan juga termakan omongan iblis gila." Eric sedikit meninggikan suara.

Bibir pria itu, tampak sedikit tertekuk mungkin karena kekesalan, orang yang baru melihat wajahnya tidak akan menyadarinya, karena dia selalu menyembunyikan emosinya yang terlalu kaku. Tetapi, aku yang hampir 24 tahun mengenalnya, cukup tahu tampang tidak sukanya.

"Jadi ... ah, beri aku waktu, Luna. Sebenarnya, aku juga tidak terlalu tahu. Dan Papa masih belum memberi tahu alasannya, kamu tahu papaku seperti apa kan orangnya?"

Aku mengangguk, papa Eric yang pendiam, tegas, tetapi bila papanya tidak berkeinginan berbicara terlebih dahulu ... beliau tidak akan merespon. Entahlah, intinya, seperti itu. Yang aku tahu, sebenarnya jiwanya sangat lembut. Papa Eric pernah menolongku saat aku akan dipukul ayah.

"Dan, ayahmu sudah pulang ke rumah. Dia hanya dimintai keterangan sebagai saksi, sambil kita menunggu hasil visum keluar. Tenang, Luna, pamanku menjamin, bahwa ayahmu tidak akan berani untuk mendatangimu sementara. Jangan takut ya?"

Aku mengangguk tersenyum, merasa sedikit lega, aku tidak membayangkan bagaimana murka ayah bila bertemu, aku belum siap, membayangkan membuatku bergidik.

"Apa kamu sudah minum obatmu, Lun?"

"Sudah, barusan. Terimakasih Eric, kamu selalu datang, saat ayah menghukumku."

"Luna, itu bukan menghukum, melainkan itu kekerasan. Cinta tidak menyakitimu, orang yang tak tahu cintalah yang menyakitimu. Jangan menyamakan cinta dengan kekerasan."

"Eric ... "

"Jadi, apa Bella masak? aku lapar bukan main." Eric berlalu ke dalam. Aku termenung dan ersenyum tipis, kemudian menyusul Si sahabat kecil.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!