PMDC 4 Luna

"Anak Ja..lang buka pintu!!!"

Aku telah siap membawa tas yang menggantung di bahu. Begitu pintu berderit terbuka dan hantaman keras mendarat di pipi ku.

"Tante!!!!" aku mengelus pipi yang panas nyeri, berikutnya tamparan akan melayang lagi dan aku memejamkan mata.

"Siapa kamu, lepaskan tanganku!" Tante Andien berteriak, jadi aku langsung membuka kelopak mata, dan menemui Bagas menahan tangan ibu tiriku di udara.

"Anda bisa berbicara, tanpa bermain tangan. Saya tahu anda wanita, tapi jika sekali saja sampai anda melukai Luna, saya sendiri akan membuat sama seperti dia." Bagas menggeram dan melempar tangan ibu tiri.

"Mah, Lihat. Ja..lang ini, kumpul kebo." Anton memegang bahu mama tiri. Dan bibir tante Andien berkedut, sepertinya dia bersiap mengumpat seperti biasanya, tapi dari cara dia menatap Bagas, ibu tiri hanya diam saja dan sering menatap ke arah Bagas.

"Kau," ibu tiri berkata dengan penuh penekanan maju dua langkah sangat dekat tapi dihalangi tangan Bagas. "Awass, lihat nanti kau bisa apa?" dia tertawa dengan sinis dan meninggalkan kami di ikuti Anton.

Bagas mengelus bahu kiriku. Dan begitu mobil itu menghilang dari pelataran aku menutup wajah dengan tangan, menahan beban mentalku yang terlanjur lelah.

Setelah kematian Ibu, mereka tidak pernah berhenti mengganggu, bahkan Ayah tidak pernah mempedulikan ku.

Aku merasa seperti anak terbuang, yang tidak diinginkan ayah. Begitu sakit, dan mereka selalu punya cara untuk membuat ayahku semakin muak hanya dengan mendengar namaku.

**

Desisan angin membawa harum mawar merah, mawar putih, kenanga, dan pandan yang menguar saat aku menaburkannya di atas pusaran ibu. Tangan kiri menyentuh batu nisan ibu, telapak tangan menyusuri tekstur kasar sepanjang permukaan batu.

Ibu Kamila, Luna di sini. Tiga tahun kepergian ibu ... dan Luna sangat merindukan ibu ... Sekarang ibu bahagia di sana, tidak perlu merasakan kekerasan yang dilakukan ayah. Maafin Kamila Ibu, semua gara-gara Luna ...

Sebuah tangan mengelus bahuku, lalu membantu aku berdiri. Kami berjalan menjauh. Sekali lagi saya menoleh, melihat ke pusaran ibu yang berada di bawah pohon besar. Di pintu gerbang kuburan, aku membasuh tangan, kaki dan wajah, begitu juga Bagas ...

"Sepertinya saya bisa menyetir motor, Lun, biar saya saja." Bagas memakaikan helm ke kepala ku, saat itu aku hanya diam tidak menjawab, pikiran terus melayang pada hari naas kematian ibu.

Ternyata Bagas berkendara dengan sangat baik. Setelah turun naik bukit, dia menepikan motor masuk ke jalan di depan bendungan. "Lun, kita istirahat sebentar ya?" Dia melepas helmku dan menarik ke pinggiran bendungan. Dia duduk di atas rumput hijau dan bersandar di pohon dengan sedikit tersenyum.

"Luna, saya akan mencari pekerjaan di sekitar rumah." Dia menepuk tanah di sisi kanannya. "Duduk, Lun ... "

"Kerja? kamu tidak memiliki identitas, Bagas." Aku melepas selop untuk alas duduk, "sepertinya sulit."

"Aku akan berusaha Luna." Dia melempar kerikil ke bendungan.

"Coba, nanti saya tanya Erich." Aku menatap bendungan, orang-orang sedang memancing di seberang, beberapa ibu terlihat menggendong anaknya.

"Apa Erich pacar mu, Luna?"

Tersenyum, aku menoleh ke dia, bulu matanya sangat lentik, dan langsung tertawa. " Dia teman dari TK."

"Sepertinya, dia menyukai kamu, Lun."

Semakin tertawa mencubit lengan Bagas, "enggaklah, dia memang seperti itu, mamanya dan mamahku berteman sangat dekat. Namun, saat kami kelas 6 SD, mamah Erich serangan jantung dan nyawanya tak tertolong meskipun dibawa ke rumah sakit."

"Jadi, Mamah ku menganggap Erich seperti anaknya sendiri. Karena itu kami menjadi semakin dekat, apalagi saat kematian Ibuku ... " suara ku melemah. Memejamkan mata saat teringat dengan kemarahan ayah.

"Anak tidak tau diuntung! kau membunuh Kamila ku!!" Makian ayah terus terngiang-ngiang. Dia menyeret ku dari ruang tengah sampai pintu depan dan membanting pintu rumah. Dalam hujan deras petir aku berlari tanpa arah, keluar dari halaman rumah.

"Luna, ibu kamu namanya Ibu Kamila? nama yang indah, maaf aku tadi sempat melihat di batu nisan." Bagas dengan nada merasa bersalah.

Aku menoleh ke kiri, dan mengangkat dua sudut bibirku. "Ya, nama yang indah. Ibu sangat cantik sesuai namanya, membuat ayahku begitu tergila-gila."

Satu alisnya terangkat, "jadi, di mana ayah kamu, Lun?"

Senyum ku memudar, pertanyaan itu seperi petir di siang bolong.

Kringggg ....

Mengalihkan pandangan dari tatapan Bagas yang sangat dalam. "Halo..." aku kembali menatap Bagas yang menatapku sangat dalam, netra itu sangat indah menghipnotis ku.

"Lun, ada pesanan tambahan untuk besok, apa kamu besok ikut mendekor gedung?" Tossa bertanya, dengan di belakangnya suara Shelin yang tengah tertawa, "ikut Lun, Bawa sekalian babang Bagas!"

Tersenyum. Pada saat yang sama, aku merasa wajah Bagas semakin mendekat. Atau hanya perasaanku saja, tidak, wajahnya memang mendekat menyisakan satu jengkal. Bibir Bagas yang panjang seksi; dan semerah cherry; itu tersenyum, aku semakin membeku begitu kagum.

"Lun, ikut tidak? jika kamu tidak bisa, aku mencari tambahan pekerja lain?" Tossa mengencangkan suara.

Sontak aku menunduk menghindari tatapan Bagas, "ya, saya ikut dengan Bagas. Perhitungkan, bila masih memerlukan tambahan pekerja ... " dengan gerakan tajam aku mendongak karena bayangan gelap.

DUK!!!

"Aghh!"

"Bagas, sorry!" dengan gugup aku memegang hidung itu sepertinya dia kesakitan. Bagas menarik kepalanya menjauh dan memegangi hidungnya.

"Kenapa Lun? eh ada suara Bagas, ya!? aku mau ngobrol dong?" Tossa bersemangat.

"Tossa, nanti aku telpon lagi."

"Tapi-"

BIP - Saya meletakan ponsel di tanah. Dengan perlahan menyentuh dagu Bagas yang masih meringis. "Ya ampun berdarah."

Mengobrak-abrik tas, aku memuntir tisu dan menusuk ke lubang hidung dia. Meraih tisu kecil di paha Bagas, dan membantu mengelap tangannya yang terkena darah, aroma logam sangat amis ... menyemprot tangan Bagas dengan Hand Sanitizer.

"Aku tidak apa-apa Lun." Dia menahan tisu di hidung kirinya dengan mendongak.

"Pakai acara dekat-dekat, sih? jadi kena deh." Aku duduk di tepi kanan Bagas menatap Bendungan lagi.

"Aku mau mengambil daun di rambut kamu, tapi kamu tiba-tiba bergerak tanpa bilang-bilang." Bagas menarik rambutku. Tangannya menarik ujung tangkai daun yang terkunci di rambutku, "nih."

"Ah ! makasih. Kamu jadi, berdarah," wajahku menghangat karena malu sudah marah-marah, ternyata dia hendak membantu.

Bagas menoleh ke arahku, dia tersenyum. "Telepon soal pekerjaan? ada lowongan buat aku, Lun?"

Aku mengangguk dan tersenyum, "memasang dekor, pasti kamu bisa, mudah kok, kemarin kamu sudah belajar."

"Huh yes," dia berdiri dan menjauh, "sebentar Lun, saya ingin buang air kecil." Dia langsung setengah berlari semakin menjauh.

Ya, ampun. Para lelaki begitu mudah buang air kecil di tempat terbuka? waktu berlalu, aku menunggu cukup lama. Menggulir di layar ponsel, berbagai desain dekorasi untuk besok, "syukurlah ada tambahan."

Dooor!!

Hp ku terlepas dari tangan, menoleh kanan kiri dan ke belakang. "Bagas ... " Aku meraih ponsel dan tas, langsung berlari, tampaknya orang-orang juga bingung.

"BAGAS...S !!!" Aku terus berteriak, sampai orang-orang menghampiri. Lalu dibantu orang-orang masuk ke dalam perkebunan jati mencari Bagas saat daun berderak di bawah pijakan kami yang berpencar.

Gelisah, aku mulai tidak tenang, karena suara tembakan tadi. Bahkan, sekarang, Bagas sudah menghilang lebih dari satu jam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!