“Apa harus sekarang?” Aku berdiri menghadap Eric dan dia menganggukkan kepala. Kami membisu diantara desisan angin, untuk menunggu Bagas turun dari pohon mangga.
“Luna,” Bagas terengah-engah dan membungkuk bertumpu pada lutut. Mengulurkan tas padaku dan aku menerimanya. Ekspresinya lalu berubah, saat mendapati Eric melirik jam tangan. “Apa kita mau pergi? Ayo.”
“Tidak, Bagas." Eric menyingkirkan tangan Bagas dari bahunya, lalu menarikku. “Bukan kita bertiga, melainkan hanya aku dan dia."
“Kami hanya sebentar, ada perlu,” kataku dengan hatiku bergetar.
“Tidak, Luna. Kita akan pulang malam.” Eric menegaskan dan wajahku menegang.
“Kemana kalian pergi?” Bagas menajamkan mata ke arah tanganku dan Eric. Dia meringis menggertakkan gigi, sehingga aku menarik tanganku untuk terlepas dari genggaman teman kecil dan menjauh.
“Ini tentang pernikahan kami.” Kata-kata Eric setajam sambaran petir di siang bolong.
Apa Eric sengaja atau memang tidak peka. Atau juga si teman kecil tidak tahu. Di sini otot-otot tubuhku makin menegang. Sementara, Eric memasang wajah dingin kutub dan tanpa ekspresi.
“Pernikahan!? Apa kamu memaksanya?” Bagas dengan nada tinggi. Keningnya mengkerut. Dari matanya kilatan api seperti berkobar. Eric pakai acara membahas itu di depannya.
“Bagas, dengan berat hati harus ku katakan: ini bukanlah urusan orang luar." Rahang Eric mengeras.
“Orang luar?!!” Bagas menggeram. Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal dan dingin merayap di punggungku.
“Bagas, aku akan menelpon mu.” Menatap ke dalam netra deepblue yang meredup. Padahal, aku tidak perlu menjelaskan padanya, karena aku dan Bagas tidak memiliki hubungan. Kenapa aku merasa seperti dituntut mempertanggungjawabkan ini dengannya.
Secara skeptis aku meninggalkan Bagas. “Eric, cepat.”
Tidak sanggup menoleh ke belakang pada Bagas. Atau aku lebih dihantui oleh perasaan bersalah.
**
Hari telah gelap ketika mobil menepi di depan rumahku. Begitu letih, tubuhku seperti dipukuli, setelah pergi ke tempat kakek Eric di kota sebelah.
“Apa kamu bisa menerima teleponku, nanti malam?” tanya Eric menatap ke depan ke pekarangan.
“Aku akan langsung tidur, kau tahu ini melelahkan.” Aku masih bersandar di pintu mobil. Menahan kepayahan dan nyeri dari siang, karena Eric tidak memberi tahuku akan pergi lama sejak di rumah. Alhasil aku tidak membawa obatku.
“Tolong persiapkan pertemuan keluarga minggu depan. Selamat malam, Luna.” Eric menekan tombol di kanan dan bunyi “Klik” pintu mobil sudah tidak terkunci.
“Iya, aku mengerti, Eric. Semoga kamu mimpi indah.” Aku menarik gagang pintu, melompat keluar dan menatap dia putar balik.
“TIN”
Dia menekan klakson dan roda mobil melindas jalanan aspal yang berlubang. Seiring berjalan, perlahan kaca mobil tertutup. Mobil hilang di ujung jalan.
“Seandainya aku memiliki perasaan padamu, semua pasti akan lebih muda, Eric.”
Tanganku mengulurkan kunci, sedetik kemudian pintu terbuka. Bagas yang membukanya. Wajahku menegang, kepalaku seperti dijatuhi buah jatuh dari ketinggian.
Mataku membeku menatap netra deepblue yang begitu dekat. Benar, aku harus memundurkan kepalaku ke belakang dan menatapnya. Es biru cair … dia terbakar, tatapannya yang membakar dan mengalir padaku. Dan entah kenapa membuatku pusing. Dia menghimpit ku dan menahan pinggangku dengan jari-jari panasnya.
“Punggung-ku sakit,” aku mengi oleh rasa takut yang menyelimuti. “Kenapa kamu di sini, belum tidur?” aku bergidik saat dia kembali mendekati wajahku.
Oh bukan. Dia yang membuatku untuk mendekatinya dengan cara menarik bahuku ke depan, hingga punggungku tidak lagi menekan kusen.
“Apa dia memegang mu?” Dia menatapku seolah ada kecemburuan di sana.
“Dia? Eh? Maksudmu Eric, ya!? Tidak.” Aku menggelengkan kepala dengan cepat, dan tidak mengerti secara spesifik apa yang dia maksud dengan memegang.
“Apa dia memaksamu?”
“Bagas, sudah. Apa perlu kita membahas ini, siapa kita? Apa perlu aku menjelaskan semua tentang aku dan Eric?” dengan loyo aku mendorongnya. “Aku benar-benar lelah dan ingin tidur,” meninggalkan Bagas yang mematung di pintu, rasanya aku ingin menangis, tetapi itu tidak mungkin sekarang, ada Bagas yang bisa mendengar ku lalu bertanya kenapa aku begini dan begitu.
Keluar dari kamar mandi. Aku meliriknya yang duduk di meja makan sebelum ke kamar saat dia menatapku. OH! Tatapan kesepian itu lagi. Aku menghela nafas sesak, ingin punya waktu sendiri, tapi tatapan itu seolah tidak mengijinkan ku untuk mengabaikannya.
Aku tahu sadar betul dia sendirian tidak memiliki keluarga! Dan aku menjadi marah pada diri sendiri, lelah …
Ke luar dari kamar, telah berganti piyama ketika aku melirik jam sepuluh malam. “Katanya mau nonton? ayo!” melangkah ke tangga, dan dapat ku tangkap ekspresi dia yang tersirat kegembiraan.
Di lantai atas, kami duduk bersebelahan memunggungi jendela.
Jadi Film itu bercerita tentang hubungan suami istri yang telah memiliki putri, tapi semenjak kecelakaan menimpa sang istri, ingatan si wanita kembali pada saat sebelum menikah.
Dan itu hilang ingatan yang langka, dan setiap hari saat bangun tidur ingatan si wanita selalu kembali ke masa muda. Jadi, sang suami berjuang saat sang wanita bangun, lalu mulai memperkenalkan kehidupan pernikahan berserta anaknya.
Terkadang si wanita itu menerima dan hari itu berlalu baik-baik saja. Namun, terkadang wanita itu tidak percaya dan menyerang sang suami, mengira bahwa pria itu hanya mengarang dan berusaha menyakitinya.
“Kenapa miris, si?! Kasian,” aku berkomentar dan sedetik kemudian membeku karena adegan ciuman.
Pipiku memanas, mengapa harus adegan seperti itu. Dingin menggigit tengkukku saat dia membawa tanganku ke pangkuannya. Tidak lama aku menarik tanganku dan menatap jemariku dengan ternganga, sebuah cincin melingkari jari manisku, cincin longgar.
“Apa ini?!” aku meringis menoleh padanya dan dia melahap bibirku. Aku terisak dalam sensasi kegembiraan. Namun, aku tidak membalasnya. Netranya makin gelap di cahaya redup dari tv. Dia begitu rakus, sedikit kasar dan sedikit menggigit bibirku.
Dalam setengah bingung aku tidak menolak seolah dari dalam diri berteriak bahwa aku menerima segalanya, tetapi semua perkataan Paman Andra dan kakek Eric juga berputar-putar di kepalaku, mengacaukan kebebasanku memilih cinta.
Bagas adalah sosok yang tidak dikenal datang tiba-tiba. Namun, bersamanya aku merasa menemukan seutuhnya diri saya. Bolehkah sekarang aku mengakui walau itu mungkin menyakitinya dengan kenyataan pahit dua bulan lagi.
Aku harus jujur padanya dengan begitu tidak akan pernah ada perasaan sesal. Dia berhak tahu apa yang kurasakan tentang Cinta ini.
Ciuman itu semakin menjadi panas, saat Bagas mulai meninggalkan bibir dan membasahi leherku dengan lidah panasnya yang mengukir pola-pola aneh yang mengejutkan dengan sensasi luar biasa.
Dia mulai melepas dua kancing teratas dasterku . “Tidak Bagas,” sergahku, terengah-engah. Sampai aku melupakan nyeri pukulan ayah tampaknya karena bersemangat menuntut ingin merasakan lebih. Tidak. Aku mencoba mengingat pesan ibu. Mahkota wanita adalah segalanya, untuk hanya suami, itulah haknya.
Aku menarik dasterku menutupi dengan dua tangan. Dia duduk tegap lagi dan mengecup pelipisku.
“Aku tahu artinya sekarang, Luna. Kamu tidak bisa membohongi perasaanmu. Dan kamu merasakan sama sepertiku.” Dia menyeringai dengan mata berbinar.
Mencoba mengatur nafas, aku membelakangi dan mengancing kembali daster, yang sedikit kebesaran. “Lalu apa mas? Jika iya. Apa itu berpengaruh?”
Ketika aku berbalik badan. “Ya, aku memiliki perasaan padamu,” kataku dengan yakin.
Dia meraih kepalaku ke dadanya dan mengusap pucuk rambut dengan hati-hati di titik yang tidak terdaoat benjolan di sana. “Aku akan berjuang untuk kita, Luna, apapun caranya.”
Menelan saliva, aku mengapresiasi semangatnya, tetapi dia belum tahu berurusan dengan siapa. Nah, bagaimana aku dengan ikatan seperti ini dengan Bagas, kemana akhirnya!?
“Saya tidak akan kalah dari Presdir Andra,” dia menambahkan dengan nada bariton yang membuatku merinding. Darimana kepercayaan besarnya. Luar biasa ini aku jadi bersemangat, untuk setidaknya malam ini.
Tubuh panasnya di punggungku seolah mengobati luka-luka fisik di tubuhku. Sepertinya bukan dia yang panas, tapi tubuhku yang sangat panas, seolah api membakar, atau mungkin kami sama-sama panas. “
Aku menyayangimu, Luna,” mengecup rambutku perlahan. “Jangan meragukanku.”
.
Tawa yang tenang dengan nada kecemasan adalah hal terakhir yang kudengar sebelum tertidur. Aku hanya ingat bagaimana awalnya aku mencoba meninggalkan ruangan ini, lalu Bagas menahanku, duduk di sebelah. Bagaimana kami tanpa pamrih berciuman, dan kemudian aku merasa sangat mengantuk sehingga tertidur.
Terutama ketika aku memiliki rasa nyaman yang sama sekali berbeda dalam rencana hidupku. Dan aku terbangun dalam isolasi yang indah di sofa yang tampak seperti pasangan kekasih. Bagas menutupi wajahnya dengan tangannya saat aku memeluk perutnya dengan kakiku berada di pangkuannya.
Astaga.
Seutas senyuman terukir, aku tidak mempercayai apa yang ku katakan semalam. Hingga di meja makan pagi, aku terus tersenyum.
“Hei, apa ini?” Bella yang baru pulang dinas malam, dia seorang perawat. “Hayo, apa ada sesuatu? Katakan padaku Luna!”
Aku menggelengkan kepala. “Tidak, aku hanya harus ke gedung siang ini.”
“Luna, kamu terus tersenyum sendiri, apa perlu aku membawamu ke seorang teman yang adalah psikiater? Tampaknya kamu sangat terguncang karena ayahmu, nah?!” Bella bertanya dengan raut serius.
“Tidak Bella! Aku baik-baik saja.” Mataku melotot seketika begitu mendapati Bagas keluar dari pintu kamar. Wajahku menghangat karena rasa malu sudah menenggelamkan ku, “Aku lupa mengechas!”
Berlari ke kamar dan aku berniat menutup pintu. Melirik dia yang mengedipkan mata nakal dan mataku kian membulat. Sedangkan Bella geleng-geleng kepala untuk naik ke lantai atas.
“Sayang … aku merindukanmu,” bisik Bagas di dekat pintu setelah mengetuk pelan.
Walau derap langkah kaki Bella sudah menaiki anak tangga beberapa waktu lalu, tetapi Astaga! Berani sekali dia mengatakan itu. Bagaimana jika Bella dengar, aku menjadi berdebar-debar.
Sejak aku bangun dan meninggalkannya. Kemudian berusaha untuk menghindarinya. Demi apapun aku sangat malu! Tidak ada tempat untuk perasaan ini. Aku tercekik karena gelombang kegembiraan yang baru melonjak ketika aku ingat ciuman itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments