PMDC 19 Luna

Dekorasi gedung sudah hampir delapan puluh persen, ketika aku memutuskan pulang kerja lebih awal. Jantungku berdebar bahkan semenjak Bagas menelpon akan datang menjemputku.

“Mas, kita mampir toko bahan kue dulu ya,” aku menurunkan pandangan pada dada Bagas, “ nanti jalan lurus saja.”

“Iya, sayang.” Bagas melembutkan suara dan mengancingkan helmku. “Mau kemana pun ayo mas antar,” mengusap daguku dengan jempolnya, “jangankan toko kue. Keluar kotapun ayo mas antarkan.”

Bibirku mengatub, menahan untuk tidak memerah saat darah terasa mengalir ke wajahku dan pipiku menghangat. ”Apaan sih, gombalnya, idih!” menyingkirkan jempolnya, "malu dilihat orang, mas."

“Bener loh, apa perlu dibuktikan?! Ayo ke kota sebelah.” Dia menyeringai dan menaiki motor.

Aku menggelengkan kepala dan tertawa pelan. “Sudahlah cepat, keburu tutup.” melirik jam tangan tangan, " hampir jam delapan, mas.”

“Pegangan. Nanti kebawa angin." Bagas yang mulai menjalankan motor, menarik tanganku  dari belakang dan membawa ke perutnya.

“Mana bisa angin bawa orang, kecuali angin ribut,” gumamku, mematuhi memberikan tangan lain, tapi menjaga jarak untuk tidak menempel ke punggungnya.

Menyusuri jalanan, dan lampu kota, setelah sempat mampir toko kue, kami menikmati malam yang ramai anak muda berseliweran.

Sesekali Bagas menangkupkan tangan di lutut kiriku, membuatku merinding dan merasa kikuk. Terkadang dia mengobrol tetapi suaranya kalah oleh desisan angin, hingga aku tidak menjawabnya.

Perlahan aku menyandarkan kepala pada Bagas dan memeluknya, ini yang selama ini menjadi impianku.  Aku mencoba mencubitnya dan dia menangkup lenganku. Apa seperti ini rasanya pacaran. Satu tangan kami saling meremas di depan perutnya. Seolah dunia cuma hanya ada kami berdua dan aku makin bersemangat, hingga tanganku tidak bisa diam dan menepuk pahanya dan mengganggu dia mengemudi. Rasanya seru juga memiliki pacar ya. Bibirku meregang membentuk senyuman.

Tuhan, aku malu, apakah aku seperti kecoak menjijikan, apa aku sangat kecentilan. Namun, saat aku memeluknya, kebahagiaan itu meleleh di dalam, aku merasa bersyukur karena merasakan ini. Terakhir kali aku merasakan ini adalah saat aku berlibur dengan ayah dan ibu, mungkin saat aku belum masuk TK. Mengapa perasaan ini datang dari orang asing.

Seandainya aku tahu siapa keluarga Bagas, mungkin aku bisa membela Bagas di depan ayah, dan meyakinkan ayah, bahwa aku ingin menikah dengan Bagas.

“Motor siapa, Lun?” dia mematikan mesin motor dan aku mengambil belanjaan dari gantungan hingga tidak sengaja menyentuh pahanya yang hangat.

“Pacar Bella, uya selalu datang pas malam minggu,” melepas selopku saat Bagas meraih belanjaan dariki. “Aku yang selalu menjadi obat nyamuk mereka. Mengesalkan.”

“Sekarang, sudah tidak, ya? kan kamu sudah ada aku.” Bagas tersenyum sangat manis. "Apa kamu mau mengenalkanku sebagai pacarmu!?”

Aku mengangkat bahu, “haruskah mas?” melepas helmku.

“Semua pasangan bukannya begitu, mengenalkan kekasih mereka!?” dia meraih pinggangku ke perutnya dan  kening Bagas berkerut, “apa kamu malu memiliki pacar orang biasa seperti aku?”

Menggelengkan kepala, aku getir dengan kenyataan kami, “kenapa aku malu? Hanya saja-”

“Sayang, setidaknya di depan Bella. Dia satu atap, jadi biarkan dia tahu. Dan aku tidak mau terus main kucing-kucingan.” Dia menuntut,  mengecup bibirku dengan kasih sayang. Ciuman ringan di antara lidah panas kami.

“ASTAGA! Kalian!!!” pekikan Bella. Aku menoleh ke Bella yang memegang panci.

“Sejak kapan kamu di sana, Bell!?” Jantungku hampir-hampir jatuh ke lantai, merasa tertangkap basah. ADUH! Apa yang akan dipikirkan Bella.

“Ya, kami. Kamu sudah melihatnya, Bell. Kami tidak perlu menjelaskan lagi.” Bagas mengecup telapak tanganku yang, akan menyingkirkan kepala Bagas untuk menjauh.

“Bagassss,” aku mendorongnya dan  makin berdebar. Bella mengerutkan kening, seolah dia meminta penjelasan.

“Tunggu, Luna sayang.” Bagas menghela nafas panjang saat aku meninggalkannya untuk berbicara dengan Bella.

Teman wanitaku yang wajahnya tampak tidak senang dan pergi menaiki anak tangga. Aku menyusulnya dan dia memojokanku ke ruang setrika.

“Bagas?!” Bibir teman berkedut.

"Ya, Bel." Menganggukkan kepala, aku mendorong pintu agar tidak ada yang mendengarnya.

“Apa ini alasanmu bersikap aneh tadi pagi? Selalu menghindari dia, apa kalian pacaran? Jangan bilang  dugaanku benar!? Tidak kan?!” Bahu Bella merosot, seolah tidak percaya.

“Itu benar-”

“Luna!” bentak Bella. “Oh astaga ini tidak boleh! tidak benar! Putuskan dia.”

“Tidak, Bel.” Menggelengkan kepala, mataku berputar mencari jawaban. “Aku- menyukainya.”

“Tidak boleh!” Dia mendesis.

“Kenapa? kan! aku yang menjalaninya, Bel.” Aku merengek lalu menggigit bibirku mulai kesal.

“Karena kamu dan Eric, ya itu,” mata hazelnya menusukku. “Bagas itu bukan orang yang kita kenal. Bisa saja dia penjahat yang kabur dan memperdayaimu. Kau lihat?! Tampak dari perilakunya bukan seperti orang bodoh atau jangan-jangan dia pura-pura amnesia-”

“Stop Bell!”

“’Ingat Luna! Aku mengingatkanmu,” dia mengguncang bahuku berkali-kali, “mau kamu, kemanakan Eric?!”

“Aku tidak mencintai Eric dan tidak berdebar dengannya! Mengapa kamu ikut campur?!”

“Aku peduli padamu!” Dia membentak dengan suara di atas biasanya. “Aku peduli!”

“Aku tak butuh peduli mu! Aku butuh tempat yang membuatku nyaman, kau tahu? Berapa tahun aku selalu kesepian? Bahkan aku tak pernah pacaran saat mereka selalu malam mingguan. Saat kamu membawa Arya kesini, kamu tahu??? Aku juga iri, ingin tahu rasanya malam minggu!”

“Kau bisa dengan Eric!” Wajah Bella menegang. “Dan dia calon suami mu! Kamu mau mempermainkan Bagas!?"

"Aku serius dengan Bagas."

"Kamu dan Eric akan melangsungkan pernikahan! itu masalahnya. Sssah! Sadarlah! Pakai otakmu!  Lalu, mau kamu kemanakan Bagas!? Mau membuangnya!? Atau mau selingkuh di belakang Eric, setelahnya?!!” Bella menggelengkan kepala. “Aku tahu rasanya itu, tapi pikirkan jangka panjang!”

“Aaa-ah!!’’ Dadaku terguncang aku menyentakkan tangan.

Aku menutup wajahku, sepenuhnya perkataan Bella benar.

Bodohnya aku.

“Putuskan dia malam ini,” lirih Bella menyarankan, aku meremas wajahku dan menatap tajam Bella.

“Tidak! Yang ku inginkan Bagas!” aku berteriak dengan marah.

"Per..setan dengan Bagas, Lun!"

“Apa tidak boleh memilih pilihanku sendiri?” suaraku bergetar dan menghirup oksigen dalam-dalam, “aku akan menemui paman Andra dan menolaknya!”

“GILA,” geram Bella, dan menjatuhkan pantat di kasur single bed size. “Gila.”

“Jika ini pilihanmu, terserah, kamu yang bikin Bagas dalam bahaya!” Dia menghela nafas kasar tampak kesal.

“Ayah Eric akan begitu mudah membuat Bagas lumpuh, apalagi dia bekerja di sana.  Bisa saja dia mendapat masalah serius atau fitnah keji.” Bella menurunkan suara menunduk- melihat tangan sendiri di pangkuan, seolah dia berpikir dalam.

Pintu terbuka, Bagas berdiri menatap bergantian ke arah kami.

“Aku bisa menjaga diri.” Suara Bagas mengejutkan kami. “aku menyayangi Luna,” menghampiriku dan aku gemetar. Bagas berdiri di sebelahku, dengan lengannya melingkari punggung saya. “Aku bukan pengecut. Aku tidak menyerah pada ancaman, bahkan sekalipun aku kehilangan nyawaku, Bella.”

Teman wanita memutar bola mata malas dan menggaruk hidungnya. “Luna, apa kalian akan membuat Eric tahu ini? Kalian kejam ya? terutama kamu, LUNA.” Bela berdiri dan menggelengkan kepala, dia keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban.

“Arya bawa sate. Kalian, cepat bergabung,” kata Bella dengan nafas masih naik turun saat di ambang pintu.

Aku termenung saat Bagas mengangkat dagu saya untuk menghadapnya yang masih memasang wajah santai.

Bagas seperti tersenyum, yang benar saja, apa ini lucu baginya? Dan dia semakin jelas memasang senyum hangat dan tatapan kasih sayang. “Mas, ada apa denganmu?! Apa kamu mendengar semuanya?”

“Ini manis,”  katanya bersemangat dan mata berbinar.

Aku menggelengkan kepala, “kamu bisa terluka dan kamu bilang manis?!”

“Kamu manis karena sudah mau mengakui perasaanmu di depan temanmu,” menarik pinggangku. "Terimakasih, aku bahagia karena ini. Selain itu, aku tidak peduli. Hanya itu yang penting bagiku.” Dia memelukku perlahan dan aku menjadi gila dalam kebingungan perkataan Bella.

“si..alan!" Arya memekik “Kau jago sekali!” bangkit dari duduknya. Memutar pinggang sesaat dan duduk di sofa, "Sssh, aku kalah terus, bro!!”

Bagas menggigit bibir dan mengatur papan catur lagi di atas meja kaca. aku tersenyum hangat pada kedipan mata Bagas, seolah dia menampakkan perasaan bangganya.Ya, benar kata Arya, pacarku jago catur, aku baru tahu ini.

Mengapa aku merasa bersalah pada Eric. Lagian aku dan Eric hanya teman. Memang, semenjak ada Bagas, Eric tidak datang malam-malam lagi, dan sudah jarang telepon saat malam.

Bahkan hari ini, dia belum telepon seperti biasanya, tapi kenapa?

Bella bersikap biasa saat di depan Arya. Namun, dia terus menghindari aku dan Bagas. Dan dia memandang seperti jijik padaku. Aku memang seperti kecoak, kecoak yang berusaha mengejar cinta.

APA ITU SALAH!?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!