Tidak bisa ku ingat kapan ayah mulai main tangan, -dahulu ayah yang begitu perhatian pada sekecil apapun luka yang kualami.
Namun, suatu ketika saat aku masih sangat kecil, ibu menangis histeris sampai aku menjadi ikut menangis hanya karena mendapati ibu yang mengeluarkan air mata, seakan hatiku benar-benar mengalami apa yang ibu ratapi.
Tidak tahu apa yang membuat ibu menangis, tapi lalu seorang wanita seusia ibu datang membawa seorang anak yang tingginya diatasku sedikit. Ya, wanita itu Tante Andien dan anak itu Anton-kakak tiriku.
Hingga aku tak tahu, mengapa ibu membawaku meninggalkan rumah kami, rumah masa kecilku, rumah yang kini ditempati tante Andien. Dan terus tidur di rumah ini yang adalah rumah nenek. Dan sampai kematian ibu, aku juga tidak berniat kembali ke sana, seolah banyak duri dan kegelapan dalam rumah yang dulu selalu indah dengan senyuman ayah dan ibu, tapi waktu merampas itu semua dariku!
Meskipun saat itu ayah tetap sering datang ke rumah ini, tapi ibu mulai sering menangis, bahkan setiap ayah pulang, terkadang suara keras, mereka saling berteriak di balik pintu, bahkan suara mengerikan entah itu benturan atau bantingan atau apa, karena aku hanya di kamar memeluk boneka Teddy.
Dan setelah itu, berikutnya yang terjadi bahwa ibu terbaring di rumah sakit. Lalu setiap itu terjadi, ayah Eric yang menggendongku untuk membawaku bermain dengan Eric.
Kringgg ... Telepon Eric berdering membuyarkan lamunanku.
Dia mengobrol di telepon, sepertinya dari papanya, dan Eric menatapku sesaat, lalu melirik jam. "Luna!? tapi. Baiklah. Jika dia mau ... dan jika tidak jangan paksa aku Papa," kata Eric di telepon, dan alisnya terlihat semakin naik seolah mendengar sesuatu yang membuat dia terkejut.
"Luna, Papa ingin bertemu denganmu. Apakah kamu setuju?" Eric sambil menghabiskan makanan yang tinggal tiga suap.
"Kapan, untuk apa? bukannya Om Andra sibuk?" Aku mulai berdebar, memikirkan kata-kata Anton soal pernikahan.
Demi apa, aku belum siap untuk mengurus suami, atau segala hal tentang rumah tangga. Meskipun dengan Eric, tampaknya tidak terlalu buruk, tapi, kebebasan hidup sendiri adalah hal yang sangat menyenangkan untuk saat ini.
"Papa ingin melihatmu, kamu bisa menolaknya." Eric membawa piring kotor ke bak cucian, dia mencucinya sementara aku bersiap.
Masker, kacamata hitam, dan pakaian serba panjang untuk menutupi luka lebam. Dua puluh menit kemudian, aku telah di kantor Paman Andra.
Pintu ruangan terbuka. Pria berbadan atletis, rambutnya berombak ke arah belakang, meskipun Paman Andra berusia 52 dia masih tampak berkarisma.
"Luna, sudah lama? dimana Eric? dasar anak itu apa dia membuat masalah lagi." Mata Paman berputar dan bibirnya mengatup.
Menarik tali masker dari telinga, aku membawanya ke pangkuan "Eric di toilet. Kami baru sampai, Paman," meremas jemari di pangkuanku menahan gugup dan otot-otot di wajahku menegang.
Eric dimana, mengapa belum kembali, sepertinya dia sengaja meninggalkanku. Tatapan Paman Andra sangat tajam, meskipun dia tidak pernah memarahiku itu membuatku benar-benar tidak tenang.
"Itu- masih sakit?" Paman menunjuk pipiku saat dia duduk di kursi kulit mahal yang tampak sangat empuk.
"Ini hanya pegal ketika efek obat nyeri habis, dan perih saat terkena air." Aku mencoba tersenyum tipis menyembunyikan kegelisahan ku, waspada dengan setiap apa yang mau keluar dari mulutnya.
"Apa Felix masih menghubungimu?" Tangan paman mengepal di antara tangan lainnya di atas meja.
"Tidak, Paman. Ayah belum menelpon. Apa ada yang mau Paman bicarakan dengan Luna?"
"Ini tentang Pernikahanmu, dan soal seorang pria di rumahmu," kata Paman dengan suara besarnya tapi sangat rendah.
Sesaat bibirku saling meremas, hidungku berkedut. "Pernikahan?!pernikahan siapa?" aku bertanya memastikan, meskipun meyakini jawaban yang akan keluar tetapi ...
"Pernikahanmu dengan Eric," menajamkan matanya, "dengan putraku-Eric." Paman menekankan. "Anda memiliki waktu dua bulan, Luna."
"Aku ... Tidak ... " menoleh kiri dan kanan seolah darah mendidih di dalam, mencari kebenaran kata-kata yang baru ku dengar. Punggungku terlempar ke belakang, menekan kursi, ingin menjauh, menjauh dari kenyataan. Mataku membesar pada papan nama Andra Samonov, presiden direktur PT. Cipta Alam Samonov
Perusahaan batu bara termashyur, sampai ayah terila-gila padanya. Ayah adalah mantan direktur utama di perusahaan paman. Kemudian ayah membangun perusahaan sendiri saat aku masih kecil.
Aku tahu Paman sangat kaya, dari kecil dia membawa mainan untuk ku dari luar negeri.
Siapa yang tidak mengenalnya. Tetapi, Eric bisa menemukan perempuan lain, Paman Andra! cukup menjentikan jari.
Aku tidak bisa menganggap perkataan paman sebagai candaan. Namun, mengapa harus aku?! dan dua bulan lagi!
Lalu aku harus mencari cara dan menolak. Terlepas Eric tampan, pangeran dingin yang dipuja banyak wanita, tapi itu mereka. Dan aku tidak berdebar di depannya, ini pendapat tentang hubungan aku dan Eric.
Menganggap pernikahan adalah tradisi menjaga silsisila dan kekayaan, yang dipenuhi demi formalitas, dan bisa mengatur segalanya, dan kehidupan manusia tanpa peduli hatinya. Hanya dengan pertemuan antar keluarga dan semua beres.
Dan Eric, apa dia tidak menolaknya?
Bisakah aku berfikir bahwa segala sesuatunya akan segera berubah?
Bahwa pertemanan diantara kita akan berkembang menjadi perasaan yang sama sekali berbeda?
Akankah aku bisa mengalahkan hatiku? apa yang harus aku lalui untuk memahami apa yang sebenarnya tersembunyi di balik sikap manja Eric?
Lalu bagaimana dengan Bagas? Tunggu, mengapa harus ada Bagas di kepalaku, pada situasi yang menentukan hidupku ke depan. Tidak, aku harus mengeluarkan Bagas dari kepalaku sesegera mungkin.
Tapi, jika Bagas kembali pada keluarganya, lalu? tidak mungkin aku menjomblo.
"Luna, tiga tahun lagi, kamu kepala tiga. Apa ada yang kamu tunggu? atau pria yang tidak jelas asal-usulnya, seperti 'BAGAS'?"
Mendongak, aku bergetar karena perkataan paman, kenapa dia menjadi membahas Bagas. "Paman, aku ... aku ... ingin pulang, dan memikirkan ini. Dan jangan mengungkit Bagas, dia hanya mengontrak."
Alis paman terangkat. "Tidak baik Luna, semua orang akan tahu siapa menantuku. Dan apa kata mereka? Usir Bagas dari tempatmu."
"Kenapa? Paman berkata begini?" Aku bergetar oleh kemarahan, siapa dia mengaturku.
"Memang apa lagi? Bahwa kamu akan menjadi bagian dari keluarga Samonov dan kamu harus menjaga perilaku mulai sekarang, Luna."
Aku berdiri, meremas maskerku. "Maaf, Paman. Luna belum bilang setuju atau tidak dengan pernikahan ini. Bahkan ayah belum membahasnya dengan Luna. Dan lalu Paman, memaksaku mengusir Bagas untuk keluar dari rumah Luna?!"
"Keluarkan dia," Paman menggeram, "atau Paman sendiri yang akan membuatnya keluar dari kota ini. Dan memastikan ke depan bahwa kamu tidak akan melihatnya lagi."
"Anda keterlaluan Paman," kataku gemetar, meremas gigiku, dia bukan paman yang ku kenal, mengapa jadi bengis. "Saya rasa tidak perlu ada pembicaraan lagi, dan saya menolak pernikahan ini. ADA, akan banyak wanita yang menunggu Eric dan itu bukan Luna," menatap dengan kegeraman aku menganggukkan kepala. "Saya mohon pamit, Paman Andra."
Dan pada saat yang sama aku menjumpai Eric di pintu yang baru terbuka.
"Luna, ke-kenapa? ayah menyakitimu?"
Aku melepas tangan Eric dari bahuku, mendorongnya sedikit dan melewati pintu dengan setengah berlari.
Yang ku inginkan kebahagiaan dan kebebasan, juga Cinta.
Tapi, tampak itu hanya mimpi indah yang menghiasi tidur malamku ...
Karena sekarang, aku harus menikahi -dia teman kecilku? Dadaku seperti ditikam pisau tajam, sakit tidak berdarah, aku tidak tahu lagi ...
Eric orang penting bagiku, dan jika boleh aku memilih, jangan untuk jadi seorang suami, itu terlalu canggung.
Memang seperti apa yang ku cari? Atau karena Eric terlalu sempurna bagi semua wanita, jadi ini lalu memberatkan hatiku, bukankah setidaknya aku harus mencoba.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments