"Tadi, di silent kok, sepertinya." Kehabisan kata-kata lalu aku menurunkan pandangan pada kaos warna hijaunya, itu sejengkal di depanku. "Bagas, tolong menjaga jarak! ini tidak nyaman," kataku terisak.
"Jangan takut, Luna." Bagas melembutkan suara sambil mengelus telingaku membuatku merinding.
"Kamu, terlalu dekat." Tumit ku membentur nakas dan aku berada di kedua tangannya yang bersandar ke nakas, jarak wajah kami menyisakan sejengkal. "Aku tidak akan menyakitimu, Lun."
"Lalu untuk apa kamu dekat-dekat." Dua tanganku mendorong perut Bagas, dan aku berakhir dengan kelelahan tanpa hasil.
"Dan untuk apa kamu menjauh?"
"Aku tidak menjauh," kataku menantang, saat merasakan embusan panas darinya.
"Aku datang ke sini untuk berbicara denganmu, tapi kamu terus melarikan diri." Bagas memicingkan mata, mengayunkan tangan ke belakang dan rambutku terlepas dari jepitan model plastik.
"Apa yang kamu lakukan! aku bilang jaga jarak!"
"Ini bagus, sayang, biarkan rambutmu tergerai di depanku."
Bunyi jepit rambut terlempar di nakas, dan dia mencangkul rambutku denganjari-jarinya dan mataku membulat karena marah. "Kamu bilang apa? 'SAYANG' ?sembarangan menyebut panggilan!" suaraku meninggi karena segala perlakuannya.
"Luna, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan sesuatu yang meresahkan." Dia menatap mataku dengan intens. "Jika aku tidak mengatakan sekarang, aku akan menyesal. Aku ingin hidup bersamamu sebagai seorang kekasih. Aku ingin tetap bersamamu, Luna."
Omong kosong! itu mustahil, kata-katanya mustahil seperti perasaanku padanya yang mustahil. Hati ku sama bermasalahnya karena ingin jujur bahwa aku juga sama ingin bersamanya. Namun, untuk mengatakannya itu lebih tidak mungkin, Hubungan ini tidak akan berhasil!
"Aku tidak bisa. Aku sudah bilang, aku tidak menyukaimu." kataku dengan suara tegas. Mendorong Bagas dan terus berteriak padanya dengan tidak terkendali bahwa aku tidak memiliki perasaan sama sekali.
Sebenarnya, hubungan apa yang kucari? Sepertinya, aku sendiri juga tidak tahu secara spesifik. Aku tidak bisa menerima dia yang tidak jelas apa ada seorang kekasih yang menunggunya atau bahkan istri? ya untuk seumurnya yang mungkin tidak lebih dari 29, dan lalu dia akan pergi dengan pasangannya.
Seratus persen, aku yakin dia akan meninggalkanku SAMA seperti semua orang yang kusayangi!
Pantatku terbentur nakas aku tidak bisa mencerna kata-kata yang terus keluar dari mulutku yang tidak kusadari.
"Tenang, Luna, tenang." Dia menggoyangkan pergelangan tanganku, dan aku terengah-engah. Tidak tahu karena ketakutan atau kemarahan? Dan aku kalah dari gerakan dia yang cepat dalam sekejap sudah memeluk bahuku dan menarik ke dadanya.
Aku langsung membeku karena bibirnya menempel ke bibirku. Otak ku mati dan aku tidak bisa bernafas. Sesuatu meledak dari dalam diri dan entah oleh apa.
Aku benar-benar idiot untuk menginginkan cinta nyata, bahkan dari dia yang baru ku temui.
Ha.. ha.. ha!
Semua ini tampak omong kosong, aku tidak mempercayai cinta lagi.Ayah bilang cinta tapi dia terus memukulku.
Paman dan Ibu bilang cinta tapi mereka meninggalkan ku ... di dunia yang keras ini ... sendirian! Dan hanya ada Eric dalam hidupku, hanya Eric.
Dan kamu pikir aku mempercayaimu, Bagas? Dan air mataku berurai seperti mengasihani ku. Aku benci ini begitu memalukan, dia membelah bibirku membawa muatan listrik dengan bibirnya dan aku merasa kesulitan menghirup oksigen untuk masuk ke dalam paru-paru dan rasanya sesak. Aku mengembuskan udara panas secara kasar ke mulutnya dan dia menjepit bibir bagian bawah diantara bibirnya.
Dia memakan bibir seolah itu es krim dan mataku terpaku oleh tatapan deepblue yang meredup di atasku. Kaki-kaki ku mati rasa, aku jatuh dan tertahan oleh tangan kokohnya.
Tanpa menghentikan aksinya dia menarik ku ke tempat tidur di sebelah, dan aku yang terdorong oleh berat tubuhnya, perlahan tapi pasti ... aku tidak kuasa menolaknya dan dia merebahkan ku tanpa melepas ciuman dengan tangan besarnya menahan kepalaku untuk tetap bersamanya.
Aku mendorong dada Bagas dalam tangisan dan dia menarik kedua tanganku di atas kepalaku.
Sekarang aku diliputi kabut kemarahan dan perasaan terhina. Dia seperti binatang buas! Bahunya yang kokoh mengubur bahuku tidak memberikan kesempatan untuk kabur bahkan sekadar berpikir. Aku mulai tenggelam, jurang kegelapan mengintip dari kejauhan.
Seseorang tolong aku ... siapapun!
Ciuman itu terus membungkam ku, dan aku menghirup aroma citrus tubuh panasnya yang memabukkan.
Pandanganku meredup nafasku menjadi cepat dan pendek saat dia menggelitik telingaku dan memasukan lidahnya ke dalam mulutku. Mataku membesar dan dadaku reflek melengkung ke depan hingga menekan dadanya karena sengatan yang mengejutkanku.
Perasaan apa ini ...
Dia menghentikan aksinya dan lama kami berpandangan dalam diam seolah jiwa kami tengah bertukar di antara tubuh panas kami yang melebihi panas suam-suam kuku, panasnya sudah cukup untuk menyetrika dan membuat pakaian halus, sangat panas dan rasanya aku ingin melepas pakaianku jika tidak ada Bagas.
Mata Bagas tampak berbinar lebih terang. Bibirnya menggantung membentuk senyuman. "Kamu menginginkanku?" Dia menyeringai dengan percaya diri jauh dari sosok yang ku kenal, sangat berbeda seperti serigala lapar dan membuatku bergidik.
Aku menggelengkan kepala bingung saat dia kembali mencium ringan. Sungguh memalukan, aku menerimanya kembali dan lidahku terpancing otomatis membalasnya.
Air bening keluar dari sudut mataku dan aku terus menolak. Detik berikutnya menerima, membalas, dan setelahnya menolak. Membalas lagi, dalam kebingungan aku menyerah setelah begitu terasa melelahkan.
"Luna ... mhhmm." Bagas serak dan kembali menciumku dan aku perlahan meniru caranya. Dan aku marah pada diriku sendiri karena tidak menolak perlakuan Bagas.
Sesaat dia menyusuri leherku dengan lidahnya, dan tangannya menjauhkan kimono ke luar bahu, mengekspos tulang selangkaku menjadi merinding karena udara dingin langsung menyelimuti kulit. Aku terpejam karena malu. Kesenangan durjana menyelinap ke relung hati.
Dia menjepit dan menarik tali atasan hingga terlepas. Tiba-tiba otaku yang sempat padam lalu berteriak kepadaku bahwa ini salah.
"Huh hu ber hen ti Bagas," aku mengi. Kakiku tertahan oleh satu kakinya saat dia mengecup di bawah tulang selangkaku. Dia menyingkap kain satinku ke atas perut, membuat pola aneh dengan jari-jari panasnya di kulit pusarku.
"Aku membenci mu ben... ci... igh!" Aku menggigit bibir sendiri karena demam di bagian perut. dan merasakan gigitan kerasnya di kulitku di bawah selangka. "Jangan!" teriaku saat tangannya melewati pusar dan akan naik.
Bagas menarik tubuhnya dengan ragu-ragu, dia menatapku sebentar saat aku menatapnya dengan benci.
Dia menjauh dariku dan duduk di samping dengan nafas terengah-engah, membantuku untuk bangun.
PLAK!!!!!
Kami dengan terkejut saling tatap, aku menoleh menatap telapak tanganku yang terasa panas karena menampar pipi Bagas yang luka dan pipi itu kini tampak setetes darah keluar dari lukanya. Aku refleks dan diriku tidak mempercayai untuk pertama kalinya aku melakukan kekerasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments