PMDC 17 Luna

"Luna, ke-kenapa? ayah menyakitimu?"

Aku melepas tangan Eric dari bahuku, mendorongnya sedikit dan melewati pintu dengan setengah berlari.

Yang ku inginkan kebahagiaan dan kebebasan.

Juga, Cinta.

Tapi, itu hanya mimpi indah yang menghiasi tidur malamku ...

Karena sekarang, aku harus menikahi -dia, teman kecilku? Dadaku seperti ditikam pisau tajam berkarat, sakit tapi tidak berdarah, aku tidak tahu lagi ...

Eric orang penting bagiku, dan jika boleh aku memilih, jangan untuk jadi seorang suami, itu terlalu canggung.

Memang seperti apa yang ku cari? Atau karena Eric terlalu sempurna bagi semua wanita, jadi ini lalu memberatkan hatiku, bukankah setidaknya aku harus mencoba.

Mendorong nafasku kuat-kuat saat angin menerbangkan rambutku yang panjang di atas sikut. Ini sudah lama tak kurasakan, helaian panjang berebut menutupi wajahku, seolah menghiburku, sejuk dan sedikit menenangkan.

Aku menatap angsa yang bermain air, tampaknya angsa tidak pernah merasakan beban seperti manusia, tidak sepertiku.

Dunia menjadi gelap di mataku. Aku menumpuk sepasang tangan yang menutupi kelopak mataku, meraba.

"Eric, lepaskan," bentakku, tapi dia tidak bergeming. Sesaat kemudian kecupan mendarat di rambutku, bersamaan itu pula, aku dapat menghirup aroma yang begitu familiar. Hembusan angin membantuku mengenali sang tuan. "BAGAS."

Menoleh ke kiri dan matanya telah di depanku, dia membungkuk saat jari-jarinya meremas bahuku.

"Nah, Luna, begitu! kau harus dihukum karena salah menebak."

Aku tidak punya waktu untuk memahami bagaimana dan dimana Bagas yang tidak hanya mengecup, mencomot bibirku dengan bibirnya! tetapi membasahi, memutar lidahnya ke lidahku. Tanpa punya waktu untuk aku menolak,dan jantungku hampir-hampir meloncat ke luar dari tempatnya. Secara otomatis aku mendorongnya.

Dia tercengang, seolah tak mempercayai penolakanku."Apa aku menjijikan bagimu?"

Aku tidak ingin bohong, tapi terlalu bodoh untuk mengatakan yang sebenarnya. "Bagas, ini tempat umum,

Dia meringis sesaat kemudian, bibir melengkung membentuk senyuman. "Apa boleh jika di rumah??"

"Apa-apaan!" Aku meyakinkan diri sendiri bahwa tidak satupun dari apa yang dibayangkan dan diinginkan akan menjadi kenyataan, tetapi dalam mimpi malamku, aku melihat Bagas, dan mimpi-mimpi ini begitu jujur dan jelas sehingga aku bangun dengan demam.

"Ada apa kamu di kantor ini? apa kalian berkomunikasi? kamu dan Presdir Andra?" Dia mengajukan pertanyaan dengan tangan kanannya bertumpu di pahaku, telapaknya menangkup lutut kiriku, dia berbicara dengan nada rendah ada helaan di sana. "Pernikahan...?"

Jantungku berdebar, bagaimana dia bisa tahu, ataukah dia menguping? tidak mungkin, di lantai lima belas ada lift khusus, orang seperti bagas tidak mungkin bisa masuk ke sana dengan sembarang.

"Paman tadi melihat lukaku, ayah Eric hanya ma-u memastikan aku baik-baik, saja, ya!" kataku terbata-bata, entah mengapa aku jadi berbohong padanya, rasanya ada perasaan aneh sehingga aku harus menyembunyikan itu, tetapi mengapa, ini seperti bukan diriku, apa peduliku dengannya perasaanya mau dia tidak suka atau sakit, itu bukan urusanku, kan.

Dia duduk di rerumputan membawa kantong kresek, sedangkan aku duduk di semacam pinggiran pot buatan yang mengitari pohon beringin besar, di jubin putih 40x40 yang nyaman dan dingin di pantat.

Bagas melempar kepala ke belakang menjadikan pahaku bantalan. Dia melihat ke atas ke arahku. Oh betapa dia menyebalkan. Mataku memutari ke sekeliling, beruntung lumayan sepi. Ini taman belakang kantor Papanya Eric, kantor Eric dan tempat Bagas bekerja, aku merasa gelisah seperti maling ngeri bila sampai seseorang melihat kami.

"Lalu, kenapa memasang wajah cemberut? apa kamu habis kalah lotre, Lun!?" dia menatap dalam ke mataku, apa dia mesin pemindai?

Lihat, bulu matanya lentik. Mengesalkan, di bawah cahaya terang dia jelas sangat gagah. Ada apa dengan bibir tebal itu, manis tebu. Luna!!!! Buang pikiranmu jauh-jauh.

"Aku, ehm- Kenapa kamu di sini? ini belum jam istirahat." Bibirku berkedut, "Apa begini kerjamu Bagas, keluyuran?"

"Luna, jangan mengomel," dia meraih tanganku. Membawa dan menutupi kelopak matanya, dan hidungnya. "Tanganmu kecil."

"Ya kali, kalo besar mah Gorila."

Dia tertawa kecil, nyaris tak terdengar. Tangan lain ku gatal untuk tidak menyentuh rambutnya. "Bagas..."

Tanpa sepengetahuan dia, aku menyentuh ujung rambut. Berdebar-debar, kuharap dia tidak menyadari saat aku memilinnya, semakin menyentuh tiap bagian, aku tidak bisa berhenti. Benar-benar menyusuri dengan jari-jariku, membelahnya.

Rambutnya selalu mampu mengalihkan perhatianku. Begitu halus seperti bulu anak anjing, ini lucu setiap kali aku memegang ini aku jadi ingat anjing kecilku yang mati tertabrak. Hahaha

Ketika dia tersenyum lebar menampakkan gigi rapih putih di antara bibir pink cheri. "Kerjaanku sudah beres, aku mau ke pantry dan melihatmu di bawah. Jadi aku berhasil menemukanmu, Luna."

"Kamu bawa apa?" melirik kresek hitam, masih saja ada kresek limbah.

"Tadi saat berangkat, seorang nenek mau menyebrang. Begitu aku membawanya ke seberang, dia memberikan bungkusan. Sepertinya roti, aku memberi dia uang tetapi ditolak, padahal itu dagangannya."

Aku terdiam, oh ya ampun jantungku makin berdebar. Mataku berkedut ke bagian perut dadanya, posturnya yang panjang, dan kini dia terdiam sama seperti aku. Jadi dia menolong orang? oh baik juga, sampai dia turun dari motor, hem apa mungkin di dunianya dia juga orang baik!?

Lebih dari lima belas menit, Bagas tidak bersuara dan tanganku masih menangkup rambut dan matanya, dan apa yang aku lakukan, ini tidak benar, mengapa aku selalu kehilangan kontrol padanya. Aku membenci diriku demi apapun. Takut, Paman Andra akan melihat ini, dan akan membuatnya marah.

Dan apa yang harus aku katakan pada Bagas tentang fakta dua bulan lagi? aku tidak yakin Paman akan menyerah. Lalu dimana harus aku memindahkan Bagas.

Ah, dia di ruko saja! Paman kan hanya bilang tidak boleh di rumah, ide bagus Luna!

Seutas senyuman terukir di bibirku. Mata berkedut pada sepasang Angsa yang kini memadu kasih berenang mengelilingi kolam.Tidak jauh dari sana pohon Flamboyan yang berbunga sangat indah.

"Luna, aku menyewa vcd film, kita harus menontonnya." Bagas langsung duduk tegak dan membuka kresek.

"Jadi, film tentang?" menerima sebotol minuman dingin yang dibuka Bagas.

"Tentang orang Amnesia-"

Apa yang ada dimulutku langsung menyembur.

"Sayang! pelan-pelan."

"Huk! uhuk!" Aku terbatuk-batuk dan Bagas menyodorkan tisu dari tasku, dia tahu jika aku membawa tisu di dalam tas. Bukan itu, "Ada apa, dengan panggilan mu?"

"Yang mana? maksudmu ... 'SAYANG'!?" netra deepblue berbinar. "Ya SAYANG," kata dia sangat lembut sambil mengangguk dua kali.

Aku merinding, dan wajahku menghangat, seolah-olah darah mengumpul di wajah. "A-aku akan memasak- makanan pedas jika kamu memanggil sembarang," menantangnya, tapi entah kenapa hatiku turut menghangat seolah ada tungku menyala di dalam.

"Maaf Luna, aku tidak lagi, jangan mengancamku mengerti!?" Dia menggeram, tapi aku yakin dia mencoba bercanda.

Kami tertawa, ini menyenangkan.

Aku merosot ke bawah, duduk di hamparan rumput hijau terawat, tanpa menyandarkan punggung, berdampingan.

Bagas membelah roti berisi coklat menjadi dua, dan mendorong setengahnya ke mulutku.

"Mengapa memilih film itu?" tanyaku datar. Aku memandangnya, melirik pada leher berjakun yang terdapat satu urat biru melintang.

"Luna, aku merindukan mungkin keluarga? ada yang aneh menjalari perasaanku, entah marah atau apa." Menselonjorkan kaki, dia menyibak rambutnya ke belakang.

Aku meremas bibirku, terasa getir tanpa alasan. "Semua akan baik-baik saja, mas," mengelus lehernya.

Netra deepblue menatap mataku, seolah menumpahkan kegundahan, "aku menyayangimu, Luna Prameswati."

Hampir-hampir rahangku jatuh ke bumi, segala hal tentangnya adalah luar biasa, tapi kini jelas kami semakin tak mungkin.

"Ang ..Ang ... " Angsa mengeracau datang ke arah kami.

"Mas!"

"Luna, lari!"

Tanganku ditarik dan kami tunggang langgang, aku kesulitan menyesuaikan langkah besarnya, suara angsa makin mendekat aku bergidik dan adrenalinku meningkat, ini lebih menakutkan daripada suara anjing, seakan malaikat maut mengejarku.

Tangan Bagas terlepas, "Lebih kencang!"

Bagas tidak di sampingku lagi, aku melirik ke belakang dengan terengah-engah langsung berhenti seketika, Bagas sudah mengalihkan angsa itu, dan kenapa dia berbalik!?

Dia mengambilku tasku dan berlari ke arah kolam, dan entah mengapa aku tidak bisa menahan gelak tawa saat Angsa menyosor paha Bagas, langkah Bagas yang besar kalah cepat dengan kepakkan sayap Angsa yang mendorongnya.

"Agh! Aw! Aaw! Goose!" Pekik Bagas menghindari serangan brutal angsa. Kemudian Bagas telah terbang di pohon mangga sebelah kolam, di dahan bercabang rendah, dia mengayunkan tasku untuk mengusir angsa, aku merinding, tampaknya sosoran itu sakit, tapi aku kembali tertawa, dan sebuah tangan menyentuhku, aku menoleh ke belakang, "Eric ... " mendapati wajahnya tidak biasa.

"Luna, kita harus bicara, berdua."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!