Alu merasa tertekan. Bagas duduk di depan pintu tampak dari bayangan gelap ditengah cahaya dari celah di bawah pintu.
"Keluar, Lun. Temani saya," suaranya serak. Aku merasa bersalah tanpa alasan karena Bagas membanting diri ke pintu.
Denyut nadiku terdengar begitu jelas ditelingaku. Perlahan aku berjinjit menjauh berusaha tidak menimbulkan suara. Tanpa mengganti pakaian; bahkan tidak mencuci muka dan kaki; aku memilih memyembunyikan diri dalam selimut.
...**...
Fajar menyingsing, aku berdiri di depan pintu kamar Bagas yang tertutup.
Aku yakin dia masih di alam mimpi. Ini masih jam lima, dan aku tidak tahu kapan dia pergi dari depan pintu kamarku, tadi malam. Aku menyentuh pintu seolah itu sosok Bagas.
Begitu jelas dalam ingatan ku, lembut bibirnya saat mengecup punggung tanganku. "Maaf Bagas."
"Kamu akan meninggalkanku suatu hari nanti. Tolong, jangan membuatku salah paham dengan perlakuan mu, atau-" Lidahku terasa ngilu dan getir di ulu hati, "aku tidak akan bisa menahan perasaanku."
"Luna, kamu bilang-"
Telingaku menangkap suara Bagas, atau pendengaran ku sepertinya rusak. Aku secara otomatis mulai mundur, tetapi aku berhasil hanya mengambil beberapa langkah.
BUG.
Dadaku terguncang ke depan karena benturan, aku merasakan sesuatu panas di belakangku.
Satu tangannya yang penuh bekas luka yang belum mengering. Seluruh tubuhnya menempel, menyatu denganku hingga lututnya yang panas menusuk pahaku, dan aku merinding karena keterkejutan.
"Luna, aku tidak akan meninggalkanmu." Bagas dengan suara rendah dan dagu kerasnya menusuk pucuk kepalaku. "Siapa yang akan meninggalkanmu? tidak ada."
Tubuhku tidak menolak. Sekali saja, aku ingin merasakan pelukannya, dan ini pertama kali dalam hidupku seorang pria memelukku selain pelukan ayah.
Tidak menyangka, bahwa pelukan ini begitu terasa luar biasa.
Aku mau menukarkan segalanya apa yang kumiliki untuk pelukan ini.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Mengapa kamu mengatakan itu?"
Lagi, aku merasakan kecupan panas di pucuk kepalaku, dan apa dia mendengar perkataan ku tadi. Dia jelas mendengarkan perkataan ku, karena itu dia mengatakan itu. Bodoh!
"Sa-ya pikir kamu masih tidur." Mata ku berkedip perlahan menatap pintu kamar tertutup yang menipuku. Rasanya berat hati untuk menjauh dari dia, tapi lalu tanganku tetap berusaha melepas tangannya.
"Tidak Luna. Biar seperti ini. Ada apa denganmu, Lun. Kenapa menahan perasaanmu."
Aku merasakan suara Bagas yang bergetar.
"Bukankah sudah pernah ku katakan, kita ditakdirkan bersama, Luna."
"Berhenti menggampangkan kata-kata, mas." Aku mencengkeram tangan Bagas. Kata-katanya selalu membuatku jadi semakin berharap banyak. Tenaganya yang besar membuatku sama sekali tidak bergeser.
"Kenapa, Lun. Dengar. Aku suka kamu."
Mataku membesar ... bahuku terguncang ke belakang oleh keterkejutan.
Aroma citrus tubuhnya membuat aku mabuk, atau justru oleh apa yang keluar dari mulutnya. "Kamu berhenti dengan kata-kata seperti itu, mas. Aku-aku tidak suka kamu."
Aku merasakan suaraku yang bergetar.
Bagas membalik tubuhku perlahan hingga dia kini menatap mataku, dengan tajam dan aku kesulitan menguasai segala emosi yang datang dari dalam diri.
"Kamu bohong, Lun."
"Aku tidak menyukaimu." Aku menekankan suaraku, menatap tajam ke matanya. Satu titik di bawah tulang rusukku merasakan sakit oleh kalimat yang keluar dari mulutku. Kudapati matanya yang bergetar menelisik ke dalam mataku seakan dia tengah menggambar di wajahku.
...**...
Merangkai bunga, aku memandang Shelin dan Tosaa yang sibuk membuat karangan bunga dengan diselimuti canda tawa. Sementara empat pegawai tambahan juga sedang sibuk. Aku kembali teringat saat Bagas pertama kali membuat karangan bunga, dia hampir mengacaukan segalanya.
Memotong tangkai bunga Lily, aku membuang pikiran tentang Bagas.
TING!
"Luna, hp mu dari tadi bunyi. Siapa si? nggak biasa-biasa hp pribadi terus berisik," keluh Tossa sambil menarik setumpukkan bunga krisan dari depanku.
"Dari Bagas kali," Shelin berkata lalu tertawa.
"Eh, babang Bagas sudah kerja ya? posisinya menjadi apa?" Tossa duduk di lantai ke tempat semula.
"Operator komputer, memasukan data. Sepertinya, Eric memberi pekerjaan yang ringan." Aku meraih ponsel dan membukanya, ini jam satu, mungkin Bagas sedang istirahat. Terlalu banyak chat masuk darinya, setelah tadi pagi aku memberinya ponsel bekas yang tidak kupakai. Aku tidak mau dia menungguku lagi, sampai malam seperti kemarin.
Siang bergeser ke belahan bumi lain dan aku masih rebahan di lantai atas menonton tv, saat ponsel terus berdering. Bagas meneleponku tiada henti dari jam tujuh, dan aku dalam kebingungan tidak mau menyentuh ponsel.
Ketika bel toko berbunyi, aku terjaga dari tidur. Menyipitkan mata pada jam dinding, jam satu malam, nggak mungkin Tossa. Aku turun ke bawah dan memutar kunci, begitu rolling door terbuka, aku melompat ke belakang dan langsung menutupi bagian dadaku. "Bagas ... "
"Kenapa, kamu tak pulang?" Bagas dengan suara meninggi. "Dan tak mengangkat telepon?" Dia menatapku dari atas ke bawah.
"Jangan lihat sini! Hadap sana." Aku mengayunkan dagu, dan dia langsung membelakangi ku.
"Kamu bisa tutup pintu, nggak?"
"Ya bisa," suara Bagas terdengar serak, tapi aku dapat menangkap wajahnya yang menegang.
"Eh, kamu ke sini naik apa?" Aku melongok ke depan di samping Bagas. "Tidak ada motor. Kamu nggak pakai motor Eric?" Saya menoleh ke Bagas dan dia tengah memandangi tubuhku seakan mene..lanjangi tubuhku dengan tatapannya.
"Kamu lihat apa! aku bilang jangan lihat!" Aku membelakanginya.
"Motornya dibawa Eric, dia mengantarku tadi sore."
Aku menarik rolling door sampai bunyi benturan keras, dan pria itu lancang sekali menatap ke arahku, membuatku semakin kesal karena aku tak menggunakan b.r.a dan hanya memakai atasan satin tanpa lengan tapi bertali, mengekspos kulit bahuku dan leherku, dan dia terus menatap ke arah itu.
Aku berlari melewati tangga sambil mencincing kan celana satin yang kepanjangan.
Meraih kimono, memakai dan menali di pinggang. Aku tak sempat memakai b.r.a karena Bagas baru sampai di atas, dsn seketika aku menutup b.r.a di atas kasur dengan selimut. Sial dia melihatnya, aku tidak menyangka dia akan menyusul sampai ke sini.
"Luna, kamu, tidak menjawab telepon dan chat ku. Percuma kamu memberiku ponsel."
Aku berbalik kepadanya, lelaki yang paling kuhindari justru berada di depanku dan membuatku semakin kebingungan untuk beralasan.
"A-ku, tadi banyak pesanan sampai malam." Aku mau tak mau harus berbohong. "Ya, tadi, sampai jam sebelas malam, mereka baru mengambilnya. Jadi, aku lupa membuka ponsel dan ponselku di silent. Oh, jadi kamu telepon ya? aku tidak tahu, coba ku lihat." Aku membuka ponsel dan beberapa saat ponsel berdering dari nomernya.
"Silent?" suaranya bergetar diantara dering ponselku. Bahuku terkulai saat dia menatapku tajam dan semakin mendekat.
"Luna. Berhenti seperti ini, kamu membuatku bingung."
"Tadi, di silent kok, sepertinya." Kehabisan kata-kata lalu aku menurunkan pandangan pada kaos warna hijaunya, itu sejengkal di depanku. "Bagas, tolong menjaga jarak! ini tidak nyaman," kataku terisak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments