PMDC 7 Luna

Semua dekorasi telah selesai terpasang, aku melirik jam sembilan malam saat panggung pengantin menjadi lautan bunga segar.

Kapan ya, tiba waktu ku untuk menikah. Pacaran saja belum pernah. Aku seperti phobia pada punggung tangan pria, terutama pada buku-buku jarinya, itu terlalu menakutkan.

Aku menggaruk kulit kepalaku yang menjadi gatal. Apa ayah mau menjadi waliku saat waktunya tiba.

"Hati-hati, Lun, mau hujan." Tossa yang sudah mengenakan helm, keluar dari pintu Hall Room.

"Aku bawa mantel!" Teriakku sambil tersenyum menatap punggung Tosaa.

Seseorang berjalan dari kejauhan semakin dekat, sepertinya penghuni hotel. "Bagas???" alisku terangkat, aku tidak salah lihat, mataku berkedip dan mengucek berulang kali.

Dia lewat begitu saja di depanku. Nggak. Bagas kan penuh luka, tapi dia jelas Bagas. Aku berjalan cepat, kemudian lari menyusul pria tinggi berjas, sampai di -ujung lorong hotel- jalan itu bercabang.

Aku menukik tajam ke kanan. Dia berbelok lagi, aku memanggilnya. Sial, dia masuk kamar!

Ketika di depan pintu kamarnya, aku mengepal tangan ke udara, untuk mengetuk pintu, tetapi kutarik lagi.

Jika aku bertemu dia, lalu selanjutnya apa. Menanyakan keluarganya yang hilang? atau mengajaknya ke rumahku untuk melihat Bagas? Bagaimana jika mereka hanya mirip. Juga menakutkan bila dia sampai berpikiran bahwa aku adalah seorang penjahat, kemudian justru aku dilaporkan polisi.

Tidak. Tidak. Aku berjalan menjauh. Kalau tau begini untuk apa pakai mengejar, menyusahkan saja.

Sebuah panggilan masuk dari Eric dan aku menceritakan kejadian barusan. Begitu sampai di parkiran aku meraih earphone. Eric mengobrol denganku di sepanjang perjalanan.

"Ya, sudah, Eric. Aku sudah di rumah." Memutar kunci saat melirik ke pekarangan gelap.

"Kamu mau langsung tidur?" Suara Eric dari earphone.

"Hu'um." Aku memasukan motor ke dalam ruang tamu yang gelap mengandalkan cahaya dari ruang tengah. "Capek."

"Kita harus refreshing."

Aku mengunci rumah. "Ya, benar katamu. sudah dulu ya, mimpi indah, Ric." Melepas helm dan menggantung di spion, aroma rumah memang menyenangkan bagiku.

"Yeah, you too."

BIP- telepon terputus, aku melepas earphone.

Dalam kesunyian ruang tengah, aku berjinjit untuk mendekati meja makan. Telapak tanganku mengayun ke Bagas yang terpejam.

"Kamu tidur?" bisikku ke waja Bagas. Satu tangan dia menjuntai ke bawah dan tangan lain menjadi bantalan.

"Bagas," bisik ku lagi, tapi dia teramat lelap.

Kunci lolos dari tanganku dan jatuh ke lantai, menimbulkan kegaduhan sampai membangunkan dia.

“Luna, kamu sudah pulang.” Dia langsung duduk tegap sambil mengucek kelopak matanya dan terdiam sejenak.

“Bagas, sory ! kaget ya?” Jantungku menjadi berdebar-debar, menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan langsung mengambil kunci dari lantai.

Bagas kemudian bangkit dan menarik kursi di sebelah kiriku. "Lun, aku menunggu mu untuk makan malam."

Menungguku untuk makan malam? padahal ini jam sepuluh, di depanku terdapat sepiring makanan.

“Itu sudah dingin. Aku buatkan lagi.” Dia menjauh ke arah dapur.

"Tidak perlu Bagas! ini saja." Aku mendapati dirinya mengangguk dan menusuk saklar lampu. Ruangan ini menjadi gelap.

“Saya kira kamu pulang jam tujuh, Lun,” suaranya tersirat akan kecewa. “Tenyata pulang malam.”

Cahaya dari korek api menerangi wajah Bagas, terutama hidungnya. Dia menyalurkan api ke batang lilin yang nyaris habis. Wah dia Bagas yang kukenal lima hari ini?

Mengesalkan, karena dia membuat malam ini menjadi manis.

“Kenapa kamu pulang malam?” Bagas mengambilkan sendok garpu untukku dan duduk di seberang. Kami mengobrol cukup lama.

“Luna,  bagaimana aku ditemukan pertamakali?”

"Kamu yang menemukanku." Aku menuangkan air bening sampai memenuhi gelas dan meletakkan teko. “Kamu yang menggedor pintu rumahku dan pingsan. Kenapa, mas?"

Bagas menggelengkan kepala, tampak berpikir ketika aku menggelegak segelas air untuk mengurangi rasa panas di tenggorokan.

Aku menjadi bingung, perlu atau tidak untuk menceritakan tentang orang yang sangat mirip dengan Bagas.

"Kamu merindukan keluargamu, mas?"

"Aku bingung, Lun. Aku tidak mengingat apa-apa. Bagaimana bila aku tidak pernah mengingat aku ini siapa?" Dia menekuk bibir, pasti berat untuknya, tidak bisa membayangkan bila aku di posisinya.

"Mereka pasti mencari mu. Kita tunggu saja. Keluarga mas Bagas mungkin sedang berusaha dengan maksimal."

Bagas mengelus tanganku yang berada di atas bahunya. "Saat ini keluargaku hanya kamu, Lun."

Aku mencoba mengukir seutas senyum, "Mas, tak boleh patah semangat, ya-"

Mataku membesar, Bagas mencium jemariku! dalam kebingungan aku terdiam seperti mau pingsan. "Aku mau tidur, ngantuk."

"Luna ... "

Aku tidak menghiraukan dia, semua membingungkan untukku dan bergegas menjauh untuk meninggalkannya. Jantungku makin berdebar saat kursi berderit. Suara langkah kakinya berderap mengejar ku.

Tanganku gemetar yang langsung menjauh, setelah mengunci pintu kamar. Dalam kegelapan aku terdiam. Kemudian cahaya dari celah di bawah pintu, pertanda Bagas telah menyalakan lampu.

Suara langkah kakinya berhenti di depan pintu. Bunyi DOG! DOG!

"Luna, Luna, keluarlah." Bagas serak, dia menggedor pintu kamar perlahan dan hatiku telah gemetar, ketakutan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!