Maira menyudahi berendam nya dan kini berpindah ke shower untuk membilas tubuhnya sekaligus mandi besar🤭🤭sampai bersih😂. Setelah berganti pakaian dan rapi-rapi dia pun menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang makan.
Maira menarik kursi dan duduk dengan santainya,tak peduli walau banyak pasang mata yang menatapnya penuh tanya.Hari ini tak biasanya diwajah Maira terlihat senyum yang selalu mengembang.Kelihatannya dia sedang bahagia sekali hari ini,biasanya mukanya selalu jutek kalau harus satu meja makan sama saudari-saudari tiri dan juga ibu tirinya itu.
Tanpa basa-basi Maira mengambil makanan yang sudah disajikan di meja dan memakannya, lagi-lagi dengan wajah yang sangat ceria. Semua orang merasa ada yang aneh dengan Maira hari ini.
"Hekhk, dasar aneh?!, kelihatannya kamu sangat menikmati sandiwara mu itu ya?!" sindir Netta, sukses membuat Maira menghentikan kunyahannya.
"Sandiwara apa?aku ga pernah tuh bersandiwara dan berpura-pura kayak kak Netta dan yang lainnya dirumah ini." Balas Maira tak kalah sengitnya.
"Oo ya?,kita lihat saja sampai akhir bulan ini, maka kesombongan kamu itu juga akan selesai, karena waktumu sudah habis untuk membuktikan ucapanmu yang sudah kamu sepakati sama ayah! " balas Netta lagi. Keduanya saling tatap dengan sinis nya.
"Terserah, siap-siap aja kak Netta gigit jari dan mundur dari posisi itu. Karena aku akan buktikan pada kalian semua kalau aku pantas mendapatkan posisi CEO SN group.Kalian tentu tau kan SN itu singkatan dari apa?, Sasongko Nurmala Group.Gak ada tuh nama ibu kalian disana,karena perusahaan itu dibangun oleh ayah dan juga ibuku.Kalian gak ada hak untuk menguasai nya walau sedikit pun." Kini amarah Maira mulai memuncak.
Sementara Pak Sasongko hanya bisa mengurut dada melihat kedua putrinya itu bertengkar di hadapannya.
"Jangan sombong dulu kamu Maira!, perusahaan itu juga milik ayah, ayah juga ayah kami.Tentu saja kami juga punya hak" Balas Netta lagi, sementara Tiara hanya menyemangati kakaknya Netta.
"Benar itu!."timpal Tiara adiknya.
Pak Sasongko tiba-tiba merasa kalau dadanya sesak setelah menyaksikan pertengkaran ketiga putri kandungnya. Setiap kumpul di meja makan selalu saja terjadi perang,bukannya mau makan dengan tenang. Tapi semakin lama malah semakin runyam.
"Sudah!, hentikan ribut-ributnya! kalian itu semuanya sudah dewasa. Kenapa masih bertingkah seperti anak kecil saja! Sekarang bisa kan sekali saja kita makan dengan tenang." ujar Pak Sasongko dengan tegasnya sambil memegangi dadanya, membuat Maira dan Netta sedikit meredam emosinya dan setuju untuk sedikit gencatan senjata.
"Kak Netta Yah yang mulai duluan.Aku kan hanya membela diri. " sahut Maira dengan nada melemah.
"Kamu juga salah Maira, kenapa kamu harus terpancing dengan perkataan kakak mu.Kamu juga Netta, bisa gak sehari saja kalian itu gak ribut, jangan ajari adik-adik mu membangkang. Sebagai anak tertua kamu seharusnya bisa memberikan contoh yang baik.Kalian memang gak pernah menganggap ayah ada." Pak Sasongko kembali duduk di kursinya setelah puas menceramahi anak-anak nya.Netta pun tertunduk lesu.
Suasana sedikit kondusif.
"Jadi bagaimana Maira?kapan kamu akan membawa calon suamimu kerumah kita?. " tanya Ayahnya.
"Kapan Ayah punya waktu? " tanya Maira gugup,sebenarnya dia pun gak tau apakah Bima mau bila dia meminta bantuan untuk menemui Ayahnya,karena dia juga belum memberi tahu Bima soal masalahnya.
Jangankan memberi tahu, Maira masih malu kalau mengingat kejadian semalam.Maira juga tidak yakin untuk meminta bantuan pada Bima.
Pak Sasongko menimbang-nimbang"Bagaimana kalau malam minggu ini,kita bisa jamu dia makan malam dirumah kita"
"Ingat nak, kamu hanya punya waktu kurang dari 3 minggu lagi, kalau kamu memang benar punya pacar, ajaklah dia datang kerumah kita dan kenalkan sama ayah dan keluarga kita,bawa pemuda itu kemari dan minta dia untuk menikahi mu.Tapi ingat,Ayah juga harus menilainya dulu,semuanya harus sesuai dengan kriteria menantu di keluarga kita." ujar Pak Sasongko dengan bangganya.
"Oooo gitu,Coba Ayah lihat para menantu Ayah ini. Apa kriteria nya harus seperti mereka? ." tunjuk Maira pada suami Netta dan juga suami Tiara sambil tersenyum.
"Tentu saja, mereka dari keluarga kaya,pintar dan berpendidikan. " ujar ayahnya.
"😂😂😂Jadi harus kaya,mana ada pria kaya mapan yang setelah menikah malah tinggal dan menumpang dirumah mertuanya,lalu bekerja pun diperusahaan keluarga istrinya, ck... ck.. ck. " Maira sengaja mengolok-olok Suami Netta dan juga Tiara. Sehingga membuat kedua saudara iparnya itu geram dan menampakkan wajah marah.
"Cukup Maira, kamu jangan Keterlaluan ya. Apa maksudmu hah!??." Netta berdiri dari duduknya.Hatinya memanas dan terprovokasi.
Maira pun berdiri"Apalagi???!, Masa kak Netta ga ngerti sih?Jaadiii, para menantu ayah haruslah laki-laki yang setelah menikah menumpang hidup dengan keluarga istrinya.Aku benarkan kak?? "
Netta semakin geram, ingin sekali ia memukul Maira, tapi dihalangi oleh Rico suaminya.Rico yang sebenarnya juga emosi tapi mencoba meredam amarahnya demi tujuannya yang belum tercapai.
"Maira!!, kamu jangan keterlaluan nak. Mereka itu saudara mu juga.Mereka juga keluarga kita, apa salahnya kalau mereka bekerja juga diperusahaan kita." Pak Sasongko kembali buka suara.
Maira benar-benar merasa dipojokkan, bahkan Ayahnya pun ikut membela saudari tirinya. Benar-benar tak ada tempat dirumah itu yang menganggap nya penting.
Keberadaannya dirumah itu seolah orang asing,Maira memilih meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya.
Maira menangis sendirian,mengingat kata-kata Ayahnya tadi.Seumur hidupnya dia tidak pernah merasakan kasih sayang yang utuh dari Ayahnya, hanya dulu saat Ibunya masih hidup saja dia selalu dimanja.Tapi sekarang, tak ada lagi kehangatan keluarga yang ia rasakan.
Setiap harinya dirumah ini bagaikan neraka saja,begitu terus dan begitu terus. Kalau bukan karena hak Ibunya yang harus ia perjuangkan,mungkin sudah lama dia meninggalkan rumah ini dan hidup mandiri.
Tapi amanah sang Ibu untuk menjaga Ayahnya dan juga perusahaan sebelum Ibunya meninggal, membuatnya harus tetap bertahan.
Maira mencoba menguatkan dirinya sendiri,Maira menghapus air matanya dan mulai berfikir langkah selanjutnya yang harus ia lakukan.
Terlintas di fikiran nya untuk menghubungi Bima,sepertinya hanya laki-laki itu yang bisa membantu nya kali ini.Apalagi waktu itu kan Bima sudah menawarkan diri untuk menikahinya.
Maira mengambil handphone nya dan mulai mencari nomor Bima,panggilan terakhir tanpa nama itu pasti nomor Bima.Tadi kan Bima yang mengetikkan nomornya di HP Maira dan Misscall ke HP nya sendiri sebelum ia meninggalkan Maira di hotel Bar.
Dengan deg-degan Maira mencoba menekan tombol panggil.Panggilan itu terhubung dan sukses membuat jantung Maira semakin berdegup kencang gak karuan.
"Hallo.. Maira. " sahut suara diseberang sana.
"Hallo Bima,apa kabar? " Maira agak gugup dan cemas,ga tau harus mulai dari mana.
"Aku baik, kamu gimana??" tanya Bima tak kalah kakunya.
"Bima, aku ingin ketemu kamu.Ada hal penting yang mau aku bicarain dan ini menyangkut masa depan aku. " jawab Maira dengan sedikit berani.
"Oke, kapan kamu ingin kita bertemu? aku akan datang. " sahut Bima.
Maira merasa sedikit beban sudah terangkat dari pundaknya karena Bima setuju untuk bertemu.
"Baiklah, aku akan kirim alamatnya. kita bertemu nanti malam jam 7 disana"jawab Maira lagi.
" Oke.. eee. "Belum sempat Bima mengucapkan apa yang ingin ia katakan, Maira sudah terlebih dahulu mematikan telepon karena jantungnya sudah sangat deg-degan.
Maira terus mengusap dadanya, rasanya jantungnya hampir copot mendengar suara pria itu.
Begitu pula Bima, hatinya terasa hangat ketika ponselnya berbunyi dan tertera nama Maira dilayar.Bima sempat tak percaya Maira akan menghubunginya duluan, padahal tadi dia baru saja berfikir untuk menelpon Maira, gadis yang mulai menguasai fikiran nya.
Entah itu karena rasa bersalah nya atau apa, yang jelas dari terakhir bertemu hingga saat ini wajah Maira selalu terbayang-bayang dipelupuk matanya.
Next>>>>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments