Dengan rasa takut yang masih menyelimuti nya, Maira memberanikan diri untuk keluar dari pintu itu,Bima yang setengah kaget saat tatapan mereka bertemu karena tak menyangka akhirnya Maira mau menemuinya.
Buru-buru Maira mengalihkan pandangannya yang tadi sejenak bersitatap dengan netra milik Bima. Bima juga bisa melihat sisa air mata yang ada di sudut mata Maira.
"Sepertinya dia habis menangis, tentu saja dia akan menangis...bodohnya aku. " Fikir Bima.
Maira berjalan mengikuti Bima,walaupun tetap diam tapi dia berusaha bersikap santai dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Kalau difikir-fikir dialah yang paling dirugikan dalam insiden ini,bukan Bima.Tapi kenapa dia yang harus malu dan merasa tidak enak hati.Mungkin karena semalam niat nya datang ke Bar adalah untuk mencari calon suami.
Di dalam hatinya Maira mengutuk dirinya sendiri yang dengan bodohnya membiarkan dirinya meminum minuman yang bahkan sekalipun dalam seumur hidupnya belum pernah ia sentuh, tapi tadi malam pertahanan nya telah runtuh. Tak terasa air matanya pun kembali mengalir dan semakin deras terisak.
Maira duduk disofa yang ditunjuk oleh Bima, sedangkan Bima duduk di sofa yang berhadapan dengan Maira.
"Eeee... soal...yang terjadi semalam, saya akan bertanggung jawab ." Bima mengutarakan maksudnya, walaupun dia juga masih ga tau harus bagaimana, tapi yang pasti dia tau dia salah.Dan langkah pertama dia harus mau bertanggung jawab terhadap apa yang telah ia lakukan.
"Bertanggung jawab?, bertanggung jawab seperti apa?? " tanya Maira dengan sedikit menatap Bima.
"Aku bersedia menikahimu." ujar Bima mantap.
"Menikah???, apa kamu yakin?? aku rasa tidak perlu.Tadi malam, apa yang terjadi diantara kita karena kita sama-sama sedang mabuk. " jawab Maira.
Padahal dihatinya"bukankah ini kesempatan emas, karena memang dia sedang membutuhkan seorang calon suami untuk di ajak menikah dalam bulan ini juga?? "
Tapi karena gengsinya lebih besar Maira tidak mau gegabah dan terlihat gampang di mata Bima.
"Tapi walau bagaimanapun saya harus bertanggung jawab,saya tahu kalau saya adalah laki-laki pertama bagimu. " Bima masih tetap dengan niat baiknya.
Maira terdiam mendengar ucapan Bima,memang benar kata Bima, dialah pria pertama dalam hidup Maira.
"Apa kamu bersedia menikah denganku??"tanya Bima lagi.
" Tapi...., pernikahan yang dilakukan tanpa cinta tidak akan pernah berhasil."jawab Maira dengan isakan air mata dan tatapannya yang seolah kosong.
"Lalu kamu maunya bagaimana? , bagiku cinta atau tidak bukanlah hal utama.Yang harus saya lakukan adalah bertanggung jawab dengan apa yang sudah saya perbuat terhadapmu itu yang paling penting.Meski kita melakukannya bukan dalam keadaan sadar, tapi itu tetap suatu keharusan dan kewajiban saya sebagai laki-laki.
" Beri aku waktu,aku belum bisa berfikir jernih. Aku juga tidak bisa langsung setuju, karena pernikahan juga menyangkut keluargaku, keluargamu, kita bahkan belum saling mengenal dengan baik satu sama lain. "kelihatannya Maira masih ragu atau menarik ulur.
Walau tak dapat dipungkiri, ada angin segar yang menenangkan kalbu nya, saat Bima berusaha tetap mengajaknya menikah berulang kali, walau dia seolah menolaknya.
" Baiklah, dalam satu minggu aku tunggu jawabanmu."ujar Bima. Bima pun pasrah dan tak mau memaksakan dirinya untuk Maira.Semua keputusannya ada ditangan Maira,apapun nanti yang akan Maira putuskan dia akan menerimanya.
Hari itu, mereka sepakat untuk berpisah sampai hari yang ditentukan, seminggu lagi mereka akan bertemu di sebuah kafe,yang sudah ditunjuk Bima.
Bima juga mengetikkan nomornya di ponsel Maira, dan menelpon ke ponsel nya agar nomor Maira tersimpan di ponsel nya, dia juga memberikan tulisan nama Maira di nomor tersebut.
Entah mengapa Bima merasa khawatir kalau-kalau gadis itu akan mengandung hasil dari benihnya, karena dia ingat betul kalau semalam dia tidak memakai pengaman apapun.
Setelah Bima pergi dari kamar itu,Maira pun turun dan mendapati dirinya masih berada didalam Bar yang tadi malam.
"Ternyata ini masih didalam Bar, dimana Rasty? kemana perginya? kenapa aku ditinggal berduaan bersama Bima? apa jangan-jangan??. "gumam Maira.Terbersit dibenaknya kalau Rasty lah yang melakukan ini padanya. Nanti dia harus menanyakan kebenarannya kepada sahabatnya itu.
Maira berjalan keluar dan mendapati mobilnya masih terparkir didepan Bar.Kalau mobilnya masih disini, itu artinya Rasty pulang dengan siapa?.
Ohhh Maira lupa, ini kan Bar milik gebetannya Rasty, tentu saja dia pulang diantar pacar barunya itu, kelihatannya semalam mereka udah jadian, karena Shakti terus saja memanggil Rasty dengan panggilan sayang.
Maira pun mengendarai mobilnya dan pulang kerumah,dengan keadaan nya yang sedikit acak-acakan dan matanya yang agak sembab karena terus menangis.
****
Setibanya dirumah, Maira merapikan sedikit riasan nya, dan juga pakaiannya.Barulah setelah itu ia pun turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.
Di ruang tamu, sudah ada yang menanti kedatangannya. Siapa lagi kalau bukan ayah, ibu tiri, dan juga saudari-saudarinya beserta suami mereka masing-masing.
" Jam begini baru pulang, dari mana aja kamu semalam?!! "tanya sang ayah.
" Semalam, aku nginap dirumah pacarku!"jawab Maira ketus.
"😂😂😂apa??? pacar??? berani kamu bohongi ayah, kamu itu mana punya pacar🤣🤣, palingan juga nginap dirumah si Rasty teman kamu itu kan,udah ngaku aja deh.Ga usah sok-sok an ngaku punya pacar. " Netta malah ga percaya🤣🤣.
"Terserah aja kalau kalian gak percaya,aku mau kekamar dulu." Maira langsung nyelonong kekamar nya meninggalkan orang-orang kepo yang ga percaya dengan apa yang dia bilang.
Nyonya Shinta berbisik-bisik dengan kedua putrinya.
" Apa benar dia punya pacar?, tapi kalau dilihat dari pakaiannya dan kondisinya kayaknya dia memang habis..... "ucapan Tiara terhenti.
" Bagaimana kalau benar dia sudah punya pacar Ma? "Netta khawatir posisinya bisa di gantikan oleh Maira.
" Palingan dia bersandiwara saja, biar ayah kalian mau peracaya dan memberikan posisi CEO itu kepadanya. jangan harap ya dia bisa berhasil mencapai apa yang dia ingin kan." ujar Nyonya Shinta sambil berbisik kepada putri-putrinya.
" Kalian ini bicara apa?? ayo kita ke ruang makan.Ayah sudah lapar. "Pak Sasongko mengagetkan ketiga wanita culas itu.
"Ehhhh, iya Yah.Kita akan menyusul. " jawab mereka kompak dan mengikuti pak Sasongko keruang makan.
"Bik..., panggilkan Maira untuk makan bersama. " teriak pak Sasongko.
"Iya Tuan,segera saya akan panggilkan. " jawab Bik Piya, Bik Piya langsung berlari keatas untuk memanggil nonanya.
Kini Maira sedang mandi, dia berendam di bathup sambil merenungi peristiwa semalam. Peristiwa yang tidak akan pernah bisa dia lupakan,terbayang potongan-potongan ingatannya saat Bima menyentuhnya yang ia kira itu cuma mimpi belaka.
Tanpa sadar senyuman pun terukir dari sudut bibirnya,ada terbersit rasa bahagia mengenang kejadian itu.
"Eh, kenapa aku malah tersenyum. "Maira baru sadar kalau dia 🤣🤣.
******
Terdengar ketukan pintu dan juga diikuti suara panggilan dari Bik Piya.
" Non, kata Tuan Nona Maira disuruh turun untuk makan bersama non. "
"Iya, nanti aku turun Bik. Aku mau mandi dulu, bilang ke mereka. "sahut Maira.
Tunggu next episode😊😊😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments