Sekitar sepuluh menit berlalu, Annette telah menceritakan kronologi penculikannya secara singkat kepada Laura. Membuat Laura tergamam, seakan sulit mencerna kebenaran dari ceritanya itu.
"Jadi intinya, kau di culik seorang vampir dan di paksa menjadi pengantin wanitanya untuk mengandung dan melahirkan seorang anak?"
"Em" Annette mengangguk. Ia maklum jika ceritanya terdengar tak masuk akal. Lagi pula siapa yang akan mudah percaya keberadaan makhluk mitologi seperti itu?
"Kau sedang tidak mengarang kan?" Tanya Laura, tatapannya jelas tidak mempercayai apa yang baru saja di katakan Annette, "Maksudku, barangkali kau terkena Stockholm syndrome, sehingga membuat mu mengarang cerita tak masuk akal ini demi menyembunyikan identitas penculik mu?"
Annette tersenyum simpul mendengar itu dan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mengarang apapun. Inilah buktinya jika kakak tidak percaya" Annette mengulurkan tangan kanannya kepada Laura. Ia menunjukkan bekas luka di pergelangan tangannya yang di sana masih tercetak jelas bekas gigitan taring Egbert.
Laura buru-buru memegang pergelangan tangan Annette dan meraba dua titik hitam kebiruan di sana. Sekilas ia dapat melihat agaknya luka itu cukup dalam.
"Saat itu dia menggigit ku begitu buas, aku sampai berpikir pergelangan tangan kananku akan putus karena taring tajamnya" Tukas Annette, "Aku masih mengingatnya dengan jelas, betapa banyak darah yang mengucur deras dan dia menyedotnya seakan itu segelas jus strawberry favorit ku"
"..." Laura menatap Annette tanpa kata-kata yang terucap.
"Dia benar-benar sangat menikmati meminum darah ku" Tutur Annette lagi. Mengambil cup kopinya yang sudah dingin, Annette kembali menyesapnya sedikit.
"Seperti yang kakak katakan malam itu, kemungkinan paling masuk akal pada mayat dengan gigitan di leher itu adalah perbuatan vampir" Annette meletakkan cup kopinya di meja, "Yah, ternyata mereka benar-benar ada"
Meskipun masih sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya, Laura tertarik mengajukan pertanyaan lainnya, "Tapi jika memang dia bukan manusia, kenapa tidak dia menikah dengan perempuan dari jenisnya saja? Bukankah dengan menikahi manusia itu akan sangat merepotkan?"
"Entahlah aku tidak tau" Annette berkedik bahu.
"Dan leher mu, sepertinya aku melihat beberapa ruam merah yang sudah agak sedikit memudar, apa itu—"
"Apa? Ruam?" Segera Annette meraba lehernya dan menurunkan tatapannya. Ia yakin bekasnya sudah hilang sekitar lima hari yang lalu. Tapi bagaimana mungkin...
"Apa dia setiap hari juga menghisap darahmu?"
"Tidak" Geleng Annette. Tangannya menarik kerah blusnya dan meninggikannya. Sekilas ia tersenyum malu.
"Sebentar" Laura bangun dari duduknya dan masuk ke dalam minimarket. Setelah ia mengambil sesuatu dan membayarnya ke meja kasir, ia kembali keluar mendatangi Annette.
"Bekasnya sudah cukup samar, tapi sedikit terlihat jika di perhatikan. Lain kali tutupi dengan ini" Laura menyodorkan barang yang baru saja dibelinya kepada Annette.
"Ini.."
"Concealer. Aku terkadang memakainya untuk menyamarkan bekas jerawatku" Tukas Laura. Ia tau pengetahuan Annette tentang makeup sedikit kurang, "Aku pilihkan yang sesuai dengan warna kulitmu"
"Terimakasih kak" Annette tersenyum tulus dari matanya yang berbinar haru.
"Em" Angguk Laura, mengambil cup kopinya segera ia menenggaknya sampai habis.
"Tapi apa kau tidak apa-apa dengan mengandung anaknya? Kau masih begitu muda dan kau seorang pelajar. Kau yakin dapat melakukannya?"
Annette beberapa saat mengedipkan matanya dan menghela nafas berat, "Dia tidak memberikan ku pilihan. Yakin atau tidak, aku sudah terlanjur menandatangani surat kesepakatan"
"Lalu bagaimana denganmu nantinya?"
"Maksud kakak?" Annette menautkan sepasang alisnya.
"Kelak kau akan mengandung sebuah kehidupan baru dalam perutmu selama sembilan bulan lamanya. Sekalipun itu bayi vampir, tapi dia juga darah daging mu. Apa kau yakin akan menyerahkannya begitu saja sesuai kesepakatan?"
Beberapa saat Annette terdiam.
"Aku tau kau adalah gadis muda yang sekarang ini hanya memikirkan pekerjaan, studi dan kelanjutan hidup. Tapi semua akan berbeda ketika kau mengandung seorang bayi. Karena saat itu jiwa keibuan mu akan tumbuh dan saat itu terjadi..." Laura menatap dalam mata hitam Annette, "Apa kau dapat melepaskan bayi mu dan melupakan identitas mu sebagai seorang ibu?"
......................
Tepat pukul dua belas malam, Annette sudah kembali ke kastil. Gordon mengeluarkan satu koper miliknya dari bagasi. Itu adalah beberapa barang kebutuhannya, karena akan sangat merepotkan jika ia selalu pulang- pergi ke rumah atapnya.
"Kalau begitu saya permisi nyonya" Pamit Gordon.
"Em" Annette merasa sedikit bersalah. Karena mengantar dirinya, pria paruh baya itu harus pulang larut malam ke rumahnya. Tapi ketika ia meminta maaf untuk itu, Gordon dengan murah hati berujar, "Tidak masalah nyonya, ini adalah tanggung jawab saya sebagai supir pribadi anda"
Annette menaiki anak tangga teras dan menekan bel. Segera pintu Kastil dibuka dan salah seorang datang mengambil kopernya.
"Anda sudah makan nyonya? Jika belum saya akan menyuruh seseorang untuk menyiapkan makanan" Ujar Mary yang berdiri menyambut kepulangan nya.
"Tidak perlu" Tolak Annette. Ia memang belum makan apapun tapi perutnya sama sekali tidak terasa lapar.
"Baik kalau begitu, saya permisi"
Annette mengangguk dan terus berjalan menuju lorong ke kamarnya. Ia masuk diikuti seorang pelayan yang membawa kopernya.
"Letakan saja di sana"
"Baik nyonya"
Annette berjalan ke ranjang dan menghempaskan tubuh lelahnya ke atas benda empuk itu.
"Apa perlu saya siapkan anda air hangat untuk anda berendam?" Pelayan itu dapat melihat garis-garis kelelahan di wajah tirus Annette.
"Tidak perlu" Tolak Annette, suaranya terdengar cukup pelan dan matanya menatap langit-langit kamar.
"Baik kalau begitu, saya permisi nyonya"
Pelayan itu pergi meninggalkan kamar, Annette mendengar suara pintu tertutup dan segalanya menjadi hening.
"Haah" Annette mendesah berat ketika pikirannya kembali berlabuh pada ucapan Laura...
'Apa kau dapat melepaskan bayi mu dan melupakan identitas mu sebagai seorang ibu?'
"Aku sadar sejak awal kesepakatan ini adalah kegilaan"
Tapi bagaimanapun ia hanya gadis kecil yang rapuh, yang begitu gentar saat melihat sepasang taring tajam siap menancap leher kurusnya. Ia sungguh tak dapat menahan diri dari ancaman sadis itu.
Annette tanpa sadar meraba perutnya yang masih datar. Ia dapat merasakan samar-samar ketakutan berdesir di setiap sel darahnya, ketika membayangkan benih vampir kelak akan tumbuh berkembang di sana.
Saat itu Annette begitu terlarut, sampai tak sadar dengan suara pintu terbuka dan Egbert yang berjalan masuk kedalam.
"Kenapa kau memegang perut mu?"
Suara dingin yang cukup minim sentuhan emosi itu jatuh di ruang yang hening. Seketika Annette tersadar dan tangan nya terus terangkat dari perutnya, "Bukan apa-apa"
"Jika kau lapar katakan saja, aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makan malam untukmu" Ujar Egbert lagi, yang kini sudah duduk di tepi ranjang.
"Aku tidak lapar" Ucap Annette.
"Terserah kau lapar atau tidak. Yang terpenting kau punya cukup tenaga untuk bercinta denganku malam ini"
Mungkin pada awalnya kedua belah pipi Annette akan memerah setiap kali kata 'bercinta' keluar dari mulut Egbert. Tapi tidak dengan malam itu.
Pikirannya cukup semrawut sampai ia tak sadar dengan malam panas yang dilewatinya dengan Egbert. Kegiatan itu berlangsung cukup lama, tapi Egbert sama sekali tidak mendengar keluhan atau jeritan Annette yang seperti biasanya.
Padahal ia sudah menggigit beberapa kali, tapi gadis itu hanya terdiam dengan tatapan kosongnya menatap langit-langit.
Egbert memutuskan untuk segera mengakhirinya karena diamnya Annette sedikit membuatnya bosan. Egbert bergerak turun dari ranjang, bergegas memakai jubah tidurnya dan pergi meninggalkan kamar Annette.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments