Tepat ketika mata kuliah yang di ajarkan Sean berakhir, ia segera pergi meninggalkan ruang. Sekeluarnya dari pintu, Sean merasa heran karena tak mendengar jeritan para gadis manusia yang biasanya terjadi tiap kali beberapa langkah ia berjalan keluar dari kelas.
Sean sama sekali tidak tau, kalau saat itu para mahasiswi yang merupakan fans fanatiknya itu, mereka telah mengerubungi meja tempat Annette duduk. Hal tersebut membuat Lucy yang bersiap hendak keluar, malah terjebak bersama Annette di sana.
"Katakan pada kami, apa kau ada hubungan spesial dengan pak Sean?"
Annette menghembus kan nafas berat dengan pertanyaan itu. Karena ia pribadi yang tak suka cari keributan dengan anak-anak di kampus, ia langsung memberikan mereka keterangan yang masuk akal agar mereka tidak salah paham.
"Aku sudah beberapa kali absen di kelasnya. Mungkin dia menatapku karena ingin menanyakan soal ketidakhadiran ku itu"
"Aah, jadi kau menarik perhatiannya dengan cara ini hum? Menghilang begitu saja tanpa kabar dan kembali memunculkan diri untuk mendapatkan perhatiannya?"
Annette menatap jengah pada gadis berambut ikal coklat panjang yang baru saja berbicara. Ia tidak akan mengira keterangan yang diberikannya malah akan berkembang sesat seperti itu.
"Aku sudah mengatakan apa yang aku pikirkan dan menurutku begitu. Tapi jika kalian memang sangat penasaran soal itu, tanyakan saja langsung pada pak Sean. Jangan mengsalah pahami ku seperti ini"
Seusai mengatakan itu, Annette bangun dari duduknya. Kehidupannya yang keras telah membentuknya menjadi karakter kuat yang tak mudah ditindas. Membelah keramaian dengan kedua tangannya, ia tak segan berjalan pergi begitu saja melewati mereka.
Lucy yang melihat itu tersenyum kagum, merapikan posisi kacamatanya segera ia mengejar Annette.
"Ternyata aku mencemaskan hal yang tidak perlu" Kata Lucy ketika mereka berdua berjalan bersama di lorong kampus.
"Aku tidak punya waktu untuk mengurusi mereka. Ada banyak hal yang menantiku untuk dikerjakan" Annette tersenyum simpul.
Lucy mengangguk mantap untuk sikap positif Annette, "Kita ada beberapa tugas yang harus di kerjakan dalam minggu ini, nanti aku akan mengirimkan catatan lengkapnya pada mu melalui surel"
"Eum, terimakasih Lucy. Lain kali aku akan mentraktir mu makan" Annette merangkul hangat gadis mungil itu.
"Ah kau tidak perlu melakukannya. Tabung saja uang mu. Lagipula adalah hal lumrah sebagai teman saling membantu" Tutur Lucy, suaranya terdengar cukup tulus.
Itu membuat Annette tersenyum penuh arti. Ia mungkin tidak punya banyak teman dan lingkaran sosial yang luas. Tapi memiliki satu barang dua orang yang sangat baik dan begitu memperhatikannya, ia rasa itu sudah lebih dari cukup.
Ketika hari perkuliahannya berakhir, Annette bergegas kembali ke rumah atapnya. Ia sibuk bersih-bersih mulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring hingga baju.
Setelah semua kegiatan itu usai, Annette pergi mengisi daya teleponnya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memutuskan untuk tidur barang setengah jam.
Karena di malam harinya, ia sudah harus kembali bekerja di minimarket.
......................
"Masih tidak ada kabar tentang Annette?" Tanya pak manajer yang malam itu datang mengecek ke minimarket.
Laura yang sedang mengatur beberapa barang di rak, menoleh pada pria paruh baya itu dan menyapa sopan sebelum menjawab, "Belum pak. Saya sudah mendatangi kantor kepolisian melaporkan hilangnya Annette. Tapi sampai sekarang belum ada kabar" Laura menunduk lemah mengingat malam terakhir pertemuannya dengan Annette.
Malam itu jelas ia sudah melarangnya untuk pulang jalan kaki, tapi gadis muda itu tetap saja memilih irit dan mempertaruhkan nyawanya. Di mana sampai malam ini belum jelas keberadaannya.
"Kalau begitu mungkin saya harus merekrut pegawai baru"
"Apa pak?"
"Saya tidak bisa menunggunya dalam ketidakjelasan seperti ini. Minimarket ini akan tidak beroperasi dengan baik jika kekurangan pegawai" Sekilas manajer menoleh kearah meja kasir yang kosong. Sedang dua pegawai lainnya sibuk menata barang-barang dan perlengkapan lainnya.
"Saya mengerti pak, tapi bagaimana jika Annette kembali?"
"Saya akan meme—"
"Mohon jangan pecat saya pak" Annette berlari masuk kedalam minimarket dengan nafas terengah-engah.
Laura cukup terkejut melihat kedatangan Annette yang sangat tak terduga itu, matanya terus berkaca-kaca, "Annette, kemana saja kau selama seminggu ini? Aku telfon tapi di luar jangkauan. Aku mengirimi mu pesan tapi tak ada balasan. Kau tau betapa aku mencemaskan mu hum?"
Annette menatap penuh haru pada Laura yang sudah seperti kakak baginya itu. Mulutnya hendak terbuka mengatakan sesuatu, tapi pak manager sudah lebih mendahului, "Annette"
"Iya pak"
"Ikut saya keluar"
"Baik pak"
Annette pun mengirimkan sinyal pada Laura bahwa ia akan menceritakannya nanti. Kemudian ia langsung melangkah keluar minimarket dan mendatangi tempat di mana pak manager berdiri.
"Ke mana saja kamu selama ini? Kamu sama sekali tidak mengurus cuti apapun tapi sudah menghilang seminggu penuh begitu saja"
Annette merasa kesulitan untuk menjelaskan kondisinya. Haruskah ia berkata dirinya baru saja di culik?"
"Awalnya saya ingin mengganti posisi mu, tapi Laura terus mendesak saya bahwa ia dapat menggantikan posisi mu sampai kau kembali"
Annette yang mendengar itu merasa sangat tersentuh. Ia tidak akan mengira Laura sampai seperti itu demi menjaga pekerjaan paruh waktunya.
"Tapi tetap saja kinerjanya menjadi tidak efisien. Karena itu aku berniat memecat mu jika kau tidak memunculkan diri malam ini"
"Maafkan saya pak" Annette membungkuk penuh rasa bersalah.
"Masuklah!"
Mata Annette terus terbelalak kaget ketika mendengar itu. Ia pikir malam ini ia akan kehilangan pekerjaannya yang berharga.
"Untuk seminggu ketidakhadiran mu, alih-alih memecat mu, sebagai gantinya aku akan memotong gaji mu"
"Terimakasih banyak pak" Sekali lagi Annette membungkuk penuh rasa terimakasih.
Pak manager hanya mengangguk dan setelahnya pergi meninggalkan kawasan minimarket.
Laura pergi menyeduh dua cup kopi hitam instan dan mengajak Annette mengobrol di meja luar yang malam ini sepi oleh anak-anak muda yang biasa nongkrong di sana.
"Ceritakan padaku, kemana saja kau selama seminggu ini?" Laura meletakkan cup kopi yang masih mengepulkan uap itu kepada Annette.
Annette tersenyum simpul dengan sorot mata terimakasih. Kemudian ia menarik nafas dalam dan menghembusnya perlahan, "Aku di culik dan di sekap dalam kastil yang letaknya agak dekat ke hutan"
"Huk..huk" Pernyataan Annette itu langsung saja membuat Laura tersedak.
Berbeda dengan Lucy di mana Annette hanya sebatas dekat ketika mereka di kampus, tapi dengan Laura, wanita itu sudah seperti saudara perempuan baginya. Jadi Annette tak ragu untuk menceritakan segalanya pada Laura.
"Harusnya aku mendengar nasehat kakak malam itu" Annette tersenyum getir, mengangkat cup kopi ke mulutnya, ia menyesapnya pelan.
Laura mendesah tak berdaya. Kemudian ia memegang lembut punggung tangan Annette, "Lalu bagaimana bisa kau pergi dari sana? Mereka membebaskan mu? Atau kau melarikan diri?"
Annette meletakkan cup kopi yang baru di minumnya sedikit itu di atas meja.
"Tidak keduanya"
"Apa?" Terang saja Laura terkejut. Kalau bukan karena dibebaskan atau melarikan diri, lalu bagaimana Annette bisa keluar dari sana?
"Aku hanya diizinkan keluar sebentar dan harus kembali ke kastil itu tepat sebelum pukul dua belas malam"
Laura terngaga dan matanya berkedip bingung. Ia masih sama sekali tidak mengerti karena Annette tidak menceritakan kronologi lengkapnya.
"Kak Laura, aku sudah menikah" Annette mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin emas putih yang melingkari jari manisnya yang tak lagi polos.
"Apaaa?" Kali ini sepasang bola mata Laura nyaris akan melompat keluar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Putudina Nurhayanti
mengsalah
#menyalah
2023-09-19
1