"Tapi sayangnya sudah terlambat untuk itu" Ucap Egbert setelahnya.
"A-apa terlambat?" Mata Annette berkedip bingung.
"Bagaimana bisa terlambat?" Tukasnya lagi, "Semua baru saja terjadi semalam. Jadi ku rasa belum terlambat untuk mengakhirinya bukan?"
Annette meremas selimut di tangannya, ia sangat berharap, sungguh sangat berharap pria itu akan mengatakan..
"Tidak"
Sial!
Bukan itu yang ingin ku dengar.
"Aku sudah terlanjur menanam benih di tubuhmu" Ucap Egbert.
"Jadi aku tidak bisa mengakhiri ikatan di antara kita begitu saja"
"Hah?" Rahang Annette setengah terbuka, menatap Egbert setengah percaya. Sungguh...
Rasanya ia akan menggila sekarang.
"Tapi.."
"Itu kan baru sekali kau melakukannya"
"Belum tentu itu berhasil kan" Tutur Annette lagi.
"Bagaimana jika itu berhasil?" Sanggah Egbert.
Annette menatap tak berkedip.
'Aku..'
'Harus jawab apa?'
"Dalam tahun ini atau setahun ke depan, aku harus segera memiliki keturunan" Terang Egbert dengan raut wajah serius, "Jadi jika yang pertama itu berhasil, mana bisa aku melewatkannya begitu saja"
"T-tapi.." Annette hendak mengatakan sesuatu hanya..
"Tidak ada tapi-tapi!" Egbert sudah lebih dulu memotongnya.
"Kedepannya bersikap lah lebih baik di kastil ku"
Egbert bergegas bangun dari duduknya.
"Jika kau benar-benar ingin aku memberimu akses pulang-pergi dari tempat ini.."
"Maka patuhlah!" Setelah mengatakan itu, Egbert Segera beranjak pergi.
......................
Malam harinya setelah makan malam. Egbert berjalan menuju ke kamarnya.
"Tuan"
Sapa pelayan yang baru saja selesai membersihkan kamar Egbert dari kekacauan yang diciptakan Annette
"Kamar anda sudah saya bersihkan" Ujarnya.
"Hanya untuk cermin kami baru saja memesannya dan itu akan datang besok"
"Eum"
"Kalau begitu saya permisi tuan"
Egbert hanya mengangguk dan pelayan itupun berlalu pergi.
Tepat ketika Egbert memegang gagang pintu hendak membukanya..
"Sepertinya malam ini aku butuh suasana baru" Egbert tersenyum licik dan terus berjalan ke lorong yang tak lain adalah arah menuju kamar Annette
"Ah sial!"
Annette menggerutu kesal seraya menimpuk bantal ke kepala ranjang
"Sudah berapa hari aku bolos dari kampus?"
"Mana kerja part-time pun juga"
"Haisy!" Annette menenggelamkan wajahnya ke telapak tangan tampak frustasi.
Ceklek!
Mendengar suara pintu terbuka, segera Annette menoleh
"Kenapa kau kemari?"
"Aku ingin tidur denganmu" Egbert berjalan ke tepi ranjang seraya menghentak kan jubah tidur hitamnya.
"A-apa tidur?" Annette tampak gelagapan.
"M-maksud mu kau akan tidur disini?"
"Dengan ku?"
"Eum" Egbert dengan santainya mengangkat selimut dan naik ke atas ranjang tepat di samping Annette.
"Tidak boleh" Tentang Annette tegas.
"Bagaimana bisa kau tidur di sini?" Ujarnya yang jelas tak senang.
"Ini kamar ku, sana tidur dikamar mu sendiri"
"Haah" Egbert menghela nafas kasar.
"Apa katamu?"
"Kamar mu?"
"Perasaan aku tidak pernah mengatakan salah satu kamar yang ada di kastil besar ku ini adalah milik mu"
"Y-ya kau memang tidak pernah mengatakannya" Suara Annette kini sedikit menciut.
"Tapi aku kan sekarang istri mu, masa sih kau se-pelit itu pada istrimu sendiri" Tuturnya lagi.
"Aahh.." Egbert mengangguk-angguk.
"Kau benar, kenapa aku se-pelit itu dengan istri ku"
"..." Annette diam dengan wajah tersenyum tipis. Tidak tau kenapa..
Annette berfirasat buruk tentang ini.
"Kalau begitu, aku akan membagikan salah satu kamar yang ada di kastil ini kepada istri ku"
"Ah, baguslah" Annette tampak mendesah lega.
"Kalau begitu keluar lah" Ujarnya dengan polosnya.
"Aku mau tidur"
Tapi melihat Egbert yang sedikitpun tidak bergerak, sepasang alis Annette pun bertaut, "K-kenapa kau masih diam di sana?"
Annette sungguh tak berharap pria itu akan tidur dengannya malam ini.
Bisa-bisa besok pagi ia terbangun dalam keadaan anemia karena pria penghisap darah itu
Membayangkannya saja benar-benar membuat Annette menggigil.
"Kenapa aku harus keluar?" Tanya Egbert.
"Ya karena aku mau tidur" Jawab Annette.
"Aku tidak bisa tidur jika kau ada di sini" Lanjutnya lagi.
"Bukannya aku sudah mengatakannya tadi. Aku akan membagikannya denganmu. Jadi ayo tidur bersama" Tukas Egbert dengan tak berdosa nya.
Annette meremas tangannya kesal, seraya mengumpat dalam hati.
'Dasar!'
'Pria ini benar-benar licik'
"Tapi sebelum itu.."
"Karena kau adalah istri ku, mari kita lakukan satu hal sebelum tidur"
Deg!
"Bercinta" Egbert mengedipkan satu matanya, tersenyum nakal
'Haah'
'Apa ini?'
'Pria sedingin es batu ini juga tau cara menggoda?'
"Ayo!" Tanpa basa-basi lebih lanjut, Egbert terus saja menyosor ke tubuh kecil Annette. Spontan Annette menjerit ketakutan.
"Enggaaa" Pekiknya.
"Aku gak mau"
Annette menyilang kan kedua tangannya di depan dada, bersikap defensif.
"K-ku mohon jangan malam ini"
"Seluruh tubuh ku masih sakit karena ulah mu semalam" Mengatakan itu kedua belah pipi Annette memerah.
"Sakit ya?"
"Seberapa sakit itu sampai kau masih cukup berkemampuan mengacaukan kediaman ku?" Sudut bibir Egbert berkedut, tersenyum mengejek.
'Haah'
'Sial'
'Pria ini benar-benar'
Annette menggigit bibir bawahnya. Kini ia sungguh bingung harus beralasan seperti apa.
"Pokoknya aku tidak mau tau. Ayo kita bercinta malam ini"
Blush.
Kali ini, kedua pipi Annette terus memerah hangat.
"A-aku" Annette diam-diam menurunkan salah satu kakinya ke lantai berniat kabur. Namun pergerakannya itu langsung tertangkap oleh ujung mata Egbert.
"Aku tidak bisa" Tepat ketika kaki Annette menginjak lantai dan bersiap berlari sekeras mungkin meninggalkan kamar. Lengan kecilnya begitu cepat dicengkeram seseorang dibelakangnya, membuatnya gagal melarikan diri.
"Kau tidak bisa lari begitu saja"
"Berbaring lah yang manis dan bercinta denganku"
"Atau jika kau masih bersikeras untuk pergi,"
"Mungkin kau berniat bercinta denganku di taman belakang?"
Deg!
Mendengar itu jantung Annette nyaris saja hampir jatuh ke perut. Jelas itu adalah ancaman jika ia masih tetap keras kepala untuk menolak.
"Haah" Annette dengan patuh duduk di pinggir ranjang. Sepertinya ia tidak punya pilihan lain. Pria dingin itu tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Bisa-bisa ia bercinta dengannya di taman belakang jika masih saja membandel.
"Di sini" Egbert memasang senyum tak berdosa dan menepuk sisi kosong di sampingnya.
"Berbaringlah di sini di samping ku"
Annette dengan sangat terpaksa menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang dan pergi berbaring di samping Egbert. Segera Egbert bangun dan pergi menindih tubuh kecil Annette.
"Aduh"
"Kenapa tubuhmu berat sekali" Annette merasa seperti tulang belulangnya akan remuk dibawah tekanan tubuh besar Egbert.
"Benar-benar deh. Kenapa kau tidak sabaran seka—emph"
Bibir kecil Annette terus dibungkam oleh bibir dingin Egbert. Seketika jiwa Annette merasa kosong. Annette dapat merasakan pergerakan benda empuk padat yang menekan bibir kecilnya itu perlahan mulai mengem*t dan menghis*p.
Rahang Annette membeku, Tak tau harus berbuat apa.
Mendapati sikap pasif Annette, terang saja Egbert merasa sangat kesal, "Aku sudah mengajarimu malam itu"
Egbert menarik bibirnya yang sudah basah.
"Tapi kenapa kau masih sebodoh ini?"
Annette menurunkan tatapannya, bergeming.
"Haah" Egbert langsung menyobek piyama yang dikenakan Annette dan...
"Aaa" Pekik Annette terkejut.
"Kenapa kau harus menyobeknya?"
Piyama putih yang dikenakannya itu terbuat dari serat sutra berkualitas dan terang saja itu sangat mahal. Tapi pria ini menyobeknya begitu saja seakan-akan itu hanyalah kertas?
Egbert tak menjawab. Tapi Annette dapat merasakan tatapan yang membakar dari mata yang sekali-kali tampak memerah seperti darah. Hingga sebuah pergerakan dibawahnya yang begitu tiba-tiba..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Qovella_94
melumat thor, bukan mengemut😂
2023-06-10
2
Maria Lina
byklh ngoceh ringam jdinyo😏
2022-10-18
1