Tepat di malam harinya. Annette kembali terjaga setelah pingsan begitu lama akibat ulah pelayan pada saat memandikannya. Dengan kepala separuh pusing, Annette menatap ke sekeliling...
"Di mana ini?"
Annette dapat melihat sebuah kamar yang luas dengan desain modern nan mewah.
"Ah, sebenarnya kemana mereka membawa ku?"
Annette menatap ke bawah dan tiba-tiba tersadar sesuatu.
"Aaaaa.."
Annette terperanjat kaget mendapati tubuhnya berbaring di bawah selimut.
"Jangan-jangan..."
Seketika Annette menyingkap selimut itu dari tubuhnya dan bernafas lega mendapati tubuhnya masih terbungkus rapi dalam...
"A-apa-apaan ini?" Tampak mata Annette berkedip tak percaya melihat pakaian yang membungkus tubuh kecilnya.
"Kenapa aku memakai gaun pengantin?"
Itu adalah gaun putih mewah dengan sentuhan yang sangat elegan dari untaian mutiara di pinggang kecilnya. Annette yakin kalau penglihatannya itu tak salah. Jelas sekali itu adalah gaun pengantin.
"Tidak mungkin!"
"Apa jangan-jangan mereka menculik ku untuk membuatku menikah dengan seorang pria tua?"
Begitulah fantasi liar Annette.
"Tidak bisa!"
"Aku harus segera pergi dari sini"
Baru saja Annette menurunkan kedua kakinya ke lantai, tapi...
Ceklek!
Mendapati gagang pintu turun kebawah dan pintu kamar terus terbuka. Tampak seorang pelayan melangkah masuk kedalam.
"Anda sudah bangun nona?"
Annette terus memasang sikap defensif, "Sebenarnya ada apa ini?"
"Kenapa aku memakai gaun putih pengantin seperti ini?" Annette mengangkat gaun putihnya dengan raut wajah murka.
Pelayan itu tetap berdiri tenang menjawab, "Kepala pelayan Mary sebentar lagi akan kemari dan menjelaskannya pada anda"
"Tidak perlu!"
"Aku akan segera pergi dari sini"
Setelah mengatakan itu, Annette langsung berlari menghampiri pintu tapi...
Pelayan itu sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangannya, "Maaf, anda tidak bisa pergi begitu saja dari tempat ini"
Tidak diam dan pasrah begitu saja, Annette pun terus memberontak, "Lepaskan!"
"Ini namanya penculikan!" Tukasnya marah.
"Aku bisa menuntut kalian, apa kalian pikir aku tidak berani melakukannya huh?" Lanjut Annette dengan nada tinggi.
Melihat pelayan itu yang hanya diam saja di tempat, Annette pun mencoba menarik tangannya dari cekalan pelayan itu namun...
'Sial!'
'Kenapa cekalan nya kuat sekali'
"Nona harap tenang"
"Apa katamu?" Pekik Annette keras.
"Sudah seperti ini dan kau masih meminta ku untuk tenang?" Suara Annette penuh dengan emosi.
"Jika kau yang berada diposisi ku, apa kau bisa bersikap tenang huh?" Lanjutnya dengan penuh kekesalan.
"Haah" Tampak pelayan itu menghela nafas berat.
Tepat ketika ia kehabisan akal untuk menenangkan Annette. Kepala pelayan Mary pun datang.
"Ada keributan apa ini?" Tanya Mary sambil menoleh pada Annette dan pelayan silih berganti.
"Ini.."
"Nona ini mencoba untuk kabur" Terang pelayan tersebut.
"Anda sudah bangun nona" Mary tersenyum santun menyapa Annette.
Sikapnya itu sedikit membuat Annette tenang. Hingga tanpa ragu ia pun berkata, "Ku mohon tolong jelaskan"
"Kenapa aku bisa disini?"
"..."
Mary hanya mengukir senyum di bibir dan melambai kepada pelayan, "Kau boleh pergi"
"Baik kepala pelayan Mary"
Setelah pelayan itu pergi, Mary berjalan mendatangi Annette.
"Tidak perlu khawatir, anda adalah tamu di kastil ini jadi kami akan memperlakukan anda dengan baik"
"K-kastil?" Annette cukup terkejut mendengar sebutan tempat itu.
"Em" Angguk Mary dan tersenyum.
Annette masih tidak mengerti. Kenapa dirinya harus ada di kastil? Ia tak pernah kenal dengan anak aristokrat manapun. Jadi kenapa...
"Lalu coba jelaskan" Tutur Annette kemudian, "Apa maksud dari gaun di tubuh ku ini?" Tanyanya dengan tatapan penuh kecurigaan.
Mary tersenyum sopan menjawab, "Kalau soal itu, anda akan segera tau setelah menemui tuan pemilik kastil ini" Ujar Mary yang terdengar cukup santun.
"Jadi, ikutlah denganku dan bersikap lah dengan tenang" Lanjutnya lagi.
Mary sangat berharap Annette dapat bekerja sama dengan tenang dan tidak lagi memberontak berpikir untuk pergi.
"Eum" Annette tak punya pilihan selain menuruti kata kepala pelayan itu.
Mary tersenyum puas melihat Annette yang akhirnya mau bekerjasama.
Di samping itu di ruang makan, Egbert sedang berbicara dengan Sean melalui telepon.
"Aku akan segera menikahinya malam ini"
"Apa kau tidak berniat untuk datang sebagai saksi pernikahan kami?"
"Tidak" Sean terus saja menolak.
"Kenapa?" Tanpa perlu bertanya sebenarnya Egbert sudah tau jawabannya apa.
Itu tak lain karena...
"Apa kau takut identitas mu terungkap?"
"Eum" Sean berdeham malas sebagai jawaban. Ia berpikir, Egbert bertanya hal-hal yang harusnya tidak perlu di pertanyakan lagi. Itu cukup membosankan.
"Yeah, terserah kau mau datang atau tidak" Ucap Egbert yang tidak begitu mempersoalkannya.
"Tapi yang pasti setelah ini kau mungkin akan banyak berurusan dengan pengantin kecil ku" Katanya lagi.
Tap!
Panggilan terus diputus sebelah pihak. Mendapati itu Egbert hanya tergelak kecil, "Hah, apa dia mencoba membalas ku untuk yang semalam?"
Egbert langsung menyelipkan ponselnya ke dalam saku seluarnya. Senyum terukir sempurna di matanya menatap lantai, bersamaan dengan itu dua orang berjalan ke ruang makan.
"Tuan" Mary membungkuk sopan menyapa.
"Em"
Egbert mengangkat kepalanya dan pemandangan seorang gadis muda dalam gaun pengantin...
Membuat senyum mati di sudut bibirnya.
Sekilas itu mengingatkannya akan mimpi terburuknya pada wanita.
"Duduklah!" Titah Egbert, menatap Annette dingin.
Seketika Annette bergidik takut.
Kepala pelayan Mary datang menarik kursi dan mempersilahkan Annette duduk. Awalnya Annette tak mau, tapi merasakan aura dingin yang mencekam dari pria itu...
Tubuh Annette berguncang dan ia pun duduk dengan patuh di kursi.
"Tinggalkan kami!" Egbert melambai pada kepala pelayan Mary menyuruhnya pergi.
"Baik tuan"
Kini yang tersisa di ruang makan hanya Annette dengan pria asing itu.
"Makan!"
Suara dingin itu jatuh di ruang makan yang hening.
Annette yang awalnya ingin mengatakan sesuatu, mendadak menciut dan mengatupkan mulutnya tidak jadi berbicara.
"Kita akan membicarakan ini setelah makan" Tukas Egbert yang dapat membaca jelas pergerakan gadis itu.
Annette pun hanya mengangguk pelan. Aura dingin pria itu membuatnya nyaris kesulitan mengumpulkan oksigen sekitar.
Sendok dan garpu berdenting di piring. Annette hanya bisa memakan dua suap nasi dalam kondisi seperti itu.
"Makan mu sedikit sekali?"
Annette menjawab gugup, "Aku tak begitu lapar"
"Baik kalau begitu" Ebert memindahkan piring dan melipat kedua tangannya di atas meja, "Langsung saja..."
Sesaat Annette menahan nafas mendengarnya.
"Malam ini"
"..." Annette meremas jari-jemarinya gusar.
"Kau akan menjadi pengantin wanita ku"
"Apaa?"
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Senja Ayu
langsung d nikahin
2023-02-07
1
Rose_Ni
abang vampir sat set sat set
2023-01-14
2