"Katakan!" Egbert sudah lebih dulu mencekal nya.
"Bagaimana aku harus menghukum tanganmu ini?"
"S-sakit" Egbert mencekal nya begitu kuat, pergelangan tangannya nyaris seakan di pelintir.
"Apa sebaiknya ku patahkan saja?"
"Jangan"
"Kenapa jangan?" Mata Egbert menatap acuh.
"Jika ku patah kan maka tangan ini tidak akan lagi berulah di masa depan" Sekilas ekspresinya yang begitu datar ketika mengatakan itu, tampak sangat menyebalkan di mata Annette.
"Ku mohon jangan..." Biar begitu, Annette mau tak mau tetap memohon pada pria dingin tak berperasaan itu.
"Aku sungguh menyesal, tolong maafkan aku" Annette mengiba dengan sepasang mata berkaca-kaca.
"Aku akan memaafkan mu"
Bola mata Annette perlahan mulai bergetar dengan senyum.
"Terimaka—"
"Tapi setelah aku menghukum mu"
Senyum yang sempat mengambang seketika padam. Annette rasanya akan menangis. Egbert meraih pergelangan tangan kecil Annette dan membawanya ke depan mulutnya.
"A-apa yang akan kau lakukan?"
Kret!
"Arghh" Annette menjerit kesakitan tepat ketika sepasang taring tajam itu mencuat dari mulut Egbert datang menggigit pergelangan tangannya. Mata Annette sudah berair dengan air mata kesakitan dan mulutnya tak hentinya melolong sakit memohon Egbert untuk berhenti.
Tapi Egbert begitu buas dan apatis. Seakan itu hanyalah seonggok potongan paha ayam yang dapat ia sobek begitu saja dengan taringnya. Annette nyaris akan pingsan melihat darah yang mengucur deras dari pergelangan tangannya.
Egbert tak menyia-nyiakan cairan merah kental itu begitu saja. Ia langsung menyedotnya dengan mulutnya seakan itu adalah jus tomat manis yang sangat nikmat.
'Ternyata darah manusia selezat ini?'
Biasanya ketika mencium aromanya saja, ia masih dapat mengendalikan diri. Tapi jika sudah mencicipinya seperti ini, masih dapatkah ia mengendalikan dirinya?
Itu adalah kali pertama Egbert meminum darah manusia. Itu karena ia terlahir ke dunia setelah 'sistem pengasingan' diluncurkan. Sistem itu dibuat untuk melindungi keberadaan bangsa mereka yang nyaris hampir punah karena kelicikan manusia.
Ya, mungkin mereka adalah makhluk penghisap darah. Tapi di mata manusia mereka hanyalah seekor nyamuk kecil yang dapat dengan mudah di basmi dengan otak cerdas mereka.
Sistem tersebut pun membuat mereka mengasingkan diri dari dunia manusia dan berpindah ke suatu tempat yang terasing dari mereka. Sejak saat itu pula, alih-alih meminum darah manusia, mereka mulai mencari alternatif lain yang tak lain adalah darah hewani.
Berlalunya abad, para manusia berangsur-angsur mulai melupakan keberadaan mereka. Sejak saat itulah bangsa mereka hanya tersisa sebagai makhluk mitologi semata.
......................
Annette tertunduk lemas di sofa. Dengan seorang pelayan yang membalut luka di tangannya. Tak lain itu adalah hasil dari sobekan taring tajam Egbert. Masih terbayang betapa banyak darah yang mengucur deras saat itu, tapi Egbert menyedotnya begitu rakus seakan-akan itu minuman yang lezatnya mengalahkan jus strawberry kesukaannya.
"Aku ingin bertanya"
"Ya nyonya?"
"Apa kalian tau saat ini kalian bekerja pada siapa?"
Pelayan itu tersenyum lugas menjawab, "Tentu saja"
Pengakuan itu membuat Annette terkejut.
"A-apa kalian tidak takut?" Bola mata hitam Annette tampak bergertar tak percaya.
"Majikan kalian itu jelas bukan manusia.." Ujarnya.
"Dia makhluk penghisap darah. Sewaktu-waktu bisa saja darahmu akan habis di hisapnya"
"Pftt" Celotehan Annette yang terdengar panik itu membuat pelayan tergelak.
"Kenapa kau malah tertawa?"
"Apa menurutmu ini lucu?"
Pelayan itu pun menghentikan tawanya.
"Tuan Egbert memang bukan manusia seperti kita" Ucap pelayan tersebut.
"Meskipun dia makhluk penghisap darah seperti kata anda, tapi tuan Egbert tak seburuk yang anda bayangkan"
"Tidak buruk bagaimana?"
"Kau tak lihat apa bagaimana kedua taringnya yang tajam itu menyobek pergelangan tanganku?" Annette menunjukkan lukanya yang kini sudah di perban rapi dengan kain kasa.
"Dia bahkan menyedot darah ku seakan-akan itu segelas wine di restoran" Tampak bibir Annette yang masih pucat itu gemetaran ketika membayangkannya.
Pelayan itu hanya tersenyum kecil menjawab, "Itu karena anda tidak patuh nyonya"
"Ke depannya bersikap baiklah dan jangan terlalu banyak bertingkah"
"Kalau anda benar-benar tidak ingin digigit lagi, tolong dengarkan saran saya ini"
Annette hanya menatap diam pelayan itu. Kemudian menyuruhnya pergi meninggalkan kamar. Setelah pelayan itu pergi, Annette mendengar suara pintu terbuka.
'Kenapa dia kembali lagi?'
Annette mengira itu adalah pelayan yang baru saja mengobati lukanya.
"Bagaimana dengan luka mu?"
Deg!
Annette tercengang. Tidak perlu menoleh pun ia sudah tau itu suara siapa.
"Menurut mu?" Annette melirik kesal Egbert.
"Melihat ekspresi mu, sepertinya sudah jauh lebih baik" Egbert berkata santai dan pergi duduk di pinggir ranjang.
"Haah" Annette membuang nafas jengah.
"Untuk apa kau duduk di sana?"
"Sana keluar!" Ketus Annette.
"Aku mau istirahat"
"Apa ini?" Egbert sedikit terkejut melihat perubahan sikap Annette.
"Kau tidak takut lagi denganku?" Kemana perginya sosok gadis kecil yang hampir mati ketakutan?
"Memangnya kenapa kalau aku takut huh?" Ujar Annette terdengar acuh.
"Toh pada akhirnya kau juga akan menggigit ku lagi"
Annette mengelus pergelangan tangan kanannya yang sudah terbalut kain kasa, tatapannya terlihat miris.
"Jadi.."
"Kau berharap aku menggigit mu lagi?"
Sudut bibir Egbert bertekuk ke atas, sorot matanya terlihat main-main.
"Kau berani?" Annette menatap tajam Egbert.
"Awas saja jika kau mengigit ku lagi.."
"Aku pasti akan membalasnya" Annette menarik selimut dan membaringkan tubuhnya kesal.
"Wah!"
"Bagaimana ini?"
"Aku sangat ketakutan!" Egbert memeluk tubuhnya, bersikap seakan bulu romanya merinding karena ucapan Annette barusan, Annette yang melihat itu, mendengus tak senang.
"Tidak lucu!"
Annette memposisikan kepalanya senyaman mungkin dan bersiap untuk tidur..
Seharian ini tenaganya sungguh terkuras habis karena mengacaukan Kastil besar Egbert.
"Aku menyesal lupa mengatakannya"
"Harusnya aku memberitahu dia untuk mencarikan aku gadis manusia yang matang dan dewasa secara pikiran..."
"Bukannya gadis kanak-kanakan yang hanya tau menciptakan kekacauan"
Annette yang baru saja memejamkan matanya, mendengar jelas monolog Egbert itu. Annette tau pria itu sedang menyindir dirinya.
"Kalau begitu pulangkan saja aku!"
Annette dengan semangatnya bangkit dari baringan dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
"Pulangkan kamu?"
"Ya" Annette tersenyum senang, matanya begitu kentara dengan binar harapan.
"Sebelum kau menyesalinya lebih jauh, sebaiknya kau akhiri saja ikatan mu dengan gadis kanak-kanakan ini"
"Menurutmu begitu?" Egbert terlihat acuh.
"Eum" Angguk Annette mantap.
"Apa kau tau? Usia ku masih dua puluhan.."
"Di dunia kami manusia, usia segitu masih terlalu dini untuk menikah"
"Jadi sebaiknya kau mencari seseorang yang lebih tua dariku, yang dapat lebih masuk akal dalam menyikapi permasalahan"
"Bukan seseorang yang hanya tau menciptakan kekacauan sebagai penyelesaian masalah. Ya seperti aku ini"
Setelah berbicara panjang lebar, Annette menatap gugup sepasang mata dingin didepannya itu. Ia sungguh berharap pria itu akan mengiyakan semua perkataannya tadi. Dengan begitu ia akan segera meninggalkan Kastil, melupakan semua mimpi buruk yang sepintas lalu ini dan segera kembali ke kehidupan nyatanya.
"Aku setuju dengan katamu" Egbert tampak mengangguk penuh pertimbangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Senja Ayu
lah... kok malah setuju, jangan dong
2023-02-08
1