Setelah pergi meninggalkan kawasan kampus, kini dua orang itu telah berada di sebuah tempat makan yang berkelas, mahal dan mewah. Sean langsung pergi untuk memesan ruang privat untuk mereka.
"Ayo" Ajak Sean pada Egbert ke sebuah ruang tertutup dan kedap suara yang di pesannya tadi.
Sekarang mereka dapat dengan bebas membahas topik apapun.
"Jadi pelayan mu membuatnya pingsan dan mengikat kedua tangannya ke tiang ranjang?"
"Em" Egbert mengambil botol wine dan menuangkannya sedikit ke dalam gelas.
"Lalu kau bercinta dengannya yang tak sadarkan diri seperti itu?"
"Em" Egbert mendekat kan bibir gelas ke mulutnya dan menyesapnya sedikit.
"Haah" Sean mendesah tak percaya.
"Kau tak seharusnya bersikap begitu" Ujarnya.
"Cukup kau memaksa dia untuk menikah denganmu, tapi untuk hal-hal intim seperti itu.." Sean benar-benar tak habis pikir bagaimana Egbert bisa tega melakukannya, terlebih itu pada gadis manusia yang begitu lemah dan rapuh.
"Tidak bisakah kau sedikit lebih manis?" Katanya dengan raut wajah serius.
"Atau barangkali beri dia waktu sampai dia siap?" Kali ini wajahnya terlihat sedikit prihatin.
Egbert yang mendengar rentetan pertanyaan Sean itu, menyeringai dengan senyum bosan, "Aku menikah untuk segera memiliki keturunan" Suaranya terdengar dingin dan acuh.
"Melakukan hal-hal bodoh yang kau katakan tadi, apa kau mencoba mendorong ku dalam sebuah romansa?"
Sedikit lebih manis dan bersabar...
Berapa banyak waktu yang akan terbuang? Belum lagi fakta akan gadis manusia yang terang saja...
Mereka cukup lemah soal perasaan.
"Yah bagaimana pun dia anak didik ku, jangan membuat ku terlalu merasa bersalah karena telah menjebaknya ke sisimu" Ujar Sean tak berdaya.
"Apa bedanya terlalu dengan tidak?" Egbert tampak menaikkan salah satu alisnya.
"Jika kau merasa bersalah, maka lakukan dengan sepenuhnya. Jika setengah-setengah, lebih baik lupakan saja!" Lanjutnya lagi.
"Hum" Sean hanya mengangguk pelan.
"Kau benar" Kenapa tiba-tiba ia bisa begitu sensitif sampai mementingkan itu benar dan salah? Bukankah sejak awal ia tidak pernah peduli atau berempati pada manusia meski barang sedikit?
"Tampaknya karena di dunia manusia aku berperan sebagai seorang pengajar yang di hormati, itu membuat aku menjadi sedikit sensitif" Sean mengangkat gelas dan menenggak habis cairan merah gelap itu.
"Jadi setelah ini, apa rencana mu?" Sean meletakkan gelas yang sudah kosong itu di atas meja.
"Apa kau akan menyekap gadis itu selamanya di kastil mu?" Tanyanya pada Egbert.
"Dan membebaskannya setelah semua keinginan mu tercapai?"
......................
Seusai membersihkan dirinya, Annette berjalan keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk putih yang sudah di siapkan. Annette melihat pintu kamarnya terbuka dan dua orang pelayan berjalan masuk sambil mendorong gawang gantungan baju. Di sana Annette dapat melihat sederet pakaian bergantungan dengan beraneka warna dan jenis.
"Ini adalah pakaian anda nyonya yang telah kami siapkan" Terang salah seorang pelayan.
"Apa kami perlu membantu anda memilih dan memakaikannya pada anda?" Tawar pelayan salah satunya lagi.
"Tidak perlu" Annette perlahan mengerti. Sepertinya pelayan-pelayan di kastil ini memang dididik untuk memperlakukannya khusus bak seorang ratu. Tapi Annette sungguh tak nyaman dengan itu.
"Keluar lah!" Annette terdengar tenang. Seluruh tubuhnya baru saja segar setelah mandi, ia tidak mau membuang-buang tenaga untuk marah. Karena akan ada sesuatu yang harus dilakukannya setelah ini.
"Baik nyonya" Kedua pelayan itupun berjalan patuh meninggalkan kamar.
Annette mendekati gawang gantungan baju. Tangannya menyentuh deretan pakaian di sana. Annette dapat merasakan setiap kainnya bertekstur halus, lembut dan nyaman. Tidak diragukan lagi semua itu adalah jenis premium dan pemborosan besar. Seumur ia hidup, ia tidak pernah menyentuh kemewahan seperti ini.
"Dia cukup murah hati menghabiskan uangnya untuk membelikan ku pakaian-pakaian ini"
Setelah Annette berpakaian dan beristirahat barang setengah jam seusai sarapan. Ia langsung menjalankan aksinya untuk menciptakan kekacauan di kastil besar itu. Tempat pertama yang menjadi korbannya adalah kamar Egbert.
Kamar besar yang rapi itu sesaat saja sudah berubah menjadi kapal pecah karena ulah Annette. Selimut terbengkalai ke lantai dan seprai putih terangkat dari tempatnya. Padahal pelayan baru saja membereskan kamar itu.
Tak sampai disitu. Kursi dan meja rias pun Annette hambur kan ke lantai dan cermin tanpa segan ia pecahkan.
"Bagaimana?"
"Setelah kekacauan ini kalian juga masih tidak membebaskan ku huh?" Pekik Annette.
Tiga orang pelayan berdiri kewalahan menatap kamar Egbert yang sudah porak-poranda..
"Nyonya"
"Harap tenang"
"Mohon kendalikan dirimu"
"Jika anda ingin pergi meninggalkan kastil, anda dapat membicarakannya nanti dengan tuan"
"Omong kosong!" Annette tersenyum sampah, "Apa menurutmu pria itu akan mendengarkan ku hah?" Bentak Annette.
Siap membuat ketiga pelayan itu tersentak di tempat. Karena Annette sekarang berstatus sebagai nyonya kastil, tentu mereka tidak bisa sembarang saja dalam memperlakukannya. Terakhir yang dapat bisa mereka lakukan adalah menahan diri dan bersabar.
"Tapi nyonya, jika anda terus berbuat seperti ini bisa-bisa tuan akan marah"
"Aku tidak peduli" Jawab Annette acuh.
"Pokoknya aku tidak akan berhenti sebelum kalian mengizinkan aku keluar dari sini"
Setelah mengatakan itu, Annette berlari keluar dari kamar dan mencari tempat lainnya yang akan menjadi korban selanjutnya. Tak mengira kastil tersebut begitu luas, hingga Annette kebingungan harus melangkah kemana.
"Dapur?" Annette tersenyum sinis ketika melihat dapur. Terus ia berlari ke sana dan kembali melanjutkan aksi pemberontakannya.
"Dasar orang-orang ini"
Prangg!
Annette mengambil piring-piring dan melemparkannya ke lantai.
"Taunya hanya mengatur ku"
Prangg!
Tak hanya piring, kini mangkok pun jadi sasaran.
"Apa mereka pikir aku hanya akan diam saja begitu?"
Prang!
Trang!
Crang!
Entah apa saja yang sudah Annette hempaskan ke lantai yang jelas sekarang rak piring itu sudah kosong.
"Kepala pelayan Mary bagaimana ini?" Seru salah seorang pelayan pada Mary.
"Kami tapi tak dapat menghentikan nyonya..."
Pelayan lain pun turut mengadu kepada Mary yang juga ter-ikut bingung harus bersikap seperti apa.
"Terus pantau saja nyonya dari jauh" Tutur Mary yang tetap berusaha tenang sebagai karakternya.
"Saya akan pergi menghubungi tuan dan melaporkan hal ini"
"Baik kepala pelayan Mary"
Kepala pelayan Mary pun berjalan ke ruang tamu yang besar. Ia mengambil gagang telepon rumah dan jari telunjuknya sibuk menekan tombol-tombol. Sambil menunggu panggilan tersambung, Mary meletakkan telpon tersebut di bawah telinga, hingga...
"Ada apa kau menghubungi ku?" Suara dingin bernada malas terdengar dari seberang.
"Tuan"
"Ada hal yang ingin saya laporkan terkait istri anda"
"Ada apa dengannya?" Suara Egbert terdengar acuh.
"Apa gadis itu membuat ulah di kediaman ku?"
Mary cukup terkejut karena Egbert dapat menebaknya dengan tepat, "Anda benar tuan"
Mary pun melanjutkan penjelasannya, "Istri anda terus memporak-porandakan kastil anda dan menghancurkan barang-barang"
"Katanya dia tak akan berhenti sebelum kami membolehkannya keluar dari kastil" Lanjutnya lagi.
"Kami disini sudah kewalahan menanganinya tuan" Bicara Mary sambil menghela nafas berat.
"Tolong tuan katakan, sikap apa yang harus kami ambil?"
Sesaat hening tak ada jawaban. Mary menanti dengan gugup takut Egbert akan marah padanya karena ini adalah pertama kalinya ia tak dapat mengendalikan keadaan.
"A-apakah kami perlu membuatnya pingsan seperti sebelumnya?"
Dari awal Mary ingin menyuruh pelayan melakukan itu, tapi mengingat Annette adalah nyonya kastil mereka sekarang. Tentu mereka tidak bisa bersikap sembarangan.
"Tidak perlu!"
"Saya akan segera pulang"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
putriyusman
emang ngadi ngadi tuh orang
2023-10-05
1
Senja Ayu
hancurkan aja, kan suamimu kaya 😁😁
2023-02-08
1
Maria Lina
manusia bodoh cari mati wkwk
2022-10-18
1