Sean telah kembali ke apartemennya. Tentu saja sebelum pulang ia sudah menyuruh seseorang untuk membawa gadis manusia yang nantinya akan menjadi pengantin Egbert.
Keluar dari kamar mandi, Sean terlihat segar dalam balutan jubah mandi abu-abu longgar. Bagian atasnya samar-samar menonjolkan tata letak ototnya yang berharga hasil dari olahraga rutinnya.
Drtt...
Terdengar suara ponsel bergetar tepat di atas nakas samping ranjang. Bergegas Sean mengambilnya.
"Ya?" Meletakkan ponsel itu di samping telinga kanannya, Sean pun berjalan ke depan jendela besar yang mengungkapkan keindahan dunia malam di bawah sana yang tampak gemerlap oleh jutaan lampu.
"Kau sudah mendapatkan gadis itu?" Bicara Sean melalui talian.
"Ya. Aku sudah mendapatkannya bos"
Itu adalah anak buahnya Sean. Sama seperti Egbert, ia tidak lagi mempercayai bangsanya untuk bekerja dengannya. Jadi ia memperkejakan manusia sebagai gantinya.
"Kalau begitu bawa gadis itu kemari" Tukas Sean.
"Jangan lupa tutup mata gadis itu. Aku tidak mau ketika dia sadar, dia akan terkejut mendapati siapa yang menculiknya" Tambahnya lagi.
"Baik bos, saya mengerti"
Dengan begitu talian pun berakhir. Sean menatap layar ponselnya tersenyum puas.
Sekitar sepuluh menit berlalu, tepat ketika arah jarum jam berada di pukul dua belas. Terdengar bel apartemennya berbunyi nyaring. Sean yang saat itu tampak larut dengan buku ditangannya. Ia langsung menutup buku tersebut dan menarik kacamata dari pangkal hidungnya.
"Cepat sekali" Sean pun beranjak dari ruang bacanya dan pergi membukakan pintu.
Tapi sebelum tangannya menarik gagang pintu, tak lupa ia menoleh pada layar monitor untuk memastikan siapa yang datang. Sean dapat melihat di sana ada seorang pria berkacamata hitam dengan masker menutupi separuh wajah.
Berdiri dengan menggendong seorang gadis yang tak lagi asing di matanya. Sean pun segera membuka pintu dan berkata, "Cepat bawa dia masuk kedalam!"
"Baik bos" Pria itu mengangguk dan langsung berjalan masuk kedalam.
"Baringkan saja gadis itu di sofa" Sean menunjuk ke salah satu sofa panjang yang dimilikinya.
"Baik"
Pria itu pun bergegas meletakkan gadis muda yang digendongnya ke sebuah sofa panjang yang ditunjukkan Sean.
"Ada hal lain yang harus saya kerjakan bos?" Tanyanya kemudian pada Sean.
"Tidak ada" Sean menggelengkan kepalanya.
Setelahnya Sean mengeluarkan sebuah amplop tebal dari saku jubah tidurnya dan menyerahkannya pada pria itu.
"Bayaran mu"
"Terimakasih bos" Suara pria itu terdengar cukup senang ketika menerima amplop yang diberikan Sean.
"Kalau begitu saya pergi bos, permisi" Pamitnya sopan kepada Sean, sebelum meninggal apartemen mewah itu.
"Em" Sean hanya mengangguk dan menatap punggung pria itu yang telah berjalan kearah pintu.
Pria itupun pergi meninggalkan apartemen Sean tanpa mengetahui bahwa dirinya baru saja bekerja dengan seseorang yang bukan...
Manusia.
"Maaf sekali nak, dari sekian banyak gadis aku harus memilihmu untuk menjadi pengantin wanita temanku" Ucap Sean. Matanya yang sipit dan dalam itu menatap tubuh kecil Annette yang tergeletak tak sadarkan diri di sofa.
Untuk mencegah keributan kecil yang bisa saja terjadi, Sean bergegas mengambil dasi dan mengikat kedua tangan gadis itu.
Ketika Sean menyentuh pergelangan tangan Annette, ia dapat merasakan betapa halus dan rapuhnya. Seakan sedikit saja ia bergerak lebih kasar, kulit putih itu akan lecet dan pergelangan tangan itu bisa patah.
"Aku ragu dengan tubuh se-rapuh ini..."
Selesai mengikat kedua tangan Annette, Sean pergi membelai jari-jemarinya yang kurus dan kecil.
"Kau dapat menanggung benih dari bangsa kami"
"Haah"
Sean mendesah berat dan baru saja akan beranjak dari ruang tengah untuk kembali ke kamarnya. Hanya mendengar sebuah suara...
"Ini di mana?"
Langkah Sean terus terhenti.
"Aku sekarang ada dimana?" Annette mengerutkan keningnya pusing. Tepat ketika kesadarannya pulih sempurna, perlahan ia membuka kedua matanya dan...
Segala hal gelap menyambut indra penglihatannya. Annette tak dapat melihat apapun. Itu karena kain hitam yang menutup matanya, mencegahnya dari melihat dimana keberadaannya saat ini.
Seketika Annette menegang dan panik.
"Hey!" Serunya kemudian.
"Apa ada orang di sana?"
"Katakan di mana kalian membawa ku?"
"..." Sean hanya bergeming. Mata sipitnya menonton gadis muda yang cemas itu tanpa ekspresi khusus.
"Haah" Annette menghela nafas berat.
"Apa sungguh tak ada orang disini?" Kali ini suaranya terdengar lirih dan putus asa.
"Jahat sekali" Dalam sekejap suaranya berganti menjadi rengekan.
"Sudah menculik ku dan sekarang meninggalkan aku seorang diri seperti ini?"
Entahlah itu sebuah keluhan atau tidak. Tapi Sean dapat menangkap suara gadis itu yang sedikit bergetar seperti akan menangis.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Sean tanpa sadar menghitung waktu. Tepat di detik keempat, gadis muda itu meraung keras dengan isak tangis yang cukup menyayat hati pria manapun yang mendengarnya. Namun itu tidak berlaku untuk Sean yang masih berdiri di tempat dengan penampilan acuh tak acuhnya.
Sean melipat kedua tangannya di depan dada, membungkam rapat mulutnya dan memilih diam memperhatikan.
"Kenapa mereka munculik ku?"
"Huhu..huu"
"Memangnya apa salahku?"
"Huhuu..huu"
Terus saja Sean menautkan sepasang alisnya dengan sorot mata tak suka. Tangisan kecil itu perlahan seperti lengkingan suara rusa di malam buta yang cukup mengganggu.
Sean pun memutuskan untuk segera pergi ke kamarnya dan membiarkan Annette terus menangis menyedihkan di ruang depan.
Setiba di kamarnya, Sean mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Cepat sekali menghubungiku"
Talian langsung saja tersambung dan suara bariton Egbert terdengar.
"Apa kau sudah mendapatkannya?"
"Em" Sean berdehem sebagai jawaban.
"Jadi cepatlah datang kemari dan bawa dia pergi" Ujar Sean, suaranya yang tak sabaran itu terdengar begitu kentara.
"Tangisannya sungguh jelek seperti anak rusa di hutan"
"Itu cukup berisik" Keluhnya begitu saja pada Egbert.
"Em" Egbert hanya berdeham acuh.
"Besok aku akan ke sana dan mengambilnya" Lanjutnya kemudian.
Jelas itu bukan jawaban yang diinginkan Sean.
"Apa katamu?"
"Besok?"
"Kau ini yang benar sa—"
Tutt..tut..
Talian sudah diputus sebelah pihak.
"Haah" Sean membuang nafas kasar.
"Sial!" Sean melempar ponselnya ke atas ranjang dan berdecak kesal.
Malam ini sepertinya...
Ia harus tidur bersama suara yang tak kalah jauh dari tangisan anak rusa di hutan.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Putudina Nurhayanti
masih lanjut
2023-09-19
1
Senja Ayu
masih lanjut baca
2023-02-07
1