"Baik-baik" Seru Annette ketakutan yang langsung mengiyakan permintaan pria itu, "Aku akan menjadi pengantin wanita mu" Refleks Annette berkata begitu tatkala mendapati sepasang taring tajam itu siap menyobek lehernya.
Instingnya untuk tetap hidup, membuat Annette tak punya pilihan selain menuruti kemauan konyol...
Bukan—
tapi lebih tepatnya hal gila yang di rancang pria itu untuknya.
"Bagus" Bibir merah gelap Egbert melengkung tajam, tersenyum puas. Segera Egbert bertepuk tangan dan kepala pelayan Mary datang membawa nampan yang di atasnya ada sekotak cincin dan sebilah pisau tajam.
Melihat pisau tipis yang memantulkan sinar perak rembulan itu terang saja Annette merasa takut.
'Pisau?'
'Kenapa ada pisau di sana?'
Batin Annette. Tampak pelipis kecilnya sudah di penuhi keringat dingin. Egbert mengambil pisau tajam itu dan matanya yang merah seperti darah itu menatap Annette dengan serius, kemudian berkata, "Di bangsa ku, ketika melangsungkan upacara pernikahan, kedua mempelai harus mengikat perjanjian darah"
"..." Annette menatap bingung tak mengerti. Perjanjian darah?
Melihat ekspresi kebingungan Annette, Egbert pun terus berkata, "Seperti ini..."
Egbert mengambil pisau yang ada di atas nampan di mana kepala pelayan Mary masih berdiri di hadapan mereka berdua. Kemudian ia meraih telapak tangan Annette dan dengan cepat menggoresnya dengan pisau.
"Akh!" Darah segar terus mengucur di telapak tangan Annette.
Bersamaan dengan itu Egbert menggores telapak tangannya hingga darah bewarna kehitaman menetes. Tidak ada ekspresi kesakitan ketika Egbert melakukannya. Setelahnya, Egbert meraih telapak tangan Annette yang berdarah itu dan menggenggamnya erat.
"Sekarang darah kita sudah bertemu dan menyatu" Katanya pada Annette.
"Dengan terikat nya perjanjian darah ini, kita adalah sepasang suami-isteri yang sah menurut hukum bangsa ku"
Annette menjepit sepasang alisnya menekan nyeri. Mata hitamnya yang berkaca-kaca menatap telapak tangannya yang berada dalam genggaman Egbert. Annette dapat melihat darah merah segarnya telah bercampur dengan darah hitam pekat Egbert itu perlahan merembes keluar dan jatuh ke tanah.
Egbert melepaskan genggamannya. Kemudian ia mengambil cincin dari kotak beludru hitam yang ada di atas nampan. Itu adalah sebuah cincin emas putih polos dengan sentuhan yang cukup sederhana namun terlihat berkelas.
Dengan gerakan yang sangat tidak romantis, cepat dan membosankan, Egbert telah memasangkan cincin itu di jari manis Annette.
'Jadi, sekarang aku bukan gadis lajang lagi?' Annette menatap sendu jari manis kirinya yang tak lagi polos.
'Ini adalah pernikahan yang tak pernah terbayangkan sepanjang perjalanan hidup ku..' Annette tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Sekarang cium bibirku"
Perintah yang begitu tiba-tiba itu membuat Annette terganga, "Huh?"
"Cium bibirku untuk mengakhiri upacara pernikahan ini"
Tatapan mata Egbert terlihat dingin dan datar. Annette selalu ketakutan setiap kali melihatnya.
"C-cium?" Annette gelagapan di tempat. Ia seorang gadis muda yang tentunya pernah berpacaran. Tapi hal intim yang pernah ia lakukan hanyalah berpelukan dan mengecup pipi. Ia tidak pernah sampai dalam tahap mencium...
"A-apa maksudmu mencium bibir?"
Pertanyaan polos itu membuat kepala pelayan Mary menahan senyum kecil dan ketiga pelayan lainnya tergelak dengan volume rendah. Menyadari itu, mau tak mau kedua belah pipi Annette memerah.
"Em"
Melihat postur tubuh Annette yang hanya separas dadanya. Egbert dengan murah hati membungkukkan badannya sedikit, kemudian berujar, "Cepatlah!"
Biarpun Egbert sudah sedikit membungkuk, tapi untuk menggapai bibir pria itu Annette tetap harus sedikit berjinjit.
Cup!
Secepat kilat Annette mengecup bibir Egbert dan terus berkata dengan wajah memerah gugup, "Sudah"
"Haah" Egbert mendesah berat, menatap Annette tak percaya. Bahkan ia sama sekali tidak merasakan esensi dari bibir merah gelap yang kecil itu, tapi ia dengan lugasnya berkata— 'sudah?'
"Apa yang kau lakukan tadi dapat dikatakan ciuman?"
Dengan pipi merah merona Annette menjawab, "Y-ya..."
Merasakan seperti ada sesuatu yang salah, Annette menjepit sepasang alisnya rumit kemudian berujar, "Entahlah, aku tidak tau"
Setelah mengatakan itu, tatapannya terus bertemu mata membekukan Egbert. Annette rasanya akan menangis tiap kali melihat mata merah itu berkilat dingin padanya.
"Aku tidak akan menduga menikahi gadis se-polos ini" Setelah mengatakan itu, Egbert segera membungkuk tepat di depan wajah Annette.
"Biar aku ajarkan padamu, seperti apa itu yang dikatakan berciuman.." Nafas berat Egbert berhembus di hadapan wajah Annette yang sudah memerah seperti tomat.
Mata Annette nyaris saja melompat keluar tatkala bibir tipis dingin itu yang entah kapan datang menyedot dalam bibir kecilnya.
"Emph—" Annette tak dapat menarik bibirnya. Jeratan yang dibuat Egbert benar-benar kuat.
Ciuman yang panas pun berlangsung. Tepat ketika Annette nyaris hampir kehabisan nafas. Egbert mengakhiri ciuman itu.
"Bibirmu ternyata cukup manis" Egbert mengusap bibirnya yang basah dengan jempol dan mencetak senyum menyeringai.
Annette terus menunduk malu mendengarnya. Detak jantungnya berdegup cukup kencang setelah ciuman panas itu berakhir.
"Sekarang, kau sudah mengerti kan?" Suara Egbert terdengar seperti sengaja menggoda Annette.
"Em" Respon Annette dengan gumaman singkat.
"Tapi sepertinya kau belum begitu mengerti" Bibir Egbert berkedut mengejek, "Yah tidak masalah.." Ia berkedik bahunya acuh dan melanjutkan, "Karena masih banyak waktu untuk aku mengajarinya nanti"
Kini rasa panas itu telah menjalar hingga ke daun telinga Annette. Egbert yang melihat itu hanya menyungging senyum dingin di sudut bibirnya.
"Mary" Panggil Egbert kemudian, tanpa memalingkan tatapannya dari wajah Annette.
"Iya tuan" Sopan Mary menjawab.
"Bawa gadis itu ke kamar ku"
Mendengar hal itu sontak saja Annette terkejut, "A-apa?" Mengingat upacara pernikahan yang baru saja selesai dan sekarang pria itu ingin ia berada di kamarnya, Annette tidak bodoh untuk menyadari alarm berbahaya itu.
"Aku tidak mau" Tentang Annette.
"Kenapa tidak mau?" Egbert menautkan sepasang alisnya.
"Ini adalah malam pertama kita"
"Tapi aku belum siap" Seru Annette dengan wajah memerah padam karena malu.
"Aku tidak peduli kau siap atau tidak" Balas Egbert acuh, "Aku hanya ingin langsung melakukannya malam ini denganmu dan dengan begitu aku segera memiliki keturunan" Tukasnya dengan senyum santainya. Seakan ia baru saja mengatakan ingin baju baru dan itu harus segera didapatkan sekarang juga.
Tapi dalam kasus mereka—
Apa itu semudah mendapatkan baju baru?
Annette nyaris saja pingsan di tempat dengan sikap pria yang tak sabaran itu. Sejauh ini hal yang bisa ia lakukan hanya terus memaksanya dan mendesaknya.
"Tidak" Tukas Annette yang menolak tegas hal itu, "Pokoknya aku tidak mau"
Melihat betapa keras kepalanya gadis itu, Egbert sepertinya tidak punya pilihan lain. Malam ini ia harus melakukan pemaksaan, tidak peduli itu akan terlihat sangat tidak berperasaan.
"Mary"
"Iya tuan"
"Ikat gadis ini di ranjang ku, jangan sampai malam pertama ku gagal" Titahnya se-santai menyuruh mengikat anak domba.
"Baik tuan" Angguk Mary mengerti.
Annette baru saja akan melarikan diri ketika mendengar titah tak berperasaan Egbert. Hanya mendapati kedua pelayan datang memegang kedua lengannya.
"Nona" Seru kedua pelayan itu.
"Mohon kerjasamanya"
Mendengar kalimat itu lagi, Annette menghela nafas jengah. Sepertinya mereka tidak ada nurani sama sekali. Annette pun memutuskan untuk memberontak dari pegangan kedua pelayan itu, hanya seberapa keras ia melakukannya tetap saja ia tak berdaya menyaingi tenaga keduanya.
Namun biar begitu, Annette yang pantang menyerah terus-menerus memberontak hingga kedua pelayan itu kesusahan menanganinya.
Terakhir...
"Tidak mau!"
"Cepat lepaskan aku"
"Ku mohon lepaskan aku"
Tak!
Pelayan itu pun lagi-lagi membuat Annette jatuh tak sadarkan diri sebagai cara yang termudah untuk membawa gadis itu pergi.
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Sergiy Karasyuk Lucy S.K.L.
OMG... vampire nya sangat pemaksa
2023-03-18
4