Beberapa saat suasana tenggelam dalam kesunyian. Annette berkali-kali bertanya dalam hatinya, 'Apakah ada yang salah dengan pendengaran ku?'
'Pria asing didepan ku itu baru saja berkata...'
"Maaf" Annette terdengar cukup sopan.
"Bisa anda ulangi sekali lagi?" Annette tersenyum kebingungan berujar gugup, "P-pengantin?"
"Ya pengantin" Angguk Egbert dengan santainya. Seakan itu hanya perkara mudah bak menjetik ibu jari.
"Mulai malam ini kau akan menjadi pengantin ku" Egbert menatap serius sepasang mata hitam Annette yang sudah bergetar hebat penuh ketidakpercayaan itu.
"Tapi kau tidak perlu khawatir" Egbert memperbaiki posisi duduknya dan melipat kedua tangannya di atas meja.
"Karena semua ini hanya sebatas di atas kertas. Setelah semua ambisi ku tercapai, kau akan mendapatkan imbalannya"
Mendengar itu tubuh Annette mendadak limbung dan nyaris saja terjatuh dari kursi. Cepat-cepat Annette memegang pinggiran meja. Bulu matanya bergetar hebat dan tampak bola mata hitamnya mencuat kan secercah api dan amarah.
"Pulangkan aku!" Suara Annette masih terdengar tenang. Saat itu ia masih cukup rasional untuk mengendalikan emosinya.
"Cepat pulangkan aku kembali ke tempat ku" Ulangnya lagi. Ia sama sekali tidak tau kenapa dan bagaimana bisa di antara ribuan orang kenapa harus dirinya yang terjebak dalam kesialan ini.
Entah berapa detik berlalu dan suasana terbiarkan sepi. Mendapati reaksi Egbert yang hanya diam dan tak menggubris permintaannya tadi, sontak saja Annette meledak, "CEPAT PULANG KAN AKUU!"
Pekik Annette histeris. Kesabarannya sudah di kuras habis. Pria itu sudah menculiknya dan terlihat sama sekali tidak bersalah soal itu. Kemudian ia datang menawarkan kesepakatan yang tak masuk akal dan dengan mudahnya menyuruhnya untuk menandatangani nya. Berkat tindakan egoisnya itu, Annette telah melewatkan kelas dan pekerjaan paruh waktunya yang berharga.
"Kau tidak perlu berteriak!" Egbert mengetuk kan jari telunjuknya ke meja. Ketidaksukaan tergambar jelas dari sorot matanya yang benar-benar tak senang dengan teriakan Annette.
"Aku pasti akan memulangkan mu setelah kau menandatangani kontrak ini" Egbert bertepuk tangan dan derap langkah kaki pun terdengar menghampiri ruang makan.
Kepala pelayan Mary datang dengan map coklat ditangannya.
"Ini tuan"
"Em" Egbert menerima map coklat itu dan menyodorkannya kepada Annette.
"Sebelum kau menolaknya, bacalah surat kesepakatan ini" Ucapnya pada Annette.
Kemudian Egbert menoleh pada kepala pelayan Mary berkata, "Bereskan meja makan!"
"Baik tuan"
Kepala pelayan Mary pun memanggil para pelayan untuk datang ke ruang makan. Hanya dalam kurun waktu tujuh menit, tiga pelayan itu telah membereskan meja makan. Setelahnya mereka pergi dan hanya kepala pelayan Mary yang masih berdiri jauh di sudut.
'Apa-apaan ini?' Batin Annette tak senang setelah membaca isi surat tersebut.
Itu sama sekali tidak manusiawi.
Menikah, mengandung, melahirkan dan membesarkan anak hingga dalam jangkauan waktu tertentu...
Kemudian anak akan menjadi milik pihak A dan pihak B akan menerima bayaran yang sesuai.
Tangan Annette tanpa sadar terkepal, merasa sangat ingin meninju kertas itu sampai remuk dan hancur.
"Maaf sekali aku menolak" Annette memasukkan surat kesepakatan yang cukup gila itu kembali ke dalam map dan meletakkannya di meja.
"Katakan saja kau mau dibayar berap—"
"Aku tidak memerlukannya" Sela Annette, "Aku masih cukup mampu menghidupi diriku sendiri sejauh ini"
"Haah" Egbert menghela nafas tak puas dengan penolakan Annette.
"Sejak awal, aku tidak memerlukan persetujuan mu untuk ini" Dalam wujud manusia, mata merah Egbert tampak hitam pekat seperti tinta.
"Surat kesepakatan ini hanyalah formalitas saja" Dan sepasang mata hitam itu menatap tajam mata Annette sampai membuatnya gemetar.
"Jadi mau kau setuju atau tidak, kau akan tetap menjadi pengantin wanita ku malam ni" Egbert menekan Annette dengan tatapannya yang tajam bak sebilah pisau yang kapan saja bisa menghunus bengis jika perkataannya tidak di turuti.
Terang saja itu membuat Annette ketakutan. Namun biar begitu ia tetap menolak, "T-tidak" Suara Annette terdengar bergetar.
"A-aku tidak mau" Annette seketika bangun dari duduknya dan bersiap pergi meninggalkan ruang makan. Baru saja sekitar dua langkah, tiga langkah ia berjalan dengan cukup terburu-buru...
Hanya mendapati sepintas bayangan gelap terus melewatinya dengan sangat cepat dan entah kapan seseorang muncul datang meraih tangannya dan mencekal nya kuat.
"Nona" Suara Egbert jatuh seperti es dingin yang membekukan sekitar.
"Apa menurutmu kau bisa lari begitu saja dari tempat ini?"
Tubuh Annette berguncang hebat melihat Egbert yang sudah ada didepannya.
'Bukannya pria itu tadi masih duduk di sana?'
'Lalu itu...'
'Bayangan apa itu tadi?'
Annette seakan siap menangis dan pingsan, 'Apa yang didepan ku ini manusia?'
Melihat betapa takutnya Annette, bibir Egbert membentuk kurva tajam dan tersenyum maut seperti iblis.
"K-kau.." Bibir merah gelap Annette bergetar dalam ketakutan, "S-siapa kau sebenarnya?"
"Menurut mu?" Egbert mengangkat salah satu alisnya dan memasang senyum misterius melanjutkan, "Siapa aku?"
Dengan sekali hentak, Egbert menarik pergelangan Annette hingga tubuh kecil itu jatuh kedalam pelukannya.
Annette tersentak kaget dan siap memberontak. Hanya titah dingin yang mencekam jatuh di udara, itu langsung membekukan otot-otot ditubuhnya.
"Diam!"
"..." Annette memejamkan matanya rapat, benar-benar ingin menangis detik itu. Hanya tak ada setitik air matapun yang keluar.
"Jika kau masih memberontak untuk pergi..." Bisik Egbert dingin tepat di ambang telinga Annette, "Aku tidak segan-segan akan mematahkan kedua kaki mu"
Mendengar itu kedua lutut Annette melemas nyaris saja ambruk ke lantai. Tapi sebelum itu terjadi, sebuah lengan besar langsung menahannya.
"Karena kau akan menjadi pengantin wanita ku.." Tatapan Egbert jatuh kebawah menatap wajah cantik Annette yang masih diliputi ketakutan.
"Maka aku akan memberitahu mu, siapa aku sebenarnya"
......................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Senja Ayu
masih lanjut
2023-02-07
1